26.9 C
Madura
Saturday, January 28, 2023

Moderasi Beragama Masyarakat Madura

Oleh M. H. Said Abdullah*

 

JEJAK peradaban nenek moyang kita selalu lekat menggambarkan eksistensi Tuhan. Keberadaan Tuhan menjadi penuntun (way of life) dalam setiap tarikan napas dan tindakan-tindakannya. Betapa kukuhnya kepercayaan ini sehingga seluruh karya agung nenek moyang, baik bendawi maupun nonbendawi, mencerminkan persembahan jalan menuju Tuhan. Keyakinan ini tertanam kuat hingga kini dan terkonfirmasi melalui survei tahunan yang dilakukan oleh Alvara Institute (2021).

Pada laporan survei tersebut dinyatakan 35,4 persen responden menganggap ilmu agama sangat penting. Sebanyak 38,5 responden menyatakan sangat penting dan 25,6 responden menyatakan ilmu agama penting. Terjelaskan, sesungguhnya ada 99,5 responden yang menyatakan ilmu agama itu penting dan hanya 0,5 persen responden yang menganggap ilmu agama tidak penting.

Semangat beragama yang sedemikian besar tanpa diimbangi keluasan khazanah pemikiran keagamaan, sosial, dan kebijaksanaan membuat sebagian pemeluk agama jatuh dalam ruang puritanisme dan menganggap semua pemahaman di luar dirinya salah (truth claim). Sebenarnya tidak akan muncul persoalan bila truth claim berdiam pada ruang privat.

Masalahnya, banyak kejadian, mereka kerap melibatkan otoritas publik untuk memfasilitasi pandangannya agar menjadi sikap negara. Padahal sejak dirumuskan hingga kini, negara ini bukanlah negara agama, tetapi mengakui semua eksistensi agama dengan setara dalam peran perlindungan dan pelayanan.

Kelompok puritanis, fundamentalis, dan radikalis yang dibingkai oleh pemahaman keagamaan yang keliru ini bagaikan sel kanker bagi keindonesiaan kita yang moderat dan multikultural. Survei Alvara Institue menggambarkan Indeks Moderasi Beragama (IMB) diukur dari empat indikator, yakni; (1) komitmen kebangsaan, (2) toleransi, (3) anti kekerasan, dan (4) penerimaan terhadap tradisi lokal. IMB Indonesia 2021 mencapai 74,95 dari skala 0­–100.

Skor tertinggi tecermin pilar komitmen kebangsaan yang mencapai 84,5 dan terendah dari pilar toleransi hanya 60,6. Meskipun komitmen kebangsaan skornya paling tinggi, kita melihat kebulatan tekad segenap anak bangsa atas bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan ideologi Pancasila belum sepenuhnya diamini oleh seluruh anak bangsa.

Baca Juga :  Pencuri Duit Rp 100 Juta Ternyata Warga Palembang dan Bangkalan

Skor responden yang meyakini NKRI sebagai bentuk final belum sebesar penduduk yang meyakini ilmu agama itu penting. Skor NKRI bentuk final masih 82,2. Selebihnya, 17,8, meyakini negara khilafah lebih mereka pilih. Kebulatan tekad atas ideologi Pancasila sebagai dasar negara juga belum utuh di tengah-tengah rakyat, masih di skor 80,6, sisanya sebesar 19,4 meyakini ideologi agama lebih pas menurut sebagian responden.

Bagi saya, skor 17,8 yang meyakini kebenaran negara khilafah dan 19,4 yang meyakini ideologi agama ketimbang Pancasila dalam kehidupan kebangsaan dan kenegaraan kita sungguh menjadi ancaman serius bagi kelangsungan NKRI dan Pancasila. Oleh sebab itu tantangannya tidak mudah, sebagian warga yang mengingkari Pancasila dan NKRI dalam alam pikir mereka harus kita perkaya horisonnya, agar bisa keluar dari kacamata yang sempit dalam melihat Indonesia.

Terhadap mereka yang meyakini negara khilafah dan menolak Pancasila sebagai perjuangan politik, tentu saja aparatur negara tidak boleh tinggal diam. Kewajiban negara memproses hukum mereka seadil-adilnya, sebagai wujud kita negara beradab.

 

Keragaman di Madura

Mayoritas muslim di Madura dalam kategori muslim kultural-tradisional, yang berafiliasi pada Nahdlatul Ulama (NU), baik secara organisasi maupun manhaj ritualnya. Kita memopulerkan praktik ini sebagai wujud Islam Nusantara, yakni praktik keislaman yang menubuh pada keragaman kebudayaan di Nusantara. Eksistensi ketauhidan dan otentisitas prinsip dasar Islam tetap terjaga, tetapi mengakui serta menyerap budaya lokal sebagai cangkang untuk melarutkan nilai-nilai Islam.

Kerap saya utarakan pada esai-esai sebelumnya di Jawa Pos Radar Madura, kebudayaan orang Madura sangat terbuka. Interaksi orang-orang Madura dengan berbagai kebudayaan besar telah membentuk ”kultur hibrid” kebudayaan di Madura, yang memberi warna atas beragam bentuk arsitektural, kuliner, pakaian, nilai-nilai adat, dan bahasa. Kendati begitu, lokalitas kemaduraan tetap eksis sebagai ”jati diri”.

Keislaman dan kemaduraan kita saat ini adalah proses pergulatan sejarah yang panjang. Yang patut kita syukuri, peran kiai dan lora melalui pesantren-pesantren yang berkembang pesat terus mengajarkan Islam yang wasathiyah, sebagaimana prinsip yang diajarkan oleh NU untuk selalu tawassuth, tawazun, i’tidal, dan tatsamuh.

Sebagai kekuatan sosial-keagamaan terbesar di Indonesia, lebih khusus di Madura, menjaga eksistensi dan posisi kaum muslim tetap moderat menjadi agenda yang sangat penting. Sikap moderasi ini akan menjelma menjadi kanopi peneduh bagi yang lain. Atas alasan inilah, eksistensi keindonesiaan kita tetap tegak bediri.

Baca Juga :  Guru dan Perubahan Sosial di Madura

Saya meyakini, para alim al alamah al arif di Madura tegak berdiri menyangga Islam yang wasathiyah, sebagaimana yang diwariskan oleh ulama-ulama besar Madura seperti Syekh Muhammad Kholil Bangkalan, Kiai Abdullah Allam Sampang, Kiai Itsbat bin Ishaq Pamekasan, Kiai Abdullah Sajjad Sumenep, dan ribuan ulama lainnya.

Moderasi beragama di Madura tidak cukup menjaga seluruh gereja-gereja, kelenteng, dan biara di Madura agar umatnya tenteram dan damai dalam beribadah. Lebih dari sekadar itu, hendaknya tiap kaum kita, terutama kaum muslim, memeriksa keyakinannya, apakah sudah meyakini Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika adalah titik temu bagi Indonesia yang beragam, pengakuan traktat bersama yang disepakati para pendiri negara dari lintas golongan, sekaligus landasan mencapai cita-cita dan tujuan bersama.

Mari kita jaga bersama Madura dari berbagai anasir fundamentalis dan radikalis menyusup ke berbagai institusi pendidikan, kegiatan sosial, ekonomi, bahkan politik. Beberapa kali kita kebobolan, aparat Densus Polri menangkap terduga teroris di Sampang dan Sumenep. Bahkan, statusnya ada yang kepala sekolah. Semoga ini yang terakhir. Saatnya membentengi keluarga masing-masing, saling mengontrol atas aktivitas anggota keluarga di berbagai kesempatan.

Luangkan waktu untuk senantiasa berbagi pikiran dan hati di tengah keluarga. Ditimbang dengan matang bila ada pemahaman dan cara pandang baru, yang dengan gampang mengafir-ngafirkan pemahaman orang, mengajak berbuat kekerasan, atau bahkan yang paling soft mengajak bersedekah dengan dalih membiayai pendidikan dan lain lain yang sesungguhnya untuk membiayai kegiatan atau mengader radikalis dan teroris. Menjaga Madura, menjaga Indonesia. (*)

 

*)Anggota DPR RI, Wakil PDI Perjuangan dari Madura

Oleh M. H. Said Abdullah*

 

JEJAK peradaban nenek moyang kita selalu lekat menggambarkan eksistensi Tuhan. Keberadaan Tuhan menjadi penuntun (way of life) dalam setiap tarikan napas dan tindakan-tindakannya. Betapa kukuhnya kepercayaan ini sehingga seluruh karya agung nenek moyang, baik bendawi maupun nonbendawi, mencerminkan persembahan jalan menuju Tuhan. Keyakinan ini tertanam kuat hingga kini dan terkonfirmasi melalui survei tahunan yang dilakukan oleh Alvara Institute (2021).


Pada laporan survei tersebut dinyatakan 35,4 persen responden menganggap ilmu agama sangat penting. Sebanyak 38,5 responden menyatakan sangat penting dan 25,6 responden menyatakan ilmu agama penting. Terjelaskan, sesungguhnya ada 99,5 responden yang menyatakan ilmu agama itu penting dan hanya 0,5 persen responden yang menganggap ilmu agama tidak penting.

Semangat beragama yang sedemikian besar tanpa diimbangi keluasan khazanah pemikiran keagamaan, sosial, dan kebijaksanaan membuat sebagian pemeluk agama jatuh dalam ruang puritanisme dan menganggap semua pemahaman di luar dirinya salah (truth claim). Sebenarnya tidak akan muncul persoalan bila truth claim berdiam pada ruang privat.

Masalahnya, banyak kejadian, mereka kerap melibatkan otoritas publik untuk memfasilitasi pandangannya agar menjadi sikap negara. Padahal sejak dirumuskan hingga kini, negara ini bukanlah negara agama, tetapi mengakui semua eksistensi agama dengan setara dalam peran perlindungan dan pelayanan.

Kelompok puritanis, fundamentalis, dan radikalis yang dibingkai oleh pemahaman keagamaan yang keliru ini bagaikan sel kanker bagi keindonesiaan kita yang moderat dan multikultural. Survei Alvara Institue menggambarkan Indeks Moderasi Beragama (IMB) diukur dari empat indikator, yakni; (1) komitmen kebangsaan, (2) toleransi, (3) anti kekerasan, dan (4) penerimaan terhadap tradisi lokal. IMB Indonesia 2021 mencapai 74,95 dari skala 0­–100.

- Advertisement -

Skor tertinggi tecermin pilar komitmen kebangsaan yang mencapai 84,5 dan terendah dari pilar toleransi hanya 60,6. Meskipun komitmen kebangsaan skornya paling tinggi, kita melihat kebulatan tekad segenap anak bangsa atas bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan ideologi Pancasila belum sepenuhnya diamini oleh seluruh anak bangsa.

Baca Juga :  Penjaringan Atlet untuk Persiapan Porprov

Skor responden yang meyakini NKRI sebagai bentuk final belum sebesar penduduk yang meyakini ilmu agama itu penting. Skor NKRI bentuk final masih 82,2. Selebihnya, 17,8, meyakini negara khilafah lebih mereka pilih. Kebulatan tekad atas ideologi Pancasila sebagai dasar negara juga belum utuh di tengah-tengah rakyat, masih di skor 80,6, sisanya sebesar 19,4 meyakini ideologi agama lebih pas menurut sebagian responden.

Bagi saya, skor 17,8 yang meyakini kebenaran negara khilafah dan 19,4 yang meyakini ideologi agama ketimbang Pancasila dalam kehidupan kebangsaan dan kenegaraan kita sungguh menjadi ancaman serius bagi kelangsungan NKRI dan Pancasila. Oleh sebab itu tantangannya tidak mudah, sebagian warga yang mengingkari Pancasila dan NKRI dalam alam pikir mereka harus kita perkaya horisonnya, agar bisa keluar dari kacamata yang sempit dalam melihat Indonesia.

Terhadap mereka yang meyakini negara khilafah dan menolak Pancasila sebagai perjuangan politik, tentu saja aparatur negara tidak boleh tinggal diam. Kewajiban negara memproses hukum mereka seadil-adilnya, sebagai wujud kita negara beradab.

 

Keragaman di Madura

Mayoritas muslim di Madura dalam kategori muslim kultural-tradisional, yang berafiliasi pada Nahdlatul Ulama (NU), baik secara organisasi maupun manhaj ritualnya. Kita memopulerkan praktik ini sebagai wujud Islam Nusantara, yakni praktik keislaman yang menubuh pada keragaman kebudayaan di Nusantara. Eksistensi ketauhidan dan otentisitas prinsip dasar Islam tetap terjaga, tetapi mengakui serta menyerap budaya lokal sebagai cangkang untuk melarutkan nilai-nilai Islam.

Kerap saya utarakan pada esai-esai sebelumnya di Jawa Pos Radar Madura, kebudayaan orang Madura sangat terbuka. Interaksi orang-orang Madura dengan berbagai kebudayaan besar telah membentuk ”kultur hibrid” kebudayaan di Madura, yang memberi warna atas beragam bentuk arsitektural, kuliner, pakaian, nilai-nilai adat, dan bahasa. Kendati begitu, lokalitas kemaduraan tetap eksis sebagai ”jati diri”.

Keislaman dan kemaduraan kita saat ini adalah proses pergulatan sejarah yang panjang. Yang patut kita syukuri, peran kiai dan lora melalui pesantren-pesantren yang berkembang pesat terus mengajarkan Islam yang wasathiyah, sebagaimana prinsip yang diajarkan oleh NU untuk selalu tawassuth, tawazun, i’tidal, dan tatsamuh.

Sebagai kekuatan sosial-keagamaan terbesar di Indonesia, lebih khusus di Madura, menjaga eksistensi dan posisi kaum muslim tetap moderat menjadi agenda yang sangat penting. Sikap moderasi ini akan menjelma menjadi kanopi peneduh bagi yang lain. Atas alasan inilah, eksistensi keindonesiaan kita tetap tegak bediri.

Baca Juga :  Perbaiki Jaringan Wifi, Karyawan Swasta Asal Surabaya Ditembak OTK

Saya meyakini, para alim al alamah al arif di Madura tegak berdiri menyangga Islam yang wasathiyah, sebagaimana yang diwariskan oleh ulama-ulama besar Madura seperti Syekh Muhammad Kholil Bangkalan, Kiai Abdullah Allam Sampang, Kiai Itsbat bin Ishaq Pamekasan, Kiai Abdullah Sajjad Sumenep, dan ribuan ulama lainnya.

Moderasi beragama di Madura tidak cukup menjaga seluruh gereja-gereja, kelenteng, dan biara di Madura agar umatnya tenteram dan damai dalam beribadah. Lebih dari sekadar itu, hendaknya tiap kaum kita, terutama kaum muslim, memeriksa keyakinannya, apakah sudah meyakini Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika adalah titik temu bagi Indonesia yang beragam, pengakuan traktat bersama yang disepakati para pendiri negara dari lintas golongan, sekaligus landasan mencapai cita-cita dan tujuan bersama.

Mari kita jaga bersama Madura dari berbagai anasir fundamentalis dan radikalis menyusup ke berbagai institusi pendidikan, kegiatan sosial, ekonomi, bahkan politik. Beberapa kali kita kebobolan, aparat Densus Polri menangkap terduga teroris di Sampang dan Sumenep. Bahkan, statusnya ada yang kepala sekolah. Semoga ini yang terakhir. Saatnya membentengi keluarga masing-masing, saling mengontrol atas aktivitas anggota keluarga di berbagai kesempatan.

Luangkan waktu untuk senantiasa berbagi pikiran dan hati di tengah keluarga. Ditimbang dengan matang bila ada pemahaman dan cara pandang baru, yang dengan gampang mengafir-ngafirkan pemahaman orang, mengajak berbuat kekerasan, atau bahkan yang paling soft mengajak bersedekah dengan dalih membiayai pendidikan dan lain lain yang sesungguhnya untuk membiayai kegiatan atau mengader radikalis dan teroris. Menjaga Madura, menjaga Indonesia. (*)

 

*)Anggota DPR RI, Wakil PDI Perjuangan dari Madura

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/