alexametrics
23 C
Madura
Sunday, June 26, 2022

Mantan Jurnalis Sulap Tempat Mesum Bukit Brukoh Jadi Wisata Populer

PAMEKASAN – Sebelum dikelola Moh. Mokri, Bukit Brukoh di Desa Bajang, Kecamatan Pakong, identik dengan tempat mesum. Bahkan suatu ketika ada sepasang remaja yang tertangkap warga sedang mesum di tempat tersebut. Namun dalam satu tahun, tempat itu menjadi jujukan wisatawan.

Pria berkulit sawo matang itu memandang ke selatan. Dari jauh, terlihat burung-burung beterbangan. Bukit-bukit tampak hijau. Sesekali dia menggunakan smartphone untuk foto selfie berlatar alam bebas.

Lelaki bernama lengkap Moh. Mokri itu sesekali memperbaiki letak kacamatanya. Mokri memang suka mengenakan kacamata lensa gelap. Terutama ketika sedang berada di tempat-tempat wisata.

Termasuk saat meninjau Bukit Brukoh, objek wisata yang setahun terakhir dikelolanya bersama pemuda Desa Bajang. ”Bukit ini dulu identik dengan tempat mesum. Sebab, di sini dulu sepi dan banyak semak-semak,” ujar Mokri sembari turun dari tangga bukit.

Namun setelah dikelola dengan baik dan dibangun fasilitas untuk spot foto, tidak ada lagi remaja yang berani berbuat mesum di Bukit Brukoh. Setiap hari tempat ini ramai pengunjung. Pasangan muda-mudi yang akan berbuat tidak senonoh malu kepada pengunjung serta pengelola wisata.

Baca Juga :  Naik Motor Bawa Sabu, Warga Nyabakan Ditangkap di Sawah

Inisiatif mengelola Bukit Brukoh bukan muncul serta-merta. Pengalaman Mokri sebagai jurnalis selama kurang lebih sepuluh tahun membuat dia memiliki banyak referensi. Apalagi saat aktif di organisasi kewartawanan, dia sering menggelar kegiatan di objek-objek wisata.

”Saya juga sering hunting-hunting foto di tempat-tempat wisata. Jadi, banyak referensi dalam membangun bukit ini,” tegasnya.

Ide membangun Bukit Brukoh semakin matang saat dia terpilih menjadi kepala Desa (Kades) Bajang pada akhir 2015. Mantan pengurus Aliansi Jurnalis Pamekasan (AJP) ini pun langsung tancap gas. Dia kumpulkan pemuda-pemuda desa untuk mengelola objek wisata itu.

Pertama-tama, pria kelahiran 5 Oktober 1984 ini memasang plang kayu bertulis kalimat-kalimat menggugah. Setelah itu, perlahan-lahan beragam fasilitas dibangun. Mulai simbol cinta berbentuk hati dengan tulisan Brukoh Hill. Kemudian, tulisan besar yang ikonik Bukit Brukoh. Kedua tempat ini sering dijadikan spot swafoto oleh pengunjung yang mayoritas masih remaja.

Baca Juga :  Transaksi SS di Rumah, Lima Remaja di Bangkalan Dibekuk Polisi

Pengalaman sebagai jurnalis membuat alumnus PP Alhamidi Banyuanyar ini bisa membantu masyarakat sekitar. Setiap saat dia bisa menguruskan dokumen kependudukan warga ke dispendukcapil.

Termasuk permasalahan-permasalahan hukum juga dibantu oleh Mokri. Tak heran ketika dia mencalonkan diri sebagai Kades, dengan mudah dia mendapat dukungan dari warga. ”Saya berpesan kepada teman-teman jurnalis, kalau ada warga sekitar yang membutuhkan bantuan, silakan dibantu. Itu pasti akan ada pahalanya, baik di dunia atau akhirat,” sarannya.

Pengalaman sebagai jurnalis juga membuatnya tahu bagaimana mempromosikan wisata yang dikelolanya. Selain memanfaatkan media sosial, kerap dia berkomunikasi dengan para jurnalis di Kota Gerbang Salam. Wisata ini pun kerap muncul di media-media lokal dan nasional, baik cetak maupun elektronik.

”Alhamdulillah pengunjung membeludak. Bahkan pada Hari Raya Ketupat pengunjung mencapai 5 ribu orang lebih,” jelas mantan bendahara Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pamekasan tersebut.

PAMEKASAN – Sebelum dikelola Moh. Mokri, Bukit Brukoh di Desa Bajang, Kecamatan Pakong, identik dengan tempat mesum. Bahkan suatu ketika ada sepasang remaja yang tertangkap warga sedang mesum di tempat tersebut. Namun dalam satu tahun, tempat itu menjadi jujukan wisatawan.

Pria berkulit sawo matang itu memandang ke selatan. Dari jauh, terlihat burung-burung beterbangan. Bukit-bukit tampak hijau. Sesekali dia menggunakan smartphone untuk foto selfie berlatar alam bebas.

Lelaki bernama lengkap Moh. Mokri itu sesekali memperbaiki letak kacamatanya. Mokri memang suka mengenakan kacamata lensa gelap. Terutama ketika sedang berada di tempat-tempat wisata.


Termasuk saat meninjau Bukit Brukoh, objek wisata yang setahun terakhir dikelolanya bersama pemuda Desa Bajang. ”Bukit ini dulu identik dengan tempat mesum. Sebab, di sini dulu sepi dan banyak semak-semak,” ujar Mokri sembari turun dari tangga bukit.

Namun setelah dikelola dengan baik dan dibangun fasilitas untuk spot foto, tidak ada lagi remaja yang berani berbuat mesum di Bukit Brukoh. Setiap hari tempat ini ramai pengunjung. Pasangan muda-mudi yang akan berbuat tidak senonoh malu kepada pengunjung serta pengelola wisata.

Baca Juga :  Penetapan Tiga Besar Tunggu Rekam Jejak

Inisiatif mengelola Bukit Brukoh bukan muncul serta-merta. Pengalaman Mokri sebagai jurnalis selama kurang lebih sepuluh tahun membuat dia memiliki banyak referensi. Apalagi saat aktif di organisasi kewartawanan, dia sering menggelar kegiatan di objek-objek wisata.

”Saya juga sering hunting-hunting foto di tempat-tempat wisata. Jadi, banyak referensi dalam membangun bukit ini,” tegasnya.

Ide membangun Bukit Brukoh semakin matang saat dia terpilih menjadi kepala Desa (Kades) Bajang pada akhir 2015. Mantan pengurus Aliansi Jurnalis Pamekasan (AJP) ini pun langsung tancap gas. Dia kumpulkan pemuda-pemuda desa untuk mengelola objek wisata itu.

Pertama-tama, pria kelahiran 5 Oktober 1984 ini memasang plang kayu bertulis kalimat-kalimat menggugah. Setelah itu, perlahan-lahan beragam fasilitas dibangun. Mulai simbol cinta berbentuk hati dengan tulisan Brukoh Hill. Kemudian, tulisan besar yang ikonik Bukit Brukoh. Kedua tempat ini sering dijadikan spot swafoto oleh pengunjung yang mayoritas masih remaja.

Baca Juga :  Bingung DAK Tak Cair, DPRD Bangkalan Akan Datangi Kemenkeu

Pengalaman sebagai jurnalis membuat alumnus PP Alhamidi Banyuanyar ini bisa membantu masyarakat sekitar. Setiap saat dia bisa menguruskan dokumen kependudukan warga ke dispendukcapil.

Termasuk permasalahan-permasalahan hukum juga dibantu oleh Mokri. Tak heran ketika dia mencalonkan diri sebagai Kades, dengan mudah dia mendapat dukungan dari warga. ”Saya berpesan kepada teman-teman jurnalis, kalau ada warga sekitar yang membutuhkan bantuan, silakan dibantu. Itu pasti akan ada pahalanya, baik di dunia atau akhirat,” sarannya.

Pengalaman sebagai jurnalis juga membuatnya tahu bagaimana mempromosikan wisata yang dikelolanya. Selain memanfaatkan media sosial, kerap dia berkomunikasi dengan para jurnalis di Kota Gerbang Salam. Wisata ini pun kerap muncul di media-media lokal dan nasional, baik cetak maupun elektronik.

”Alhamdulillah pengunjung membeludak. Bahkan pada Hari Raya Ketupat pengunjung mencapai 5 ribu orang lebih,” jelas mantan bendahara Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pamekasan tersebut.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/