alexametrics
25.3 C
Madura
Monday, June 27, 2022

Suara Santri: Rindu

RINDU, apakah harus  diberi nama? Atau haruskah diberi nama rindu? Lelaki itu bergegas ke musala, sesaat setelah azan berkumandang. Ia merasa ingin segera bertemu Tuhan dalam religiusitas Ramadan. Ia orang yang pertama kali datang dan yang terakhir kali pulang dari tempat ibadah itu.

Dari sisi kosmologi rindu, cara ia merindu mendekati wilayah substansial. Rindu adalah dialektika rasa untuk bertemu dan begitu berjumpa, merasa berat untuk berpisah.

Itulah hakikat rindu dalam rubaiat rasa. Ia butuh jeda di mana perindu dan yang dirindu berada dalam spektrum rasa. Atmosfer eskatologis dalam fragmentasi ini membuncah, lepas, dan membebaskan.

Di musala itu, andai disurvei dengan sebuah pertanyaan, ”Adakah yang merindukan Tuhan?” Tesis sementara akan memunculkan tabulasi data yang dominan. Sebagian besar jamaah pasti mengacungkan tangan bila jawaban atas pertanyaan itu dijawab secara terbuka. Apakah yang menjawab rindu pada Tuhan itu seluruhnya jujur, mungkin saja.

Tetapi, lihatlah orang yang duduk di baris nomor dua dari belakang. Ia lelaki yang mengenakan sarung putih, baju koko putih lengan panjang, dan tentu saja kopiah putih. Ada jenggot di dagunya tanpa kumis di bibir atas. Pada saat salat Jumat tiba, ia selalu hadir ketika imam selesai takbiratul ihram. Ketika imam mengucap salam di ujung tahiyat akhir, lelaki itu pun orang yang pertama kali meninggalkan tempat ibadah. Inikah rindu (pada Tuhan) seperti dalam alinea pertama?

Baca Juga :  Pegadaian Gelar Literasi Keuangan Syariah

Rindu itu adalah rasa (ingin bertemu) dan memanfaatkan sebesar-besarnya momentum itu untuk kemaslahatan antardiri. Lalu, pernahkah kita merasa rindu? Bagaimana cara kita mengekspresikan rindu kepada yang dituju? Apakah kita juga termasuk hamba yang merindukan (pertemuan) Tuhan? Berapa lama kita salat atau seberapa sebentar kita sembahyang? Atau pernahkah kita meninggalkan salat bahkan puasa untuk dan atas nama rindu pada Tuhan?

Semua jawaban atas pertanyaan itu ada pada diri kita. Rindu, atau tidak rindu, tak ada yang tahu sebagai suatu sikap diri dari rasa yang ada. Tetapi, rindu atau bukan rindu, itu semua memerlukan perjuangan sampai akhirnya akan keluar sebagai pemenang.

Begitu pula dalam momentum Ramadan ini. Semua memerlukan perjuangan supaya kelak mendapatkan hari kemenangan, Idul Fitri. Hidup yang tak diperjuangkan tak akan pernah dimenangkan seperti disampaikan Tan Malaka. Perjuangan terbesar adalah perang melawan nafsu diri sendiri. Sudahkah kita berjuang dan menang atas pertempuran itu?

Baca Juga :  Keajaiban Silaturahmi

Ada peristiwa menarik dalam cara pandang dan artikulasi rindu yang dilakukan Rabiah Al Adawiyah. Pertama, ia bersujud sembari mengatakan bila sujud karena ingin masuk surga, sudilah Tuhan berkenan memasukkannya ke dalam neraka.

Kedua, ia bersujud sembari mengatakan bila sujud karena takut neraka, ia minta pintu surga dikunci serapat-rapatnya. Ketiga, ia bersujud dan menyampaikan bahwa sujud hanya karena cinta tanpa peduli apakah Tuhan memasukkannya ke dalam neraka atau mengabadikannya di surga. Tetapi, Rabiah lepas dari itu semua.

Sementara di jalan raya, orang-orang merusak dan meneror untuk dan atas nama Tuhan. Mereka yakin perilaku itu bisa menyelamatkannya dari neraka. Ekspresi rindu dan cinta Tuhan tentu saja tidak seperti itu, sebagaimana meraih surga pastilah tidak sebercanda itu. 

 

*)Alumnus Ponpes Annuqayah Guluk-Guluk dan Al-Amien (Ponteg) Prenduan, Sumenep.

 

RINDU, apakah harus  diberi nama? Atau haruskah diberi nama rindu? Lelaki itu bergegas ke musala, sesaat setelah azan berkumandang. Ia merasa ingin segera bertemu Tuhan dalam religiusitas Ramadan. Ia orang yang pertama kali datang dan yang terakhir kali pulang dari tempat ibadah itu.

Dari sisi kosmologi rindu, cara ia merindu mendekati wilayah substansial. Rindu adalah dialektika rasa untuk bertemu dan begitu berjumpa, merasa berat untuk berpisah.

Itulah hakikat rindu dalam rubaiat rasa. Ia butuh jeda di mana perindu dan yang dirindu berada dalam spektrum rasa. Atmosfer eskatologis dalam fragmentasi ini membuncah, lepas, dan membebaskan.


Di musala itu, andai disurvei dengan sebuah pertanyaan, ”Adakah yang merindukan Tuhan?” Tesis sementara akan memunculkan tabulasi data yang dominan. Sebagian besar jamaah pasti mengacungkan tangan bila jawaban atas pertanyaan itu dijawab secara terbuka. Apakah yang menjawab rindu pada Tuhan itu seluruhnya jujur, mungkin saja.

Tetapi, lihatlah orang yang duduk di baris nomor dua dari belakang. Ia lelaki yang mengenakan sarung putih, baju koko putih lengan panjang, dan tentu saja kopiah putih. Ada jenggot di dagunya tanpa kumis di bibir atas. Pada saat salat Jumat tiba, ia selalu hadir ketika imam selesai takbiratul ihram. Ketika imam mengucap salam di ujung tahiyat akhir, lelaki itu pun orang yang pertama kali meninggalkan tempat ibadah. Inikah rindu (pada Tuhan) seperti dalam alinea pertama?

Baca Juga :  Totalitas Kesalehan

Rindu itu adalah rasa (ingin bertemu) dan memanfaatkan sebesar-besarnya momentum itu untuk kemaslahatan antardiri. Lalu, pernahkah kita merasa rindu? Bagaimana cara kita mengekspresikan rindu kepada yang dituju? Apakah kita juga termasuk hamba yang merindukan (pertemuan) Tuhan? Berapa lama kita salat atau seberapa sebentar kita sembahyang? Atau pernahkah kita meninggalkan salat bahkan puasa untuk dan atas nama rindu pada Tuhan?

Semua jawaban atas pertanyaan itu ada pada diri kita. Rindu, atau tidak rindu, tak ada yang tahu sebagai suatu sikap diri dari rasa yang ada. Tetapi, rindu atau bukan rindu, itu semua memerlukan perjuangan sampai akhirnya akan keluar sebagai pemenang.

Begitu pula dalam momentum Ramadan ini. Semua memerlukan perjuangan supaya kelak mendapatkan hari kemenangan, Idul Fitri. Hidup yang tak diperjuangkan tak akan pernah dimenangkan seperti disampaikan Tan Malaka. Perjuangan terbesar adalah perang melawan nafsu diri sendiri. Sudahkah kita berjuang dan menang atas pertempuran itu?

Baca Juga :  Pesantren Ladang Memburu Barokah

Ada peristiwa menarik dalam cara pandang dan artikulasi rindu yang dilakukan Rabiah Al Adawiyah. Pertama, ia bersujud sembari mengatakan bila sujud karena ingin masuk surga, sudilah Tuhan berkenan memasukkannya ke dalam neraka.

Kedua, ia bersujud sembari mengatakan bila sujud karena takut neraka, ia minta pintu surga dikunci serapat-rapatnya. Ketiga, ia bersujud dan menyampaikan bahwa sujud hanya karena cinta tanpa peduli apakah Tuhan memasukkannya ke dalam neraka atau mengabadikannya di surga. Tetapi, Rabiah lepas dari itu semua.

Sementara di jalan raya, orang-orang merusak dan meneror untuk dan atas nama Tuhan. Mereka yakin perilaku itu bisa menyelamatkannya dari neraka. Ekspresi rindu dan cinta Tuhan tentu saja tidak seperti itu, sebagaimana meraih surga pastilah tidak sebercanda itu. 

 

*)Alumnus Ponpes Annuqayah Guluk-Guluk dan Al-Amien (Ponteg) Prenduan, Sumenep.

 

- Advertisement -

Artikel Terkait

Pesantren Ladang Memburu Barokah

Jaringan Pertemanan Pesantren

Meluaskan Makna Tadarus

Keajaiban Silaturahmi

Most Read

Artikel Terbaru

/