24 C
Madura
Saturday, January 28, 2023

Reaktivasi Jalur Kereta di Madura

Oleh M. H. Said Abdullah*

KERETA api hadir di berbagai tempat menjadi tanda pasang surut, bahkan manis getirnya zaman. Di Eropa, pada awal 1800-an, kereta api menghubungkan kota-kota besar di Prancis, Inggris, Jerman, dan Belgia. Pada abad yang sama, tepatnya 10 Mei 1868, perusahaan Promontory Point memecahkan rekor jalur kereta api terpanjang di dunia. Mereka membangun jalur kereta api lintas benua pertama, yang menghubungkan pantai timur dan barat Amerika Serikat. Rel kereta tersambung antara New York dan San Francisco sepanjang 5.319 km.

Kemajuan kereta api di Eropa dan Amerika Serikat abad 19 menandai perluasan ekonomi merkantilis mereka, hingga ke Asia dan Afrika. Kereta api menjadi penopang utama pengerukan sumber daya alam, terutama rempah-rempah bernilai tinggi dari koloni-koloni mereka di Asia dan Afrika.

Kereta api juga menjadi sarana mobilitas massal pengiriman tentara-tentara kolonial. Era ini, kereta api di wilayah koloni menjadi saksi bisu pengisapan manusia oleh manusia (l’exploitation de l’homme par l’homme). Sebaliknya, di Eropa dan Amerika Serikat, kereta api menjadi simbol kemajuan peradaban mereka.

Seabad berlalu sejak penggunaan kereta api, Jepang menjadi negara Asia di dunia yang membuat terobosan perkeretaapian. Debutnya yang tidak diragukan pada teknologi, Jepang meluncurkan kereta cepat (high speed railway) Shinkansen yang menghubungkan Tokyo ke Osaka pada 1 Oktober 1964. Kereta ”peluru” ini mampu berlari kencang hingga 322 km/jam. Peluncuran ini tentu saja menyentak daratan Eropa, yang dianggap pelopor industri kereta api dunia. Bagi Jepang sendiri, Shinkansen menunjukkan kemajuan peradaban mereka.

Cukup lama bagi benua biru untuk menyusul Jepang. Baru pada 27 September 1981 Prancis meluncurkan kereta api cepat pertama di Eropa. Kereta bernama Train a Grande Vitesse (TGV) itu menghubungkan kota Paris menuju Lyon. Penggunaan kereta cepat segera menjalar kes eluruh daratan Eropa, setelah Jerman, Italia dan Spanyol mengadopsi teknologinya. Kebutuhan mobilitas tinggi sekawasan Eropa era ini menandai puncak revolusi industri 3.0, sejalan dengan perkembangan pesat komputer dalam proses manufakturing.

Baca Juga :  Gara-Gara Ini, Satlantas Polres Bangkalan Kawal Komunitas Timor-er

Lompatan ekonomi Tiongkok, yang selalu tumbuh dua digit di awal 2000-an ikut membangkitkan transportasi massal mereka. Tiongkok meluncurkan kereta cepat tahun 2003 yang menghubungkan Qinhuangdao–Shenyang. Dengan negara berpenduduk terbanyak di dunia, kebutuhan kereta cepat di Tiongkok tak terelakkan, bahkan tumbuh paling ekspansif di dunia.

Pada 2013, Tiongkok memiliki jaringan kereta cepat sepanjang 11.028 km setara 6.852 mil. Pada akhir 2018, jaringan kereta cepat mereka telah mencapai 29.000 kilometer setara 18.000 mil, dan lebih dari 1.713 miliar perjalanan dilakukan pada 2017. Posisi ini menempatkan Tiongkok dengan jaringan kereta cepat tersibuk di dunia. Kini 26 negara sedang mengadopsi teknologi kereta cepat dan dalam proses pembangunan, salah satunya Indonesia.

 

Potensi Besar

Awal mula industri kereta api kita di era kolonial Belanda. Jaringan kereta api dibangun oleh Belanda untuk menopang kebutuhan transportasi hasil perkebunan yang akan dibawa ke Eropa. Periode tanam paksa membutuhkan angkutan hasil bumi berskala massal. Dibangunlah jaringan kereta api di Semarang, Surabaya, Malang, dan Batavia untuk mengangkut hasil bumi tersebut.

Namun di Madura, menurut Kuntowijoyo, tidak diberlakukan tanam paksa. Lantaran daratan di Madura yang kurang mendukung, maka perkebunan sistem tanam paksa tidak dijalankan. Menurut catatan W.H. Ockers, Residen Madura Timur, hanya British American Tobacco menyewa tanah penduduk untuk ditanami tembakau virginia pada tahun 1929, selebihnya adalah perkebunan rakyat skala kecil.

Lantas kenapa Belanda membangun jaringan kereta di Madura? Catatan Huub de Jonge, pemerintah kolonial Belanda membangun jaringan kereta di Madura yang menghubungkan Kamal hingga Kalianget, sepanjang 225 km. Proyek ini memang tidak serta-merta terbangun, namun terbagi dalam beberapa tahap, dan memakan waktu dari 1898 hingga 1901. Berbeda dengan jaringan kereta di Jawa yang dipakai untuk angkutan hasil perkebunan dan orang. Jaringan kereta api di Madura era itu lebih banyak menopang mobilitas warga karena tingginya aktivitas perdagangan, dari Madura ke Surabaya, dan sebaliknya.

Dari dulu hingga kini, Madura sangat kaya komoditas seperti; bawang merah, jagung, jambu mete, tembakau, cabai rawit, tebu, serta hasil laut seperti ikan, garam, dan rumput laut, dan peternakan sapi. Petani garam Madura berperan pemasok garam terbesar di Indonesia, dan penghasil rumput laut terbesar di Jawa. Kawasan timur dan selatan Sumenep sangat kaya hasil laut, bisa dikembangkan sebagai kawasan minapolitan.

Baca Juga :  H-2 Pencoblosan, Lima Kecamatan di Sumenep Belum Terima Logistik

Potensi Madura yang melimpah sumber pangan bisa manjadi kekuatan andalan nasional untuk menopang target swasembada pangan, khususnya gula, garam, jagung, dan daging sapi. Selama ini jenis komoditas tersebut kita dapatkan melalui importasi yang sangat besar, miliaran US$ yang harus kita bayarkan tiap tahun. Madura bisa kita harapkan berkontribusi pada peningkatan hasil ekspor melalui ikan, rumput laut, dan tembakau.

Harapan ini lebih ringan bisa kita wujudkan bila ditopang oleh infrastruktur transportasi pendukung, salah satunya melalui strategi reaktivasi jaringan kereta Madura. Apalagi, mobilitas warga dari dan ke Madura kian banyak dengan adanya Jembatan Suramadu. Presiden Jokowi telah menetapkan Peraturan Presiden Nomor 80 Tahun 2019 tentang Percepatan Pembangunan Ekonomi di Kawasan Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo, Lamongan, Kawasan Bromo Tengger Semeru, serta Kawasan Selingkar Wilis dan Lintas Selatan.

Pada lampiran perpres ini menargetkan reaktivasi jaringan kereta api dari Kamal–Bangkalan hingga Kalianget–Sumenep, bahkan telah tertera nilai estimasi investasi yang dibutuhkan, yakni Rp 3,37 triliun. Untuk menghubungkan jaringan rel ke Surabaya, juga telah dibuat masterplan pembangunan Autonomous Rail Rapid Transit (ART) yang menghubungkan Pelabuhan Kamal, Stasiun Bangkalan menuju Stasiun Pasar Turi, Surabaya dengan estimasi investasi Rp 3,59 triliun.

Saatnya warga Madura, para ulama, tokoh masyarakat, kepala daerah se-Madura dan gubernur Jatim serta BUMN dan pemerintah pusat solid, disiplin mengawal terealisasinya agenda mewujudkan konektivitas Madura, demi kemajuan bersama. Reaktivasi jaringan kereta api di Madura bisa menghubungkan jaringan kereta Jawa, dan menjadi transportasi massal masa depan yang rendah emisi, serta berkecepatan tinggi. Saatnya songsong kemajuan Madura tanpa meninggalkan kearifan budayanya. (*)

*)Ketua Badan Anggaran DPR RI

Oleh M. H. Said Abdullah*

KERETA api hadir di berbagai tempat menjadi tanda pasang surut, bahkan manis getirnya zaman. Di Eropa, pada awal 1800-an, kereta api menghubungkan kota-kota besar di Prancis, Inggris, Jerman, dan Belgia. Pada abad yang sama, tepatnya 10 Mei 1868, perusahaan Promontory Point memecahkan rekor jalur kereta api terpanjang di dunia. Mereka membangun jalur kereta api lintas benua pertama, yang menghubungkan pantai timur dan barat Amerika Serikat. Rel kereta tersambung antara New York dan San Francisco sepanjang 5.319 km.

Kemajuan kereta api di Eropa dan Amerika Serikat abad 19 menandai perluasan ekonomi merkantilis mereka, hingga ke Asia dan Afrika. Kereta api menjadi penopang utama pengerukan sumber daya alam, terutama rempah-rempah bernilai tinggi dari koloni-koloni mereka di Asia dan Afrika.


Kereta api juga menjadi sarana mobilitas massal pengiriman tentara-tentara kolonial. Era ini, kereta api di wilayah koloni menjadi saksi bisu pengisapan manusia oleh manusia (l’exploitation de l’homme par l’homme). Sebaliknya, di Eropa dan Amerika Serikat, kereta api menjadi simbol kemajuan peradaban mereka.

Seabad berlalu sejak penggunaan kereta api, Jepang menjadi negara Asia di dunia yang membuat terobosan perkeretaapian. Debutnya yang tidak diragukan pada teknologi, Jepang meluncurkan kereta cepat (high speed railway) Shinkansen yang menghubungkan Tokyo ke Osaka pada 1 Oktober 1964. Kereta ”peluru” ini mampu berlari kencang hingga 322 km/jam. Peluncuran ini tentu saja menyentak daratan Eropa, yang dianggap pelopor industri kereta api dunia. Bagi Jepang sendiri, Shinkansen menunjukkan kemajuan peradaban mereka.

Cukup lama bagi benua biru untuk menyusul Jepang. Baru pada 27 September 1981 Prancis meluncurkan kereta api cepat pertama di Eropa. Kereta bernama Train a Grande Vitesse (TGV) itu menghubungkan kota Paris menuju Lyon. Penggunaan kereta cepat segera menjalar kes eluruh daratan Eropa, setelah Jerman, Italia dan Spanyol mengadopsi teknologinya. Kebutuhan mobilitas tinggi sekawasan Eropa era ini menandai puncak revolusi industri 3.0, sejalan dengan perkembangan pesat komputer dalam proses manufakturing.

Baca Juga :  Pria dan Perempuan Setara, Said Abdullah: Pilpres 2024 Jadi Kontestasi Gagasan

Lompatan ekonomi Tiongkok, yang selalu tumbuh dua digit di awal 2000-an ikut membangkitkan transportasi massal mereka. Tiongkok meluncurkan kereta cepat tahun 2003 yang menghubungkan Qinhuangdao–Shenyang. Dengan negara berpenduduk terbanyak di dunia, kebutuhan kereta cepat di Tiongkok tak terelakkan, bahkan tumbuh paling ekspansif di dunia.

- Advertisement -

Pada 2013, Tiongkok memiliki jaringan kereta cepat sepanjang 11.028 km setara 6.852 mil. Pada akhir 2018, jaringan kereta cepat mereka telah mencapai 29.000 kilometer setara 18.000 mil, dan lebih dari 1.713 miliar perjalanan dilakukan pada 2017. Posisi ini menempatkan Tiongkok dengan jaringan kereta cepat tersibuk di dunia. Kini 26 negara sedang mengadopsi teknologi kereta cepat dan dalam proses pembangunan, salah satunya Indonesia.

 

Potensi Besar

Awal mula industri kereta api kita di era kolonial Belanda. Jaringan kereta api dibangun oleh Belanda untuk menopang kebutuhan transportasi hasil perkebunan yang akan dibawa ke Eropa. Periode tanam paksa membutuhkan angkutan hasil bumi berskala massal. Dibangunlah jaringan kereta api di Semarang, Surabaya, Malang, dan Batavia untuk mengangkut hasil bumi tersebut.

Namun di Madura, menurut Kuntowijoyo, tidak diberlakukan tanam paksa. Lantaran daratan di Madura yang kurang mendukung, maka perkebunan sistem tanam paksa tidak dijalankan. Menurut catatan W.H. Ockers, Residen Madura Timur, hanya British American Tobacco menyewa tanah penduduk untuk ditanami tembakau virginia pada tahun 1929, selebihnya adalah perkebunan rakyat skala kecil.

Lantas kenapa Belanda membangun jaringan kereta di Madura? Catatan Huub de Jonge, pemerintah kolonial Belanda membangun jaringan kereta di Madura yang menghubungkan Kamal hingga Kalianget, sepanjang 225 km. Proyek ini memang tidak serta-merta terbangun, namun terbagi dalam beberapa tahap, dan memakan waktu dari 1898 hingga 1901. Berbeda dengan jaringan kereta di Jawa yang dipakai untuk angkutan hasil perkebunan dan orang. Jaringan kereta api di Madura era itu lebih banyak menopang mobilitas warga karena tingginya aktivitas perdagangan, dari Madura ke Surabaya, dan sebaliknya.

Dari dulu hingga kini, Madura sangat kaya komoditas seperti; bawang merah, jagung, jambu mete, tembakau, cabai rawit, tebu, serta hasil laut seperti ikan, garam, dan rumput laut, dan peternakan sapi. Petani garam Madura berperan pemasok garam terbesar di Indonesia, dan penghasil rumput laut terbesar di Jawa. Kawasan timur dan selatan Sumenep sangat kaya hasil laut, bisa dikembangkan sebagai kawasan minapolitan.

Baca Juga :  Penyuluhan PHBS di Poteran Diikuti 315 Partisipan Se-Indonesia

Potensi Madura yang melimpah sumber pangan bisa manjadi kekuatan andalan nasional untuk menopang target swasembada pangan, khususnya gula, garam, jagung, dan daging sapi. Selama ini jenis komoditas tersebut kita dapatkan melalui importasi yang sangat besar, miliaran US$ yang harus kita bayarkan tiap tahun. Madura bisa kita harapkan berkontribusi pada peningkatan hasil ekspor melalui ikan, rumput laut, dan tembakau.

Harapan ini lebih ringan bisa kita wujudkan bila ditopang oleh infrastruktur transportasi pendukung, salah satunya melalui strategi reaktivasi jaringan kereta Madura. Apalagi, mobilitas warga dari dan ke Madura kian banyak dengan adanya Jembatan Suramadu. Presiden Jokowi telah menetapkan Peraturan Presiden Nomor 80 Tahun 2019 tentang Percepatan Pembangunan Ekonomi di Kawasan Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo, Lamongan, Kawasan Bromo Tengger Semeru, serta Kawasan Selingkar Wilis dan Lintas Selatan.

Pada lampiran perpres ini menargetkan reaktivasi jaringan kereta api dari Kamal–Bangkalan hingga Kalianget–Sumenep, bahkan telah tertera nilai estimasi investasi yang dibutuhkan, yakni Rp 3,37 triliun. Untuk menghubungkan jaringan rel ke Surabaya, juga telah dibuat masterplan pembangunan Autonomous Rail Rapid Transit (ART) yang menghubungkan Pelabuhan Kamal, Stasiun Bangkalan menuju Stasiun Pasar Turi, Surabaya dengan estimasi investasi Rp 3,59 triliun.

Saatnya warga Madura, para ulama, tokoh masyarakat, kepala daerah se-Madura dan gubernur Jatim serta BUMN dan pemerintah pusat solid, disiplin mengawal terealisasinya agenda mewujudkan konektivitas Madura, demi kemajuan bersama. Reaktivasi jaringan kereta api di Madura bisa menghubungkan jaringan kereta Jawa, dan menjadi transportasi massal masa depan yang rendah emisi, serta berkecepatan tinggi. Saatnya songsong kemajuan Madura tanpa meninggalkan kearifan budayanya. (*)

*)Ketua Badan Anggaran DPR RI

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/