alexametrics
24 C
Madura
Tuesday, May 17, 2022

Batik Pamekasan Dipakai Presiden hingga Sri Sultan

Berbicara batik Pamekasan, nama Hadi tidak bisa dilepaskan. Ratusan karyanya menghiasi industri batik tanah air. Bahkan, 17 di antaranya resmi memiliki hak paten. Melalui tangan dinginnya, batik dipoles sangat cantik hingga mampu menarik perhatian publik.

Batik karya Hadi digunakan Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono, Sri Sultan Hamengkubuwono X, hingga jajaran menteri. Bahkan, pada 2013, batik tulis milik Hadi diboyong Dubes Indonesia untuk Venezuela Prianti Gagarin Djatmiko Singgih. Dubes yang menjabat sejak 21 Desember 2011 itu membeli batik jenis Hokokai Pamekasan (Hokosan).

Hadi menggeluti batik sejak 2011. Kali pertama bersinggungan dengan desain batik lantaran ada permintaan seorang teman untuk menggambarkan batik. Sebelumnya, pria berusia 35 tahun itu hanya menggeluti kaligrafi secara umum.

Sesekali hanya menggambarkan desain baju dan sarung milik sanak saudaranya. Tidak terfokus pada batik. Namun, Februari 2011 menjadi pintu pembuka bagi Hadi. Dua bulan kemudian, dia diminta mengikuti desain batik Jawa Timur. Hasilnya, dia mendapat juara.

Kemampuannya dalam mendesain batik terus diasah. Berbagai lomba diikuti. Dia tidak pernah abstain dari juara. Pada 2012, salah satu karyanya diminati Menteri Perindustrian Fahmi Idris. Semangat berkaryanya terus berkobar.

Bagi Hadi, membatik bukan sekadar mencari keuntungan. Tetapi, juga menjaga budaya warisan nenek moyang. Warga Dusun Podak secara turun-temurun menggeluti batik. Namun, sebelum 2011, usaha tersebut hampir punah.

Baca Juga :  Bupati Akan Jadi Peragawan Batik Pamekasan

Masyarakat lebih memilih bertani daripada membatik. Kebutuhan finansial menjadi alasan utama. Sebab, kala itu, batik hanya dihargai Rp 36 ribu. Paling mahal Rp 250 ribu dengan kualitas super. Pembuatannya membutuhkan waktu berbulan-bulan.

Namun, semenjak karya Hadi dikenal publik, batik Podak semakin mahal. Harganya mulai dari ratusan ribu hingga Rp 36 juta. Pemasarannya bukan hanya di Pamekasan, melainkan juga laku di mancanegara. ”Pada 2013, ada pembeli dari Malaysia,” tutur dia kepada RadarMadura.id.

Hadi menyampaikan, budaya warisan nenek moyang harus dilestarikan. Tetapi, perajin juga harus sejahtera. Dengan demikian, dia bertekad terus menghasilkan mahakarya agar tidak dipandang sebelah mata.

Jika kualitas batik bagus, harganya juga akan tinggi. Perajin dan pengusaha bakal menikmati kesejahteraan dari hasil membatik itu. ”Jiwa batik mengalir dari nenek moyang,” kata pria yang berulang tahun tiap 3 Mei itu.

Hadi menyampaikan, sebelumnya hanya ada sekitar 50 perajin batik. Masyarakat rata-rata bertani untuk menyambung hidup. Tetapi, sejak batik Podak bangkit, perajin mulai tumbuh subur.

Saat ini di dusun tersebut ada sekitar 220 perajin. Sekitar 25 pengusaha baru lahir dari yang sebelumnya hanya tujuh pengusaha. ”Alhamdulillah minat masyarakat membatik semakin tinggi,” syukurnya.

Hadi berjanji tidak akan berhenti membatik. Dia bakal terus putar otak untuk menghasilkan mahakarya. Meski menghasilkan ratusan karya, dia mengaku belum puas. Justru, semangatnya terus melahirkan karya baru dan terus berkobar. (pen/onk)

Baca Juga :  Lumpuh Belasan Tahun,¬†Dumyati Tak Tahu¬†Arti Kemerdekaan

 

Godok Generasi Emas Membatik

HADI tidak ingin batik Podak punah. Berbagai cara dilakukan untuk melestarikan budaya warisan nenek moyang. Salah satunya, mengajari generasi emas membatik sejak dini. Harapannya, batik yang berhasil meningkatkan kesejahteraan masyarakat itu lestari.

Generasi muda yang ingin belajar membatik langsung difasilitasi. Mereka diberi ilmu dasar membatik. Pembinaan secara tekun dilakukan hingga benar-benar bisa. Berbagai lomba desain batik dilaksanakan.

Biasanya, Hadi bersama teman sesama perajin menggelar desain batik untuk siswa SD. Dana yang digunakan untuk pergelaran lomba tersebut diperoleh dari kolektor batik dan swadaya perajin.

Generasi muda di Dusun Podak, Desa Rang Perang Daya, Kecamatan Proppo, tempat Hadi lahir, mayoritas mondok di pesantren. Ketika liburan, mereka diajari membatik. Kemudian, mereka diarahkan sesuai bakat yang dimiliki. ”Waktu belajar tidak terganggu. Waktu libur bisa belajar membatik,” katanya.

Warga sekitar yang diajari membatik juga diberi motivasi. Tujuannya, agar mereka semakin giat belajar. Salah satu motivasi selain finansial adalah kepuasan. Banyak batik hasil karya Hadi yang dipamerkan di berbagai pertunjukan.

Di antaranya, fashion show di tingkat regional Jawa Timur, nasional, hingga internasional. ”Tahun ini ada fashion show di Australia. Jadi, bukan hanya kepuasan finansial, melainkan juga kepuasan jiwa,” tandasnya.

Berbicara batik Pamekasan, nama Hadi tidak bisa dilepaskan. Ratusan karyanya menghiasi industri batik tanah air. Bahkan, 17 di antaranya resmi memiliki hak paten. Melalui tangan dinginnya, batik dipoles sangat cantik hingga mampu menarik perhatian publik.

Batik karya Hadi digunakan Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono, Sri Sultan Hamengkubuwono X, hingga jajaran menteri. Bahkan, pada 2013, batik tulis milik Hadi diboyong Dubes Indonesia untuk Venezuela Prianti Gagarin Djatmiko Singgih. Dubes yang menjabat sejak 21 Desember 2011 itu membeli batik jenis Hokokai Pamekasan (Hokosan).

Hadi menggeluti batik sejak 2011. Kali pertama bersinggungan dengan desain batik lantaran ada permintaan seorang teman untuk menggambarkan batik. Sebelumnya, pria berusia 35 tahun itu hanya menggeluti kaligrafi secara umum.

Sesekali hanya menggambarkan desain baju dan sarung milik sanak saudaranya. Tidak terfokus pada batik. Namun, Februari 2011 menjadi pintu pembuka bagi Hadi. Dua bulan kemudian, dia diminta mengikuti desain batik Jawa Timur. Hasilnya, dia mendapat juara.

Kemampuannya dalam mendesain batik terus diasah. Berbagai lomba diikuti. Dia tidak pernah abstain dari juara. Pada 2012, salah satu karyanya diminati Menteri Perindustrian Fahmi Idris. Semangat berkaryanya terus berkobar.

Bagi Hadi, membatik bukan sekadar mencari keuntungan. Tetapi, juga menjaga budaya warisan nenek moyang. Warga Dusun Podak secara turun-temurun menggeluti batik. Namun, sebelum 2011, usaha tersebut hampir punah.

Baca Juga :  Beda Dari yang Lain, Batik Misnawati Sajikan Motif Tiga Dimensi

Masyarakat lebih memilih bertani daripada membatik. Kebutuhan finansial menjadi alasan utama. Sebab, kala itu, batik hanya dihargai Rp 36 ribu. Paling mahal Rp 250 ribu dengan kualitas super. Pembuatannya membutuhkan waktu berbulan-bulan.

Namun, semenjak karya Hadi dikenal publik, batik Podak semakin mahal. Harganya mulai dari ratusan ribu hingga Rp 36 juta. Pemasarannya bukan hanya di Pamekasan, melainkan juga laku di mancanegara. ”Pada 2013, ada pembeli dari Malaysia,” tutur dia kepada RadarMadura.id.

Hadi menyampaikan, budaya warisan nenek moyang harus dilestarikan. Tetapi, perajin juga harus sejahtera. Dengan demikian, dia bertekad terus menghasilkan mahakarya agar tidak dipandang sebelah mata.

Jika kualitas batik bagus, harganya juga akan tinggi. Perajin dan pengusaha bakal menikmati kesejahteraan dari hasil membatik itu. ”Jiwa batik mengalir dari nenek moyang,” kata pria yang berulang tahun tiap 3 Mei itu.

Hadi menyampaikan, sebelumnya hanya ada sekitar 50 perajin batik. Masyarakat rata-rata bertani untuk menyambung hidup. Tetapi, sejak batik Podak bangkit, perajin mulai tumbuh subur.

Saat ini di dusun tersebut ada sekitar 220 perajin. Sekitar 25 pengusaha baru lahir dari yang sebelumnya hanya tujuh pengusaha. ”Alhamdulillah minat masyarakat membatik semakin tinggi,” syukurnya.

Hadi berjanji tidak akan berhenti membatik. Dia bakal terus putar otak untuk menghasilkan mahakarya. Meski menghasilkan ratusan karya, dia mengaku belum puas. Justru, semangatnya terus melahirkan karya baru dan terus berkobar. (pen/onk)

Baca Juga :  Konsisten Ciptakan Motif Baru Agar Tak Ditinggal Pembeli

 

Godok Generasi Emas Membatik

HADI tidak ingin batik Podak punah. Berbagai cara dilakukan untuk melestarikan budaya warisan nenek moyang. Salah satunya, mengajari generasi emas membatik sejak dini. Harapannya, batik yang berhasil meningkatkan kesejahteraan masyarakat itu lestari.

Generasi muda yang ingin belajar membatik langsung difasilitasi. Mereka diberi ilmu dasar membatik. Pembinaan secara tekun dilakukan hingga benar-benar bisa. Berbagai lomba desain batik dilaksanakan.

Biasanya, Hadi bersama teman sesama perajin menggelar desain batik untuk siswa SD. Dana yang digunakan untuk pergelaran lomba tersebut diperoleh dari kolektor batik dan swadaya perajin.

Generasi muda di Dusun Podak, Desa Rang Perang Daya, Kecamatan Proppo, tempat Hadi lahir, mayoritas mondok di pesantren. Ketika liburan, mereka diajari membatik. Kemudian, mereka diarahkan sesuai bakat yang dimiliki. ”Waktu belajar tidak terganggu. Waktu libur bisa belajar membatik,” katanya.

Warga sekitar yang diajari membatik juga diberi motivasi. Tujuannya, agar mereka semakin giat belajar. Salah satu motivasi selain finansial adalah kepuasan. Banyak batik hasil karya Hadi yang dipamerkan di berbagai pertunjukan.

Di antaranya, fashion show di tingkat regional Jawa Timur, nasional, hingga internasional. ”Tahun ini ada fashion show di Australia. Jadi, bukan hanya kepuasan finansial, melainkan juga kepuasan jiwa,” tandasnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/