alexametrics
20.6 C
Madura
Wednesday, August 10, 2022

Polisi Sebut Korban Tewas Tersetrum, Keluarga Terdakwa Membantah

BANGKALAN – Sidang dugaan pembunuhan dengan terdakwa Abd. Muis, 55, warga Desa Tobaddung, Kecamatan Klampis, berlanjut. Sidang dengan agenda mendengarkan keterangan saksi itu digelar hingga malam di Pengadilan Negeri (PN) Bangkalan, Selasa (29/1).

            Empat orang saksi dihadirkan. Yakni, penyidik Polsek Klampis Brigadir Poundra Kinan. Juga Fairus, 19, warga Desa Mrandung, Kecamatan Klampis, yang merupakan teman korban dan mengetahui langsung korban tewas di kandang bebek.

Kemudian, Sifatun istri terdakwa, dan Asnan yang merupakan ipar Sifatun. Sidang dimulai pukul 13.00 hingga pukul 20.45. Sidang dipimpin oleh Hakim Ketua Sugiri Wiryandono.

Brigadir Poundra Kinan banyak menjelaskan mulai dari mendapatkan informasi penemuan mayat, melakukan evakuasi korban, dan melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). Hingga menjelaskan pembongkaran kuburan korban untuk dilakukan otopsi. Hasil otopsi menunjukkan ada bekas sengatan listrik pada tubuh korban.

Sementara, Fairus menyampaikan, rencana membeli bebek untuk dibuat makan bersama rekan-rekannya. Dia bersama korban mendatangi rumah terdakwa pada malam hari dan membangunkan Muis.

Baca Juga :  Keluarga Korban Duga Pembunuhan Suliman Terencana

Namun, terdakwa tidak kunjung bangun. Tak disangka tangan korban menyentuh kandang bebek yang ada aliran listrik. Bingung melihat korban tersengat listrik, Fairus memilih kabur. Alasannya, takut melihat korban tersetrum.

Asnan mengungkapkan, dirinya hanya memanggil Selamet untuk memperbaiki listrik. Selamet sudah menjadi saksi pada sidang sebelumnya. Perbaikan listrik dari rumah menuju toko terdakwa dilakukan setelah penemuan mayat. Asnan juga meminta Selamet membuka kawat pada pagar kandang lantaran disuruh Sifatun. Dirinya mengklaim tidak ada aliran listrik menuju kandang.

Sifatun mengaku mengetahui korban tewas di dekat kandang bebeknya pagi harinya. Dia membantah ada aliran listrik di pagar kandangnya. Perbaikan listrik dilakukan dari rumah menuju toko. Toko dan dan rumah berdekatan.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Budi Dermawan mengatakan, agenda sidang pekan depan masih mendengarkan keterangan saksi. Dia enggan menyebut identitas saksi yang bakal dihadirkan. Sidang dengan agenda saksi akan digelar di PN Bangkalan, Selasa (12/2).

Jimhur selaku Penasihat Hukum Muis menilai, berkas penyidik karut-marut. Seperti, kesalahan tanggal dan hari pemanggilan ataupun pemeriksaan. Penyidik juga tidak melengkapi berita acara pemeriksaan (BAP) dokter yang melakukan otopsi. Karena itu, keterangan penyidik terkait otopsi tidak bisa digunakan dalam sidang. ”Kalau dilihat dari itu, ini batal demi hukum,” terangnya.

Baca Juga :  Korban Kerusuhan Tak Dapat Perawatan

Dia mengungkapkan, berdasarkan fakta, tidak ada bukti mengarah Muis bersalah. Sebab, tidak ada aliran listrik di kandang bebeknya. ”Moga-moga hakim bisa memberikan keadilan atas nama Tuhan yang berdasarkan pola pikir dan analisis paling akurat,” harapnya.

Untuk diketahui, Sukairi, 19, warga Desa Tobadung, Kecamatan Klampis ditemukan tewas di kandang milik Abd. Muis saat hendak membeli bebek, Rabu (18/7/2018). Tewasnya korban dirasa janggal oleh keluarga. Lalu, meminta polisi dan tim medis melakukan otopsi dengan cara membongkar kuburan korban, Selasa (28/8/2018).

Dari hasil visum, bagian tubuh korban tersengat aliran listrik. Polisi terus melakukan penyelidikan. Kamis (27/9/2018) sekitar 10.00 menangkap Abd. Muis yang diduga dengan sengaja memasang aliran listrik di kandang bebeknya hingga mengakibatkan korban tewas tersetrum. 

BANGKALAN – Sidang dugaan pembunuhan dengan terdakwa Abd. Muis, 55, warga Desa Tobaddung, Kecamatan Klampis, berlanjut. Sidang dengan agenda mendengarkan keterangan saksi itu digelar hingga malam di Pengadilan Negeri (PN) Bangkalan, Selasa (29/1).

            Empat orang saksi dihadirkan. Yakni, penyidik Polsek Klampis Brigadir Poundra Kinan. Juga Fairus, 19, warga Desa Mrandung, Kecamatan Klampis, yang merupakan teman korban dan mengetahui langsung korban tewas di kandang bebek.

Kemudian, Sifatun istri terdakwa, dan Asnan yang merupakan ipar Sifatun. Sidang dimulai pukul 13.00 hingga pukul 20.45. Sidang dipimpin oleh Hakim Ketua Sugiri Wiryandono.


Brigadir Poundra Kinan banyak menjelaskan mulai dari mendapatkan informasi penemuan mayat, melakukan evakuasi korban, dan melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). Hingga menjelaskan pembongkaran kuburan korban untuk dilakukan otopsi. Hasil otopsi menunjukkan ada bekas sengatan listrik pada tubuh korban.

Sementara, Fairus menyampaikan, rencana membeli bebek untuk dibuat makan bersama rekan-rekannya. Dia bersama korban mendatangi rumah terdakwa pada malam hari dan membangunkan Muis.

Baca Juga :  Dua Perempuan Jadi Korban Pelecehan Seksual

Namun, terdakwa tidak kunjung bangun. Tak disangka tangan korban menyentuh kandang bebek yang ada aliran listrik. Bingung melihat korban tersengat listrik, Fairus memilih kabur. Alasannya, takut melihat korban tersetrum.

Asnan mengungkapkan, dirinya hanya memanggil Selamet untuk memperbaiki listrik. Selamet sudah menjadi saksi pada sidang sebelumnya. Perbaikan listrik dari rumah menuju toko terdakwa dilakukan setelah penemuan mayat. Asnan juga meminta Selamet membuka kawat pada pagar kandang lantaran disuruh Sifatun. Dirinya mengklaim tidak ada aliran listrik menuju kandang.

Sifatun mengaku mengetahui korban tewas di dekat kandang bebeknya pagi harinya. Dia membantah ada aliran listrik di pagar kandangnya. Perbaikan listrik dilakukan dari rumah menuju toko. Toko dan dan rumah berdekatan.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Budi Dermawan mengatakan, agenda sidang pekan depan masih mendengarkan keterangan saksi. Dia enggan menyebut identitas saksi yang bakal dihadirkan. Sidang dengan agenda saksi akan digelar di PN Bangkalan, Selasa (12/2).

Jimhur selaku Penasihat Hukum Muis menilai, berkas penyidik karut-marut. Seperti, kesalahan tanggal dan hari pemanggilan ataupun pemeriksaan. Penyidik juga tidak melengkapi berita acara pemeriksaan (BAP) dokter yang melakukan otopsi. Karena itu, keterangan penyidik terkait otopsi tidak bisa digunakan dalam sidang. ”Kalau dilihat dari itu, ini batal demi hukum,” terangnya.

Baca Juga :  Bupati Bangkalan Abdul Latif Amin Imron Bantu Korban Covid-19

Dia mengungkapkan, berdasarkan fakta, tidak ada bukti mengarah Muis bersalah. Sebab, tidak ada aliran listrik di kandang bebeknya. ”Moga-moga hakim bisa memberikan keadilan atas nama Tuhan yang berdasarkan pola pikir dan analisis paling akurat,” harapnya.

Untuk diketahui, Sukairi, 19, warga Desa Tobadung, Kecamatan Klampis ditemukan tewas di kandang milik Abd. Muis saat hendak membeli bebek, Rabu (18/7/2018). Tewasnya korban dirasa janggal oleh keluarga. Lalu, meminta polisi dan tim medis melakukan otopsi dengan cara membongkar kuburan korban, Selasa (28/8/2018).

Dari hasil visum, bagian tubuh korban tersengat aliran listrik. Polisi terus melakukan penyelidikan. Kamis (27/9/2018) sekitar 10.00 menangkap Abd. Muis yang diduga dengan sengaja memasang aliran listrik di kandang bebeknya hingga mengakibatkan korban tewas tersetrum. 

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/