alexametrics
21 C
Madura
Saturday, August 20, 2022

Terpidana Kasus Korupsi Tebu Mendekam di Rutan

SAMPANG – Dua terdakwa kasus korupsi bantuan sosial (bansos) pengembangan tanaman tebu kebun benih datar (KBD) sudah divonis Senin (25/3). Sebagimana diketahui, pengembangan tebu senilai Rp 19 miliar tersebut merupakan program dari Dinas Perkebunan Jawa Timur (Jatim).

Aliansyah selaku ketua Kelompok Tani (Poktan) Mawar dijatuhi hukuman penjara empat tahun enam bulan dan denda Rp 50 juta subsider kurungan selama dua bulan. Sedangkan Abd. Halik selaku ketua Poktan Damar Wulan divonis empat tahun penjara dan denda Rp 50 juta subsider kurungan penjara dua bulan.

Kasipidsus Kejaksaan Negeri (Kejari) Sampang Edi Sutomo mengatakan, sidang vonis kasus korupsi pengembangan tebu dilaksanakan di Pengadilan Tipikor Surabaya. Menurut dia, sidang berlangsung dengan tertib dan aman. ”Dua terdakwa kasus tebu sudah divonis dan mereka saat ini sudah menjalani hukuman,” katanya kemarin (26/3).

Vonis terhadap dua terdakwa lebih rendah dari tuntutan jaksa penuntut umum (JPU). Menurut dia, Aliansyah oleh JPU dituntut enam tahun penjara. Sedangkan Abd. Halik dituntut lima tahun penjara. Tuntutan denda bagi dua terdakwa Rp 50 juta subsider satu tahun penjara. ”Vonis hakim satu tahun lebih rendah dari tuntutan jaksa,” ujar Edi Sutomo.

Baca Juga :  Wabup Beri Lampu Hijau┬áSumenep for Palestine

Selama persidangan, dua terdakwa tidak menggunakan pengacara, tetapi hanya didampingi penasihat hukum yang ditunjuk Pengadilan Tipikor Surabaya dari posbakum. Dua terdakwa itu tidak mampu membayar jasa pengacara. ”Kini keduanya dipenjara di Rutan Kelas II-B Sampang,” sebut dia.

Edi Sutomo menambahkan, dua terdakwa diberi waktu satu minggu oleh majelis hakim untuk pikir-pikir atas vonis yang sudah dibacakan. Apakah akan melakukan upaya banding atau menerima vonis tersebut. ”Sikap jaksa, sementara ini juga masih pikir-pikir, menunggu petunjuk pimpinan,” jelasnya.

Lebih lanjut dia menyatakan, dalam kasus korupsi bansos pengembangan tebu, Kejari Sampang akan mendalami keterangan para saksi di persidangan. Menurut Edi Sutomo, perlu kajian lebih lanjut untuk memastikan apakah ada tersangka lain dalam kasus tersebut. ”Kami akan melakukan kajian dengan jaksa,” tandasnya.

Baca Juga :  Halili Yasin Bangga Jadi Kader PPP

Untuk diketahui, pada 2014 Poktan Mawar menerima bansos pengembangan tebu senilai Rp 2.355.815.000. Oleh ketua poktan dana bansos dicairkan Rp 651.000.000 untuk kebutuhan petani tebu.

Berdasarkan hasil audit BPK Perwakilan Jawa Timur nomor SR.833/PW13/5/2017, ditemukan kerugian negara Rp 888.275.000. Dengan perincian, Rp 2.355.815.000 yang masuk ke rekening poktan lalu ditarik Rp 651.000.000 sehingga tersisa Rp 1.704.815.000.

Kemudian dana Rp 1.467.540.000 ditarik dari rekening Poktan Mawar dan disetor ke kas negara. Sisanya, Rp 237.275.000, ditarik atau disita oleh penyidik Polres Sampang. Dengan begitu, jumlah kerugian negara Rp 651.000.000 ditambah Rp 237.275.000, hasilnya Rp 888.275.000.

Untuk Poktan Damar Wulan, dana bansos pengembangan tebu yang diterima Rp 2.400.475.000. Kemudian ditarik untuk pengembangan tebu KBD Rp 1.457.700.000. Sisanya tidak dicairkan dan dibiarkan di rekening poktan.

SAMPANG – Dua terdakwa kasus korupsi bantuan sosial (bansos) pengembangan tanaman tebu kebun benih datar (KBD) sudah divonis Senin (25/3). Sebagimana diketahui, pengembangan tebu senilai Rp 19 miliar tersebut merupakan program dari Dinas Perkebunan Jawa Timur (Jatim).

Aliansyah selaku ketua Kelompok Tani (Poktan) Mawar dijatuhi hukuman penjara empat tahun enam bulan dan denda Rp 50 juta subsider kurungan selama dua bulan. Sedangkan Abd. Halik selaku ketua Poktan Damar Wulan divonis empat tahun penjara dan denda Rp 50 juta subsider kurungan penjara dua bulan.

Kasipidsus Kejaksaan Negeri (Kejari) Sampang Edi Sutomo mengatakan, sidang vonis kasus korupsi pengembangan tebu dilaksanakan di Pengadilan Tipikor Surabaya. Menurut dia, sidang berlangsung dengan tertib dan aman. ”Dua terdakwa kasus tebu sudah divonis dan mereka saat ini sudah menjalani hukuman,” katanya kemarin (26/3).


Vonis terhadap dua terdakwa lebih rendah dari tuntutan jaksa penuntut umum (JPU). Menurut dia, Aliansyah oleh JPU dituntut enam tahun penjara. Sedangkan Abd. Halik dituntut lima tahun penjara. Tuntutan denda bagi dua terdakwa Rp 50 juta subsider satu tahun penjara. ”Vonis hakim satu tahun lebih rendah dari tuntutan jaksa,” ujar Edi Sutomo.

Baca Juga :  Fauzan Dikenal Luas karena Politik dan Pendidikan

Selama persidangan, dua terdakwa tidak menggunakan pengacara, tetapi hanya didampingi penasihat hukum yang ditunjuk Pengadilan Tipikor Surabaya dari posbakum. Dua terdakwa itu tidak mampu membayar jasa pengacara. ”Kini keduanya dipenjara di Rutan Kelas II-B Sampang,” sebut dia.

Edi Sutomo menambahkan, dua terdakwa diberi waktu satu minggu oleh majelis hakim untuk pikir-pikir atas vonis yang sudah dibacakan. Apakah akan melakukan upaya banding atau menerima vonis tersebut. ”Sikap jaksa, sementara ini juga masih pikir-pikir, menunggu petunjuk pimpinan,” jelasnya.

Lebih lanjut dia menyatakan, dalam kasus korupsi bansos pengembangan tebu, Kejari Sampang akan mendalami keterangan para saksi di persidangan. Menurut Edi Sutomo, perlu kajian lebih lanjut untuk memastikan apakah ada tersangka lain dalam kasus tersebut. ”Kami akan melakukan kajian dengan jaksa,” tandasnya.

Baca Juga :  Penerima Bansos Rastra Stagnan
- Advertisement -

Untuk diketahui, pada 2014 Poktan Mawar menerima bansos pengembangan tebu senilai Rp 2.355.815.000. Oleh ketua poktan dana bansos dicairkan Rp 651.000.000 untuk kebutuhan petani tebu.

Berdasarkan hasil audit BPK Perwakilan Jawa Timur nomor SR.833/PW13/5/2017, ditemukan kerugian negara Rp 888.275.000. Dengan perincian, Rp 2.355.815.000 yang masuk ke rekening poktan lalu ditarik Rp 651.000.000 sehingga tersisa Rp 1.704.815.000.

Kemudian dana Rp 1.467.540.000 ditarik dari rekening Poktan Mawar dan disetor ke kas negara. Sisanya, Rp 237.275.000, ditarik atau disita oleh penyidik Polres Sampang. Dengan begitu, jumlah kerugian negara Rp 651.000.000 ditambah Rp 237.275.000, hasilnya Rp 888.275.000.

Untuk Poktan Damar Wulan, dana bansos pengembangan tebu yang diterima Rp 2.400.475.000. Kemudian ditarik untuk pengembangan tebu KBD Rp 1.457.700.000. Sisanya tidak dicairkan dan dibiarkan di rekening poktan.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/