Dongeng tembakau campalok dengan Keraton Sumenep begitu lekat di tengah-tengah orang Madura. Aroma kuat tembakau campalok konon dari bunga Pottre Koneng Keraton Sumenep yang jatuh saat berada di Desa Bekeong, Guluk-Guluk. Bunga sang putri yang jatuh laksana kesturi, menyebar, memberi aroma wangi pada tanah yang ditumbuhi tembakau campalok. Energi wanginya terserap melalui sari pati tembakau campalok sehingga tembakau ini ikut memiliki aroma yang kuat. Tentu saja ini hanya hikayat, tetapi telah melegenda secara turun-temurun. Yang pasti, tembakau cempalok telah menjadi berkah alam bagi petani tembakau di Guluk-Guluk hingga kini.
Bagi orang Madura, tembakau ibarat ”daun emas”, sejuta harapan digantungkan menjelang musim panen tembakau tiba. Panen tembakau menjadi pelabuhan rasa. Saat kualitas tembakau baik dan harga tinggi, senyum gembira menyertai. Sebaliknya, saat harga tembakau jatuh, terpaksa mereka menggunting harapan. Tata niaga tembakau yang baik selalu menjadi gantungan asa bagi petani tembakau.
Menjaga tembakau Madura sesungguhnya menjaga tembakau Nusantara, menjaga pilar penyangga penerimaan cukai negara, sekaligus menjaga keseluruhan kebudayaan para petani tembakau. Sebab itu, menjaga basis produksi tembakau dan tata niaganya sepadan dengan menjaga keseluruhan narasi hidup petani tembakau.
Jawa Timur sekaligus sentra tanaman tembakau dengan kapasitas produksi pada 2021 mencapai 118,9 ribu ton. Kontribusi produksi tembakau Jawa Timur disumbang dari kawasan Madura yang ada di Sampang, Pamekasan, dan Sumenep. Dari ketiga kawasan itu, mampu produksi tembakau sebanyak 26,5 ribu ton atau 22 persen dari total produksi tembakau Jawa Timur.
Festivalisasi
Pikiran kita bila mengingat tembakau tentu langsung tertuju pada sebatang rokok. Tembakau dan rokok memang tidak bisa dipisahkan. Sebagai rempah unggul Nusantara, tembakau sesungguhnya tidak hanya bermuara akhir menjadi rokok. Situs kesehatan halodoc.com menggambarkan, tembakau punya ragam manfaat.
Tembakau punya potensi besar dikembangkan sebagai obat herbal. Kadar nikotin yang selama ini dimusuhi justru bisa dikembangkan menjadi penyembuh berbagai gangguan kesehatan, termasuk terapi penderita alergi. Bahkan, tembakau kaya kandungan antigen yang sebanding dengan virus influenza sehingga bisa menjadi harapan terciptanya produksi vaksin influenza.
Begitu besarnya khazanah yang ada pada tembakau. Sangat disayangkan bila daerah-daerah sentra tembakau tidak memanfaatkan potensi besar tembakau. Apalagi, tiap tahun pemerintah pusat selalu membagikan dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT) ke setiap kabupaten dan kota penghasil cukai tembakau, termasuk daerah-daerah di Madura. Pada 2022, menteri keuangan telah menetapkan bagi hasil cukai tembakau tiap kabupaten, kota, dan provinsi. Kabupaten Bangkalan menerima Rp 28,7 miliar, Sampang Rp 28,2 miliar, Pamekasan Rp 74,7 miliar, dan Sumenep Rp 36,2 miliar, serta Pemerintah Provinsi Jatim menerima Rp 642,5 miliar.
Akan sangat baik bila penerimaan bagi hasil cukai ini dialokasikan untuk mengembangkan potensi tembakau. Langkah ini sebagai transisi, cara jitu apabila industri rokok telah uzur. Dengan demikian, tembakau tetap memberi manfaat besar kepada khalayak luas, terutama industri kesehatan, kosmetik, lingkungan, dan pangan.
Sungguh membanggakan, inisiatif-inisiatif rakyat dalam mengembangkan dan mengenalkan tembakau, terkhusus melalui berbagai festival tembakau. Pertengahan Desember 2022 lalu di Jakarta dihelat pameran tembakau oleh Jakarta Tobacco. Kegiatan ini memperkenalkan berbagai brand tembakau Nusantara, dipadu dengan kegiatan musik dan literasi tentang tembakau.
Festival serupa dihelat secara tahunan di Sumenep. Warga Lebeng Timur, Sumenep, rutin setiap tahun mengadakan festival tembakau, yang dirintis sejak 2019. Festival tembakau di Sumenep ini lebih menekankan sebagai media komunikasi lintas agrarian. Ajang kumpul petani tembakau di Sumenep untuk menjaga ekosistem kebun tembakau serta keseluruhan kebudayaan, ritus, dan adat istiadat yang menopangnya.
Ruang lain dari festival tembakau yang bisa dipromosikan oleh kalangan akademisi dan pemerintah adalah kekayaan kandungan tembakau, baik untuk kesehatan, kosmetik, lingkungan, maupun pangan. Praktik medis modern dengan teknologi balur dan divine kretek yang dikembangkan oleh dr Gretha Zahar di Semarang telah mengobati dan menyembuhkan banyak pasien, khususnya para penderita kanker, jantung, kardiovaskular, paru-paru, DM, autisme, autoimmune, dan stroke, serta penyakit degeneratif lainnya. Juga orang yang mengidap HIV/Aids.
Sudah waktunya pemerintah dan kalangan kampus mengambil inisiatif-inisiatif lebih jauh terhadap tembakau. Dengan demikian, persepsi terhadap tembakau kian positif, lebih penting lagi, tembakau tetap memberi harapan besar bagi seluruh petani. (*)
*) Anggota DPR, Wakil PDI Perjuangan dari Madura
Editor : Abdul Basri