alexametrics
21.2 C
Madura
Wednesday, July 6, 2022

Memaknai Kata Membaca Diri 

MENJADI dosen semestinya tak melulu ngoceh dan menyuruh bertugas bagi mahasiswa. Banyak hal yang barangkali harus direnungkan sehingga bisa bertransformasi ilmu pengetahuan dengan baik. Tapi, kadang kita kerap saksikan dosen begitu lihai untuk tidak berbuat apa-apa.

Contoh kecil, silabi terancang dari sekian lama tanpa perubahan dan menjadi kesepakatan belajar mengajar. Pergolakan kreativitas untuk mengajak mahasiswa kadang tak ditemui. Apalagi mencoba menulis buku sebagai rujukan mahasiswa. Tidak apa-apa, yang penting bisa tampil di dalam kelas dengan gagah. Itu saja!

Agus Budi Wahyudi, dosen Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), agaknya bosan untuk tidak berbuat suatu perubahan. Dalam dirinya harus mewartakan penemuan baru dan mengeksistensikan ilmu sastranya. Baik ditulis di beranda Facebook (FB) dan dalam bentuk buku. Saya memberikan tepuk tangan untuk kedatangan buku barunya Sehimpun Puisi Penjati Kata 2017.

Karya Agus ini dapat memberikan sinergi keromantisan penjati kata. Buku ini mencoba melakukan eksperimen dengan menuturkan makna-makna secara puitis. Agus mencoba merayu untuk mendalami sebuah makna.

Ia mengajak dengan serius tapi sedikit nakal, menulis: Tolong dengarkan ya?/ kubaca nyaring sebuah kata/ tapi aku tidak paham makna./ Kusimpan di dalam hati/ siapa tahu kau melihatnya./ Tolong dengarkan ya?/ berkali kuucap nyaring/ agar terdengar sampai ke telinga./ Urutan huruf dalam aksaraMu/ aku satu huruf saja/ yang lupa melantunkan demi orang lain (hlm 6).

Baca Juga :  Berbuat Baik untuk Tingkatkan Kualitas Hidup

Menurut Agus, kata yang bernada puitis tak harus melulu diamandemen dalam diri dan hati manusia. Tak harus dirasakan dengan sendu sehingga melantunkan suara haru. Cukup manusia bisa memutuskan perkara makna yang terkandung di dalam kata yang bisa menghubungkan dengan hati dan tindakan diri.

Agus menduga hal-hal seperti itu terjadi di kehidupan manusia sekarang. Dugaan Agus banyak kata yang hanya berhenti di dalam diri yang diam, di jalan-jalan, sesumpahan-sesumpahan yang tak menemukan kejelasan frekuensi tindakan. Agus juga menyeriusi dengan permintaan tolong dalam puisi tersebut. Agus sedikit kurang percaya, ada perasaan bimbang, jengkel sebab maksud hatinya tak kunjung tersambung.

Omong-omong soal dugaan, Agus memang nakal meracik puisinya dengan kemasan yang terkesan jenaka dan main-main. Misalnya, dalam puisi yang berjudul Kata berikut: Siapa saja punya dugaan/ sehingga kata berhenti di kening diri/ tak berlanjut aktivitas/ tak bergerak tubuh diam/ remaja muda di tepi jalan/ menunggu sosok lewat tak pernah ada./ Siapa saja boleh meragu/ saat hening dan rindu/ tetapi hati tidak boleh lelah dan mau dimadu/ weh! Diri jadi remeh!./ Siapa boleh sepakat/ setelah akad dikumandangkan/ kedua pihak meneteskan tinta di buku pernikahan/ asyik juga kehidupan selanjutnya/ boleh dibuktikan (hlm 15).

Baca Juga :  Pansus Temukan 24 Permasalahan LKPj

Barangkali Agus benar, kita patut curiga, perihal kata yang hanya berhenti di mulut dengan jiwa yang diam dan tak berlanjut ke aktivitas. Kita boleh ragu ketika diri dianggap remeh meskipun jiwa-jiwa bergejolak rindu sehingga tak menutup kemungkinan gairah rasa digadaikan dan dimadu. Dan juga, boleh sepakat dengan kata yang berlandaskan pembuktian nyata. Memang kita diajak lebih serius memaknai kata yang membuncah dalam kehidupan kita ini.

Kita diperkenankan membujuk diri sendiri dan melontarkan cerita-cerita, bahkan ketika membaca puisi. Misalnya membaca puisi yang berjudul Rabu Berkata Kamis Bermakna berikut: Urut demi polong/ berkata dulu baru bermakna/ bila perlu diam/ maka diammu pun harus bermakna./ Kata yang kau lepas pasti dibalas/ padahal belum paham diri/ sehingga tidak sampai/ berada di huruf demi huruf saja./ Rabu berkata kamis bermakna/ hari lebih baik dari hari yang kemarin (hlm 124).

Kita secara langsung dapat merespons diri bahwa, diam pun harus bermakna, dengan seketika kita boleh melempar pertanyaan atau melakukan identifikasi diri sehingga dialog senyap yang penuh makna dapat langgeng tercipta. 

 

AGUS WEDI

Penikmat Buku

 

MENJADI dosen semestinya tak melulu ngoceh dan menyuruh bertugas bagi mahasiswa. Banyak hal yang barangkali harus direnungkan sehingga bisa bertransformasi ilmu pengetahuan dengan baik. Tapi, kadang kita kerap saksikan dosen begitu lihai untuk tidak berbuat apa-apa.

Contoh kecil, silabi terancang dari sekian lama tanpa perubahan dan menjadi kesepakatan belajar mengajar. Pergolakan kreativitas untuk mengajak mahasiswa kadang tak ditemui. Apalagi mencoba menulis buku sebagai rujukan mahasiswa. Tidak apa-apa, yang penting bisa tampil di dalam kelas dengan gagah. Itu saja!

Agus Budi Wahyudi, dosen Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), agaknya bosan untuk tidak berbuat suatu perubahan. Dalam dirinya harus mewartakan penemuan baru dan mengeksistensikan ilmu sastranya. Baik ditulis di beranda Facebook (FB) dan dalam bentuk buku. Saya memberikan tepuk tangan untuk kedatangan buku barunya Sehimpun Puisi Penjati Kata 2017.


Karya Agus ini dapat memberikan sinergi keromantisan penjati kata. Buku ini mencoba melakukan eksperimen dengan menuturkan makna-makna secara puitis. Agus mencoba merayu untuk mendalami sebuah makna.

Ia mengajak dengan serius tapi sedikit nakal, menulis: Tolong dengarkan ya?/ kubaca nyaring sebuah kata/ tapi aku tidak paham makna./ Kusimpan di dalam hati/ siapa tahu kau melihatnya./ Tolong dengarkan ya?/ berkali kuucap nyaring/ agar terdengar sampai ke telinga./ Urutan huruf dalam aksaraMu/ aku satu huruf saja/ yang lupa melantunkan demi orang lain (hlm 6).

Baca Juga :  MPM Honda Jatim Ikut Sukseskan Ayo Menulis

Menurut Agus, kata yang bernada puitis tak harus melulu diamandemen dalam diri dan hati manusia. Tak harus dirasakan dengan sendu sehingga melantunkan suara haru. Cukup manusia bisa memutuskan perkara makna yang terkandung di dalam kata yang bisa menghubungkan dengan hati dan tindakan diri.

Agus menduga hal-hal seperti itu terjadi di kehidupan manusia sekarang. Dugaan Agus banyak kata yang hanya berhenti di dalam diri yang diam, di jalan-jalan, sesumpahan-sesumpahan yang tak menemukan kejelasan frekuensi tindakan. Agus juga menyeriusi dengan permintaan tolong dalam puisi tersebut. Agus sedikit kurang percaya, ada perasaan bimbang, jengkel sebab maksud hatinya tak kunjung tersambung.

Omong-omong soal dugaan, Agus memang nakal meracik puisinya dengan kemasan yang terkesan jenaka dan main-main. Misalnya, dalam puisi yang berjudul Kata berikut: Siapa saja punya dugaan/ sehingga kata berhenti di kening diri/ tak berlanjut aktivitas/ tak bergerak tubuh diam/ remaja muda di tepi jalan/ menunggu sosok lewat tak pernah ada./ Siapa saja boleh meragu/ saat hening dan rindu/ tetapi hati tidak boleh lelah dan mau dimadu/ weh! Diri jadi remeh!./ Siapa boleh sepakat/ setelah akad dikumandangkan/ kedua pihak meneteskan tinta di buku pernikahan/ asyik juga kehidupan selanjutnya/ boleh dibuktikan (hlm 15).

Baca Juga :  Puisi Madura Baiq Camazy*

Barangkali Agus benar, kita patut curiga, perihal kata yang hanya berhenti di mulut dengan jiwa yang diam dan tak berlanjut ke aktivitas. Kita boleh ragu ketika diri dianggap remeh meskipun jiwa-jiwa bergejolak rindu sehingga tak menutup kemungkinan gairah rasa digadaikan dan dimadu. Dan juga, boleh sepakat dengan kata yang berlandaskan pembuktian nyata. Memang kita diajak lebih serius memaknai kata yang membuncah dalam kehidupan kita ini.

Kita diperkenankan membujuk diri sendiri dan melontarkan cerita-cerita, bahkan ketika membaca puisi. Misalnya membaca puisi yang berjudul Rabu Berkata Kamis Bermakna berikut: Urut demi polong/ berkata dulu baru bermakna/ bila perlu diam/ maka diammu pun harus bermakna./ Kata yang kau lepas pasti dibalas/ padahal belum paham diri/ sehingga tidak sampai/ berada di huruf demi huruf saja./ Rabu berkata kamis bermakna/ hari lebih baik dari hari yang kemarin (hlm 124).

Kita secara langsung dapat merespons diri bahwa, diam pun harus bermakna, dengan seketika kita boleh melempar pertanyaan atau melakukan identifikasi diri sehingga dialog senyap yang penuh makna dapat langgeng tercipta. 

 

AGUS WEDI

Penikmat Buku

 

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/