alexametrics
22 C
Madura
Monday, July 4, 2022

Pramoedya Berbicara Politik

”Menulis merupakan sebuah keberanian,” ucap Pramoedya suatu kali.

BAGINYA melahirkan karya merupakan suatu bentuk konkret mengekspresikan keberanian dalam menulis. Tak heran jika karya Pramoedya Ananta Toer selama masih hidup banyak mengisahkan perjuangan anak manusia yang berusaha melepaskan diri dari belenggu penjajah. Keberanian inilah Pram sempat diasingkan di Pulau Buru selama 14 tahun.

Di masa Orde Baru, Pramoedya sempat mendapat tindakan represif dan diskriminasi dari pemerintah karena situasi politik yang tak menentu. Hal tersebut tidak menyurutkan semangat Pram berkarya. Selama Orde Baru, Pram menerbitkan karya sastra, sehingga menghasilkan sejumlah penghargaan dari berbagai lembaga internasional.

Lewat buku ini, kita diajak untuk menyelami dinamika perpolitikan Jawa pada masa Jawa Hindu dan Jawa Islam dari sudut dua karya terakhir Pram Arus Balik dan Arok Dedes. Dua karya terakhir Pram yang sama-sama membahas tentang kajian politik Jawa pada masa lalu menarik dikonsumsi publik. Kontekstualisasinya masih berlaku hingga akhir kekuasaan Orde Baru, bahkan sampai era reformasi.

Dominasi orang Jawa dalam kancah perpolitikan nasional terbukti dengan masih berlangsungnya pemimpin negeri ini sejak era Soekarno hingga era Jokowi. Hal ini menarik dibahas dengan menghadirkan Arus Balik dan Arok Dedes yang sama-sama membahas dinamika perpolitikan Jawa masa lalu. Relevansi kedua novel tersebut menarik untuk dikontekstualisasikan hingga sekarang.

Cara politik Jawa dalam memperebutkan kekuasaan dengan cara kudeta ala Jawa yang penuh intrik, lobi, lempar batu sembunyi tangan, serta penuh dengan konspirasi. Hal ini terlihat jelas dalam Arok Dedes, bahwa orang Jawa sejak masa Jawa Hindu sudah mengenal politik.

Baca Juga :  Pembahasan Tatib DPRD Terkendala SOTK

Secara konstekstual, Arus Balik menjelaskan proses perdagangan serta akulturasi, ideologi, budaya, agama, dan ekonomi pada abad ke-16 M (hlm 5). Pram mendeskripsikan politik Jawa pada masa kerajaan Islam yang berkembang setelah runtuhnya Majapahit. Jelas terlihat perbedaan di antara kedua novel tersebut. Arus Balik menggambarkan situasi politik masa Jawa Islam. Arok Dedes menggambarkan saat Jawa Hindu.

Anandito tak lupa mencantumkan karakteristik kedua novel tersebut. Enam karakteristik dalam mempertahankan kekuasaan dalam Arok Dedes. Dinamika politik Jawa Islam dalam Arus Balik juga terdapat enam karakteristik. Kedua novel yang mendeskripsikan politik Jawa pada masa kerajaan Hindu dan Islam tersebut memiliki corak persamaan dan perbedaan.

Persamaan keduanya terletak pada cara pengelompokan dan agenda politik, memata-matai dan mengawasi lawan politik serta motif kekuasaan. Terlepas dari hal tersebut, perbedaan keduanya muncul sebagai karakteristik yang menjadikan novel ini memiliki ciri khas berbeda-beda.

Penulis juga menyajikan perspektif Pramoedya mengenai kemiripan cara kepemimpinan masa Jawa Islam serta Jawa Hindu dengan merelevansikan era Soekarno hingga  sekarang. Seperti halnya ada kemiripan antara tokoh Arya Teja dan Sunan Rajeg dalam Arus balik dengan Gus Dur, yaitu menggunakan agama Islam dan budaya sebagai alat legitimasi untuk proses mendapatkan kekuasaan (hlm 231).

Baca Juga :  Satpam Lalai, Toko Dibobol Maling

Pram memadukan kedua novel tersebut dengan perpolitikan Jawa masa lalu. Karya ini layak disebut sebagai karya sastra yang kental dengan ciri khas realisme sosialis. Pram menjelaskan realisme sosialis adalah istilah di bidang sastra yang di dalamnya melingkupi adanya ”front” perjuangan, tak boleh tidak harus punya watak yang jelas, yaitu satu, adalah militansi sebagai ciri tak kenal kompromi dengan lawan. Pram juga menggunakan konsep realisme ilmiah untuk novel Arus Balik.

Buku ini dilengkapi daftar tabel dan siklus untuk mengetahui peralihan kekuasaan, baik pada masa Jawa Hindu maupun Jawa Islam serta dilengkapi glosarium untuk mempermudah pembaca mengenai istilah-istilah Jawa pada masa Jawa Hindu dan Jawa Islam.

Kelemahan utama buku ini terletak pada keengganan Anandito untuk melanjutkan analisis politik Jawa pada saat Soesilo Bambang Yudhoyono memerintah yang sebenarnya ada kemiripan dengan rezim Soeharto sebagaimana juga karakteristiknya yang diekspresikan secara sangat menarik oleh Pram dalam Arok Dedes dan Arus Balik (hlm 25).

Pelajaran berharga dari buku ini adalah kedalaman data dan kecanggihan analisis Anandito membaca Arok Dedes dan Arus Balik serta kontekstualisasinya dalam politik Indonesia kontemporer. Buku ini layak dibaca politisi, pelajar, bahkan mahasiswa.

 

MUHAMMAD GHUFRON

Pustakawan PP. Annuqayah Daerah Lubangsa Guluk-Guluk Sumenep.

”Menulis merupakan sebuah keberanian,” ucap Pramoedya suatu kali.

BAGINYA melahirkan karya merupakan suatu bentuk konkret mengekspresikan keberanian dalam menulis. Tak heran jika karya Pramoedya Ananta Toer selama masih hidup banyak mengisahkan perjuangan anak manusia yang berusaha melepaskan diri dari belenggu penjajah. Keberanian inilah Pram sempat diasingkan di Pulau Buru selama 14 tahun.

Di masa Orde Baru, Pramoedya sempat mendapat tindakan represif dan diskriminasi dari pemerintah karena situasi politik yang tak menentu. Hal tersebut tidak menyurutkan semangat Pram berkarya. Selama Orde Baru, Pram menerbitkan karya sastra, sehingga menghasilkan sejumlah penghargaan dari berbagai lembaga internasional.


Lewat buku ini, kita diajak untuk menyelami dinamika perpolitikan Jawa pada masa Jawa Hindu dan Jawa Islam dari sudut dua karya terakhir Pram Arus Balik dan Arok Dedes. Dua karya terakhir Pram yang sama-sama membahas tentang kajian politik Jawa pada masa lalu menarik dikonsumsi publik. Kontekstualisasinya masih berlaku hingga akhir kekuasaan Orde Baru, bahkan sampai era reformasi.

Dominasi orang Jawa dalam kancah perpolitikan nasional terbukti dengan masih berlangsungnya pemimpin negeri ini sejak era Soekarno hingga era Jokowi. Hal ini menarik dibahas dengan menghadirkan Arus Balik dan Arok Dedes yang sama-sama membahas dinamika perpolitikan Jawa masa lalu. Relevansi kedua novel tersebut menarik untuk dikontekstualisasikan hingga sekarang.

Cara politik Jawa dalam memperebutkan kekuasaan dengan cara kudeta ala Jawa yang penuh intrik, lobi, lempar batu sembunyi tangan, serta penuh dengan konspirasi. Hal ini terlihat jelas dalam Arok Dedes, bahwa orang Jawa sejak masa Jawa Hindu sudah mengenal politik.

Baca Juga :  Yuk, Datang ke TPS!

Secara konstekstual, Arus Balik menjelaskan proses perdagangan serta akulturasi, ideologi, budaya, agama, dan ekonomi pada abad ke-16 M (hlm 5). Pram mendeskripsikan politik Jawa pada masa kerajaan Islam yang berkembang setelah runtuhnya Majapahit. Jelas terlihat perbedaan di antara kedua novel tersebut. Arus Balik menggambarkan situasi politik masa Jawa Islam. Arok Dedes menggambarkan saat Jawa Hindu.

Anandito tak lupa mencantumkan karakteristik kedua novel tersebut. Enam karakteristik dalam mempertahankan kekuasaan dalam Arok Dedes. Dinamika politik Jawa Islam dalam Arus Balik juga terdapat enam karakteristik. Kedua novel yang mendeskripsikan politik Jawa pada masa kerajaan Hindu dan Islam tersebut memiliki corak persamaan dan perbedaan.

Persamaan keduanya terletak pada cara pengelompokan dan agenda politik, memata-matai dan mengawasi lawan politik serta motif kekuasaan. Terlepas dari hal tersebut, perbedaan keduanya muncul sebagai karakteristik yang menjadikan novel ini memiliki ciri khas berbeda-beda.

Penulis juga menyajikan perspektif Pramoedya mengenai kemiripan cara kepemimpinan masa Jawa Islam serta Jawa Hindu dengan merelevansikan era Soekarno hingga  sekarang. Seperti halnya ada kemiripan antara tokoh Arya Teja dan Sunan Rajeg dalam Arus balik dengan Gus Dur, yaitu menggunakan agama Islam dan budaya sebagai alat legitimasi untuk proses mendapatkan kekuasaan (hlm 231).

Baca Juga :  Menguntungkan, Tiap Tahun Ikut Bazar Takjil

Pram memadukan kedua novel tersebut dengan perpolitikan Jawa masa lalu. Karya ini layak disebut sebagai karya sastra yang kental dengan ciri khas realisme sosialis. Pram menjelaskan realisme sosialis adalah istilah di bidang sastra yang di dalamnya melingkupi adanya ”front” perjuangan, tak boleh tidak harus punya watak yang jelas, yaitu satu, adalah militansi sebagai ciri tak kenal kompromi dengan lawan. Pram juga menggunakan konsep realisme ilmiah untuk novel Arus Balik.

Buku ini dilengkapi daftar tabel dan siklus untuk mengetahui peralihan kekuasaan, baik pada masa Jawa Hindu maupun Jawa Islam serta dilengkapi glosarium untuk mempermudah pembaca mengenai istilah-istilah Jawa pada masa Jawa Hindu dan Jawa Islam.

Kelemahan utama buku ini terletak pada keengganan Anandito untuk melanjutkan analisis politik Jawa pada saat Soesilo Bambang Yudhoyono memerintah yang sebenarnya ada kemiripan dengan rezim Soeharto sebagaimana juga karakteristiknya yang diekspresikan secara sangat menarik oleh Pram dalam Arok Dedes dan Arus Balik (hlm 25).

Pelajaran berharga dari buku ini adalah kedalaman data dan kecanggihan analisis Anandito membaca Arok Dedes dan Arus Balik serta kontekstualisasinya dalam politik Indonesia kontemporer. Buku ini layak dibaca politisi, pelajar, bahkan mahasiswa.

 

MUHAMMAD GHUFRON

Pustakawan PP. Annuqayah Daerah Lubangsa Guluk-Guluk Sumenep.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/