21 C
Madura
Saturday, December 10, 2022

Peserta Antusias Pelajari Cara Kerja Media dan Cek Fakta

SURABAYA – Pelatihan Literasi Media untuk Publik Melawan Mis/Disinformasi membangkitkan semangat dan rasa ingin tahu peserta terhadap dunia jurnalisme dan arus informasi. Pengurus Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Jawa Timur dibantu tenaga ahli Cek Fakta berhasil memberikan gambaran tentang cara media massa bekerja.

Dua pengurus AMSI Jawa Timur yang menjadi trainer atau pelatih itu Edy Purnomo dan Ferry Agusta. Mereka dibantu tenaga ahli Cek Fakta Imaduddin. Peserta terdiri atas generasi milenial, influencer, pemerintah kabupaten/kota, TNI/Polri, kalangan perguruan tinggi, mahasiswa, Perhumas, humas BUMN dan BUMD serta masyarakat sipil. Mereka mendapat ilmu baru tentang pengecekan fakta.

Peserta mendapat pengetahuan penting tentang dampak media sosial untuk pemahaman publik mengenai informasi. Pemateri menjelaskan bahwa media sosial memiliki dampak positif dan negatif. ”Dampak positifnya bisa menjadi sumber informasi, media promosi, distribusi informasi, monetisasi, dan interaksi,” kata Edy.

Namun, dampak negatifnya adalah bertebarannya hoaks, kriminal, doxing; pelanggaran privasi pribadi. ”Ada lima ciri hoaks, yakni judul cenderung provokatif ’kompor’ clikbait, akun baru dibuat, nama situs media mirip dengan media besar atau tidak jelas alias abal-abal; foto menipu tak sesuai dengan caption atau isi berita, konten opini tidak jelas, sumber berita tidak jelas, minim fakta, konten cenderung menjiplak serta tidak ada kejelasan sumbernya,” papar Edy.

Peserta juga memperoleh materi tentang rilis pers dan esensi karya jurnalistik. ”Rilis siaran pers mempunyai empat ciri yakni sengaja dibuat lembaga tertentu (korporasi, pemerintah, ormas, LSM) untuk tujuan promosi atau membangun citra positif, umumnya rilis pers tidak memberikan konteks, cenderung satu arah dan sisi jurnalis bersifat pasif dalam mendapatkan konten rilis,” kata Edy.

Baca Juga :  AMSI Jatim Diharapkan Berkontribusi hingga Tingkat internasional

Ini berbeda dengan berita yang merupakan produk dari kerja reportase dengan memenuhi kaidah jurnalisme, objektif, dan memberi konteks, memiliki tanggung jawab sosial, serta bukan didedikasikan untuk sebuah promosi lembaga dan produk tertentu. Selain itu berita menjadi bagian dari pemenuhan empat fungsi pers sebagai sumber informasi, pendidikan, hiburan, dan kontrol sosial.

Edy menambahkan, materi lain adalah mengenali advertorial dan bentuk native advertising. Native advertising merupakan bentuk iklan berbayar yang ditampilkan mengikuti format penulisan artikel pada umumnya. Begitu juga layout hingga jenis font dan olah gambar atau videonya.

Peserta juga mendapat penjelasan caraa mengenali jurnalisme yang mengabdi publik. Edy mengingatkan, jurnalisme memiliki tiga unsur yakni verifikasi, independen, dan akuntabel. Dijelaskan, verifikasi adalah proses yang menetapkan atau menegaskan keakuratan sebuah informasi lewat bukti atau kebenaran jurnalistik. Independen adalah kebebasan dari kontrol, pengaruh, atau dukungan dari pihak yang berkepentingan termasuk diri sendiri. Akuntabel adalah tangung jawab hukum dan etika dalam menyampaikan informasi.

Sementara itu, Ferry Agusta menjelaskan soal cara meretas algoritma media sosial. Menurutnya, Facebook menilai seluruh postingan yang ada di jaringan pertemanan user, lalu melakukan pemeringkatan berdasarkan sejumlah parameter atau indikator: jenis unggahan, kebaruan, dan lain-lain. ”Facebook menyisihkan post yang sepertinya tidak disukai user. Post yang tersisa disajikan sesuai karakter user; dan penyajiannya disusun (teks; foto; video) agar menarik bagi user,” katanya.

Baca Juga :  Pembacokan Imam Bukhori Dipicu Masalah Asmara

Ferry menekankan, kewajiban pertama jurnalisme ada pada kebenaran, loyalitas pada warga, disiplin verifikasi, independen, pemantau kekuasaan, forum kritik dan komentar publik, menarik relevan, komprehensif dan proporsional, suara hati, dan tanggung jawab warga.

Terakhir, peserta diajarkan cara mewaspadai makna ganda efek visual atau foto dalam sebuah berita. ”Penafsiran foto atau kecakapan videografer menentukan berita. Pemirsa juga melakukan penafsiran terhadap foto berita. Adanya gambar mempengaruhi nilai berita dan keputusan editorial,” kata Ferry.

Peserta juga mendapat penjelasan soal efek pengamat, efek rashomon, seperti cerita dalam bentuk teks, penuturan berita dalam bentuk video juga memiliki ”rumus” visual, serta diterangkan soal proses pasca produksi.

Rachmad, salah seorang staf Kecamatan Tambaksari, Surabaya, senang dan bersyukur bisa mengikuti acara ini. Menurut dia, kegiatan ini sangat bermanfaat baginya yang bekerja dalam pelayanan publik karena bisa tahu unsur berita dan informasi yang benar.

”Ilmu yang luar biasa ini ingin kami tularkan kepada ribuan ibu-ibu di Kecamatan Tambaksari yang sekarang mulai intens mengonsumsi informasi dari media sosial,” kata pria yang pernah bertugas di Diskominfo Surabaya ini.

Pelatihan Literasi Media di Hotel Kampi Surabaya pada 28–29 September 2022 ini digelar AMSI Jawa Timur berkolaborasi dengan tim Cek Fakta. Didukung oleh Dewan Pers, AJI, Mafindo, dan Google News Initiative. Selain itu, didukung penuh oleh Djarum Foundation, Pertamina Hulu Energi West Madura Offshore (PHE WMO), Pelindo, dan PTPN X. (*/luq)

SURABAYA – Pelatihan Literasi Media untuk Publik Melawan Mis/Disinformasi membangkitkan semangat dan rasa ingin tahu peserta terhadap dunia jurnalisme dan arus informasi. Pengurus Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Jawa Timur dibantu tenaga ahli Cek Fakta berhasil memberikan gambaran tentang cara media massa bekerja.

Dua pengurus AMSI Jawa Timur yang menjadi trainer atau pelatih itu Edy Purnomo dan Ferry Agusta. Mereka dibantu tenaga ahli Cek Fakta Imaduddin. Peserta terdiri atas generasi milenial, influencer, pemerintah kabupaten/kota, TNI/Polri, kalangan perguruan tinggi, mahasiswa, Perhumas, humas BUMN dan BUMD serta masyarakat sipil. Mereka mendapat ilmu baru tentang pengecekan fakta.

Peserta mendapat pengetahuan penting tentang dampak media sosial untuk pemahaman publik mengenai informasi. Pemateri menjelaskan bahwa media sosial memiliki dampak positif dan negatif. ”Dampak positifnya bisa menjadi sumber informasi, media promosi, distribusi informasi, monetisasi, dan interaksi,” kata Edy.


Namun, dampak negatifnya adalah bertebarannya hoaks, kriminal, doxing; pelanggaran privasi pribadi. ”Ada lima ciri hoaks, yakni judul cenderung provokatif ’kompor’ clikbait, akun baru dibuat, nama situs media mirip dengan media besar atau tidak jelas alias abal-abal; foto menipu tak sesuai dengan caption atau isi berita, konten opini tidak jelas, sumber berita tidak jelas, minim fakta, konten cenderung menjiplak serta tidak ada kejelasan sumbernya,” papar Edy.

Peserta juga memperoleh materi tentang rilis pers dan esensi karya jurnalistik. ”Rilis siaran pers mempunyai empat ciri yakni sengaja dibuat lembaga tertentu (korporasi, pemerintah, ormas, LSM) untuk tujuan promosi atau membangun citra positif, umumnya rilis pers tidak memberikan konteks, cenderung satu arah dan sisi jurnalis bersifat pasif dalam mendapatkan konten rilis,” kata Edy.

Baca Juga :  Upaya Bupati Bangkalan Dapatkan Dana PI 10 Persen

Ini berbeda dengan berita yang merupakan produk dari kerja reportase dengan memenuhi kaidah jurnalisme, objektif, dan memberi konteks, memiliki tanggung jawab sosial, serta bukan didedikasikan untuk sebuah promosi lembaga dan produk tertentu. Selain itu berita menjadi bagian dari pemenuhan empat fungsi pers sebagai sumber informasi, pendidikan, hiburan, dan kontrol sosial.

Edy menambahkan, materi lain adalah mengenali advertorial dan bentuk native advertising. Native advertising merupakan bentuk iklan berbayar yang ditampilkan mengikuti format penulisan artikel pada umumnya. Begitu juga layout hingga jenis font dan olah gambar atau videonya.

- Advertisement -

Peserta juga mendapat penjelasan caraa mengenali jurnalisme yang mengabdi publik. Edy mengingatkan, jurnalisme memiliki tiga unsur yakni verifikasi, independen, dan akuntabel. Dijelaskan, verifikasi adalah proses yang menetapkan atau menegaskan keakuratan sebuah informasi lewat bukti atau kebenaran jurnalistik. Independen adalah kebebasan dari kontrol, pengaruh, atau dukungan dari pihak yang berkepentingan termasuk diri sendiri. Akuntabel adalah tangung jawab hukum dan etika dalam menyampaikan informasi.

Sementara itu, Ferry Agusta menjelaskan soal cara meretas algoritma media sosial. Menurutnya, Facebook menilai seluruh postingan yang ada di jaringan pertemanan user, lalu melakukan pemeringkatan berdasarkan sejumlah parameter atau indikator: jenis unggahan, kebaruan, dan lain-lain. ”Facebook menyisihkan post yang sepertinya tidak disukai user. Post yang tersisa disajikan sesuai karakter user; dan penyajiannya disusun (teks; foto; video) agar menarik bagi user,” katanya.

Baca Juga :  PHE WMO Tutupi Realisasi CSR, DPRD Kecewa Tidak Libatkan

Ferry menekankan, kewajiban pertama jurnalisme ada pada kebenaran, loyalitas pada warga, disiplin verifikasi, independen, pemantau kekuasaan, forum kritik dan komentar publik, menarik relevan, komprehensif dan proporsional, suara hati, dan tanggung jawab warga.

Terakhir, peserta diajarkan cara mewaspadai makna ganda efek visual atau foto dalam sebuah berita. ”Penafsiran foto atau kecakapan videografer menentukan berita. Pemirsa juga melakukan penafsiran terhadap foto berita. Adanya gambar mempengaruhi nilai berita dan keputusan editorial,” kata Ferry.

Peserta juga mendapat penjelasan soal efek pengamat, efek rashomon, seperti cerita dalam bentuk teks, penuturan berita dalam bentuk video juga memiliki ”rumus” visual, serta diterangkan soal proses pasca produksi.

Rachmad, salah seorang staf Kecamatan Tambaksari, Surabaya, senang dan bersyukur bisa mengikuti acara ini. Menurut dia, kegiatan ini sangat bermanfaat baginya yang bekerja dalam pelayanan publik karena bisa tahu unsur berita dan informasi yang benar.

”Ilmu yang luar biasa ini ingin kami tularkan kepada ribuan ibu-ibu di Kecamatan Tambaksari yang sekarang mulai intens mengonsumsi informasi dari media sosial,” kata pria yang pernah bertugas di Diskominfo Surabaya ini.

Pelatihan Literasi Media di Hotel Kampi Surabaya pada 28–29 September 2022 ini digelar AMSI Jawa Timur berkolaborasi dengan tim Cek Fakta. Didukung oleh Dewan Pers, AJI, Mafindo, dan Google News Initiative. Selain itu, didukung penuh oleh Djarum Foundation, Pertamina Hulu Energi West Madura Offshore (PHE WMO), Pelindo, dan PTPN X. (*/luq)

Artikel Terkait

Most Read

Pembangunan Wisata Mangrove Lamban

Cara Polres-Wartawan Rayakan HPN 2019

Usulan Pokir Dewan Tidak Dibatasi

Pemkab Berencana Ubah SOTK Lagi

Artikel Terbaru

/