alexametrics
20.7 C
Madura
Thursday, May 26, 2022

RKH Muhammad Syamsul Arifin (1945–2021)

PAMEKASAN, Jawa Pos Radar Madura – Kabar duka itu seolah bersahut-sahutan. Selama sehari kemarin (1/7) tidak sedikit informasi tentang wafatnya kiai dan nyai. Salah satunya RKH Muhammad Syamsul Arifin.

Pengasuh Lembaga Pendidikan Islam (LPI) Darul Ulum Banyuanyar (Duba), Pamekasan, itu meninggal dunia pada usia 76 tahun di rumah pribadi di kawasan pesantren. Jenazah almarhum dikebumikan di maqbarah atau pemakaman keluarga.

Meninggalnya ulama khos dan karismatik tersebut cepat menyebar luas ke khalayak umum. Khususnya bagi kalangan alumni. Masyarakat merasa kehilangan atas meninggalnya kiai yang juga menjabat sebagai wakil ketua Majelis Syariah DPP Partai Persatuan Pembangunan (PPP) tersebut.

”Bagi saya, almarhum tidak hanya guru, tapi juga orang tua. Orang tua rohani, orang tua politik dan organisasi,” kata Ali Masykur, anggota DPRD Pamekasan.

Menurut Masykur, almarhum dikenal sebagai ulama yang sangat santun, sabar atau hilim. Beliau juga tidak mudah panik. ”Ada kejadian apa saja tidak panik,” ungkapnya.

Selain itu, Kiai Syamsul juga dikenal sebagai sosok yang selalu mengalah ketika ada perbedaan pendapat. Beliau juga tawaduk dan tidak berpendapat dalam hal-hal tertentu jika tidak diminta. ”Jika dimintai, beliau berpendapat semampu beliau,” jelas politikus PPP itu.

Pada awal pandemi, sejumlah anggota fraksi PPP sowan ke Kiai Syamsul untuk meminta tausiyah. Pada saat itu kiai sudah dalam kondisi tidak sehat. Saat itu beliau didampingi putranya, RKH Hasbullah Muhammad Syamsul Arifin.

Baca Juga :  Kiprah Alumni Pondok Pesantren Miftahul Ulum Al-Islamy

”RKH Hasbul memberikan pemantapan kepada teman-teman fraksi dari masalah hukum, miras, hiburan, dan hal-hal lainnya,” ujarnya.

Pada saat acara akan ditutup, Kiai Syamsul berpesan kepada fraksi PPP agar intens melakukan gerakan penghijauan. Kiai khawatir akan terjadi banyak longsor dan banjir. ”Beliau ingin melindungi masyarakat dari longsor dan banjir, selain manfaat dari penghijauan secara ekonomi juga besar.” ungkapnya.

Pengasuh LPI Darul Ulum sejak 1979 tersebut merupakan sosok teladan bagi masyarakat. PPP merasa kehilangan karena jasanya sangat besar kepada partai berlambang Kakbah tersebut. ”Karena itu, kami merasa kehilangan atas meninggalnya beliau,” ungkapnya.

Menurut Masykur, Kiai Syamsul punya peran strategis dalam pemilihan kepala daerah (pilkada). Misalkan, kiai kelahiran 1945 itu sukses mengantarkan Achmad Syafii dan Kadarisman Sastrodiwirjo menjadi bupati dan wakil bupati Pamekasan.

”Walaupun pada saat itu tidak dipilih secara langsung, tapi notabene yang menajdi anggota DPRD pada saat itu adalah alumni (Mambaul Ulum) Bata-Bata dan Duba. Sehingga, komando fraksi PPP ada di Bata-Bata dan Duba,” kenangnya.

Kemudian, pada 2008, Kiai Syamsul juga mendukung Achmad Syafii, calon bupati yang direkom PPP. Walaupun pada saat itu Achmad Syafii kalah, Kiai Syamsul tetap tenang. Sebab menurutnya, menang atau kalah dalam pemilihan atau politik adalah hal biasa. Tidak penting dimasukkan dalam hati.

Pada 2013 juga mencalonkan Achmad Syafii dan Kholil Asy’ari. Pada saat itu mereka terpilih memimpin Pamekasan. Kemudian, pada Pilkada 2018 Kiai Syamsul meminta Ali Masykur menjadi cawabup mendampingi KH Kholilurrahman. Tapi karena tidak siap, akhirnya kiai memilih Fathor Rahman.

Baca Juga :  Mas Tamam Ajak Warga Tekan Covid-19

”Dulu Kiai Kholil tidak didukung PPP. Tapi pada pilkada lalu, Kiai Syamsul malah memberikan dukungan penuh kepada beliau (KH Kholilurrahman),” ujarnya.

Masykur menambahkan, sang kiai memiliki niat baik dalam menentukan sikap politik. Yaitu, bertujuan menyatukan keluarga dan mewujudkan perpolitikan yang kondusif. Yang menjadi alasan penting yaitu persaudaraan.

Karena itu, Kiai Syamsul selalu berpesan untuk tidak jadi pendendam. Sebab, hal itu tidak akan menyelesaikan masalah. ”Siapa tahu, musuh kita hari ini akan menjadi kawan kita selanjutnya,” kata Masykur menirukan pesan sang kiai.

Secara sosial, kiai juga gemar sedekah. Bahkan, Masykur pernah diberi uang. Uang tersebut di antaranya juga diminta untuk disedekahkan kepada anak yatim dan duafa. ”Dalam dunia pendidikan dan ibadah, beliau juga dikenal sangat istiqamah. Meskipun almarhum kecapekan, pasti tetap menyempatkan mengajar,” jelas Masykur.

Sekretaris Pengurus LPI Darul Ulum Banyuanyar Masturil Kirom mengenang Kiai Syamsul sebagai sosok guru yang sangat telaten dalam mendidik santri. Kiai juga selalu menempatkan diri sebagai khadimul ma’had atau pelayan bagi PP Banyuanyar. ”Sosok yang hilim, istiqomah, dan biasa memanggil santri dengan sebutan ’anakku’,” katanya.

PAMEKASAN, Jawa Pos Radar Madura – Kabar duka itu seolah bersahut-sahutan. Selama sehari kemarin (1/7) tidak sedikit informasi tentang wafatnya kiai dan nyai. Salah satunya RKH Muhammad Syamsul Arifin.

Pengasuh Lembaga Pendidikan Islam (LPI) Darul Ulum Banyuanyar (Duba), Pamekasan, itu meninggal dunia pada usia 76 tahun di rumah pribadi di kawasan pesantren. Jenazah almarhum dikebumikan di maqbarah atau pemakaman keluarga.

Meninggalnya ulama khos dan karismatik tersebut cepat menyebar luas ke khalayak umum. Khususnya bagi kalangan alumni. Masyarakat merasa kehilangan atas meninggalnya kiai yang juga menjabat sebagai wakil ketua Majelis Syariah DPP Partai Persatuan Pembangunan (PPP) tersebut.


”Bagi saya, almarhum tidak hanya guru, tapi juga orang tua. Orang tua rohani, orang tua politik dan organisasi,” kata Ali Masykur, anggota DPRD Pamekasan.

Menurut Masykur, almarhum dikenal sebagai ulama yang sangat santun, sabar atau hilim. Beliau juga tidak mudah panik. ”Ada kejadian apa saja tidak panik,” ungkapnya.

Selain itu, Kiai Syamsul juga dikenal sebagai sosok yang selalu mengalah ketika ada perbedaan pendapat. Beliau juga tawaduk dan tidak berpendapat dalam hal-hal tertentu jika tidak diminta. ”Jika dimintai, beliau berpendapat semampu beliau,” jelas politikus PPP itu.

Pada awal pandemi, sejumlah anggota fraksi PPP sowan ke Kiai Syamsul untuk meminta tausiyah. Pada saat itu kiai sudah dalam kondisi tidak sehat. Saat itu beliau didampingi putranya, RKH Hasbullah Muhammad Syamsul Arifin.

Baca Juga :  Minta Umat Islam Hargai Perayaan Natal

”RKH Hasbul memberikan pemantapan kepada teman-teman fraksi dari masalah hukum, miras, hiburan, dan hal-hal lainnya,” ujarnya.

Pada saat acara akan ditutup, Kiai Syamsul berpesan kepada fraksi PPP agar intens melakukan gerakan penghijauan. Kiai khawatir akan terjadi banyak longsor dan banjir. ”Beliau ingin melindungi masyarakat dari longsor dan banjir, selain manfaat dari penghijauan secara ekonomi juga besar.” ungkapnya.

Pengasuh LPI Darul Ulum sejak 1979 tersebut merupakan sosok teladan bagi masyarakat. PPP merasa kehilangan karena jasanya sangat besar kepada partai berlambang Kakbah tersebut. ”Karena itu, kami merasa kehilangan atas meninggalnya beliau,” ungkapnya.

Menurut Masykur, Kiai Syamsul punya peran strategis dalam pemilihan kepala daerah (pilkada). Misalkan, kiai kelahiran 1945 itu sukses mengantarkan Achmad Syafii dan Kadarisman Sastrodiwirjo menjadi bupati dan wakil bupati Pamekasan.

”Walaupun pada saat itu tidak dipilih secara langsung, tapi notabene yang menajdi anggota DPRD pada saat itu adalah alumni (Mambaul Ulum) Bata-Bata dan Duba. Sehingga, komando fraksi PPP ada di Bata-Bata dan Duba,” kenangnya.

Kemudian, pada 2008, Kiai Syamsul juga mendukung Achmad Syafii, calon bupati yang direkom PPP. Walaupun pada saat itu Achmad Syafii kalah, Kiai Syamsul tetap tenang. Sebab menurutnya, menang atau kalah dalam pemilihan atau politik adalah hal biasa. Tidak penting dimasukkan dalam hati.

Pada 2013 juga mencalonkan Achmad Syafii dan Kholil Asy’ari. Pada saat itu mereka terpilih memimpin Pamekasan. Kemudian, pada Pilkada 2018 Kiai Syamsul meminta Ali Masykur menjadi cawabup mendampingi KH Kholilurrahman. Tapi karena tidak siap, akhirnya kiai memilih Fathor Rahman.

Baca Juga :  Pesantren, Kiai, dan Masyarakat Terhubung Erat

”Dulu Kiai Kholil tidak didukung PPP. Tapi pada pilkada lalu, Kiai Syamsul malah memberikan dukungan penuh kepada beliau (KH Kholilurrahman),” ujarnya.

Masykur menambahkan, sang kiai memiliki niat baik dalam menentukan sikap politik. Yaitu, bertujuan menyatukan keluarga dan mewujudkan perpolitikan yang kondusif. Yang menjadi alasan penting yaitu persaudaraan.

Karena itu, Kiai Syamsul selalu berpesan untuk tidak jadi pendendam. Sebab, hal itu tidak akan menyelesaikan masalah. ”Siapa tahu, musuh kita hari ini akan menjadi kawan kita selanjutnya,” kata Masykur menirukan pesan sang kiai.

Secara sosial, kiai juga gemar sedekah. Bahkan, Masykur pernah diberi uang. Uang tersebut di antaranya juga diminta untuk disedekahkan kepada anak yatim dan duafa. ”Dalam dunia pendidikan dan ibadah, beliau juga dikenal sangat istiqamah. Meskipun almarhum kecapekan, pasti tetap menyempatkan mengajar,” jelas Masykur.

Sekretaris Pengurus LPI Darul Ulum Banyuanyar Masturil Kirom mengenang Kiai Syamsul sebagai sosok guru yang sangat telaten dalam mendidik santri. Kiai juga selalu menempatkan diri sebagai khadimul ma’had atau pelayan bagi PP Banyuanyar. ”Sosok yang hilim, istiqomah, dan biasa memanggil santri dengan sebutan ’anakku’,” katanya.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/