alexametrics
27.2 C
Madura
Wednesday, August 10, 2022

Bertemu Dubes AS, Mendag Zulhas Sepakat Tingkatkan Kerja Sama Bilateral

JAKARTA – Menteri Perdagangan (Mendag) Zulkifli Hasan dan Duta Besar Amerika Serikat (AS) Sung Kim sepakat mempererat kerja sama perdagangan untuk pemulihan ekonomi pasca pandemi Covid-19. Hal ini diputuskan keduanya usai bertemu di kantor Kementerian Perdagangan (Kemendag) di Jakarta, Selasa (28/6).

“Kami mengapresiasi dan menyambut baik upaya AS untuk menjalankan inisiatif  Indo-Pacific Economic Framework for Prosperity (IPEF). Hal ini untuk memastikan pertumbuhan ekonomi di kawasan Indo-Pasifik yang saling menguntungkan, inklusif dan terbuka,” ujar Zulhas.

Zulhas menuturkan, setidaknya tiga elemen penting yang menjadi perhatian Indonesia terkait inisiatif tersebut. Yaitu unsur fleksibilitas, arah, dan prosedur yang jelas. Termasuk keterbukaan dalam  pembahasan Pilar IPEF. Selain itu, skema IPEF harus disinergikan dengan skema ASEAN Outlook on the Indo-Pacific (AOIP) yang lebih dulu ada.

Zulhas juga menuturkan, Indonesia dan AS dapat semakin mempererat hubungan bilateral yang sudah terjalin sejak 73 tahun yang lalu. Di antaranya dengan adanya inisiatif Trade and Investment Framework Agreement (TIFA) yang sudah terbentuk sejak 1996.

“Melalui forum  TIFA, kedua negara dapat saling membahas mengenai isu-isu perdagangan dan investasi. Termasuk berbagai potensi kerja sama. Diharapkan pertemuan TIFA Tingkat Menteri dapat terlaksana,” ungkap Zulhas.

Baca Juga :  Tingkatkan Ekspor ke Timteng, Mendag Zulhas Teken Perjanjian dengan UAE-CEPA

Terkait fasilitas Generalized System of Preference (GSP), Zulhas turut menyampaikan pentingnya otorisasi pemberlakuan kembali GSP bagi Indonesia. Produk Indonesia yang mayoritas merupakan produk usaha kecil dan menengah (UKM) akan melengkapi kebutuhan industri AS bukan sebagai pesaing. Selain itu, Indonesia siap menjadi pemasok alternatif industri AS dengan kualitas dan harga yang bersaing.

“Karena itu, keputusan dan dukungan Kongres AS untuk segera mengesahkan kembali pemberian fasilitas GSP untuk Indonesia sangat berperan besar dalam mendorong pembangunan ekonomi kedua negara,” ujar Zulhas.

Terkait G20, Zulhas mengapresiasi dukungan AS terhadap Presidensi G20 tahun ini. Dia berharap dukungan AS akan membantu negara anggota G20 untuk menghasilkan capaian-capaian dan agenda prioritas G20 yang bermanfaat.

Dalam memperkuat kerja sama perdagangan bilateral, Dubes Kim menyampaikan perlunya meningkatkan potensi komoditas pertanian antara Indonesia dengan AS yang sampai saat ini baru terealisasi sekitar 30 persen. Tahun berikutnya diharapkan menigkat menjadi dua kali lipat.

“Kami akan berupaya semaksimal mungkin mendorong pelaku usaha untuk memanfaatkan akses produk pertanian di Indonesia yang sudah terbuka dan siap untuk dioptimalkan,” ujar Dubes Kim.

Baca Juga :  Presiden Jokowi Ajak Masyarakat Belanja Produk Dalam Negeri

Pada periode Januari-April 2022, total perdagangan Indonesia dan AS tercatat sebesar USD 13,77 miliar, atau naik 26,65 persen. Pada periode yang sama tahun sebelumnya, tercatat sebesar USD 10,87 miliar.

Sementara pada 2021, total perdagangan kedua negara tercatat sebesar USD 37,02 miliar, naik siginifikan sebesar 36 persen dibanding tahun sebelumnya yang tercatat sebesar USD 27,20 miliar.

Pada 2021, ekspor Indonesia ke AS tercatat sebesar USD 25,77 miliar. Sedangkan impor dari AS ke Indonesia tercatat sebesar USD 11,25 miliar. Dengan demikian, Indonesia mencatatkan surplus USD 14,52 miliar.

Komoditas ekspor andalan Indonesia ke AS pada 2021 adalah minyak sawit, krustasea hidup, alas kaki dari bahan kulit, krustasea dan moluska, serta furnitur. Sementara impor utama Indonesia dari AS adalah minyak bumi, kedelai, vaksin, residu pembuatan pati, dan tepung. (*/par)

JAKARTA – Menteri Perdagangan (Mendag) Zulkifli Hasan dan Duta Besar Amerika Serikat (AS) Sung Kim sepakat mempererat kerja sama perdagangan untuk pemulihan ekonomi pasca pandemi Covid-19. Hal ini diputuskan keduanya usai bertemu di kantor Kementerian Perdagangan (Kemendag) di Jakarta, Selasa (28/6).

“Kami mengapresiasi dan menyambut baik upaya AS untuk menjalankan inisiatif  Indo-Pacific Economic Framework for Prosperity (IPEF). Hal ini untuk memastikan pertumbuhan ekonomi di kawasan Indo-Pasifik yang saling menguntungkan, inklusif dan terbuka,” ujar Zulhas.

Zulhas menuturkan, setidaknya tiga elemen penting yang menjadi perhatian Indonesia terkait inisiatif tersebut. Yaitu unsur fleksibilitas, arah, dan prosedur yang jelas. Termasuk keterbukaan dalam  pembahasan Pilar IPEF. Selain itu, skema IPEF harus disinergikan dengan skema ASEAN Outlook on the Indo-Pacific (AOIP) yang lebih dulu ada.


Zulhas juga menuturkan, Indonesia dan AS dapat semakin mempererat hubungan bilateral yang sudah terjalin sejak 73 tahun yang lalu. Di antaranya dengan adanya inisiatif Trade and Investment Framework Agreement (TIFA) yang sudah terbentuk sejak 1996.

“Melalui forum  TIFA, kedua negara dapat saling membahas mengenai isu-isu perdagangan dan investasi. Termasuk berbagai potensi kerja sama. Diharapkan pertemuan TIFA Tingkat Menteri dapat terlaksana,” ungkap Zulhas.

Baca Juga :  Belajar Cara Jitu Menembus Media Massa

Terkait fasilitas Generalized System of Preference (GSP), Zulhas turut menyampaikan pentingnya otorisasi pemberlakuan kembali GSP bagi Indonesia. Produk Indonesia yang mayoritas merupakan produk usaha kecil dan menengah (UKM) akan melengkapi kebutuhan industri AS bukan sebagai pesaing. Selain itu, Indonesia siap menjadi pemasok alternatif industri AS dengan kualitas dan harga yang bersaing.

“Karena itu, keputusan dan dukungan Kongres AS untuk segera mengesahkan kembali pemberian fasilitas GSP untuk Indonesia sangat berperan besar dalam mendorong pembangunan ekonomi kedua negara,” ujar Zulhas.

Terkait G20, Zulhas mengapresiasi dukungan AS terhadap Presidensi G20 tahun ini. Dia berharap dukungan AS akan membantu negara anggota G20 untuk menghasilkan capaian-capaian dan agenda prioritas G20 yang bermanfaat.

Dalam memperkuat kerja sama perdagangan bilateral, Dubes Kim menyampaikan perlunya meningkatkan potensi komoditas pertanian antara Indonesia dengan AS yang sampai saat ini baru terealisasi sekitar 30 persen. Tahun berikutnya diharapkan menigkat menjadi dua kali lipat.

“Kami akan berupaya semaksimal mungkin mendorong pelaku usaha untuk memanfaatkan akses produk pertanian di Indonesia yang sudah terbuka dan siap untuk dioptimalkan,” ujar Dubes Kim.

Baca Juga :  Rumah Pintar Pemilu Sisir Sekolah Menengah Atas

Pada periode Januari-April 2022, total perdagangan Indonesia dan AS tercatat sebesar USD 13,77 miliar, atau naik 26,65 persen. Pada periode yang sama tahun sebelumnya, tercatat sebesar USD 10,87 miliar.

Sementara pada 2021, total perdagangan kedua negara tercatat sebesar USD 37,02 miliar, naik siginifikan sebesar 36 persen dibanding tahun sebelumnya yang tercatat sebesar USD 27,20 miliar.

Pada 2021, ekspor Indonesia ke AS tercatat sebesar USD 25,77 miliar. Sedangkan impor dari AS ke Indonesia tercatat sebesar USD 11,25 miliar. Dengan demikian, Indonesia mencatatkan surplus USD 14,52 miliar.

Komoditas ekspor andalan Indonesia ke AS pada 2021 adalah minyak sawit, krustasea hidup, alas kaki dari bahan kulit, krustasea dan moluska, serta furnitur. Sementara impor utama Indonesia dari AS adalah minyak bumi, kedelai, vaksin, residu pembuatan pati, dan tepung. (*/par)

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/