alexametrics
26.1 C
Madura
Wednesday, July 6, 2022

Jangan Pilih Cabup dengan Visi-Misi Populis

SAMPANG – Untuk memajukan Sampang, dibutuhkan figur yang benar-benar mengerti permasalahan masyarakat. Tak hanya itu, seorang pemimpin juga dituntut mengembangkan segala potensi dan sumber daya yang ada. Tanpa seorang pemimpin visioner, Kota Bahari akan terus tertinggal.

Hal itu disampaikan Rektor UTM Moh. Syarif yang hadir pada sebuah focus group discussion (FGD) di Pendapa Bupati Sampang kemarin (28/10). Menurut dia, diskusi semacam itu penting dilakukan untuk mempertegas komitmen yang harus dijalankan calon bupati di Sampang.

”Jadi pemimpin itu tidak gampang. Sebab, harus mampu mengidentifikasi masalah. Harus bisa merumuskan masalah, sehingga fokus pada target dan tujuan,” ucapnya.

Pria asli Sampang itu mengungkapkan, calon bupati Sampang harus fokus pada permasalahan yang ada di masyarakat. Menurut Syarif, kontribusi Sampang di Jawa Timur lumayan bagus. Yang harus dilakukan seorang pemmipin adalah menginventarisasi dan fokus pada potensi yang ada.

Baca Juga :  Jelang Pilkada, Komposisi Komisi Dirombak

”Sebenarnya ada potensi lokal yang bisa dikembangkan. Seperti mente, jambu air, kedelai, migas, jagung, dan garam. Cuma tidak pernah bisa fokus selama ini,” katanya.

Menurutnya, sudah bukan saatnya lagi calon bupati Sampang memasukkan visi-misi populis. Misalnya pendidikan dan kesehatan gratis. Padahal, kata dia, pendidikan dan kemiskinan merupakan pelayanan dasar yang mau tidak mau, wajib dipenuhi. Sebab, itu bagian dari hak yang harus didapat masyarakat.

”Pendidikan dan kesehatan gratis itu memang wajib dikerjakan. Tidak boleh ada di visi misi apalagi dikampanyekan. Kalau masih ada yang seperti ini, mending jangan dipilih karena sudah pasti tidak paham,” sindirnya.

”Visi-misi seharusnya yang sederhana saja. Artinya mimpi yang terukur untuk pemecahan masalah. Kalau visinya pendidikan gratis, bupatinya nggak ngerti tentang substansi yang harus dikerjakan,” ucapnya.

Baca Juga :  Transaksi SS di Rumah, Lima Remaja di Bangkalan Dibekuk Polisi

Mengenai banyaknya bakal calon bupati Sampang yang tidak hadir, Syarif sedikit kecewa. Mestinya, bakal calon ikut dalam kegiatan seperti itu. Sebab, kegiatan itu merupakan momentum dan bisa menjadi sumber referensi untuk mengurai persoalan yang ada di Sampang.

”Saya lihat, narasumber dari para akademisi cukup luar biasa memberikan masukan. Lain kali, calon bupati di Sampang harus hadir kalau ada kegiatan serupa,” jelasnya.

Dia juga mengkritisi ketidakhadiran pejabat organisasi perangkat daerah (OPD) yang berkaitan langsung dengan permasalahan-permasalahan di Sampang. Padahal, FGD itu digelar untuk bersama-sama mambangun dan memajukan Sampang.

”Masak kami dan narasumber yang datang dari jauh bisa hadir langsung tanpa diwakili. Tapi pejabat yang ada di Sampang justru tidak hadir,” tandasnya.

SAMPANG – Untuk memajukan Sampang, dibutuhkan figur yang benar-benar mengerti permasalahan masyarakat. Tak hanya itu, seorang pemimpin juga dituntut mengembangkan segala potensi dan sumber daya yang ada. Tanpa seorang pemimpin visioner, Kota Bahari akan terus tertinggal.

Hal itu disampaikan Rektor UTM Moh. Syarif yang hadir pada sebuah focus group discussion (FGD) di Pendapa Bupati Sampang kemarin (28/10). Menurut dia, diskusi semacam itu penting dilakukan untuk mempertegas komitmen yang harus dijalankan calon bupati di Sampang.

”Jadi pemimpin itu tidak gampang. Sebab, harus mampu mengidentifikasi masalah. Harus bisa merumuskan masalah, sehingga fokus pada target dan tujuan,” ucapnya.


Pria asli Sampang itu mengungkapkan, calon bupati Sampang harus fokus pada permasalahan yang ada di masyarakat. Menurut Syarif, kontribusi Sampang di Jawa Timur lumayan bagus. Yang harus dilakukan seorang pemmipin adalah menginventarisasi dan fokus pada potensi yang ada.

Baca Juga :  Sirat si Residivis Curas Sadis Tewas Ditembak

”Sebenarnya ada potensi lokal yang bisa dikembangkan. Seperti mente, jambu air, kedelai, migas, jagung, dan garam. Cuma tidak pernah bisa fokus selama ini,” katanya.

Menurutnya, sudah bukan saatnya lagi calon bupati Sampang memasukkan visi-misi populis. Misalnya pendidikan dan kesehatan gratis. Padahal, kata dia, pendidikan dan kemiskinan merupakan pelayanan dasar yang mau tidak mau, wajib dipenuhi. Sebab, itu bagian dari hak yang harus didapat masyarakat.

”Pendidikan dan kesehatan gratis itu memang wajib dikerjakan. Tidak boleh ada di visi misi apalagi dikampanyekan. Kalau masih ada yang seperti ini, mending jangan dipilih karena sudah pasti tidak paham,” sindirnya.

”Visi-misi seharusnya yang sederhana saja. Artinya mimpi yang terukur untuk pemecahan masalah. Kalau visinya pendidikan gratis, bupatinya nggak ngerti tentang substansi yang harus dikerjakan,” ucapnya.

Baca Juga :  Transaksi SS di Rumah, Lima Remaja di Bangkalan Dibekuk Polisi

Mengenai banyaknya bakal calon bupati Sampang yang tidak hadir, Syarif sedikit kecewa. Mestinya, bakal calon ikut dalam kegiatan seperti itu. Sebab, kegiatan itu merupakan momentum dan bisa menjadi sumber referensi untuk mengurai persoalan yang ada di Sampang.

”Saya lihat, narasumber dari para akademisi cukup luar biasa memberikan masukan. Lain kali, calon bupati di Sampang harus hadir kalau ada kegiatan serupa,” jelasnya.

Dia juga mengkritisi ketidakhadiran pejabat organisasi perangkat daerah (OPD) yang berkaitan langsung dengan permasalahan-permasalahan di Sampang. Padahal, FGD itu digelar untuk bersama-sama mambangun dan memajukan Sampang.

”Masak kami dan narasumber yang datang dari jauh bisa hadir langsung tanpa diwakili. Tapi pejabat yang ada di Sampang justru tidak hadir,” tandasnya.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/