Oleh: Said Abdullah
MERAWAT bumi sejatinya adalah merawat kehidupan itu sendiri. Tanah kelahiran bukan hanya bentang geografis yang kita pijak, melainkan ruang spiritual tempat nilai, ingatan, kisah dan harapan diwariskan lintas generasi.
Madura, bagi saya, bukan sekadar pulau. Disana denyut nadi yang membentuk watak, keteguhan, dan cara pandang saya tentang kehidupan dan pengabdian. Disana pula tempat saya mengukir kisah, tempat saya bersandar kepada orang tua, tempat saya awal mulai mengenali dunia
Karena itulah, menjaga bumi Madura tidak dapat dipisahkan dari tanggung jawab moral sebagai anak pertiwi Madura. Hal itu bukan proyek sesaat, bukan pula romantisme masa lalu. Menjaganya adalah ikhtiar panjang untuk memastikan bahwa generasi mendatang tidak mewarisi tanah yang letih, kering, dan kehilangan daya hidupnya akibat tercerabutnya akar kebudayaan.
Madura memang dikenal sebagai tanah yang keras, ditempa oleh musim kemarau panjang dan keterbatasan sumber daya alam. Tempat dimana pemiskinan berjalan karena tidak sejalan dengan kekuasaan orde baru. Walau tidak segetir kisah yang dituliskan novelis Maxim Gorky, namun justru dari kondisi serta terbatas itulah lahir manusia-manusia tangguh, ulet, dan pantang menyerah.
Tantangan ekologis yang kita hadapi hari ini, degradasi lahan, berkurangnya tutupan hijau, hingga ancaman krisis air, dan lemahnya negara menahan kerusakan ekologis—menuntut kebijaksanaan baru dalam memandang hubungan manusia dan alam.
Pohon, dalam konteks ini, bukan sekadar entitas biologis. Ia adalah simbol keseimbangan. Ia bekerja dalam diam: menyimpan air hujan ke dalam tanah, menahan erosi, menurunkan suhu, menyuplai udara segar, dan menjaga keberlanjutan kehidupan. Ketika satu pohon tumbuh, sesungguhnya harapan ikut bertunas. Tumbuhnya pohon, menandakan harapan ekologi terbentuk- tempat bersua hewan hewan membangun habitat.
Sebaliknya, ketika ruang hijau hilang, masyarakatlah yang pertama kali merasakan dampaknya. Kekeringan, gagal panen, banjir lokal, dan menurunnya kualitas hidup bukanlah isu abstrak, dan hilangnya rantai makanan—ia hadir nyata di halaman rumah warga.
Berangkat dari kesadaran itulah, saya menggagas gerakan penanaman 1.000 pohon di setiap kabupaten di Madura, dengan target 5.000 pohon per kabupaten dalam setahun. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan pijakan awal menuju perubahan yang lebih luas dan berkelanjutan.
Saya punya harapan, setiap jengkal tanah di Madura yang rindang menjadi kekuatan osmosis, yang mampu mengikat partikel bebas. Menumbuhkan harapan Madura bisa menjadi bagian dari paru paru nusantara.
Lebih dari itu, menanam pohon sepatutnya kita membangun makna, sesungguhnya menanam pohon adalah menanam kesadaran kolektif bahwa pembangunan tidak boleh berdiri di atas pengabaian terhadap alam. Pembangunan sejati adalah yang mampu menyelaraskan kemajuan ekonomi, keadilan sosial, dan keberlanjutan lingkungan.
Gerakan ini, saya bayangkan bukan sebagai kerja individual, akan tetapi kerja bersama: pemerintah daerah, tokoh masyarakat, pesantren, pemuda, hingga anak-anak sekolah. Ketika satu pohon ditanam bersama, di situlah tumbuh rasa memiliki dan tanggung jawab bersama terhadap bumi yang kita cintai.
Sebab, saya meyakini bahwa ukuran keberhasilan seorang pemimpin bukan hanya apa yang ia membangun hari ini, tetapi apa yang ia tinggalkan untuk esok hari. Pohon-pohon yang kita tanam mungkin tidak langsung kita nikmati buahnya. Namun justru di situlah nilai kebijaksanaannya: memberi tanpa menuntut kembali.
Merawat bumi Madura merupakan ikhtiar panjang, melampaui masa jabatan dan kepentingan politik. Ia adalah warisan nilai — bahwa tanah kelahiran harus diperlakukan dengan hormat, dirawat dengan cinta, dan dijaga dengan kesadaran penuh.
Semoga dari pohon-pohon yang kita tanam hari ini, kelak tumbuh keteduhan bagi anak cucu kita. Dan dari Madura yang lebih hijau, lahir masa depan yang lebih adil, lestari, dan bermartabat.
*)Ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Timur
Editor : Dafir.