alexametrics
21.1 C
Madura
Sunday, July 3, 2022

Prihatin Maraknya Kasus Narkoba

SUMENEP – Sekretaris Nasional (Seknas) Badan Ansor Antinarkoba (Baanar) PP GP Ansor Nur Faizin mengaku prihatin atas maraknya narkoba di Sumenep. Pasalnya, dari waktu ke waktu angka penyalahgunaan barang haram itu meningkat. Hal itu bisa dilihat dari fakta yang ditangani aparat kepolisian setempat.

Mulai Januari–Juni 2018, ada 42 kasus penyalahgunaan narkoba yang berhasil dibongkar Polres Sumenep. Dari kasus tersebut, sebanyak 52 tersangka diringkus. Perinciannya, 49 tersangka pria dan dua wanita. Sedangkan barang bukti (BB) sabu-sabu (SS) yang disita 53,5 gram.

Fakta tersebut pun membuat Nur Faizin prihatin. Menurut dia, jika dihitung rata-rata setiap bulan ada tujuh kasus narkoba yang terjadi di Sumenep. Kondisi itu menjadi ancaman tersendiri, terutama bagi Sumenep yang dikenal dengan daerah religius dan dikelilingi pondok pesantren.

Baca Juga :  Pasca Digrebek, Polisi Bakar Bilik SS di Kampung Narkoba

”Narkoba ini menjadi ancaman serius bagi generasi muda. Karena itu, butuh perlawanan atau perang terhadap narkoba,” kata Nur Faizin Jumat (29/6).

Pria asal Kecamatan Dungkek itu menambahkan bahwa ancaman narkoba bukan hanya di tingkat lokal. Secara nasional, penyalahgunaan narkoba juga marak. Data Badan Narkotika Nasional (BNN) dan Puslitkes UI yang dirilis pada 2017 menyebutkan bahwa sekitar 1,77 persen penduduk Indonesia atau setara dengan 3,3 juta yang terjerumus pada penyalahgunaan narkoba. Akibat barang tersebut, kerugian negara ditaksir mencapai Rp 84,7 triliun.

Untuk itulah, butuh langkah-langkah strategis guna mengurangi maraknya penyalahgunaan narkoba. Selain cara penindakan dan rehabilitasi, pencegahan menjadi sangat penting. Upaya preventif bisa dimulai sejak dalam lingkungan keluarga, sekolah, hingga lingkungan masyarakat.

Baca Juga :  Lima Orang Dilepas, Empat Ditetapkan Tersangka 

”Pendidikan antinarkoba harus terus dikampanyekan. Baik di majelis-majelis taklim, ruang kelas, musala, masjid, pesantren, hingga di lingkungan masyarakat,” katanya. ”Pada saat yang sama, aparat kepolisian juga harus menindak tegas para pengguna, kurir, dan pengedar, serta bandar narkoba,” tukasnya.

 

 

SUMENEP – Sekretaris Nasional (Seknas) Badan Ansor Antinarkoba (Baanar) PP GP Ansor Nur Faizin mengaku prihatin atas maraknya narkoba di Sumenep. Pasalnya, dari waktu ke waktu angka penyalahgunaan barang haram itu meningkat. Hal itu bisa dilihat dari fakta yang ditangani aparat kepolisian setempat.

Mulai Januari–Juni 2018, ada 42 kasus penyalahgunaan narkoba yang berhasil dibongkar Polres Sumenep. Dari kasus tersebut, sebanyak 52 tersangka diringkus. Perinciannya, 49 tersangka pria dan dua wanita. Sedangkan barang bukti (BB) sabu-sabu (SS) yang disita 53,5 gram.

Fakta tersebut pun membuat Nur Faizin prihatin. Menurut dia, jika dihitung rata-rata setiap bulan ada tujuh kasus narkoba yang terjadi di Sumenep. Kondisi itu menjadi ancaman tersendiri, terutama bagi Sumenep yang dikenal dengan daerah religius dan dikelilingi pondok pesantren.

Baca Juga :  Jika Polisi Serius, Pemberantasan Narkoba Mudah

”Narkoba ini menjadi ancaman serius bagi generasi muda. Karena itu, butuh perlawanan atau perang terhadap narkoba,” kata Nur Faizin Jumat (29/6).

Pria asal Kecamatan Dungkek itu menambahkan bahwa ancaman narkoba bukan hanya di tingkat lokal. Secara nasional, penyalahgunaan narkoba juga marak. Data Badan Narkotika Nasional (BNN) dan Puslitkes UI yang dirilis pada 2017 menyebutkan bahwa sekitar 1,77 persen penduduk Indonesia atau setara dengan 3,3 juta yang terjerumus pada penyalahgunaan narkoba. Akibat barang tersebut, kerugian negara ditaksir mencapai Rp 84,7 triliun.

Untuk itulah, butuh langkah-langkah strategis guna mengurangi maraknya penyalahgunaan narkoba. Selain cara penindakan dan rehabilitasi, pencegahan menjadi sangat penting. Upaya preventif bisa dimulai sejak dalam lingkungan keluarga, sekolah, hingga lingkungan masyarakat.

Baca Juga :  GMNI dan GP Ansor Kutuk Aksi Terorisme

”Pendidikan antinarkoba harus terus dikampanyekan. Baik di majelis-majelis taklim, ruang kelas, musala, masjid, pesantren, hingga di lingkungan masyarakat,” katanya. ”Pada saat yang sama, aparat kepolisian juga harus menindak tegas para pengguna, kurir, dan pengedar, serta bandar narkoba,” tukasnya.

 

 

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/