alexametrics
22.8 C
Madura
Saturday, May 21, 2022

24 Orang Pernah Kontak Langsung dengan Bocah 11 Tahun Positif Covid-19

PAMEKASAN – Orang yang pernah kontak langsung dengan bocah 11 tahun positif terjangkit virus korona terus didata. Hingga kemarin (31/3), sudah 24 orang yang tercatat. Mereka berstatus orang dalam pemantauan (ODP).

Angka itu bisa bertambah. Sebab, Tim Satuan Tugas (Satgas) Pencegahan Covid-19 Pamekasan terus melakukan pelacakan. Itu dilakukan untuk mengantisipasi dan memutus rantai persebaran virus korona di Bumi Gerbang Salam.

Sebanyak 24 orang tersebut terdiri atas petugas medis dan cleaning service di RSUD dr Slamet Martodirdjo Pamekasan serta keluarga pasien positif korona yang meninggal pada Jumat (20/3). Kemudian, ditambah warga yang turut membantu penguburan korban Covid-19 di Kecamatan Larangan. Semuanya harus menjalani isolasi secara mandiri.

Juru Bicara Satgas Pencegahan Covid-19 Pamekasan Achmad Marsuki mengatakan, pihaknya sudah melacak orang-orang yang telah melakukan kontak dengan pasien korona yang meninggal di RSUD.

Kemarin dia menyebutkan ada 26 orang yang dinyatakan pernah kontak langsung dengan pasien positif Covid-19 yang meninggal. Namun, pada sore harinya, Achmad Marsuki meralat angka tersebut menjadi 24 orang.

Baca Juga :  10 Tahun Tak Dapat Bantuan, Nenek Muniah Tidur Beralas Terpal

”Sudah kami lacak dan kami data semuanya. Kami datangi langsung ke rumahnya masing-masing,” tegasnya kemarin .

Puluhan ODP itu, kata dia, saat ini menjalani karantina secara mandiri di kediamannya masing-masing. Dia mengklaim, semuanya telah menjalani rapid test dan dinyatakan negatif. Bahkan, dari puluhan orang yang menjalani karantina secara mandiri tersebut, tidak ada yang mengeluh sesuai dengan gejala Covid-19.

”Sampai saat ini (kemarin, Red), tidak ada keluhan apa pun dari mereka yang pernah kontak langsung. Apalagi, yang mengarah ke sana (Covid-19),” katanya.

Dia mengakui, tidak ada pengawasan khusus kepada 24 ODP selama isolasi mandiri. Marsuki menyampaikan, semua ODP tersebut secara sadar melakukan isolasi di rumah masing-masing. ”Sebenarnya masyarakat sudah paham dan melakukan isolasi sendiri,” klaimnya.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Pamekasan mengimbau masyarakat terus menjaga kesehatan dan lingkungan. Masyarakat tidak perlu panik. Sebab, hal itu dapat membuat daya tahan tubuh menurun. Dia meminta masyarakat mengikuti imbauan pemerintah.

Baca Juga :  450 Siswa SMAN 2 Pamekasan Ikuti Vaksinasi

”Hindari kerumunan dan harus jaga jarak. Karena jaga jarak itu sangat penting,” terangnya.

Sementara itu, Ketua Tim Penanganan Covid-19 RSUD dr Slamet Martodirdjo Pamekasan Syaiful Hidayat membenarkan bahwa beberapa tenaga medis rumah sakit pelat merah itu ditetapkan sebagai ODP. Saat ini semuanya menjalani isolasi di rumah masing-masing. ”Dari 17 tenaga medis, 2 dokter, sisanya perawat,” sebutnya.

Dokter spesialis paru-paru itu mengungkapkan, saat penanganan pasien positif korona yang telah meninggal itu, tidak ada satu pun petugas medis yang menggunakan alat pelindung diri (APD). Sebab, pasien masuk RSUD bukan dengan gejala Covid-19.

Semua petugas medis yang pernah menangani pasien telah dilakukan rapid test. Hasilnya, semuanya negatif. Sampai saat ini, tidak ada satu pun di antara mereka yang mengalami gejala Covid-19. ”Semuanya sampai saat ini tidak masuk (kerja) karena harus menjalani isolasi mandiri selama 14 hari,” tukasnya. (jup)

 

- Advertisement -

PAMEKASAN – Orang yang pernah kontak langsung dengan bocah 11 tahun positif terjangkit virus korona terus didata. Hingga kemarin (31/3), sudah 24 orang yang tercatat. Mereka berstatus orang dalam pemantauan (ODP).

Angka itu bisa bertambah. Sebab, Tim Satuan Tugas (Satgas) Pencegahan Covid-19 Pamekasan terus melakukan pelacakan. Itu dilakukan untuk mengantisipasi dan memutus rantai persebaran virus korona di Bumi Gerbang Salam.

Sebanyak 24 orang tersebut terdiri atas petugas medis dan cleaning service di RSUD dr Slamet Martodirdjo Pamekasan serta keluarga pasien positif korona yang meninggal pada Jumat (20/3). Kemudian, ditambah warga yang turut membantu penguburan korban Covid-19 di Kecamatan Larangan. Semuanya harus menjalani isolasi secara mandiri.


Juru Bicara Satgas Pencegahan Covid-19 Pamekasan Achmad Marsuki mengatakan, pihaknya sudah melacak orang-orang yang telah melakukan kontak dengan pasien korona yang meninggal di RSUD.

Kemarin dia menyebutkan ada 26 orang yang dinyatakan pernah kontak langsung dengan pasien positif Covid-19 yang meninggal. Namun, pada sore harinya, Achmad Marsuki meralat angka tersebut menjadi 24 orang.

Baca Juga :  Pasien Covid-19 Capai 78 Orang

”Sudah kami lacak dan kami data semuanya. Kami datangi langsung ke rumahnya masing-masing,” tegasnya kemarin .

Puluhan ODP itu, kata dia, saat ini menjalani karantina secara mandiri di kediamannya masing-masing. Dia mengklaim, semuanya telah menjalani rapid test dan dinyatakan negatif. Bahkan, dari puluhan orang yang menjalani karantina secara mandiri tersebut, tidak ada yang mengeluh sesuai dengan gejala Covid-19.

”Sampai saat ini (kemarin, Red), tidak ada keluhan apa pun dari mereka yang pernah kontak langsung. Apalagi, yang mengarah ke sana (Covid-19),” katanya.

Dia mengakui, tidak ada pengawasan khusus kepada 24 ODP selama isolasi mandiri. Marsuki menyampaikan, semua ODP tersebut secara sadar melakukan isolasi di rumah masing-masing. ”Sebenarnya masyarakat sudah paham dan melakukan isolasi sendiri,” klaimnya.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Pamekasan mengimbau masyarakat terus menjaga kesehatan dan lingkungan. Masyarakat tidak perlu panik. Sebab, hal itu dapat membuat daya tahan tubuh menurun. Dia meminta masyarakat mengikuti imbauan pemerintah.

Baca Juga :  MTsN 2 Pamekasan Raih Adiwiyata Nasional

”Hindari kerumunan dan harus jaga jarak. Karena jaga jarak itu sangat penting,” terangnya.

Sementara itu, Ketua Tim Penanganan Covid-19 RSUD dr Slamet Martodirdjo Pamekasan Syaiful Hidayat membenarkan bahwa beberapa tenaga medis rumah sakit pelat merah itu ditetapkan sebagai ODP. Saat ini semuanya menjalani isolasi di rumah masing-masing. ”Dari 17 tenaga medis, 2 dokter, sisanya perawat,” sebutnya.

Dokter spesialis paru-paru itu mengungkapkan, saat penanganan pasien positif korona yang telah meninggal itu, tidak ada satu pun petugas medis yang menggunakan alat pelindung diri (APD). Sebab, pasien masuk RSUD bukan dengan gejala Covid-19.

Semua petugas medis yang pernah menangani pasien telah dilakukan rapid test. Hasilnya, semuanya negatif. Sampai saat ini, tidak ada satu pun di antara mereka yang mengalami gejala Covid-19. ”Semuanya sampai saat ini tidak masuk (kerja) karena harus menjalani isolasi mandiri selama 14 hari,” tukasnya. (jup)

 

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/