alexametrics
19 C
Madura
Thursday, June 30, 2022

Hakim Sepelekan Kekerasan terhadap Wartawan

BANGKALAN – Penanganan perkara dugaan pemukulan terhadap mantan jurnalis Jawa Pos Radar Madura (JPRM) Ghinan Salman berlanjut. Sidang dengan terdakwa Jumalis, pegawai Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (Dinas PUPR) Bangkalan kembali digelar di pengadilan negeri (PN) kemarin (28/1).

Agenda sidang ialah mendengarkan keterangan saksi dari jaksa penuntut umum (JPU). Sidang dipimpin Hakim Ketua Sri Hananta. Jaksa mengadirkan Taufikurrohman selaku AE JPRM dan mantan Koordinator Liputan (Korlip) JPRM Hendriyanto yang saat ini menjabat sebagai kepala biro (Kabiro) Sampang.

Sri mulai menggali keterangan dari Taufikurrohman. Pria yang disapa Vic itu mengaku menerima telepon dari pegawai Dinas PUPR Bangkalan Arif Barawijaya setelah kejadian intimidasi kepada Ghinan. Dalam sambungan telepon, Arif menanyakan apakah Ghinan sebagai wartawan JPRM. Vic membenarkan bahwa Ghinan wartawan JPRM.

Sri juga menggali informasi kepada Hendriyanto. Hendri menerangkan bahwa mendapat kabar dugaan kekerasan itu langsung dari Ghinan melalui sambungan telepon. Kemudian berkoordinasi dengan pimpinan JPRM dan memutuskan untuk melapor polisi.

Selain itu, Sri mempertanyakan apakah Ghinan selaku jurnalis hendak liputan berita proyek kemudian berubah meliput pegawai dinas PUPR yang main pingpong saat jam aktif kerja. ”Kan awalnya mau liputan berita proyek, tapi berubah liputan pegawai main pimpong di jam kerja,” ucapnya.

Baca Juga :  Waspada, Pelaku Curanmor Bawa Senpi

Dengan tegas Hendri menjawab boleh. Sebab, sebuah pristiwa bisa terjadi kapan dan di mana saja. Jika mengetahui peristiwa aneh, janggal, atau pelanggaran, insting jurnalis pasti akan mengabadikan momen tersebut.

Saat Ghinan menjalankan tugas dan dihalang-halangi hingga mendapat intimidasi serta kekerasan, Sri menilai itu masalah sepele. ”Seberanya ini masalah sepele. Bisa diselesaikan secara kekeluargaan,” ujar Sri.

Pada kesempatan tersebut, Jumali mendapatkan kesempatan memberikan tanggapan atas kesaksian Vic dan Hendriyanto. Jumali berdalih tidak ada pegawai yang melakukan intimidasi dan pengeroyokan kepada Ghinan. ”Tidak ada pemukulan atau pengeroyokan,” ucapnya.

Jaksa Hendrik Murbawan menyatakan, sidang kasus ini telah digelar beberapa kali. Sidang perdana Jumali didakwa dengan pasal 18 ayat 1 UU 40/1999 tentang Pers. Kemudian lanjut sidang dengan menghadirkan Ghinan Salman sebagai saksi korban. Sidang berikutnya menghadirkan beberapa pegawai dinas PUPR. Sidang selanjutnya, masih agenda mendengarkan keterangan saksi Senin (11/1). ”Sekarang (kemarin, Red) saksi dari pihak Radar Madura,” terangnya.

Baca Juga :  Pembaca Antusias Kirim Balot Dukungan

Seperti diberitakan, Ghinan menjalankan tugas sebagai wartawan ke Dinas PUPR Bangkalan pada 20 September 2016. Dia hendak mengonfirmasi berita proyek kepada Taufan Zairinsyah selaku kepala dinas PUPR saat itu. Sekarang Taufan menjabat kepala dinas sosial (dinsos).

Ternyata Taufan tidak ada di kantornya. Ghinan lantas menanti di ruang tunggu. Saat itu dari salah satu ruangan terdengar suara bola pingpong. Ghinan mendekat dan mengambil foto beberapa pegawai yang sedang bermain tenis meja saat jam aktif kerja.

Setelah berhasil mengambil foto, Ghinan duduk kembali di lobi. Dua menit berselang, lebih dari sepuluh pegawai keluar dari ruangannya, lalu melakukan intimidasi kepada Ghinan. Mereka marah-marah, melakukan penganiayaan dan pengeroyokan.

Peristiwa tersebut kemudian dilaporkan ke Polres Bangkalan. Sedikitnya ada sepuluh pegawai yang diperiksa. Hasilnya, Korps Bhayangkara menetapkan seorang tersangka atas nama Jumali.

BANGKALAN – Penanganan perkara dugaan pemukulan terhadap mantan jurnalis Jawa Pos Radar Madura (JPRM) Ghinan Salman berlanjut. Sidang dengan terdakwa Jumalis, pegawai Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (Dinas PUPR) Bangkalan kembali digelar di pengadilan negeri (PN) kemarin (28/1).

Agenda sidang ialah mendengarkan keterangan saksi dari jaksa penuntut umum (JPU). Sidang dipimpin Hakim Ketua Sri Hananta. Jaksa mengadirkan Taufikurrohman selaku AE JPRM dan mantan Koordinator Liputan (Korlip) JPRM Hendriyanto yang saat ini menjabat sebagai kepala biro (Kabiro) Sampang.

Sri mulai menggali keterangan dari Taufikurrohman. Pria yang disapa Vic itu mengaku menerima telepon dari pegawai Dinas PUPR Bangkalan Arif Barawijaya setelah kejadian intimidasi kepada Ghinan. Dalam sambungan telepon, Arif menanyakan apakah Ghinan sebagai wartawan JPRM. Vic membenarkan bahwa Ghinan wartawan JPRM.


Sri juga menggali informasi kepada Hendriyanto. Hendri menerangkan bahwa mendapat kabar dugaan kekerasan itu langsung dari Ghinan melalui sambungan telepon. Kemudian berkoordinasi dengan pimpinan JPRM dan memutuskan untuk melapor polisi.

Selain itu, Sri mempertanyakan apakah Ghinan selaku jurnalis hendak liputan berita proyek kemudian berubah meliput pegawai dinas PUPR yang main pingpong saat jam aktif kerja. ”Kan awalnya mau liputan berita proyek, tapi berubah liputan pegawai main pimpong di jam kerja,” ucapnya.

Baca Juga :  BKPSDA Bangkalan Akui Mutasi tanpa Izin Kemendagri

Dengan tegas Hendri menjawab boleh. Sebab, sebuah pristiwa bisa terjadi kapan dan di mana saja. Jika mengetahui peristiwa aneh, janggal, atau pelanggaran, insting jurnalis pasti akan mengabadikan momen tersebut.

Saat Ghinan menjalankan tugas dan dihalang-halangi hingga mendapat intimidasi serta kekerasan, Sri menilai itu masalah sepele. ”Seberanya ini masalah sepele. Bisa diselesaikan secara kekeluargaan,” ujar Sri.

Pada kesempatan tersebut, Jumali mendapatkan kesempatan memberikan tanggapan atas kesaksian Vic dan Hendriyanto. Jumali berdalih tidak ada pegawai yang melakukan intimidasi dan pengeroyokan kepada Ghinan. ”Tidak ada pemukulan atau pengeroyokan,” ucapnya.

Jaksa Hendrik Murbawan menyatakan, sidang kasus ini telah digelar beberapa kali. Sidang perdana Jumali didakwa dengan pasal 18 ayat 1 UU 40/1999 tentang Pers. Kemudian lanjut sidang dengan menghadirkan Ghinan Salman sebagai saksi korban. Sidang berikutnya menghadirkan beberapa pegawai dinas PUPR. Sidang selanjutnya, masih agenda mendengarkan keterangan saksi Senin (11/1). ”Sekarang (kemarin, Red) saksi dari pihak Radar Madura,” terangnya.

Baca Juga :  Matangkan Persiapan Bazar Takjil Ramadan

Seperti diberitakan, Ghinan menjalankan tugas sebagai wartawan ke Dinas PUPR Bangkalan pada 20 September 2016. Dia hendak mengonfirmasi berita proyek kepada Taufan Zairinsyah selaku kepala dinas PUPR saat itu. Sekarang Taufan menjabat kepala dinas sosial (dinsos).

Ternyata Taufan tidak ada di kantornya. Ghinan lantas menanti di ruang tunggu. Saat itu dari salah satu ruangan terdengar suara bola pingpong. Ghinan mendekat dan mengambil foto beberapa pegawai yang sedang bermain tenis meja saat jam aktif kerja.

Setelah berhasil mengambil foto, Ghinan duduk kembali di lobi. Dua menit berselang, lebih dari sepuluh pegawai keluar dari ruangannya, lalu melakukan intimidasi kepada Ghinan. Mereka marah-marah, melakukan penganiayaan dan pengeroyokan.

Peristiwa tersebut kemudian dilaporkan ke Polres Bangkalan. Sedikitnya ada sepuluh pegawai yang diperiksa. Hasilnya, Korps Bhayangkara menetapkan seorang tersangka atas nama Jumali.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/