
Oleh: Sugat Ibnu Ali *)
Ada satu hal yg menurut sy perlu kita bicarakan secara jujur dalam dunia perlombaan seni: pemilihan juri. Sebab terkadang kita terlalu sibuk mempersiapkan peserta, mencari panggung, membuat sertifikat, menyiapkan hadiah, bahkan menentukan siapa yg akan menjadi juara, tetapi lupa memastikan satu hal paling penting: Siapa yg sebenarnya sedang menilai mereka?
Ironisnya, di beberapa tempat, menjadi juri lomba baca puisi seolah cukup dengan satu syarat, misalnya “Asal bergelut di dunia sastra, maka jadilah juri. Padahal pada kenyataannya dunia sastra itu luas.
Menurut hemat saya, menulis puisi adalah satu hal, membacapuisi adalah hal lain dan mendeklamasikan puisi adalah persoalan lain lagi.
Jangan sampai karena seseorang pernah menulis puisi, pernah menerbitkan buku, pernah tampil dalam kegiatan sastra, atau dikenal sebagai pegiat sastra, lalu otomatis dianggap mampu menilai seni baca puisi.
Tidak sesederhana itu, baca puisi bukan sekadar membaca kata-kata yg tertulis di kertas. Kita mesti tahu pada pokok yang jadi tonggak utamanya, ada vokal, artikulasi, intonasi, tempo, ritme, aksentuasi, ekspresi, gestur, dan interpretasi. Dan di atas semuanya itu ada sesuatu yang tidak bisa hanya dipelajari dari tabel penilaian, yakni sense (rasa)
Seorang juri harus tahu seperti apa vokal yg tepat, bukan sekedar tahu bahwa vokal masuk dalam rubrik penilaian. Seorang juri harus tahu seperti apa intonasi yg hidup, bukan sekadar memberi angka pada kolom “intonasi”.
Juri juga harus tahu kapan sebuah kata harus ditekan, kapan harus dibiarkan mengalir, kapan harus berhenti, kapan harus berbisik, dan kapan sebuah suara justru harus diledakkan. Karena puisi bukan hanya tentang apa yang dibaca, tetapi tentang bagaimana makna itu sampai kepada pendengar.
Lalu bagaimana mungkin kita berharap penilaian yang mendalam jika seorang juri hampir tidak pernah bergelut di panggung baca puisi? Ini bukan berarti seorang juri harus menjadi juara lomba, masalahnya bukan disitu, namun paling tidak ia harus memahami dunia yg sedang ia nilai.
Jika demikian, bagaimana dengan pertanyaan begini, “Bolehkah jurinya membaca satu puisi di depan peserta?”
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




