alexametrics
26.5 C
Madura
Wednesday, June 29, 2022

Harga Garam Naik, Siapa Cepat, Dia Dapat

GARAM. Berita yang kita dengar seminggu terakhir bukan tanpa sebab. Garam menjadi buah bibir. Harganya yang melangit, langka, tak masuk akal menurut sebagian ekonom membuat komoditas yang satu ini mendadak jadi ”viral” tersendiri.

Produksi garam yang dinilai gagal tiga tahun terakhir diduga menjadi pemicu. Akibatnya, terjadi kelangkaan di mana-mana. Ya, harga garam naik fantastis dari yang semula Rp 700 ribu menjadi Rp 4 juta per ton. Dampak dari krisis garam.

Garam, dibutuhkan keberadaannya.  Mulai dari ibu rumah tangga, perajin ikan asin, usaha peternakan, bahkan pabrikan. Garam membuat kelimpungan.

Lahan-lahan pegaraman kini menjadi lebih ramai. Petani berangkat pagi untuk memanen. Para pengepul-pedagang, rela lakukan turba (turun ke bawah) untuk membeli dan menjemput garam petani secara langsung.

Baca Juga :  Esai Madura: Sa-raksa

Siapa cepat, dia dapat, garam. Begitu gambaran persaingan yang muncul antar sesama pengepul garam.

Selain faktor menurunnya produksi lokal, krisis garam di Indonesia juga dipengaruhi belum dibukanya kran impor. Diakui tidak, stabilitas pasokan garam dalam negeri juga ditentukan pasokan garam luar negeri. Sebut saja Australia dan India. Sebab hingga kini, program swasembada garam belum menjamin terpenuhinya kebutuhan garam nasional.

Pemerintah diminta arif dan bijak menyikapi krisis garam. Kenaikan harga garam memang harus segera dikendalikan. Namun dengan langkah yang menguntungkan semua pihak, terutama bagi petani garam.

Kran impor garam pasti akan dibuka. Untuk mengatasi gejolak krisis garam dalam negeri. Yang menjadi persoalan adalah kapan, jenis, dan jumlah garam yang akan didatangkan nanti?

Baca Juga :  Guru Bagai Antena Teve

Tidak arif jika pemerintah mengimpor garam di saat petani sedang gencar-gencarnya melakukan pungut garam di lahan. Tidak bijak bila pemerintah mendatangkan garam impor untuk kebutuhan industri dan konsumsi sekaligus. Akan dijual kemana nantinya hasil panen petani?

Petani garam semringah hari ini. Harga tinggi memacu semangat kerja setiap hari. Kincir angin di lahan terus berputar. Alirkan air laut di meja pegaraman. Petani bergotong royong memungut kristal garam.

Momen naiknya harga garam tak boleh dilewatkan begitu saja. Petani sadar kesempatan ini tak akan berlangsung lama. Sebelum akhirnya garam-garam impor itu kembali penuhi pasar, dan mengusik kehidupan mereka. (*)

 

*)Lulusan Pondok Modern Gontor, kini menjadi wartawan televisi.

 

GARAM. Berita yang kita dengar seminggu terakhir bukan tanpa sebab. Garam menjadi buah bibir. Harganya yang melangit, langka, tak masuk akal menurut sebagian ekonom membuat komoditas yang satu ini mendadak jadi ”viral” tersendiri.

Produksi garam yang dinilai gagal tiga tahun terakhir diduga menjadi pemicu. Akibatnya, terjadi kelangkaan di mana-mana. Ya, harga garam naik fantastis dari yang semula Rp 700 ribu menjadi Rp 4 juta per ton. Dampak dari krisis garam.

Garam, dibutuhkan keberadaannya.  Mulai dari ibu rumah tangga, perajin ikan asin, usaha peternakan, bahkan pabrikan. Garam membuat kelimpungan.


Lahan-lahan pegaraman kini menjadi lebih ramai. Petani berangkat pagi untuk memanen. Para pengepul-pedagang, rela lakukan turba (turun ke bawah) untuk membeli dan menjemput garam petani secara langsung.

Baca Juga :  Pemeriksaan Mantan Direktur RSUD Syamrabu Bangkalan Yusro Diperpanjang

Siapa cepat, dia dapat, garam. Begitu gambaran persaingan yang muncul antar sesama pengepul garam.

Selain faktor menurunnya produksi lokal, krisis garam di Indonesia juga dipengaruhi belum dibukanya kran impor. Diakui tidak, stabilitas pasokan garam dalam negeri juga ditentukan pasokan garam luar negeri. Sebut saja Australia dan India. Sebab hingga kini, program swasembada garam belum menjamin terpenuhinya kebutuhan garam nasional.

Pemerintah diminta arif dan bijak menyikapi krisis garam. Kenaikan harga garam memang harus segera dikendalikan. Namun dengan langkah yang menguntungkan semua pihak, terutama bagi petani garam.

Kran impor garam pasti akan dibuka. Untuk mengatasi gejolak krisis garam dalam negeri. Yang menjadi persoalan adalah kapan, jenis, dan jumlah garam yang akan didatangkan nanti?

Baca Juga :  Guru Bagai Antena Teve

Tidak arif jika pemerintah mengimpor garam di saat petani sedang gencar-gencarnya melakukan pungut garam di lahan. Tidak bijak bila pemerintah mendatangkan garam impor untuk kebutuhan industri dan konsumsi sekaligus. Akan dijual kemana nantinya hasil panen petani?

Petani garam semringah hari ini. Harga tinggi memacu semangat kerja setiap hari. Kincir angin di lahan terus berputar. Alirkan air laut di meja pegaraman. Petani bergotong royong memungut kristal garam.

Momen naiknya harga garam tak boleh dilewatkan begitu saja. Petani sadar kesempatan ini tak akan berlangsung lama. Sebelum akhirnya garam-garam impor itu kembali penuhi pasar, dan mengusik kehidupan mereka. (*)

 

*)Lulusan Pondok Modern Gontor, kini menjadi wartawan televisi.

 

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/