alexametrics
20.9 C
Madura
Friday, August 12, 2022

Tarbiyah Nasawiyah

Menjadi perempuan lebih dari 30 tahun dan belum menikah itu tidak mudah. Namun tidak sesulit perempuan muda berstatus janda single (tanpa anak). Bahkan janda paket (sepaket dengan anak-anaknya).

 

BERBAGAI tekanan dialami perempuan tersebut dari keluarga, sahabat, dan masyarakat. Salah satunya, pertanyaan ”Kapan nikah?” Sementara tidak ada pernikahan yang bisa direncanakan. Kapan akan bertemu jodoh? Dan kapan akan bercerai? Meski memiliki alasan, tak jarang tekanan tersebut berdampak buruk bagi mereka.

Ada yang akhirnya meninggalkan tanah kelahiran dan merantau. Ada pula yang ”mengamini” tekanan itu dengan menikahi pria yang tak tepat karena terburu-buru mengambil keputusan. Ada juga yang melawan dengan melakukan tindakan yang semakin ”meresahkan” masyarakat. Misalnya, menjelma menjadi pelakor, pelacur, atau pecandu narkoba, dll.

Perilaku perempuan atas tekanan masyarakat terhadap statusnya tidak jarang menjadi subjek riset peneliti sosial berkenaan dengan budaya patriarki. Pengalaman mereka tak jauh dari akibat budaya patriarki. Umumnya menjadi sistem sosial masyarakat Madura.

Budaya patriarki tak hanya menempatkan lak-laki sebagai pemegang kekuasaan dan mendominasi berbagai peran sosial. Juga menempatkan perempuan sebagai pelaku yang mereproduksi budaya. Misalnya, menjadi aparatur kebencian perempuan lain yang dianggap melakukan penyimpangan sosial. Penyimpangan tidak hanya dimaknai kesalahan. Keluar dari mainstream juga disebut penyimpangan.

Sebagai alumni pondok pesantren, saya ingat pelajaran tarbiyah nasawiyah (pendidikan kewanitaan) sejak kelas satu madrasah aliah hingga lulus. Selama 3 tahun dididik dan diajari nyai menjadi perempuan salihah (kelas 1). Menjadi istri salihah (kelas 2). Dan menjadi ibu salihah (kelas 3). Pelajaran itu sangat penting dan wajib bagi santriwati sebagai bekal ketika lulus pondok dan terjun ke masyarakat. Apalagi yang berencana menikah.

Bab awal mengenai perempuan (sebelum menikah) harus menjadi muslimah yang kafah. Yaitu (1) menjaga diri dari fitnah; (2) menjaga pandangan; (3) menjaga diri dari perbuatan zina (seluruh indra); (4) membekali diri dengan ilmu agama; (5) memiliki kecerdasan intelektual, spiritual, dan cara dakwah yang baik; (6) memelihara kedua orang tua (berbakti); (7) mengamalkan ilmu yang dimiliki kepada masyarakat; dan (8) berperan dalam aktivitas masyarakat.

Baca Juga :  PPDB Madura 2018 Terbagi 18 Zona

Membaca rangkuman di atas tampak ideal. Memang harus begitu menjadi perempuan dalam perspektif Islam. Perempuan tak hanya pandai beribadah kepada Tuhan dengan menjalani perintah agama-Nya. Juga harus pandai bersikap santun pada sesama. Saking idealnya, baik penulis kitab maupun pengajar, lupa bahwa dalam kehidupan bersosial perempuan juga harus pandai memahami dan merespons realitas sosial-budaya tempat ia tinggal. Daerah satu dengan daerah lain memiliki kebudayaan berbeda dalam memandang perempuan dan kesetaraan gender.

Ketika melajutkan kuliah hingga doktor dengan tidak menikah terlebih dahulu, saya sangat memaklumi sikap beberapa laki-laki yang akan ”dijodohkan” memilih mundur secara perlahan dengan alasan ”ketinggian”. Saya sadar saat ini tinggal di Madura yang berbudaya patriarki. Laki-laki harus lebih ”tinggi” daripada perempuan; baik secara ekonomi, pendidikan, status sosial, maupun kelas sosial. Bahkan terdapat sebuah ungkapan, ”Mon bi’ reng towana eenome ette, ja’ sampe’ pas mare epakabin eenome gun aeng pote. Tape kodu eenome susu” (jika oleh orang tuanya diberi minum teh, maka jangan sampai setelah kau nikahi, hanya diberi minum air putih. Tapi, seharusnya diberi minum susu).

Seharusnya, laki-laki lebih tinggi daripada perempuan. Terutama dalam segi ekonomi. Jika realitasnya terbalik, akan tercipta kesenjangan berujung konflik atas nama ketidakcocokan membangun rumah tangga. Dalam segi pendidikan, ketinggian itu dipahami sebagian laki-lagi dengan ungkapan, ”Perempuan pintar itu pasti galak dan otoriter. Saya gak maulah kalau nanti diperintah-perintah. Emang di mana kelaki-lakian saya?” kata seorang laki-laki informan penelitian disertasi saya, ”Relasi Kuasa Seksualitas Masyarakat Madura.”

Saya harus lebih detail membaca dan belajar tarbiyah nasawiyah agar mampu menjawab persoalan ketika merespons tekanan masyarakat yang bertanya, ”Kapan menikah?” Bagaimana mau menikah jika daya tawar saya sebagai perempuan lebih tinggi daripada laki-laki Madura kebanyakan? Bukankah di dalam kitab tersebut perempuan harus memiliki intelektual kuat (berpendidikan tinggi)? Lalu, apakah perempuan harus rela mengorbankan potensi intelektualnya (tidak melanjutkan kuliah) hanya agar ”laku” dan dapat segera menikah? Mengapa banyak kitab hanya menulis tentang ”Bagaimana seharusnya menjadi perempuan” dan meniadakan pembahasan tentang ”Bagaimana seharusnya menjadi laki-laki?” Mengapa perempuan yang harus dituntut agar bisa diterima dan dinikahi laki-laki?

Baca Juga :  Desak Tertibkan APK di MPU

Berbeda dengan kasus beberapa kakak dan adik kelas semasa pesantren yang saat ini berstatus janda cerai (akibat perceraian), baik janda single maupun janda paket. Tekanan mereka jauh lebih ”dahsyat” daripada yang saya alami. Tak jarang mereka mendapatkan perlakukan buruk dari beberapa kalangan masyarakat dengan stigma kebencian.

Masyarakat tidak peduli, apakah status janda mereka ”menceraikan” atau ”diceraikan”. Bagi masyarakat, perempuan adalah satu-satunya ”tersangka” dan harus menanggung semua kesalahan perceraiannya. Suami selingkuh, istri yang disalahkan. Tak merawat dirilah. Kurang ”goyanganlah”. Kurang servisnyalah. Tak mau diaturlah. Suka melawanlah, dll.

Ketika suami mengingkari janji pernikahan, penyebab utamanya adalah istri. Lucunya, kesalahan pemahaman tersebut direproduksi kalangan perempuan sendiri yang mewajarkan perilaku buruk suami. Inilah yang disebut dengan budaya patriarki.

Saya berharap, pengajar tarbiyah nasawiyah tidak hanya mengajarkan menjadi muslimah yang kafah. Namun, juga mengajarkan menjadi perempuan cerdas merespons realitas hidup, yang seringkali tidak sesuai dengan harapan. Merespons bukanlah resistensi. Tetapi, memiliki kepercayaan diri yang kuat. Perempuan cerdas itu tahu bertanggung jawab atas risiko pilihan hidupnya. Ia tahu yang diinginkan dan tahu cara mewujudkan. Ia tahu bagaimana cara bersikap anggun nan elegan dalam merespons ”kenyinyiran” masyarakat dan netizen atas dirinya. 

 

*)Alumnus Al-Amien Prenduan, Sumenep.

 

Menjadi perempuan lebih dari 30 tahun dan belum menikah itu tidak mudah. Namun tidak sesulit perempuan muda berstatus janda single (tanpa anak). Bahkan janda paket (sepaket dengan anak-anaknya).

 

BERBAGAI tekanan dialami perempuan tersebut dari keluarga, sahabat, dan masyarakat. Salah satunya, pertanyaan ”Kapan nikah?” Sementara tidak ada pernikahan yang bisa direncanakan. Kapan akan bertemu jodoh? Dan kapan akan bercerai? Meski memiliki alasan, tak jarang tekanan tersebut berdampak buruk bagi mereka.


Ada yang akhirnya meninggalkan tanah kelahiran dan merantau. Ada pula yang ”mengamini” tekanan itu dengan menikahi pria yang tak tepat karena terburu-buru mengambil keputusan. Ada juga yang melawan dengan melakukan tindakan yang semakin ”meresahkan” masyarakat. Misalnya, menjelma menjadi pelakor, pelacur, atau pecandu narkoba, dll.

Perilaku perempuan atas tekanan masyarakat terhadap statusnya tidak jarang menjadi subjek riset peneliti sosial berkenaan dengan budaya patriarki. Pengalaman mereka tak jauh dari akibat budaya patriarki. Umumnya menjadi sistem sosial masyarakat Madura.

Budaya patriarki tak hanya menempatkan lak-laki sebagai pemegang kekuasaan dan mendominasi berbagai peran sosial. Juga menempatkan perempuan sebagai pelaku yang mereproduksi budaya. Misalnya, menjadi aparatur kebencian perempuan lain yang dianggap melakukan penyimpangan sosial. Penyimpangan tidak hanya dimaknai kesalahan. Keluar dari mainstream juga disebut penyimpangan.

Sebagai alumni pondok pesantren, saya ingat pelajaran tarbiyah nasawiyah (pendidikan kewanitaan) sejak kelas satu madrasah aliah hingga lulus. Selama 3 tahun dididik dan diajari nyai menjadi perempuan salihah (kelas 1). Menjadi istri salihah (kelas 2). Dan menjadi ibu salihah (kelas 3). Pelajaran itu sangat penting dan wajib bagi santriwati sebagai bekal ketika lulus pondok dan terjun ke masyarakat. Apalagi yang berencana menikah.

Bab awal mengenai perempuan (sebelum menikah) harus menjadi muslimah yang kafah. Yaitu (1) menjaga diri dari fitnah; (2) menjaga pandangan; (3) menjaga diri dari perbuatan zina (seluruh indra); (4) membekali diri dengan ilmu agama; (5) memiliki kecerdasan intelektual, spiritual, dan cara dakwah yang baik; (6) memelihara kedua orang tua (berbakti); (7) mengamalkan ilmu yang dimiliki kepada masyarakat; dan (8) berperan dalam aktivitas masyarakat.

Baca Juga :  Panwaslu Launching Gakumdu, Gandeng Polres dan Kejari

Membaca rangkuman di atas tampak ideal. Memang harus begitu menjadi perempuan dalam perspektif Islam. Perempuan tak hanya pandai beribadah kepada Tuhan dengan menjalani perintah agama-Nya. Juga harus pandai bersikap santun pada sesama. Saking idealnya, baik penulis kitab maupun pengajar, lupa bahwa dalam kehidupan bersosial perempuan juga harus pandai memahami dan merespons realitas sosial-budaya tempat ia tinggal. Daerah satu dengan daerah lain memiliki kebudayaan berbeda dalam memandang perempuan dan kesetaraan gender.

Ketika melajutkan kuliah hingga doktor dengan tidak menikah terlebih dahulu, saya sangat memaklumi sikap beberapa laki-laki yang akan ”dijodohkan” memilih mundur secara perlahan dengan alasan ”ketinggian”. Saya sadar saat ini tinggal di Madura yang berbudaya patriarki. Laki-laki harus lebih ”tinggi” daripada perempuan; baik secara ekonomi, pendidikan, status sosial, maupun kelas sosial. Bahkan terdapat sebuah ungkapan, ”Mon bi’ reng towana eenome ette, ja’ sampe’ pas mare epakabin eenome gun aeng pote. Tape kodu eenome susu” (jika oleh orang tuanya diberi minum teh, maka jangan sampai setelah kau nikahi, hanya diberi minum air putih. Tapi, seharusnya diberi minum susu).

Seharusnya, laki-laki lebih tinggi daripada perempuan. Terutama dalam segi ekonomi. Jika realitasnya terbalik, akan tercipta kesenjangan berujung konflik atas nama ketidakcocokan membangun rumah tangga. Dalam segi pendidikan, ketinggian itu dipahami sebagian laki-lagi dengan ungkapan, ”Perempuan pintar itu pasti galak dan otoriter. Saya gak maulah kalau nanti diperintah-perintah. Emang di mana kelaki-lakian saya?” kata seorang laki-laki informan penelitian disertasi saya, ”Relasi Kuasa Seksualitas Masyarakat Madura.”

Saya harus lebih detail membaca dan belajar tarbiyah nasawiyah agar mampu menjawab persoalan ketika merespons tekanan masyarakat yang bertanya, ”Kapan menikah?” Bagaimana mau menikah jika daya tawar saya sebagai perempuan lebih tinggi daripada laki-laki Madura kebanyakan? Bukankah di dalam kitab tersebut perempuan harus memiliki intelektual kuat (berpendidikan tinggi)? Lalu, apakah perempuan harus rela mengorbankan potensi intelektualnya (tidak melanjutkan kuliah) hanya agar ”laku” dan dapat segera menikah? Mengapa banyak kitab hanya menulis tentang ”Bagaimana seharusnya menjadi perempuan” dan meniadakan pembahasan tentang ”Bagaimana seharusnya menjadi laki-laki?” Mengapa perempuan yang harus dituntut agar bisa diterima dan dinikahi laki-laki?

Baca Juga :  Keajaiban Silaturahmi

Berbeda dengan kasus beberapa kakak dan adik kelas semasa pesantren yang saat ini berstatus janda cerai (akibat perceraian), baik janda single maupun janda paket. Tekanan mereka jauh lebih ”dahsyat” daripada yang saya alami. Tak jarang mereka mendapatkan perlakukan buruk dari beberapa kalangan masyarakat dengan stigma kebencian.

Masyarakat tidak peduli, apakah status janda mereka ”menceraikan” atau ”diceraikan”. Bagi masyarakat, perempuan adalah satu-satunya ”tersangka” dan harus menanggung semua kesalahan perceraiannya. Suami selingkuh, istri yang disalahkan. Tak merawat dirilah. Kurang ”goyanganlah”. Kurang servisnyalah. Tak mau diaturlah. Suka melawanlah, dll.

Ketika suami mengingkari janji pernikahan, penyebab utamanya adalah istri. Lucunya, kesalahan pemahaman tersebut direproduksi kalangan perempuan sendiri yang mewajarkan perilaku buruk suami. Inilah yang disebut dengan budaya patriarki.

Saya berharap, pengajar tarbiyah nasawiyah tidak hanya mengajarkan menjadi muslimah yang kafah. Namun, juga mengajarkan menjadi perempuan cerdas merespons realitas hidup, yang seringkali tidak sesuai dengan harapan. Merespons bukanlah resistensi. Tetapi, memiliki kepercayaan diri yang kuat. Perempuan cerdas itu tahu bertanggung jawab atas risiko pilihan hidupnya. Ia tahu yang diinginkan dan tahu cara mewujudkan. Ia tahu bagaimana cara bersikap anggun nan elegan dalam merespons ”kenyinyiran” masyarakat dan netizen atas dirinya. 

 

*)Alumnus Al-Amien Prenduan, Sumenep.

 

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/