24 C
Madura
Saturday, January 28, 2023

Melestarikan Karapan Sapi

Oleh M. H. Said Abdullah*

MESKI mendiami daratan yang kurang subur, batu cadas berkapur membentang dari barat hingga timur, namun bukan berarti watak orang Madura tidak bersyukur atas karunia yang ada. Di tengah keterbatasan alam, orang-orang Madura mampu beradaptasi secara ekonomi, sosial, dan budaya. Justru karena kreatif beradaptasi itulah, orang-orang Madura kaya akan budaya.

Satu dari sekian banyak budaya agraris orang Madura yakni berkarapan sapi atau balapan sapi. Untuk mensyukuri atas berkah panen, orang-orang Madura merayakan kegembiraan dengan menghelat balapan sapi. Terlihat konsep awal karapan sapi adalah ekspresi rasa syukur atas karunia-Nya. Sapi sendiri sangat lekat dengan Madura. Sapi, bagi orang-orang Madura bukan sekadar ”komoditas”, yang dimaknai semata ekonomi, lebih jauh sapi bisa menjadi gengsi sosial. Bagi mereka yang memiliki sapi-sapi ”super” yang menjadi jawara karapan sapi, atau juara sapi sonok (kontes) jelas akan dipandang orang hebat, setidaknya kaya raya di kampungnya.

Properti karapan sapi awalnya sebagai alat untuk membajak sawah, membelah dan membalik tanah, agar menjadi lahan pertanian yang siap ditanami. Namun dalam pentas balapan, seperangkat alat yang dipasangkan ke sepasang sapi dimodifikasi untuk masuk ke arena pacu. Untuk menjadi sapi pacu, sang pemilik harus mempersiapkan sapi kualitas dan trah sapi pacu, berbeda dengan sapi untuk membajak sawah. Bukan hanya sapinya yang unggul, diperlukan kemampuan joki pacu atau tukang tongko’ yang mumpuni, dan telah malang melintang di arena pacuan.

Dari semula kegiatan orang-orang kampung unjuk rasa syukur atas hasil panen dari bertani, lambat laun karapan sapi bertransformasi menjadi ajang kompetisi dan gengsi, bahkan berkembang menjadi ”wisata budaya” yang sangat kreatif, yang sangat ikonik bagi orang-orang Madura. Saat menjelma menjadi wisata budaya yang kreatif, peserta karapan sapi kian menambahkan berbagai aksesori estetis pada seperangkat alat karapan sapi.

Bukan hanya tampilan karapan yang kian estetis, pembagian tugas dalam arena karapan juga kian banyak. Misalnya saja kita mengenal tukang gettak, yang bertugas ”menggertak” sapi, agar saat aba-aba, sapi dapat melaju, berlari sangat kencang. Untuk meramaikan lokasi acara, peserta karapan juga menyiapkan tukang gubbra. Tukang gubbra ini berbeda dengan penonton, walau posisinya sebaris dengan penonton, namun tukang gubbra adalah ”kru” peserta karapan sapi. Peran tukang gubbra mirip seperti cheerleader alias pemandu sorak dari masing masing kontestan.

Baca Juga :  Pria dan Perempuan Setara, Said Abdullah: Pilpres 2024 Jadi Kontestasi Gagasan

Di luar lapangan, ketangkasan, kecepatan, dan kepatuhan sapi karapan ditangani oleh tukang tonja. Tukang tonja ini mirip seperti pelatih. Perannya sangat signifikan, yakni mempersiapkan performa sapi karapan prima, tangkas, dan bisa membuat sapi patuh, terutama kepada tukang tongko’ sebagai joki pacuan. Bonding antara tukang tongko’ dengan sapi sangat dibutuhkan, agar komunikasi antara sapi dengan tukang tongko’ terjalin, sehingga sapi memahami kemampuan dari tukang tongko’.

 

Diaspora

Di antara komunitas etnik di Indonesia, orang-orang Madura termasuk salah satu etnis yang paling diasporik. Ada beragam latar belakang yang mendorong diaspora orang-orang Madura. Salah satu alasan paling umum mereka merantau adalah ingin mendapatkan kehidupan ekonomi lebih baik.

Pada masa pendudukan Belanda, migrasi orang-orang Madura awalnya dipaksa oleh Belanda untuk menjadi tenaga kerja murah di area afdeling-afdeling mereka, semisal migrasi orang-orang Madura di Pasuruan, Probolinggo, Situbondo, Bondowoso, Malang Selatan, hingga ke Jember bagian utara. Kebijakan liberalisasi yang diterapkan oleh Kerajaan Belanda pasca tanam paksa membuat tumbuh perusahaan-perusahaan swasta asing di Hindia Belanda, terutama di sektor perkebunan. Janji mendapatkan pekerjaan dari perkebunan swasta inilah banyak warga Madura yang telah bermigrasi di Jawa Timur lebih awal mengajak kerabat mereka di Madura.

Migrasi ini terus berlanjut hingga beberapa tahun. Huub de Jonge mencatat, migrasi orang Madura ke area Jawa Timur pada 1930 mencapai lebih dari 452 ribu orang, melebihi jumlah warga yang masih tinggal di Madura yang berjumlah 99,6 ribu orang. Pada era Orde Baru, pemerintah menggalakkan program transmigrasi. Seperti halnya orang Jawa, banyak orang-orang Madura yang ikut transmigrasi ke Sumatera dan Kalimantan, misalnya di Sampit, Kalimantan Tengah dan Sambas, Mempawah, dan Kubu Raya di Kalimantan Barat. Namun karena pecah konflik etnis di awal 2000-an, banyak warga Madura pulang kampung.

Migrasi mandiri dalam jumlah kecil karena ikut sanak keluarga di rantau terus terjadi hingga kini. Warga Madura merantau bahkan ke seluruh penjuru dunia, terutama di Timur Tengah, Malaysia, Hongkong, dan berbagai tempat lainnya.

Baca Juga :  Moderasi Beragama Masyarakat Madura

Diaspora yang luas dari orang-orang Madura menjadi modal sosial terbentuknya kekerabatan besar. Dari semua keluarga di rantau pasti ada kerinduan atas kampung halaman. Karapan sapi bisa kita jadikan salah satu media kultural yang terus menjadi pengikat dari kekerabatan besar Madura, selain Hari Raya Idhul Qurban yang memang menjadi ritus tahunan.

Karapan sapi di rantau memang sudah berkembang. Tentu saja prakarsanya adalah orang-orang keturunan Madura. Dalam ulasan berbagai media massa, terinformasikan karapan sapi secara rutin dilaksanakan di banyak wilayah yang sebaran orang-orang Maduranya besar, semisal Pasuruan, Probolinggo, Lumajang hingga ke Jember. Tentu ada modifikasi bentuk karapan sapi di masing masing tempat sebagai ruang kreasi. Namun, substansi utamanya tetap format karapan.

Satu hal yang menandai karapan sapi baik di Madura maupun di rantau eksis sebagai kekuatan budaya, yakni terjaganya basis produksi mereka pada sektor pertanian. Tanpa topangan basis pertanian, tentu saja gelaran karapan sapi tidak cukup terwadahi dengan baik. Sangat tidak mungkin bagi orang-orang Madura di rantau seperti di Jakarta, atau luar negeri yang mengandalkan basis produksi non-pertanian bisa menjadi kekuatan gawagis ekspresi kultural seperti karapan sapi.

Namun bagi orang-orang Madura yang tidak berkarya dalam sektor pertanian, tidak berarti tidak bisa ikut andil dalam berkarapan sapi. Banyak warga Madura yang beragam profesi, mulai tokoh pemerintahan, pekerja media, seniman, akademisi, pengusaha, dan banyak profesi lainnya ikut mendiasporakan karapan sapi melalui ruangnya masing masing.

Menjadi kewajiban sejarah bagi orang-orang Madura untuk merawat dan mengembangkan identitas kebudayaan moyangnya. Kalau bukan kita, lantas siapa lagi? Sebab kalau kita abai, bisa jadi segera akan direplikasi, dan direbut oleh bangsa lain, dan diklaim sebagai identitas budaya mereka. Bukan sekali saja, beragam identitas kebudayaan Nusantara diklaim bangsa lain. Oleh sebab itu, kita harus senantiasa memberi ”tubuh” dan ”nyawa” dari setiap ekspresi kebudayaan kita.

Melihat potensi besar kekerabatan orang-orang Madura, dan kepatuhan mereka merawat budaya, saya berkeyakinan, masa depan karapan sapi akan tetap lestari. Sapi dan Madura seperti dua sisi dalam satu keping koin, menyatu namun memberi warna yang berbeda. (*)

*) Ketua Badan Anggaran DPR RI

Oleh M. H. Said Abdullah*

MESKI mendiami daratan yang kurang subur, batu cadas berkapur membentang dari barat hingga timur, namun bukan berarti watak orang Madura tidak bersyukur atas karunia yang ada. Di tengah keterbatasan alam, orang-orang Madura mampu beradaptasi secara ekonomi, sosial, dan budaya. Justru karena kreatif beradaptasi itulah, orang-orang Madura kaya akan budaya.

Satu dari sekian banyak budaya agraris orang Madura yakni berkarapan sapi atau balapan sapi. Untuk mensyukuri atas berkah panen, orang-orang Madura merayakan kegembiraan dengan menghelat balapan sapi. Terlihat konsep awal karapan sapi adalah ekspresi rasa syukur atas karunia-Nya. Sapi sendiri sangat lekat dengan Madura. Sapi, bagi orang-orang Madura bukan sekadar ”komoditas”, yang dimaknai semata ekonomi, lebih jauh sapi bisa menjadi gengsi sosial. Bagi mereka yang memiliki sapi-sapi ”super” yang menjadi jawara karapan sapi, atau juara sapi sonok (kontes) jelas akan dipandang orang hebat, setidaknya kaya raya di kampungnya.


Properti karapan sapi awalnya sebagai alat untuk membajak sawah, membelah dan membalik tanah, agar menjadi lahan pertanian yang siap ditanami. Namun dalam pentas balapan, seperangkat alat yang dipasangkan ke sepasang sapi dimodifikasi untuk masuk ke arena pacu. Untuk menjadi sapi pacu, sang pemilik harus mempersiapkan sapi kualitas dan trah sapi pacu, berbeda dengan sapi untuk membajak sawah. Bukan hanya sapinya yang unggul, diperlukan kemampuan joki pacu atau tukang tongko’ yang mumpuni, dan telah malang melintang di arena pacuan.

Dari semula kegiatan orang-orang kampung unjuk rasa syukur atas hasil panen dari bertani, lambat laun karapan sapi bertransformasi menjadi ajang kompetisi dan gengsi, bahkan berkembang menjadi ”wisata budaya” yang sangat kreatif, yang sangat ikonik bagi orang-orang Madura. Saat menjelma menjadi wisata budaya yang kreatif, peserta karapan sapi kian menambahkan berbagai aksesori estetis pada seperangkat alat karapan sapi.

Bukan hanya tampilan karapan yang kian estetis, pembagian tugas dalam arena karapan juga kian banyak. Misalnya saja kita mengenal tukang gettak, yang bertugas ”menggertak” sapi, agar saat aba-aba, sapi dapat melaju, berlari sangat kencang. Untuk meramaikan lokasi acara, peserta karapan juga menyiapkan tukang gubbra. Tukang gubbra ini berbeda dengan penonton, walau posisinya sebaris dengan penonton, namun tukang gubbra adalah ”kru” peserta karapan sapi. Peran tukang gubbra mirip seperti cheerleader alias pemandu sorak dari masing masing kontestan.

Baca Juga :  Sesepuh Desa Minta Perbaikan Jalan Kabupaten

Di luar lapangan, ketangkasan, kecepatan, dan kepatuhan sapi karapan ditangani oleh tukang tonja. Tukang tonja ini mirip seperti pelatih. Perannya sangat signifikan, yakni mempersiapkan performa sapi karapan prima, tangkas, dan bisa membuat sapi patuh, terutama kepada tukang tongko’ sebagai joki pacuan. Bonding antara tukang tongko’ dengan sapi sangat dibutuhkan, agar komunikasi antara sapi dengan tukang tongko’ terjalin, sehingga sapi memahami kemampuan dari tukang tongko’.

- Advertisement -

 

Diaspora

Di antara komunitas etnik di Indonesia, orang-orang Madura termasuk salah satu etnis yang paling diasporik. Ada beragam latar belakang yang mendorong diaspora orang-orang Madura. Salah satu alasan paling umum mereka merantau adalah ingin mendapatkan kehidupan ekonomi lebih baik.

Pada masa pendudukan Belanda, migrasi orang-orang Madura awalnya dipaksa oleh Belanda untuk menjadi tenaga kerja murah di area afdeling-afdeling mereka, semisal migrasi orang-orang Madura di Pasuruan, Probolinggo, Situbondo, Bondowoso, Malang Selatan, hingga ke Jember bagian utara. Kebijakan liberalisasi yang diterapkan oleh Kerajaan Belanda pasca tanam paksa membuat tumbuh perusahaan-perusahaan swasta asing di Hindia Belanda, terutama di sektor perkebunan. Janji mendapatkan pekerjaan dari perkebunan swasta inilah banyak warga Madura yang telah bermigrasi di Jawa Timur lebih awal mengajak kerabat mereka di Madura.

Migrasi ini terus berlanjut hingga beberapa tahun. Huub de Jonge mencatat, migrasi orang Madura ke area Jawa Timur pada 1930 mencapai lebih dari 452 ribu orang, melebihi jumlah warga yang masih tinggal di Madura yang berjumlah 99,6 ribu orang. Pada era Orde Baru, pemerintah menggalakkan program transmigrasi. Seperti halnya orang Jawa, banyak orang-orang Madura yang ikut transmigrasi ke Sumatera dan Kalimantan, misalnya di Sampit, Kalimantan Tengah dan Sambas, Mempawah, dan Kubu Raya di Kalimantan Barat. Namun karena pecah konflik etnis di awal 2000-an, banyak warga Madura pulang kampung.

Migrasi mandiri dalam jumlah kecil karena ikut sanak keluarga di rantau terus terjadi hingga kini. Warga Madura merantau bahkan ke seluruh penjuru dunia, terutama di Timur Tengah, Malaysia, Hongkong, dan berbagai tempat lainnya.

Baca Juga :  Pria dan Perempuan Setara, Said Abdullah: Pilpres 2024 Jadi Kontestasi Gagasan

Diaspora yang luas dari orang-orang Madura menjadi modal sosial terbentuknya kekerabatan besar. Dari semua keluarga di rantau pasti ada kerinduan atas kampung halaman. Karapan sapi bisa kita jadikan salah satu media kultural yang terus menjadi pengikat dari kekerabatan besar Madura, selain Hari Raya Idhul Qurban yang memang menjadi ritus tahunan.

Karapan sapi di rantau memang sudah berkembang. Tentu saja prakarsanya adalah orang-orang keturunan Madura. Dalam ulasan berbagai media massa, terinformasikan karapan sapi secara rutin dilaksanakan di banyak wilayah yang sebaran orang-orang Maduranya besar, semisal Pasuruan, Probolinggo, Lumajang hingga ke Jember. Tentu ada modifikasi bentuk karapan sapi di masing masing tempat sebagai ruang kreasi. Namun, substansi utamanya tetap format karapan.

Satu hal yang menandai karapan sapi baik di Madura maupun di rantau eksis sebagai kekuatan budaya, yakni terjaganya basis produksi mereka pada sektor pertanian. Tanpa topangan basis pertanian, tentu saja gelaran karapan sapi tidak cukup terwadahi dengan baik. Sangat tidak mungkin bagi orang-orang Madura di rantau seperti di Jakarta, atau luar negeri yang mengandalkan basis produksi non-pertanian bisa menjadi kekuatan gawagis ekspresi kultural seperti karapan sapi.

Namun bagi orang-orang Madura yang tidak berkarya dalam sektor pertanian, tidak berarti tidak bisa ikut andil dalam berkarapan sapi. Banyak warga Madura yang beragam profesi, mulai tokoh pemerintahan, pekerja media, seniman, akademisi, pengusaha, dan banyak profesi lainnya ikut mendiasporakan karapan sapi melalui ruangnya masing masing.

Menjadi kewajiban sejarah bagi orang-orang Madura untuk merawat dan mengembangkan identitas kebudayaan moyangnya. Kalau bukan kita, lantas siapa lagi? Sebab kalau kita abai, bisa jadi segera akan direplikasi, dan direbut oleh bangsa lain, dan diklaim sebagai identitas budaya mereka. Bukan sekali saja, beragam identitas kebudayaan Nusantara diklaim bangsa lain. Oleh sebab itu, kita harus senantiasa memberi ”tubuh” dan ”nyawa” dari setiap ekspresi kebudayaan kita.

Melihat potensi besar kekerabatan orang-orang Madura, dan kepatuhan mereka merawat budaya, saya berkeyakinan, masa depan karapan sapi akan tetap lestari. Sapi dan Madura seperti dua sisi dalam satu keping koin, menyatu namun memberi warna yang berbeda. (*)

*) Ketua Badan Anggaran DPR RI

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/