alexametrics
21 C
Madura
Saturday, June 25, 2022

Pak Zainuddin dan Arwah Kiai-Kiai Annuqayah

LIMA orang mendengar kisah yang dituturkan Pak Zainuddin terpaku. Sebagian saya lihat mengeluarkan air mata. Pak Zainuddin juga demikian. Saya pun begitu. Kantor yang sebelumnya ramai dengan kesibukan kerja, saat itu senyap terserap dalam kisah perjumpaan Pak Zainuddin dengan arwah Kiai Abdullah Sajjad, Kiai Ilyas, Kiai Warits, Kiai Basyir, Kiai Ishom, Kiai Hasan, dan arwah kiai-kiai Annuqayah lainnya.

”Hingga sekarang saya masih terus ingat pertemuan itu. Begitu mengesankan,” kata beliau.

”Kapan mimpi itu?” tanya saya.

”Dua hari setelah saya berbaring di rumah sakit,” saat itu beliau memang kritis. Gegara kecelakaan tunggal. Ada kerusakan kecil di otak belakang. Tentu dengan beberapa luka di beberapa bagian tubuh lainnya.

Dalam pertemuan dengan arwah para kiai Annuqayah tersebut ada dialog menarik. Kiai Warits berkata bahwa kedatangan pengasuh Lubangsa Raya ini ke rumah sakit karena sehabis Magrib mencari Pak Zainuddin, namun tidak ketemu. Biasanya Pak Zainuddin habis Magrib senantiasa sowan ke Kiai Warits. Lalu ada yang menginformasikan bahwa Pak Zainuddin ada di rumah sakit. Segera Kiai Warits berangkat.

”Saya ke sini juga mencari Zainuddin,” kata Kiai Ishom dalam mimpi itu.

Para kiai menanyakan keadaan Pak Zainuddin. ”Oh, ndak, sudah lumayan,” kata Kiai Warits setelah melihat kondisi luka guru SMAN Lenteng itu. ”Wajah Sampean kelihatan semakin bagus,” kata Kiai Ishom menambahi.

Kiai Abdullah Sajjad bertanya,”Sampean ada di mana ini?”

”Saya ada di rumah sakit.”

”Oh iya ya, kita beda alam. Sampean masih hidup,” kata Aba Kiai Basyir dan Kiai Ishom tersebut.

Pak Zainuddin baru sadar bahwa bukan hanya para kiai Annuqayah yang datang, tapi banyak arwah lain di luar rumah sakit begitu ramai yang hendak menjenguk beliau. Lalu beliau bertanya kepada Kiai Abdullah Sajjad siapakah mereka.

Apa jawaban Pimpinan Hizbullah tersebut?

”Mereka adalah orang-orang yang pernah kau bacakan doa tanpa kau sebut nama-nama mereka. Sementara kami ini selalu kau sebut namanya saat didoakan sehingga bisa berkumpul dekat Sampean,” kata Kiai Abdullah Sajjad.

Lalu dengan akrabnya pejuang kemerdekaan ini berkisah tentang nikmat yang telah diberikan Allah di alam baka.

”Saat ini Allah memberikan dua kenikmatan. Satu kenikmatan lagi dijanjikan kelak ketika hari kiamat datang. Dua kenikmatan yang saat ini saya rasakan sungguh luar biasa. Namun saya masih penasaran dengan satu janji kenikmatan tersebut. Semoga Sampean kelak juga diberi kenikmatan-kenikmatan ini oleh Allah,” kata Kiai Abdullah Sajjad kepada Pak Zainuddin.

Baca Juga :  Pesantren Ladang Memburu Barokah

Saya lihat air mata kembali mengalir dari mata Pak Zainuddin yang mulai memerah. Dia diam sejenak dan kembali berkisah dengan suara yang mulai pelan dan parau.
“Saya mohon didoakan agar kelak saya bisa bersama kiai-kiai semua,” kata Pak Zainuddin kepara para kiai Annuqayah.

Entah bagaimana, Kiai Basyir mengangkat tangan memimpin doa diamini kiai-kiai lain. Pak Zainuddin saat itu turut mengangkat tangan membacakan amin dalam doa yang lumayan panjang.

Setelah itu, para kiai pamit pulang dan Pak Zainuddin terbangun dari mimpinya. Namun bagi beliau, ia serasa bukan mimpi. Begitu nyata. Merasuk ke dalam jiwa.

Saya bertanya kepada Pak Zainuddin, adakah amalan khusus atau riyadah yang selama ini beliau lakukan sehingga arwah kiai-kiai mulia tersebut berkenan hadir, menyapa, berkisah dengan akrab serta mendoakan beliau dalam mimpi?

Ternyata ada.

Apakah itu?

”Setiap salat Magrib saya senantiasa membaca Alfatihah kepada kiai-kiai Annuqayah,” kata Pak Zainuddin membeberkan amalannya yang ternyata telah dilakukan bertahun-tahun.
Gaya Alfatihahnya tidak menggunakan mode one for all alias satu Alfatihah untuk semua arwah. Melainkan model head to head. Satu alfatihah untuk satu almarhum. Tidak hanya itu, beliau juga menghadirkan wajah setiap almarhum untuk memantapkan jalinan rohani seolah ketika Alfatihah dibacakan, ruh yang dituju berada di depannya.

”Sekitar 30 menit saya mengamalkan itu,” lanjut beliau.

Jadi saya baru paham mengapa di alam baka sana, arwah kiai-kiai Annuqayah menanyakan tentang Pak Zainuddin sehabis magrib. Ya, karena saat itu beliau berada di rumah sakit. Tidak bisa lagi membacakan Alfatihah seperti biasa.

”Kehadiran arwah para kiai semakin memantapkan keyakinan saya bahwa doa yang dibacakan benar-benar sampai kepada yang dituju. Sejak mimpi itu, saya selalu bergetar setiap kali membacakan Alfatihah, merasa kelu lidah ini, karena sangat terasa kehadiran arwah kiai-kiai Annuqayah di depan saya,” kata humas SMA Annuqayah ini.

Saya tahu, sebelum kejadian mimpi itu, beliau sangat menghormati setiap orang, terutama guru beliau. Contohnya, jika beliau mengimami salat Duhur yang jamaahnya siswa dan guru SMA Annuqayah di masjid pesantren salaf yang didirikan Kiai Basyir, maka sehabis salat beliau pasti membaca Alfatihah secara berjamaah untuk Kiai Basyir sebagai kompensasi ketidaksopanan beliau karena membelakangi pusara Kiai Basyir yang ada di sebelah timur masjid.

Baca Juga :  Koordinator Dewan Pengawas PPI Dunia Lecutkan Semangat Santri

Pasca mimpi itu, Pak Zainuddin merasa jiwanya semakin terikat erat dengan kiai-kiai Annuqayah dan hendak memasrahkan utuh jiwanya agar bisa diakui sebagai santri mereka. Maka, beliau pun mendatangi putra-putra almarhumin untuk melakukan aksi yang membuat saya benar-benar terkejut.

Apa itu?

Beliau dengan sangat sopan minta izin untuk memeluk dan mencium perut kiai-kiai yang sekarang menjadi pengasuh Annuqayah. Beliau bilang baru dua kiai yang sudah didatangi. Kedua pengasuh tersebut mengerti apa yang diinginkan Pak Zainuddin dan mengizinkannya. Memeluk perut dan menciumnya adalah tanda kecintaan dan ketakdziman terhadap orang yang lebih mulia.

Saya berpikir barangkali Pak Zainuddin hendak meniru sahabat Da’tsur yang mencium dan memeluk perut Rasulullah karena begitu cinta dan begitu berharap kelak di akhirat bisa berkumpul dengan Almushthafa.

Pasca mimpi itu, Pak Zainuddin juga merasa sungkan berjalan lewat di depan musala Latee, masjid Lubangsa Raya atau musala Lubangsa Selatan. Dia harus nyisih dengan membukukkan badan karena nampak baginya Kiai Basyir, Kiai Warist, dan Kiai Ishom berada di sana dan melihat beliau. Beliau sangat mengerti bahwa ketiganya sudah wafat. Namun rasa hati mengatakan lain. Ketiganya masih hidup dan nampak pada momen dan tempat tertentu.

Kuatnya ikatan batin Pak Zainuddin dengan Kiai-kiai Annuqayah sangat mempengaruhi cara mendidik anak-anaknya. Misalnya, ketika putrinya hendak kuliah ke luar Madura, dibawalah dia ke Asta Kiai Amir Ilyas.

Tidak hanya mengaji Alquran dan menuturkan ajaran Kiai Amir tentang tujuan pendidikan, beliau juga meminta anak sareang-nya itu untuk melihat apa yang ada di atas pusara Kiai Amir dan menyuruh untuk mengambilnya. Sang putri mengambil kerikil. Beliau meminta untuk menyimpannya untuk dibawa ke tempat kuliah, diletakkan di depan bantal atau di tempat yang mudah dijangkau.

Untuk apa?

Tamat.

 

*)Guru di Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk, Sumenep.

 

………………………

Catatan Redaksi: Tulisan Habibullah Salman di atas diambil dari catatan penulis di Facebook dalam empat bagian. Catatan pertama 24 Mei 2018 pukul 11.06 dan catatan  keempat 27 Mei 2018 pukul 16.53. Kemudian oleh Lukman Hakim AG. dikumpulkan menjadi satu.

LIMA orang mendengar kisah yang dituturkan Pak Zainuddin terpaku. Sebagian saya lihat mengeluarkan air mata. Pak Zainuddin juga demikian. Saya pun begitu. Kantor yang sebelumnya ramai dengan kesibukan kerja, saat itu senyap terserap dalam kisah perjumpaan Pak Zainuddin dengan arwah Kiai Abdullah Sajjad, Kiai Ilyas, Kiai Warits, Kiai Basyir, Kiai Ishom, Kiai Hasan, dan arwah kiai-kiai Annuqayah lainnya.

”Hingga sekarang saya masih terus ingat pertemuan itu. Begitu mengesankan,” kata beliau.

”Kapan mimpi itu?” tanya saya.


”Dua hari setelah saya berbaring di rumah sakit,” saat itu beliau memang kritis. Gegara kecelakaan tunggal. Ada kerusakan kecil di otak belakang. Tentu dengan beberapa luka di beberapa bagian tubuh lainnya.

Dalam pertemuan dengan arwah para kiai Annuqayah tersebut ada dialog menarik. Kiai Warits berkata bahwa kedatangan pengasuh Lubangsa Raya ini ke rumah sakit karena sehabis Magrib mencari Pak Zainuddin, namun tidak ketemu. Biasanya Pak Zainuddin habis Magrib senantiasa sowan ke Kiai Warits. Lalu ada yang menginformasikan bahwa Pak Zainuddin ada di rumah sakit. Segera Kiai Warits berangkat.

”Saya ke sini juga mencari Zainuddin,” kata Kiai Ishom dalam mimpi itu.

Para kiai menanyakan keadaan Pak Zainuddin. ”Oh, ndak, sudah lumayan,” kata Kiai Warits setelah melihat kondisi luka guru SMAN Lenteng itu. ”Wajah Sampean kelihatan semakin bagus,” kata Kiai Ishom menambahi.

Kiai Abdullah Sajjad bertanya,”Sampean ada di mana ini?”

”Saya ada di rumah sakit.”

”Oh iya ya, kita beda alam. Sampean masih hidup,” kata Aba Kiai Basyir dan Kiai Ishom tersebut.

Pak Zainuddin baru sadar bahwa bukan hanya para kiai Annuqayah yang datang, tapi banyak arwah lain di luar rumah sakit begitu ramai yang hendak menjenguk beliau. Lalu beliau bertanya kepada Kiai Abdullah Sajjad siapakah mereka.

Apa jawaban Pimpinan Hizbullah tersebut?

”Mereka adalah orang-orang yang pernah kau bacakan doa tanpa kau sebut nama-nama mereka. Sementara kami ini selalu kau sebut namanya saat didoakan sehingga bisa berkumpul dekat Sampean,” kata Kiai Abdullah Sajjad.

Lalu dengan akrabnya pejuang kemerdekaan ini berkisah tentang nikmat yang telah diberikan Allah di alam baka.

”Saat ini Allah memberikan dua kenikmatan. Satu kenikmatan lagi dijanjikan kelak ketika hari kiamat datang. Dua kenikmatan yang saat ini saya rasakan sungguh luar biasa. Namun saya masih penasaran dengan satu janji kenikmatan tersebut. Semoga Sampean kelak juga diberi kenikmatan-kenikmatan ini oleh Allah,” kata Kiai Abdullah Sajjad kepada Pak Zainuddin.

Baca Juga :  Totalitas Kesalehan

Saya lihat air mata kembali mengalir dari mata Pak Zainuddin yang mulai memerah. Dia diam sejenak dan kembali berkisah dengan suara yang mulai pelan dan parau.
“Saya mohon didoakan agar kelak saya bisa bersama kiai-kiai semua,” kata Pak Zainuddin kepara para kiai Annuqayah.

Entah bagaimana, Kiai Basyir mengangkat tangan memimpin doa diamini kiai-kiai lain. Pak Zainuddin saat itu turut mengangkat tangan membacakan amin dalam doa yang lumayan panjang.

Setelah itu, para kiai pamit pulang dan Pak Zainuddin terbangun dari mimpinya. Namun bagi beliau, ia serasa bukan mimpi. Begitu nyata. Merasuk ke dalam jiwa.

Saya bertanya kepada Pak Zainuddin, adakah amalan khusus atau riyadah yang selama ini beliau lakukan sehingga arwah kiai-kiai mulia tersebut berkenan hadir, menyapa, berkisah dengan akrab serta mendoakan beliau dalam mimpi?

Ternyata ada.

Apakah itu?

”Setiap salat Magrib saya senantiasa membaca Alfatihah kepada kiai-kiai Annuqayah,” kata Pak Zainuddin membeberkan amalannya yang ternyata telah dilakukan bertahun-tahun.
Gaya Alfatihahnya tidak menggunakan mode one for all alias satu Alfatihah untuk semua arwah. Melainkan model head to head. Satu alfatihah untuk satu almarhum. Tidak hanya itu, beliau juga menghadirkan wajah setiap almarhum untuk memantapkan jalinan rohani seolah ketika Alfatihah dibacakan, ruh yang dituju berada di depannya.

”Sekitar 30 menit saya mengamalkan itu,” lanjut beliau.

Jadi saya baru paham mengapa di alam baka sana, arwah kiai-kiai Annuqayah menanyakan tentang Pak Zainuddin sehabis magrib. Ya, karena saat itu beliau berada di rumah sakit. Tidak bisa lagi membacakan Alfatihah seperti biasa.

”Kehadiran arwah para kiai semakin memantapkan keyakinan saya bahwa doa yang dibacakan benar-benar sampai kepada yang dituju. Sejak mimpi itu, saya selalu bergetar setiap kali membacakan Alfatihah, merasa kelu lidah ini, karena sangat terasa kehadiran arwah kiai-kiai Annuqayah di depan saya,” kata humas SMA Annuqayah ini.

Saya tahu, sebelum kejadian mimpi itu, beliau sangat menghormati setiap orang, terutama guru beliau. Contohnya, jika beliau mengimami salat Duhur yang jamaahnya siswa dan guru SMA Annuqayah di masjid pesantren salaf yang didirikan Kiai Basyir, maka sehabis salat beliau pasti membaca Alfatihah secara berjamaah untuk Kiai Basyir sebagai kompensasi ketidaksopanan beliau karena membelakangi pusara Kiai Basyir yang ada di sebelah timur masjid.

Baca Juga :  Suara Santri: Rindu

Pasca mimpi itu, Pak Zainuddin merasa jiwanya semakin terikat erat dengan kiai-kiai Annuqayah dan hendak memasrahkan utuh jiwanya agar bisa diakui sebagai santri mereka. Maka, beliau pun mendatangi putra-putra almarhumin untuk melakukan aksi yang membuat saya benar-benar terkejut.

Apa itu?

Beliau dengan sangat sopan minta izin untuk memeluk dan mencium perut kiai-kiai yang sekarang menjadi pengasuh Annuqayah. Beliau bilang baru dua kiai yang sudah didatangi. Kedua pengasuh tersebut mengerti apa yang diinginkan Pak Zainuddin dan mengizinkannya. Memeluk perut dan menciumnya adalah tanda kecintaan dan ketakdziman terhadap orang yang lebih mulia.

Saya berpikir barangkali Pak Zainuddin hendak meniru sahabat Da’tsur yang mencium dan memeluk perut Rasulullah karena begitu cinta dan begitu berharap kelak di akhirat bisa berkumpul dengan Almushthafa.

Pasca mimpi itu, Pak Zainuddin juga merasa sungkan berjalan lewat di depan musala Latee, masjid Lubangsa Raya atau musala Lubangsa Selatan. Dia harus nyisih dengan membukukkan badan karena nampak baginya Kiai Basyir, Kiai Warist, dan Kiai Ishom berada di sana dan melihat beliau. Beliau sangat mengerti bahwa ketiganya sudah wafat. Namun rasa hati mengatakan lain. Ketiganya masih hidup dan nampak pada momen dan tempat tertentu.

Kuatnya ikatan batin Pak Zainuddin dengan Kiai-kiai Annuqayah sangat mempengaruhi cara mendidik anak-anaknya. Misalnya, ketika putrinya hendak kuliah ke luar Madura, dibawalah dia ke Asta Kiai Amir Ilyas.

Tidak hanya mengaji Alquran dan menuturkan ajaran Kiai Amir tentang tujuan pendidikan, beliau juga meminta anak sareang-nya itu untuk melihat apa yang ada di atas pusara Kiai Amir dan menyuruh untuk mengambilnya. Sang putri mengambil kerikil. Beliau meminta untuk menyimpannya untuk dibawa ke tempat kuliah, diletakkan di depan bantal atau di tempat yang mudah dijangkau.

Untuk apa?

Tamat.

 

*)Guru di Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk, Sumenep.

 

………………………

Catatan Redaksi: Tulisan Habibullah Salman di atas diambil dari catatan penulis di Facebook dalam empat bagian. Catatan pertama 24 Mei 2018 pukul 11.06 dan catatan  keempat 27 Mei 2018 pukul 16.53. Kemudian oleh Lukman Hakim AG. dikumpulkan menjadi satu.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Pesantren Ladang Memburu Barokah

Jaringan Pertemanan Pesantren

Meluaskan Makna Tadarus

Keajaiban Silaturahmi

Most Read

Artikel Terbaru

/