alexametrics
20.7 C
Madura
Saturday, June 25, 2022

Nalar Kiai tentang Rokok

TIDAK ada barang seajaib rokok. Jika ada batu akik, katanya, ada yang bisa memancarkan sinar atau keris kuno bisa terbang sendiri, itu juga keajaiban. Tapi, masih kelas ekonomi.

Pertama, tidak semua orang punya barang tersebut. Kedua, apa manfaat cahaya yang dipancarkan batu akik sementara sekarang musimnya lampu senter. Dan apa guna keris terbang sendiri, sedangkan yang punya tidak bisa menungganginya? Kalah dong dengan pesawat terbang.

Beda dengan rokok. Maqam keajaibannya kelas bisnis. Pertama, ia bisa diakses semua orang dari semua tingkatan umur. Kedua, efeknya ganda. Satu sisi membuat orang sadar bahwa rokok berbahaya bagi kesehatan. Di sisi lain, membuat daya nalar si perokok melejit tinggi sehingga bisa melakukan ijtihad nalari yang melahirkan fatwa bahwa rokok tidak selamanya berbahaya.

Tidak selamanya. Artinya ada momen ketika rokok tidak memiliki efek apa-apa.

Kapan itu?

Sebelum tahu jawabannya, mari kita simak kisah faktual berikut ini:

Jumat pagi (25/5) saya berbincang hangat dengan KH Imam Hasyim. Pengasuh Pondok Pesantren At-Taufiqiyah, Aeng Baja Raja, Bluto, Sumenep. Beliau mantan ketua DPRD. Hingga sekarang aktif berceramah di berbagai daerah.

Dalam perbincangan itu beliau berkisah tentang penyakit yang hampir merenggut nyawanya pada 2013. Di tahun itu, jantung beliau lemah. Dayanya tinggal 25 persen untuk memompa darah.

Itu daya minimal yang tidak bisa berfungsi normal. Agar berfungsi normal, tim medis memberikan 5 selang demi membantu power kerja jantung.

Baca Juga :  Annuqayah Tolak Petunjuk Jaksa

Beberapa selang dimasukkan lewat mulut, kerongkongan hingga jantung. Sisanya dimasukkan lewat dada yang sudah dilubangi. Selang-selang itu ada yang memberi daya secara elektrik dan ada yang dioperasikan secara manual. Kiai Imam saat itu sudah tidak sadar karena kritis.

Di saat yang kritis itu, Rumah Sakit Siloam, milik Singapura, menjadi rujukan. Per hari ongkos perawatan minimal Rp 15 juta. Empat hari beliau tinggal di sana. Dengan kecanggihan teknologi dan kelihaian dokter yang semuanya –kata beliau– adalah profesor, kesehatan Kiai Imam pulih kembali.

Kendati demikian, beliau pulih–kata si dokter–bukan semata karena obat dan perawatan medis, tapi mukjizat. Dilihat dari begitu parahnya jantung Kiai Imam.

Kenapa jantung beliau separah itu?

Rokok. Beliau perokok berat. Setiap hari menghabiskan 3 bungkus rokok. Namun, menurut beliau, sebenarnya bukan rokok yang membuat jantung beliau sakit. Tapi karena memang jantung beliau yang lemah. Rokok tidak akan berpengaruh apa-apa selama jantung kuat.

Ini logika luar biasa. Sama dengan ketika Anda bertinju dengan Mike Tyson. Anda kalah. Bukan kekuatan jotos Mike Tyson yang menyebabkan Anda kalah. Tapi karena Anda letoi. Kekuatan si Leher Beton tidak akan mengalahkan Anda selama kekuatan tubuh Anda kuat.

Kiai Hasyim, abah Kiai Imam adalah pecandu rokok. Beliau bahkan bilang bahwa rokok itu jahat. Namun, beliau terus merokok dan tidak mengalami penyakit akut. Sebabnya, jantung Kiai Hasyim kuat. Juga banyak dokter–menurut penuturan Kiai Imam–yang menjadi perokok berat. Mereka fine-fine saja. Sebabnya, jantung mereka kuat. Nah, dalam konteks inilah rokok tidak akan memiliki efek buruk.

Baca Juga :  Kilas┬áSantri Membangun Bangsa

Masalahnya, bagaimana membuktikan jantung kita lemah atau kuat? Tidak ada cara yang paling pas kecuali dengan merokok. Rokok adalah parameter kesehatan jantung paling sahih. Jika Anda merokok per bungkus tiap hari namun jantung Anda tidak bermasalah, berarti jantung Anda sehat. Keep smoking. Jika ternyata jantung Anda makin lemah, seperti yang dialami Kiai Imam, berarti jantung Anda lemah. No Smoking.

Menurut Kiai Imam, berdasarkan informasi dokter spesialis yang beliau dapatkan, jantung bisa menjadi lemah bukan karena rokok. Tapi karena tiga hal: pikiran, makanan, dan kecapekan. Dari tiga varian toksin ini, yang paling berbahaya adalah pikiran.

Jika banyak pikiran hingga tingkatan stres, otomatis jantung akan melemah. Jika pikiran tenang dan santai, jantung akan tetap sehat. Herannya, merokok adalah aktivitas yang bisa bikin tenang pikiran. Iya kan? Coba perhatikan jamaah ”ahlul hisab”. Begitu damai hidup mereka ketika mengisap rokok.

Dari sini lahir logika smokingisme: rokok tidak berbahaya kecuali bagi jantung yang lemah. Untuk mengetahui jantung lemah atau kuat, cara paling ideal adalah dengan merokok. Cara menjaga vitalitas jantung yaitu dengan menjaga pikiran agar tetap tenang. Merokok terbukti merupakan aktivitas yang paling bisa menenangkan pikiran.

Karena saya tidak merokok, pikiran saya puyeng memahami logika ini. 

 

*)Alumni Pesantren Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep.

TIDAK ada barang seajaib rokok. Jika ada batu akik, katanya, ada yang bisa memancarkan sinar atau keris kuno bisa terbang sendiri, itu juga keajaiban. Tapi, masih kelas ekonomi.

Pertama, tidak semua orang punya barang tersebut. Kedua, apa manfaat cahaya yang dipancarkan batu akik sementara sekarang musimnya lampu senter. Dan apa guna keris terbang sendiri, sedangkan yang punya tidak bisa menungganginya? Kalah dong dengan pesawat terbang.

Beda dengan rokok. Maqam keajaibannya kelas bisnis. Pertama, ia bisa diakses semua orang dari semua tingkatan umur. Kedua, efeknya ganda. Satu sisi membuat orang sadar bahwa rokok berbahaya bagi kesehatan. Di sisi lain, membuat daya nalar si perokok melejit tinggi sehingga bisa melakukan ijtihad nalari yang melahirkan fatwa bahwa rokok tidak selamanya berbahaya.


Tidak selamanya. Artinya ada momen ketika rokok tidak memiliki efek apa-apa.

Kapan itu?

Sebelum tahu jawabannya, mari kita simak kisah faktual berikut ini:

Jumat pagi (25/5) saya berbincang hangat dengan KH Imam Hasyim. Pengasuh Pondok Pesantren At-Taufiqiyah, Aeng Baja Raja, Bluto, Sumenep. Beliau mantan ketua DPRD. Hingga sekarang aktif berceramah di berbagai daerah.

Dalam perbincangan itu beliau berkisah tentang penyakit yang hampir merenggut nyawanya pada 2013. Di tahun itu, jantung beliau lemah. Dayanya tinggal 25 persen untuk memompa darah.

Itu daya minimal yang tidak bisa berfungsi normal. Agar berfungsi normal, tim medis memberikan 5 selang demi membantu power kerja jantung.

Baca Juga :  Dorong Pembentukan Pesantren Tangguh Semeru

Beberapa selang dimasukkan lewat mulut, kerongkongan hingga jantung. Sisanya dimasukkan lewat dada yang sudah dilubangi. Selang-selang itu ada yang memberi daya secara elektrik dan ada yang dioperasikan secara manual. Kiai Imam saat itu sudah tidak sadar karena kritis.

Di saat yang kritis itu, Rumah Sakit Siloam, milik Singapura, menjadi rujukan. Per hari ongkos perawatan minimal Rp 15 juta. Empat hari beliau tinggal di sana. Dengan kecanggihan teknologi dan kelihaian dokter yang semuanya –kata beliau– adalah profesor, kesehatan Kiai Imam pulih kembali.

Kendati demikian, beliau pulih–kata si dokter–bukan semata karena obat dan perawatan medis, tapi mukjizat. Dilihat dari begitu parahnya jantung Kiai Imam.

Kenapa jantung beliau separah itu?

Rokok. Beliau perokok berat. Setiap hari menghabiskan 3 bungkus rokok. Namun, menurut beliau, sebenarnya bukan rokok yang membuat jantung beliau sakit. Tapi karena memang jantung beliau yang lemah. Rokok tidak akan berpengaruh apa-apa selama jantung kuat.

Ini logika luar biasa. Sama dengan ketika Anda bertinju dengan Mike Tyson. Anda kalah. Bukan kekuatan jotos Mike Tyson yang menyebabkan Anda kalah. Tapi karena Anda letoi. Kekuatan si Leher Beton tidak akan mengalahkan Anda selama kekuatan tubuh Anda kuat.

Kiai Hasyim, abah Kiai Imam adalah pecandu rokok. Beliau bahkan bilang bahwa rokok itu jahat. Namun, beliau terus merokok dan tidak mengalami penyakit akut. Sebabnya, jantung Kiai Hasyim kuat. Juga banyak dokter–menurut penuturan Kiai Imam–yang menjadi perokok berat. Mereka fine-fine saja. Sebabnya, jantung mereka kuat. Nah, dalam konteks inilah rokok tidak akan memiliki efek buruk.

Baca Juga :  Gratiskan Rapid Antigen Santri┬ádan Siswa

Masalahnya, bagaimana membuktikan jantung kita lemah atau kuat? Tidak ada cara yang paling pas kecuali dengan merokok. Rokok adalah parameter kesehatan jantung paling sahih. Jika Anda merokok per bungkus tiap hari namun jantung Anda tidak bermasalah, berarti jantung Anda sehat. Keep smoking. Jika ternyata jantung Anda makin lemah, seperti yang dialami Kiai Imam, berarti jantung Anda lemah. No Smoking.

Menurut Kiai Imam, berdasarkan informasi dokter spesialis yang beliau dapatkan, jantung bisa menjadi lemah bukan karena rokok. Tapi karena tiga hal: pikiran, makanan, dan kecapekan. Dari tiga varian toksin ini, yang paling berbahaya adalah pikiran.

Jika banyak pikiran hingga tingkatan stres, otomatis jantung akan melemah. Jika pikiran tenang dan santai, jantung akan tetap sehat. Herannya, merokok adalah aktivitas yang bisa bikin tenang pikiran. Iya kan? Coba perhatikan jamaah ”ahlul hisab”. Begitu damai hidup mereka ketika mengisap rokok.

Dari sini lahir logika smokingisme: rokok tidak berbahaya kecuali bagi jantung yang lemah. Untuk mengetahui jantung lemah atau kuat, cara paling ideal adalah dengan merokok. Cara menjaga vitalitas jantung yaitu dengan menjaga pikiran agar tetap tenang. Merokok terbukti merupakan aktivitas yang paling bisa menenangkan pikiran.

Karena saya tidak merokok, pikiran saya puyeng memahami logika ini. 

 

*)Alumni Pesantren Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Pesantren Ladang Memburu Barokah

Jaringan Pertemanan Pesantren

Meluaskan Makna Tadarus

Keajaiban Silaturahmi

Most Read

Artikel Terbaru

/