alexametrics
21.4 C
Madura
Monday, June 27, 2022

Cipta Karya Bekerja Out of The Box

SUMENEP – Wajar bila Pemkab Sumenep merekomendasikan dinas perumahan rakyat, kawasan pemukiman (DPRKP) dan cipta karya sebagai salah satu nomine Madura Awards 2018. Instansi ini berkontribusi besar menata kota. Terutama dalam menerjemahkan visi-misi kepemimpinan Bupati A. Busyro Karim dan Wabup Achmad Fauzi. Yakni, Nata Kota Bangun Desa.

Ada beberapa terobosan yang dilakukan DPRKP dan Cipta Karya Sumenep. Di antaranya menyediakan dan menata ruang-ruang publik sekaligus ruang terbuka hijau. Seperti pembangunan Tajamara dan penataan kawasan taman bunga yang kini menjadi tempat menyenangkan bagi warga.

DPRKP dan cipta karya juga sedang membangun kawasan pemkab terpadu. Sejumlah perkantoran akan diintegralkan menjadi satu kawasan. Yang pada akhirnya membuat masyarakat mudah mendapatkan pelayanan dari pemkab.

Apa yang dikerjakan DPRKP dan Cipta Karya ini keluar dari kebiasaan. Kepala DPRKP dan Cipta Karya Sumenep Bambang Irianto mencoba berpikir out of the box. Instansi yang dipimpinnya tidak hanya berkutat pada kebiasaan-kebiasaan lama yang tidak produktif.

Baca Juga :  Disenangi dan Dihormati

”Dulu bicara Cipta Karya hanya soal paving dan MCK. Tapi saya coba keluar dari kebiasaan itu. Saya tata kota menjadi lebih indah dan sejuk,” jelasnya.

Dalam bekerja, Bambang mengaku tidak hanya mengedepankan aspek pembangunan. Sisi sejarah dan kebudayaan juga menjadi pertimbangan utama. Seperti ketika menata Taman Bunga dengan membangun jalan tembus dari Keraton menuju Masjid Jamik Sumenep.

”Kenapa Taman Bunga saya ubah, karena menurut para sepuh dan bupati dulu ada jalan tembus dari Keraton menuju Masjid Jamik,” jelasnya. ”Agar Taman Bunga tidak menutupi pandangan dari pendapa ke masjid,” tegasnya.

Meski berpikir dan bekerja out of the box, bukan berarti dia tidak memiliki rujukan hukum yang jelas. Sebelum memulai pekerjaan, pihaknya menyusun buku induk terlebih dahulu. Buku tersebut menjadi acuan bekerja dan bersifat jangka panjang.

Baca Juga :  KPU Belum Sikapi Putusan MK soal PPK

Dari sisi regulasi juga disiapkan secara matang. DPRKP dan cipta karya mendorong penyusunan peraturan daerah tentang rencana detail tata ruang (RDTR) serta perbup RTBL (rencana tata bangunan lingkungan). Regulasi itu menjadi dasar menyusun program kerja, baik yang bersifat jangka pendek maupun jangka panjang.

Bambang juga tidak bekerja top down. Sebab, bekerja dengan hanya mengandalkan sistem instruksi dari atas ke bawah tidaklah efektif. Bahkan, cenderung kurang inovatif. Karena itulah dia memberi kebebasan kepada bawahannya untuk berkreasi dalam melaksanakan pembangunan.

”Saya persilakan Kabid-Kabid di sini untuk menyusun program, berkreasi, dan berinovasi,” paparnya. ”Kalau pejabat yang lain mungkin tidak mau punya anak buah yang lebih hebat dari dirinya. Kalau saya malah sebaliknya, saya merasa sukses jika Kabid-Kabid saya lebih hebat dari saya,” tukasnya.

SUMENEP – Wajar bila Pemkab Sumenep merekomendasikan dinas perumahan rakyat, kawasan pemukiman (DPRKP) dan cipta karya sebagai salah satu nomine Madura Awards 2018. Instansi ini berkontribusi besar menata kota. Terutama dalam menerjemahkan visi-misi kepemimpinan Bupati A. Busyro Karim dan Wabup Achmad Fauzi. Yakni, Nata Kota Bangun Desa.

Ada beberapa terobosan yang dilakukan DPRKP dan Cipta Karya Sumenep. Di antaranya menyediakan dan menata ruang-ruang publik sekaligus ruang terbuka hijau. Seperti pembangunan Tajamara dan penataan kawasan taman bunga yang kini menjadi tempat menyenangkan bagi warga.

DPRKP dan cipta karya juga sedang membangun kawasan pemkab terpadu. Sejumlah perkantoran akan diintegralkan menjadi satu kawasan. Yang pada akhirnya membuat masyarakat mudah mendapatkan pelayanan dari pemkab.


Apa yang dikerjakan DPRKP dan Cipta Karya ini keluar dari kebiasaan. Kepala DPRKP dan Cipta Karya Sumenep Bambang Irianto mencoba berpikir out of the box. Instansi yang dipimpinnya tidak hanya berkutat pada kebiasaan-kebiasaan lama yang tidak produktif.

Baca Juga :  Ini Cara Disdik Pamekasan Pantau Realisasi BOS supaya Tepat Guna

”Dulu bicara Cipta Karya hanya soal paving dan MCK. Tapi saya coba keluar dari kebiasaan itu. Saya tata kota menjadi lebih indah dan sejuk,” jelasnya.

Dalam bekerja, Bambang mengaku tidak hanya mengedepankan aspek pembangunan. Sisi sejarah dan kebudayaan juga menjadi pertimbangan utama. Seperti ketika menata Taman Bunga dengan membangun jalan tembus dari Keraton menuju Masjid Jamik Sumenep.

”Kenapa Taman Bunga saya ubah, karena menurut para sepuh dan bupati dulu ada jalan tembus dari Keraton menuju Masjid Jamik,” jelasnya. ”Agar Taman Bunga tidak menutupi pandangan dari pendapa ke masjid,” tegasnya.

Meski berpikir dan bekerja out of the box, bukan berarti dia tidak memiliki rujukan hukum yang jelas. Sebelum memulai pekerjaan, pihaknya menyusun buku induk terlebih dahulu. Buku tersebut menjadi acuan bekerja dan bersifat jangka panjang.

Baca Juga :  Semarakkan HUT JPRM Ke-20, DCPer Plat M Akan Kerahkan 3.000 Penari

Dari sisi regulasi juga disiapkan secara matang. DPRKP dan cipta karya mendorong penyusunan peraturan daerah tentang rencana detail tata ruang (RDTR) serta perbup RTBL (rencana tata bangunan lingkungan). Regulasi itu menjadi dasar menyusun program kerja, baik yang bersifat jangka pendek maupun jangka panjang.

Bambang juga tidak bekerja top down. Sebab, bekerja dengan hanya mengandalkan sistem instruksi dari atas ke bawah tidaklah efektif. Bahkan, cenderung kurang inovatif. Karena itulah dia memberi kebebasan kepada bawahannya untuk berkreasi dalam melaksanakan pembangunan.

”Saya persilakan Kabid-Kabid di sini untuk menyusun program, berkreasi, dan berinovasi,” paparnya. ”Kalau pejabat yang lain mungkin tidak mau punya anak buah yang lebih hebat dari dirinya. Kalau saya malah sebaliknya, saya merasa sukses jika Kabid-Kabid saya lebih hebat dari saya,” tukasnya.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/