alexametrics
22.8 C
Madura
Tuesday, July 5, 2022

Tak Bayar Iuran, Oknum Guru SMAN 1 Sumenep Ancam Siswa

SUMENEP – Penarikan sumbangan di SMAN 1 Sumenep kembali mencuat. Sebab, dalam pelaksanaannya diwarnai paksaan oleh oknum guru. Rapor siswa yang tidak membayar iuran itu diancam tidak diberikan.

Seorang wali murid berinisial Fn mengaku anaknya mendapat ancaman dari oknum tenaga pendidik. Dia mengaku mendapat pengaduan dari anaknya. Anaknya mendapat ancaman dari guru berinisial Hn.

Hn mengancam anaknya dan siswa lain bahwa rapornya akan ditahan. Ancaman itu akan dilakukan jika tidak membayar uang pembangunan setidaknya Rp 1 juta. ”Uang pembangunan minimal 50 persen dari kesepakatan atau Rp 1 juta,” jelasnya Rabu (29/11).

Awalnya, kata dia, pihak sekolah mengadakan musyawarah komite dan wali murid di awal tahun ajaran baru. Setelah itu, pihak sekolah menarik iuran sebesar Rp 2,5 juta kepada setiap wali siswa baru. Namun, wali murid banyak keberatan.

Akibatnya, pihak sekolah menurunkan iuran menjadi Rp 2 juta. Iuran itu dapat dicicil hingga sepuluh kali. Bagi orang tua atau wali siswa yang tidak mampu dapat mengajukan surat keringanan ke pihak sekolah. Mereka tidak diharuskan untuk membayar.

Karena  itu, dia mengaku terkejut. Fn ingin mempertanyakan komitmen pihak sekolah. Di sisi lain dia tidak berani karena khawatir anaknya mendapat tekanan dari pihak sekolah. ”Kejadian ancaman dari guru itu sekitar satu minggu lalu. Saya mau melapor, tapi tidak tahu lapor ke mana. Mau bilang ke sekolah takut anak saya dipersulit,” ungkapnya.

Fn khawatir rapor anaknya benar-benar ditahan oleh pihak sekolah. Sebab, dia memang belum membayar karena tidak memiliki uang. Dia juga khawatir ancaman tersebut akan berdampak kepada psikologis sang anak selama belajar di sekolah di sebelah timur GOR A. Yani itu.

Baca Juga :  Ra Bir Ali Perkuat Komunikasi Politik

”Namanya anak, kalau mendengar kata-kata seperti itu pasti takut. Jangankan anak saya, saya saja jadi waswas,” ucapnya.

Diberitakan sebelumnya oleh Jawa Pos Radar Madura (JPRM), SMAN 1 Sumenep mengadakan rapat Selasa (25/7). Pertemuan itu melibatkan komite sekolah dan wali murid. Rapat tersebut membahas iuran yang diberlakukan pihak sekolah kepada orang tua siswa baru.

Dari rapat tersebut diberlakukan iuran Rp 2 juta kepada setiap siswa. Tahun ini siswa baru di sekolah yang dipimpin Syamsul Arifin itu 300 orang. Dengan demikian, total sumbangan dari wali murid mencapai Rp 600 juta.

Sebelum ditetapkan, usulan yang diajukan pihak sekolah kepada orang tua siswa Rp 2,5 juta per siswa. Tetapi setelah dilakukan perundingan, akhirnya turun menjadi Rp 2 juta. Iuran tersebut dipergunakan untuk biaya pembangunan.

Usai rapat, Syamsul Arifin didampingi Soengkono Sidik selaku ketua komite mengungkapkan, pihaknya berencana membeli tanah. Lahan tersebut akan dibangun fasilitas pendidikan yang lebih baik. Soengkono mengakui, pungutan itu biasa dilakukan setiap tahun. Nominal tiap tahun selalu berbeda.

Dia menjelaskan bahwa iuran tersebut tidak diberlakukan untuk semua siswa. Orang tua siswa yang tergolong tidak mampu bebas iuran dengan syarat mengusulkan ke pihak sekolah. Tetapi, harus mencantumkan surat keterangan tidak mampu.

Pada saat itu, Januar, seorang wali murid yang hadir dalam rapat mengaku sumbangan itu memberatkan. Meski demikian, mereka tidak kuasa menolak. Mereka terpaksa mengikuti permintaan sekolah. Waktu wali murid datang ke ruangan sudah ada draf yang menyebutkan iuran orang tua siswa sebesar Rp 2,5 juta.

Baca Juga :  Bekuk Tersangka Kasus Pencabulan

Penarikan sumbangan itu juga sempat mendapat sorotan dari Unit Pelayanan Teknis (UPT) Dinas Pendidikan (Disdik) Jawa Timur (Jatim) Cabang Sumenep. SMAN 1 Sumenep adalah satu tempat yang digunakan UPT Disdik Jatim untuk mengadakan seminar tentang pelarangan penarikan pungutan kepada siswa baru.

Instansi ini melarang segala bentuk pungutan di sekolah. Termasuk di SMAN 1 Sumenep. Orang tua siswa diimbau tidak mengikuti permintaan komite sekolah. Pihak sekolah juga tidak diperkenankan mengikuti permintaan komite untuk memberlakukan pungutan kepada orang tua siswa.

Sementara itu, Kepala SMAN 1 Sumenep Syamsul Arifin tidak membantah adanya ancaman itu. Dia telah memanggil Hn. ”Katanya dia khilaf. Niatnya semata-mata hanya mengingatkan bagi orang tua siswa yang sudah sepakat untuk memberi sumbangan kepada sekolah,” kilahnya.

Syamsul membantah adanya pungutan di sekolah yang dipimpinnya itu. Dirinya tidak pernah memberikan instruksi agar guru menagih kepada orang tua siswa. Apalagi menahan rapor siswa,” ujarnya.

Saya mengingatkan untuk orang tua yang sudah bersepakat untuk membantu sekolah. Kalau ada guru yang ingin menahan rapor siswa, itu keputusan pribadi. Kalau atas nama sekolah tidak ada,” tegasnya.

Dia juga mengaku sudah meralat pernyataan guru tersebut kepada siswa. Syamsul memastikan bagi orang tua dan siswa yang sudah mengajukan keringanan ke pihak sekolah tidak akan ada penarikan sumbangan. 

SUMENEP – Penarikan sumbangan di SMAN 1 Sumenep kembali mencuat. Sebab, dalam pelaksanaannya diwarnai paksaan oleh oknum guru. Rapor siswa yang tidak membayar iuran itu diancam tidak diberikan.

Seorang wali murid berinisial Fn mengaku anaknya mendapat ancaman dari oknum tenaga pendidik. Dia mengaku mendapat pengaduan dari anaknya. Anaknya mendapat ancaman dari guru berinisial Hn.

Hn mengancam anaknya dan siswa lain bahwa rapornya akan ditahan. Ancaman itu akan dilakukan jika tidak membayar uang pembangunan setidaknya Rp 1 juta. ”Uang pembangunan minimal 50 persen dari kesepakatan atau Rp 1 juta,” jelasnya Rabu (29/11).


Awalnya, kata dia, pihak sekolah mengadakan musyawarah komite dan wali murid di awal tahun ajaran baru. Setelah itu, pihak sekolah menarik iuran sebesar Rp 2,5 juta kepada setiap wali siswa baru. Namun, wali murid banyak keberatan.

Akibatnya, pihak sekolah menurunkan iuran menjadi Rp 2 juta. Iuran itu dapat dicicil hingga sepuluh kali. Bagi orang tua atau wali siswa yang tidak mampu dapat mengajukan surat keringanan ke pihak sekolah. Mereka tidak diharuskan untuk membayar.

Karena  itu, dia mengaku terkejut. Fn ingin mempertanyakan komitmen pihak sekolah. Di sisi lain dia tidak berani karena khawatir anaknya mendapat tekanan dari pihak sekolah. ”Kejadian ancaman dari guru itu sekitar satu minggu lalu. Saya mau melapor, tapi tidak tahu lapor ke mana. Mau bilang ke sekolah takut anak saya dipersulit,” ungkapnya.

Fn khawatir rapor anaknya benar-benar ditahan oleh pihak sekolah. Sebab, dia memang belum membayar karena tidak memiliki uang. Dia juga khawatir ancaman tersebut akan berdampak kepada psikologis sang anak selama belajar di sekolah di sebelah timur GOR A. Yani itu.

Baca Juga :  Ra Bir Ali Perkuat Komunikasi Politik

”Namanya anak, kalau mendengar kata-kata seperti itu pasti takut. Jangankan anak saya, saya saja jadi waswas,” ucapnya.

Diberitakan sebelumnya oleh Jawa Pos Radar Madura (JPRM), SMAN 1 Sumenep mengadakan rapat Selasa (25/7). Pertemuan itu melibatkan komite sekolah dan wali murid. Rapat tersebut membahas iuran yang diberlakukan pihak sekolah kepada orang tua siswa baru.

Dari rapat tersebut diberlakukan iuran Rp 2 juta kepada setiap siswa. Tahun ini siswa baru di sekolah yang dipimpin Syamsul Arifin itu 300 orang. Dengan demikian, total sumbangan dari wali murid mencapai Rp 600 juta.

Sebelum ditetapkan, usulan yang diajukan pihak sekolah kepada orang tua siswa Rp 2,5 juta per siswa. Tetapi setelah dilakukan perundingan, akhirnya turun menjadi Rp 2 juta. Iuran tersebut dipergunakan untuk biaya pembangunan.

Usai rapat, Syamsul Arifin didampingi Soengkono Sidik selaku ketua komite mengungkapkan, pihaknya berencana membeli tanah. Lahan tersebut akan dibangun fasilitas pendidikan yang lebih baik. Soengkono mengakui, pungutan itu biasa dilakukan setiap tahun. Nominal tiap tahun selalu berbeda.

Dia menjelaskan bahwa iuran tersebut tidak diberlakukan untuk semua siswa. Orang tua siswa yang tergolong tidak mampu bebas iuran dengan syarat mengusulkan ke pihak sekolah. Tetapi, harus mencantumkan surat keterangan tidak mampu.

Pada saat itu, Januar, seorang wali murid yang hadir dalam rapat mengaku sumbangan itu memberatkan. Meski demikian, mereka tidak kuasa menolak. Mereka terpaksa mengikuti permintaan sekolah. Waktu wali murid datang ke ruangan sudah ada draf yang menyebutkan iuran orang tua siswa sebesar Rp 2,5 juta.

Baca Juga :  SMAN 1 Sumenep Cetak Siswa Unggul dan Cerdas

Penarikan sumbangan itu juga sempat mendapat sorotan dari Unit Pelayanan Teknis (UPT) Dinas Pendidikan (Disdik) Jawa Timur (Jatim) Cabang Sumenep. SMAN 1 Sumenep adalah satu tempat yang digunakan UPT Disdik Jatim untuk mengadakan seminar tentang pelarangan penarikan pungutan kepada siswa baru.

Instansi ini melarang segala bentuk pungutan di sekolah. Termasuk di SMAN 1 Sumenep. Orang tua siswa diimbau tidak mengikuti permintaan komite sekolah. Pihak sekolah juga tidak diperkenankan mengikuti permintaan komite untuk memberlakukan pungutan kepada orang tua siswa.

Sementara itu, Kepala SMAN 1 Sumenep Syamsul Arifin tidak membantah adanya ancaman itu. Dia telah memanggil Hn. ”Katanya dia khilaf. Niatnya semata-mata hanya mengingatkan bagi orang tua siswa yang sudah sepakat untuk memberi sumbangan kepada sekolah,” kilahnya.

Syamsul membantah adanya pungutan di sekolah yang dipimpinnya itu. Dirinya tidak pernah memberikan instruksi agar guru menagih kepada orang tua siswa. Apalagi menahan rapor siswa,” ujarnya.

Saya mengingatkan untuk orang tua yang sudah bersepakat untuk membantu sekolah. Kalau ada guru yang ingin menahan rapor siswa, itu keputusan pribadi. Kalau atas nama sekolah tidak ada,” tegasnya.

Dia juga mengaku sudah meralat pernyataan guru tersebut kepada siswa. Syamsul memastikan bagi orang tua dan siswa yang sudah mengajukan keringanan ke pihak sekolah tidak akan ada penarikan sumbangan. 

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/