alexametrics
21.2 C
Madura
Monday, June 27, 2022

Nyalakan 2.000 Lilin, Warnai 700 Meter Kain Kafan

Pamekasan – Rembulan bersinar terang di atas langit Pondok Pesantren An-Nasyiin, Jumat malam (29/9). Meski tidak seindah purnama, cahaya lembut bulan di malam itu memberi kesan tersendiri bagi ratusan pelajar di pesantren yang terletak di Desa Grujugan, Kecamatan Larangan, Pamekasan, tersebut. Bulan dan ratusan gemintang seakan menjadi saksi atas kegiatan yang mereka gelar malam itu.

Di halaman sekolah, ratusan siswa tampak gembira. Jarum jam baru bergeser ke pukul 19.00. Sebuah kain berwarna putih dibentangkan dari selatan menuju utara. Kain kafan yang terbentang itu berukuran sekitar 700 meter. ”Ini cara kami merayakan bulan Muharam, bulan yang sakral bagi umat Islam,” ujar KH. Ach. Fauzi Hasbullah, Pengasuh sekaligus Ketua Yayasan An-Nasyiin.

Kain putih yang dibentangkan itu lengkap dengan sketsa masjid. Malam itu para siswa yang masih usia PAUD, RA, dan TPA diajak untuk mewarnai gambar masjid. Karena itulah, di sepanjang kain kafan ada 2.000 lilin yang menyala. Lilin itu sebagai lentera agar aktivitas mewarnai masjid berjalan lancar.

Berpakaian putih dan rompi biru, ratusan siswa duduk rapi di sepanjang kain putih yang membentang. Para orang tua siswa tampak kompak memberikan dukungan. Para orang tua duduk di belakang tunas-tunas bangsa itu yang sedang membubuhkan aneka warna.

Baca Juga :  IAIN Madura Buka Layanan Konseling

Menurut Fauzi, kegiatan itu digelar oleh Ikatan Mahasiswa Alumni An-Nasyiin (IMAN). Selain mewarnai, para siswa juga menggambar dan menulis puisi. Gambar dan puisi itu ditulis di atas kain putih yang sudah disiapkan. ”Kain putih sepanjang 700 meter ini akan kami jadikan kain bersejarah milik Yayasan An-Nasyiin,” tegasnya.

Ketua Umum IMAN Moh. Kurdi mengatakan, acara itu digelar untuk mengasah kreativitas siswa. Bakat mewarnai, menggambar, dan menulis puisi diharapkan terus berkembang. Dengan tajuk ”Merajut Cinta dalam Bingkai Persaudaraan”, pihaknya mengajak siswa bisa mewarnai Indonesia di masa yang akan datang.

”Lilin adalah cahaya. Seperti juga lilin, mereka harus bisa memberi cahaya bagi kebangkitan Indonesia di masa-masa yang akan datang,” terang Kurdi.

Kain putih yang membentang juga diniati agar para siswa bisa bersatu padu. Jika mereka menggambar di kertas yang terpotong-potong, hasil kreativitasnya akan sulit diabadikan. Bisa-bisa suatu hari nanti karya mereka akan tercecer atau tercerai-berai. ”Kain ini adalah pengikat kreativitas siswa,” paparnya. ”Jika dalam berbangsa dan bernegara, persatuan itu diikat dengan ajaran Pancasila,” tegasnya.

Baca Juga :  Memori (Film) Pengkhianatan G30S/PKI dan Generasi Milenial

Bagi santri An-Nasyiin, cinta Tanah Air harus dipupuk sejak dini kepada para generasi muda. Mereka perlu diajak bagaimana cara membangun persatuan dalam bingkai persaudaraan. Sifat ego harus mereka tanggalkan demi mencapai perdamaian di Republik Indonesia.

”Negara kita sedang dalam bahaya perpecahan. Ada isu kebangkitan PKI, ada kelompok Islam radikal, ada pula yang menungganginya,” papar dia. ”Mereka sengaja ingin mengacak-acak persatuan di negeri ini,” tambahnya.

Karena itulah, aktivis GP Ansor ini mengajak seluruh elemen bangsa memerangi ancaman disintegrasi. Yang tak kalah penting, para pelajar dan generasi muda harus dijauhkan dari informasi-informasi yang tidak jelas sumbernya. Sebab hal itu akan mudah memecah belah.

”Spirit Muharam adalah momentun menjaga keimanan dan keislaman. Islam yang rahmatan lil alamin. Islam yang mempersatukan, bukan yang mencerai-beraikan,” katanya.

Ditanya mengapa tidak ikut nonton bareng film G30S PKI? Menurut Kurdi, pihaknya sudah pernah menontonnya bersama-sama. ”Santri di sini sudah nonton minggu kemarin. Jadi tidak perlu nonton lagi,” pungkasnya.

Pamekasan – Rembulan bersinar terang di atas langit Pondok Pesantren An-Nasyiin, Jumat malam (29/9). Meski tidak seindah purnama, cahaya lembut bulan di malam itu memberi kesan tersendiri bagi ratusan pelajar di pesantren yang terletak di Desa Grujugan, Kecamatan Larangan, Pamekasan, tersebut. Bulan dan ratusan gemintang seakan menjadi saksi atas kegiatan yang mereka gelar malam itu.

Di halaman sekolah, ratusan siswa tampak gembira. Jarum jam baru bergeser ke pukul 19.00. Sebuah kain berwarna putih dibentangkan dari selatan menuju utara. Kain kafan yang terbentang itu berukuran sekitar 700 meter. ”Ini cara kami merayakan bulan Muharam, bulan yang sakral bagi umat Islam,” ujar KH. Ach. Fauzi Hasbullah, Pengasuh sekaligus Ketua Yayasan An-Nasyiin.

Kain putih yang dibentangkan itu lengkap dengan sketsa masjid. Malam itu para siswa yang masih usia PAUD, RA, dan TPA diajak untuk mewarnai gambar masjid. Karena itulah, di sepanjang kain kafan ada 2.000 lilin yang menyala. Lilin itu sebagai lentera agar aktivitas mewarnai masjid berjalan lancar.


Berpakaian putih dan rompi biru, ratusan siswa duduk rapi di sepanjang kain putih yang membentang. Para orang tua siswa tampak kompak memberikan dukungan. Para orang tua duduk di belakang tunas-tunas bangsa itu yang sedang membubuhkan aneka warna.

Baca Juga :  Memori (Film) Pengkhianatan G30S/PKI dan Generasi Milenial

Menurut Fauzi, kegiatan itu digelar oleh Ikatan Mahasiswa Alumni An-Nasyiin (IMAN). Selain mewarnai, para siswa juga menggambar dan menulis puisi. Gambar dan puisi itu ditulis di atas kain putih yang sudah disiapkan. ”Kain putih sepanjang 700 meter ini akan kami jadikan kain bersejarah milik Yayasan An-Nasyiin,” tegasnya.

Ketua Umum IMAN Moh. Kurdi mengatakan, acara itu digelar untuk mengasah kreativitas siswa. Bakat mewarnai, menggambar, dan menulis puisi diharapkan terus berkembang. Dengan tajuk ”Merajut Cinta dalam Bingkai Persaudaraan”, pihaknya mengajak siswa bisa mewarnai Indonesia di masa yang akan datang.

”Lilin adalah cahaya. Seperti juga lilin, mereka harus bisa memberi cahaya bagi kebangkitan Indonesia di masa-masa yang akan datang,” terang Kurdi.

Kain putih yang membentang juga diniati agar para siswa bisa bersatu padu. Jika mereka menggambar di kertas yang terpotong-potong, hasil kreativitasnya akan sulit diabadikan. Bisa-bisa suatu hari nanti karya mereka akan tercecer atau tercerai-berai. ”Kain ini adalah pengikat kreativitas siswa,” paparnya. ”Jika dalam berbangsa dan bernegara, persatuan itu diikat dengan ajaran Pancasila,” tegasnya.

Baca Juga :  Bentengi Mahasiswa dari Paham Radikalisme

Bagi santri An-Nasyiin, cinta Tanah Air harus dipupuk sejak dini kepada para generasi muda. Mereka perlu diajak bagaimana cara membangun persatuan dalam bingkai persaudaraan. Sifat ego harus mereka tanggalkan demi mencapai perdamaian di Republik Indonesia.

”Negara kita sedang dalam bahaya perpecahan. Ada isu kebangkitan PKI, ada kelompok Islam radikal, ada pula yang menungganginya,” papar dia. ”Mereka sengaja ingin mengacak-acak persatuan di negeri ini,” tambahnya.

Karena itulah, aktivis GP Ansor ini mengajak seluruh elemen bangsa memerangi ancaman disintegrasi. Yang tak kalah penting, para pelajar dan generasi muda harus dijauhkan dari informasi-informasi yang tidak jelas sumbernya. Sebab hal itu akan mudah memecah belah.

”Spirit Muharam adalah momentun menjaga keimanan dan keislaman. Islam yang rahmatan lil alamin. Islam yang mempersatukan, bukan yang mencerai-beraikan,” katanya.

Ditanya mengapa tidak ikut nonton bareng film G30S PKI? Menurut Kurdi, pihaknya sudah pernah menontonnya bersama-sama. ”Santri di sini sudah nonton minggu kemarin. Jadi tidak perlu nonton lagi,” pungkasnya.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/