alexametrics
20.9 C
Madura
Monday, June 27, 2022

Hikmah Sinau Bareng Cak Nun dan Kiai Kanjeng

RABU malam (30/5), Sumenep dinaungi nuansa keberkahan. Emha Ainun Nadjib, budayawan cum agamawan cum cendekiawan dihadirkan bersama Kiai Kanjeng yang dipimpinnya. Pria kelahiran Jombang yang genap 65 tahun pada 27 Mei 2018 ini memenuhi undangan Radio Republik Indonesia di penutupan Pekan Tilawatil Quran (PTQ) se-Indonesia. Sebuah kesempatan berharga bagi Sumenep (Madura secara umum) dapat menjadi tuan rumah acara nan religius ini.

Ribuan jamaah meriung dan duduk bersila di sekitar panggung berlatar Masjid Jamik Sumenep. Selepas tarawih hingga acara berakhir dini hari jamaah yang duduk manis tidak beringsut sedikit pun. Emha, yang karib disapa Cak Nun, ditemani budayawan dan sastrawan KH D. Zawawi Imron. Bupati Sumenep beserta direktur utama RRI turut menemani di pentas persamuhan agung malam ke-15 Ramadan itu.

Cak Nun mengawali acara bertajuk Sinau Bareng Cak Nun dan Kiai Kanjeng dengan mendeskripsikan kebesaran sejarah Sumenep. Sebagai kerajaan, yang secara fisik keratonnya masih eksis hingga hari ini, dijelaskan Cak Nun secara sejarah hadir lebih awal dari kerajaan Majapahit. Penting mengingat dan mentadabburi khazanah kebesaran masa silam ini.

Untuk apa? Sebagai pengingat, spirit Sumenep ini dapat dijadikan keris, pusaka, yang akan menyelamatkan bangsa dan negara Indonesia dari kehancuran akibat centang perenangnya pelbagai masalah di level nasional yang multidimensional. Maka, Cak Nun memimpin jamaah memulai persuaan dengan menyampaikan salam tiga kali kepada pendahulu dan peletak dakwah Islam di tanah Madura.

Cak Nun kemudian menyitir pentingnya makna malam ini ketika mengaitkannya dengan gelaran PTQ. Posisi Alquran sebagai panduan perlu dimengerti dalam tiga tahapan: a) tadris/tadarus dan tahfid (dibaca dan dihapalkan). Ini berfungsi sebagai fondasi awal; b) tahfim (dipahami maknanya). Ini berfungsi sebagai pilar-pilar yang mengukuhkan; c) Takdib (sebagai infrastruktur keadaban dan membentuk peradaban qurani).

Baca Juga :  Mahasiswa P2M IDIA Gelar Pelatihan Cara Cepat Baca Kitab

Harapan besarnya adalah Alquran akan menjadi sarana utama mewujudkan peradaban yang sejalan dengan kehendak-Nya sebagai pengejawantahan tugas manusia selaku abdullah dan khalifatullah fil ardh.

Selanjutnya, Cak Nun mengajak jamaah sinau bareng dengan ngonceki perihal konsep kebenaran dan kebaikan. Hal ini berangkat dari fakta sosial kiwari yang seolah-olah terus mengajak setiap elemen bangsa untuk mempertentangkan kebenaran. Setiap orang, pihak, dan kelompok saling mengedepankan kebenarannya sendiri-sendiri.

Hal ini tidak sesuai dengan ajaran Islam yang meminta umat-Nya untuk fastabiqul khoirot, alih-alih fastabiqul haqq. Berlomba-lomba dalam kebaikan, bukan kebenaran. Kebenaran itu, lanjut Cak Nun, harusnya di posisi belakang atau di dapur dalam analogi masakan restoran. Yang disajikan di depan atau di etalase hablum min an naas harusnya berkait tentang kebaikan.

Kebenaran berfungsi sebagai awal yang diyakini setiap insan. Namun ketika berhadapan dengan sesama, yang lebih dikedepankan dan dipentingkan adalah setiap hal yang berporos pada arasy kebaikan. Ketika kebaikan yang disodorkan, akan tercipta keindahan pada hubungan antarsesama. Muara segalanya adalah berpuncak pada cinta (mahabbah), baik sebagai ikatan primordial vertikal dengan Tuhan maupun tetesan pada hubungan horisontal dengan manusia lain dan alam sekitar.

Beberapa tembang salawatan yang di-medley dengan lagu barat, dangdut, pop dan rock kemudian mengisi ruang kebatinan jamaah di antara proses pembelajaran bersama ini. Tembang Madura seperti Tondhu’ Majang dan Lir-Ilir asal Jawa tak lupa dilantunkan sebagai kekayaan kebijaksanaan lokal. Komposisi aransemen Kiai Kanjeng yang menggabungkan instrumen modern dan tradisional (gamelan) adalah kekayaan khazanah kreativitas yang mampu membawa pendengar ke dalam suasana trance, mengingat kebesaran-Nya dan melantunkan salawat atas Rasul-Nya yang mulia penuh kesyahduan.

Baca Juga :  Haflatul ImtihanĀ Antara Gurauan dan Tasyakuran

Ada yang menarik ketika Kiai Kanjeng membawakan Sayang yang dipopulerkan secara dangdut koplo Via Vallen. Cak Nun memahami keresahan yang mungkin timbul di benak jamaah. Apakah pas lagu semacam itu dinyanyikan saat penutupan PTQ? Dengan tegas, Cak Nun kemudian mendedahkan jawaban atas pertanyaan semacam itu.

Lagu dan segala hal di dunia, jelas Cak Nun, ketika ingin dinilai baik dan buruknya tergantung konteks. Secara analogis dicontohkan, walau salat Subuh merupakan kewajiban. Tapi jika ingin dilaksanakan di masa tengah malam haram. Sebab, belum masuk waktu.

Jadi, ketika hendak menghakimi, termasuk menyalahkan sesuatu, perlu dipikir matang dan diendapkan terlebih dahulu. Jangan terlalu mudah menilai, menuding, dan menyimpulkan serampangan tanpa ilmu dan kepekaan batiniah memadai. Perlu mencari pelajaran yang bisa dipetik melalui hikmah pada diri. Cara berpikir semacam ini akan mengurangi ketegangan yang sering kali muncul akibat sikap reaktif sesaat tanpa pengendapan memadai.

Belajar bareng ini pun dipungkasi dengan salawat dan doa bersama. Rahmat Allah dan syafaat Rasulullah adalah asa bersama yang dituju guna cita hidup bahagia fi ad diini wa ad dunya wa al akhirah. Formulasi sederhana (namun tak mudah dilakoni) yang diresapi seluruh jamaah Maiyahan nusantara ini kemudian ditegaskan ulang Cak Nun di akhir persamuhan.

Jamaah pun beringsut pulang dengan hati jembar (lapang) dengan rasa kuat yang tersambung senantiasa pada Robbi dan kecintaan besar pada Sang Kekasih, Muhammad SAW. Semoga demikian seterusnya. 

 

*Jamaah aktif Maiyah, alumnus Pondok Pesantren Raudhatut Thalibin Sumenep.

RABU malam (30/5), Sumenep dinaungi nuansa keberkahan. Emha Ainun Nadjib, budayawan cum agamawan cum cendekiawan dihadirkan bersama Kiai Kanjeng yang dipimpinnya. Pria kelahiran Jombang yang genap 65 tahun pada 27 Mei 2018 ini memenuhi undangan Radio Republik Indonesia di penutupan Pekan Tilawatil Quran (PTQ) se-Indonesia. Sebuah kesempatan berharga bagi Sumenep (Madura secara umum) dapat menjadi tuan rumah acara nan religius ini.

Ribuan jamaah meriung dan duduk bersila di sekitar panggung berlatar Masjid Jamik Sumenep. Selepas tarawih hingga acara berakhir dini hari jamaah yang duduk manis tidak beringsut sedikit pun. Emha, yang karib disapa Cak Nun, ditemani budayawan dan sastrawan KH D. Zawawi Imron. Bupati Sumenep beserta direktur utama RRI turut menemani di pentas persamuhan agung malam ke-15 Ramadan itu.

Cak Nun mengawali acara bertajuk Sinau Bareng Cak Nun dan Kiai Kanjeng dengan mendeskripsikan kebesaran sejarah Sumenep. Sebagai kerajaan, yang secara fisik keratonnya masih eksis hingga hari ini, dijelaskan Cak Nun secara sejarah hadir lebih awal dari kerajaan Majapahit. Penting mengingat dan mentadabburi khazanah kebesaran masa silam ini.


Untuk apa? Sebagai pengingat, spirit Sumenep ini dapat dijadikan keris, pusaka, yang akan menyelamatkan bangsa dan negara Indonesia dari kehancuran akibat centang perenangnya pelbagai masalah di level nasional yang multidimensional. Maka, Cak Nun memimpin jamaah memulai persuaan dengan menyampaikan salam tiga kali kepada pendahulu dan peletak dakwah Islam di tanah Madura.

Cak Nun kemudian menyitir pentingnya makna malam ini ketika mengaitkannya dengan gelaran PTQ. Posisi Alquran sebagai panduan perlu dimengerti dalam tiga tahapan: a) tadris/tadarus dan tahfid (dibaca dan dihapalkan). Ini berfungsi sebagai fondasi awal; b) tahfim (dipahami maknanya). Ini berfungsi sebagai pilar-pilar yang mengukuhkan; c) Takdib (sebagai infrastruktur keadaban dan membentuk peradaban qurani).

Baca Juga :  Menulis Bisa Membuat Panjang Umur

Harapan besarnya adalah Alquran akan menjadi sarana utama mewujudkan peradaban yang sejalan dengan kehendak-Nya sebagai pengejawantahan tugas manusia selaku abdullah dan khalifatullah fil ardh.

Selanjutnya, Cak Nun mengajak jamaah sinau bareng dengan ngonceki perihal konsep kebenaran dan kebaikan. Hal ini berangkat dari fakta sosial kiwari yang seolah-olah terus mengajak setiap elemen bangsa untuk mempertentangkan kebenaran. Setiap orang, pihak, dan kelompok saling mengedepankan kebenarannya sendiri-sendiri.

Hal ini tidak sesuai dengan ajaran Islam yang meminta umat-Nya untuk fastabiqul khoirot, alih-alih fastabiqul haqq. Berlomba-lomba dalam kebaikan, bukan kebenaran. Kebenaran itu, lanjut Cak Nun, harusnya di posisi belakang atau di dapur dalam analogi masakan restoran. Yang disajikan di depan atau di etalase hablum min an naas harusnya berkait tentang kebaikan.

Kebenaran berfungsi sebagai awal yang diyakini setiap insan. Namun ketika berhadapan dengan sesama, yang lebih dikedepankan dan dipentingkan adalah setiap hal yang berporos pada arasy kebaikan. Ketika kebaikan yang disodorkan, akan tercipta keindahan pada hubungan antarsesama. Muara segalanya adalah berpuncak pada cinta (mahabbah), baik sebagai ikatan primordial vertikal dengan Tuhan maupun tetesan pada hubungan horisontal dengan manusia lain dan alam sekitar.

Beberapa tembang salawatan yang di-medley dengan lagu barat, dangdut, pop dan rock kemudian mengisi ruang kebatinan jamaah di antara proses pembelajaran bersama ini. Tembang Madura seperti Tondhu’ Majang dan Lir-Ilir asal Jawa tak lupa dilantunkan sebagai kekayaan kebijaksanaan lokal. Komposisi aransemen Kiai Kanjeng yang menggabungkan instrumen modern dan tradisional (gamelan) adalah kekayaan khazanah kreativitas yang mampu membawa pendengar ke dalam suasana trance, mengingat kebesaran-Nya dan melantunkan salawat atas Rasul-Nya yang mulia penuh kesyahduan.

Baca Juga :  Kiai Keturunan vsĀ Kiai Keilmuan

Ada yang menarik ketika Kiai Kanjeng membawakan Sayang yang dipopulerkan secara dangdut koplo Via Vallen. Cak Nun memahami keresahan yang mungkin timbul di benak jamaah. Apakah pas lagu semacam itu dinyanyikan saat penutupan PTQ? Dengan tegas, Cak Nun kemudian mendedahkan jawaban atas pertanyaan semacam itu.

Lagu dan segala hal di dunia, jelas Cak Nun, ketika ingin dinilai baik dan buruknya tergantung konteks. Secara analogis dicontohkan, walau salat Subuh merupakan kewajiban. Tapi jika ingin dilaksanakan di masa tengah malam haram. Sebab, belum masuk waktu.

Jadi, ketika hendak menghakimi, termasuk menyalahkan sesuatu, perlu dipikir matang dan diendapkan terlebih dahulu. Jangan terlalu mudah menilai, menuding, dan menyimpulkan serampangan tanpa ilmu dan kepekaan batiniah memadai. Perlu mencari pelajaran yang bisa dipetik melalui hikmah pada diri. Cara berpikir semacam ini akan mengurangi ketegangan yang sering kali muncul akibat sikap reaktif sesaat tanpa pengendapan memadai.

Belajar bareng ini pun dipungkasi dengan salawat dan doa bersama. Rahmat Allah dan syafaat Rasulullah adalah asa bersama yang dituju guna cita hidup bahagia fi ad diini wa ad dunya wa al akhirah. Formulasi sederhana (namun tak mudah dilakoni) yang diresapi seluruh jamaah Maiyahan nusantara ini kemudian ditegaskan ulang Cak Nun di akhir persamuhan.

Jamaah pun beringsut pulang dengan hati jembar (lapang) dengan rasa kuat yang tersambung senantiasa pada Robbi dan kecintaan besar pada Sang Kekasih, Muhammad SAW. Semoga demikian seterusnya. 

 

*Jamaah aktif Maiyah, alumnus Pondok Pesantren Raudhatut Thalibin Sumenep.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Pesantren Ladang Memburu Barokah

Jaringan Pertemanan Pesantren

Meluaskan Makna Tadarus

Keajaiban Silaturahmi

Most Read

Artikel Terbaru

/