alexametrics
21.9 C
Madura
Wednesday, July 6, 2022

Makmurkan Ekonomi Desa, BRI Perkuat Financial Advisory

JAKARTA – Pengelolaan bisnis saat ini makin kompleks seiring perkembangan teknologi. Situasi ini perlu dibarengi dengan kemampuan pengelolaan potensi bisnis yang terbagi dalam wilayah-wilayah terkecil.

Penguasaan data dan informasi pada suatu wilayah tanggungjawab terkecil harus lengkap, faktual. dan bahkan digital. Hal tersebut diungkapkan Direktur Bisnis Mikro BRI Supari.

Menurut Supari, dulu, saat teknologi dokumentasi masih manual dan sangat sederhana, lahirnya ketentuan pokok Agraria (undang-undang terkait Gula hingga tata ruang lahan pertanian dan kehutanan) telah menimbulkan konsekuensi positif atas perekonomian. Khususnya Jawa.

Pulau Jawa yang berbukit, curah hujan tinggi, dengan penduduk padat berhasil dikelola dengan sistem administrasi warisan Hindia Belanda. Itu untuk keuntungan ekonomi dan sosial.

Menguasai Wilayah Terkecil Suatu Bisnis
Bagaimana bisa?. Pengelolaan wilayah direpresentasikan dengan pembagian lahan produktif dan non produktif. Ada persawahan, ladang, kebun dan tanah-tanah hutan.

Tata kelola hutan misalnya, dibagi dalam unit-unit wilayah yang dikelola oleh kesatuan tertentu. Mulai dari Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH), Resor Pengelolaan Hutan (RPH) hingga petak-petak hutan.

Rancang bangun wilayah hutan yang produktif dimulai dari identifikasi dan inventarisasi tipe lahan dan aliran sungai. Termasuk sosial budaya ekonomi masyarakat setempat.

Luas area KPH setara administrasi kota/kabupaten di suatu provinsi. Sedangkan RPH setara administrasi desa/kelurahan di suatu kecamatan.

KPH dipimpin oleh Administratur dan Asper. Sedangkan RPH dipimpin oleh Mantri yang membina beberapa “pesanggem” atau petani petak terkecil di hutan produktif.

Mantri hutan bertugas sebagai pelaksana teknis kehutanan. Dia memastikan hasil hutan produktif dan efisien dengan treatment penanaman yang cocok, dan menguasai data serta informasi seluruh kegiatan.

Mantri hutan memberikan edukasi dan penyuluhan, membina hubungan harmonis dengan aparatur dan lembaga. Termasuk dengan masyarakat.

Filosofi Mantri hutan sama halnya dengan tugas dan peran Mantri BRI. Bedanya, pemangkuan wilayah (tenurial) Mantri hutan berdasar Daerah Aliran Sungai (DAS). Sedangkan Mantri BRI mengikuti administrasi pemerintahan saat ini.

Sosok Mantri digambarkan sebagai seseorang yang paling mengenal dan memahami satu wilayah bisnis terkecil. Begitu juga dengan Mantri Kesehatan, Mantri Hewan atau Suntik, Mantri Sunat, dan Mantri Lurah. Mereka “seorang pelayan” masyarakat suatu desa.

Sekitar 83 ribu desa tersebar di 34 provinsi di Indonesia. Jika terdapat sekitar 27 ribu Mantri BRI, maka setidaknya Mantri BRI mampu melayani dan memberdayakan tiga desa sebagai wilayah bisnisnya.

Baca Juga :  BRI Peduli Beri Beasiswa S2 Pada 36 Jurnalis

Belum lagi jika ditambah resources sinergi ekosistem Ultra Mikro antara BRI, Pegadaian dan PNM. Dengan demikian, total ada 63 ribu. Setiap personil berbanding 1-2 desa.

Berbagai aktivitas dan peran dalam mengembangkan pelaku UMKM setempat tentu tidak serta merta dilakukan begitu saja. Selaku tenaga pemasar, Mantri BRI mengidentifikasi wilayah bisnis sebagai suatu ekosistem, memahami data potensi ekosistem pasar, ekosistem desa dan ekosistem pembayaran termasuk individu pelaku usaha dan lembaga/instansi pengelola.

Dikenal masyarakat karena menyatu dalam ekosistem, memberdayakan karena mengenali kebutuhan usaha dan menjadi rujukan karena telah mengedukasi para pelaku UMKM naik kelas. Secara tidak langsung Mantri BRI berperan sebagai financial advisor dan ikut membangun perekonomian desa.

Membangun Resiliensi Ekosistem Desa
Seolah tidak ingin tenggelam sampai mati di lumbung sendiri, selama 3 tahun pandemi Mantri BRI terus berupaya menjalankan aktivitas dengan melakukan berbagai cara untuk tetap dapat berkomunikasi dengan nasabah maupun calon nasabah.

BRI konsisten memberi layanan terbaik pada UMKM, segmen ekonomi terbesar yang dijalani sebagian besar masyarakat Indonesia. Mantri BRI membina, memberdayakan dan mendukung mereka untuk mengoptimalkan kompetensi usaha dalam meningkatkan kesejahteraan keluarga dan masyarakat di sekitarnya.

Upaya penyelamatan terhadap pelaku usaha terdampak pandemi melalui restrukturisasi betul-betul menjadi tantangan tersendiri bagi Mantri BRI. Sehingga ikut merasakan bagaimana omzet usaha turun karena pasar tutup dan jual beli sepi.

Jalan yang terjal dan curam, naik dan turun gunung, tidak memupus langkah kaki Dewi Hajar Pinuji, seorang Mantri BRI Unit Jatinom, Kantor Cabang Klaten untuk mendatangi rumah-rumah nasabah yang berada di pelosok.

Medan yang cukup berat, bahkan sering mendapati beberapa desa sedang karantina mandiri dan tidak diperkenankan untuk masuk, harus melewati prosedur izin perangkat desa terlebih dulu dengan menjelaskan tujuannya.

Digitalisasi proses dan layanan yang dihadirkan BRI telah dirasakan manfaatnya oleh seluruh Mantri BRI berikut para nasabah melalui pemanfaatan aplikasi BRISPOT. Hingga saat ini, BRISPOT menjadi tools bagi Mantri BRI guna menciptakan fleksibilitas dan efektifitas, sehingga proses kredit termasuk restrukturisasi bisa dilakukan lebih cepat.

Seluruh pengelolaan portofolio bisnis terekam secara digital dan online, menjadi dasar pengelolaan dan tindaklanjut yang lebih presisi pada tiap-tiap ekosistem bisnis.

Spirit Mantri adalah cermin dedikasi BRI untuk terus tumbuh bersama UMKM. Pada tahun 2021, realisasi kredit segmen mikro BRI mencapai Rp 396,96 triliun dengan 13,31 juta debitur, tumbuh double digit. Melalui BRISPOT, produktivitas kredit mikro meningkat dari rata-rata Rp 2,5 triliun menjadi lebih dari Rp 4 triliun per bulan.

Baca Juga :  BRI Liga 1 Jadi Pembuktian Indonesia ke Kancah Internasional

“Di saat bersamaan, kami mengoptimalkan keunggulan infrastruktur dan produk layanan berbasis teknologi informasi. BRI gencar membentuk ekosistem bisnis berbasis digital platform, memungkinkan seluruh pelaku bisnis terkoneksi dengan para konsumennya di seluruh pelosok negeri, bahkan hulu hilir dalam satu rantai bisnis,” katanya.

“Mantri BRI turun melakukan edukasi ke tiap individu ekosistem usaha, mengenalkan value dan benefit penggunaan aplikasi PARI, merubah menjadi digital agar mereka semakin sejahtera dan usaha yang dikelola semakin maju menuju UMKM naik kelas,” ungkap Supari.

Dirut BRI, Sunarso mengatakan prospek pertumbuhan segmen Ultra Mikro di tiap wilayah terbuka lebar. Melalui sinergi ekosistem Ultra Mikro antara BRI, Pegadaian dan PNM memprioritaskan penyediaan akses terhadap masyarakat Ultra Mikro yang belum tersentuh layanan keuangan formal.

Pengelolaan sumberdaya wilayah, penguasaan data ekosistem terus kami benahi. BRI mengembangkan BRIKodes sebagai salah satu langkah transformasi digital perseroan untuk menyimpan dan mengelola data menjadi lebih konsisten dan reliable.

BRI dapat melihat, mempelajari dan mengambil langkah ke depan dari pemetaan data densitas smartphone di setiap area, termasuk behaviour dan aktivitas ekonomi masyarakat dalam sebuah wilayah.

Bagaimana kontribusi BRI di tiap desa, pergeseran pangsa pasar, mana yang sudah dan belum terlayani, menjadi perhatian BRI. Pemetaan ini merupakan inisiatif BRI untuk memberikan layanan keuangan yang inklusif, BRI menargetkan kontribusi ekosistem mikro dan ultra mikro sebesar 70 % dari target inklusi keuangan nasional 90 % pada 2024.

“Melalui visi BRI 2025 The Most Valuable Banking Group in SEA & Champion of Financial Inclusion, kami optimis dapat mengambil peran utama dalam akselerasi inklusi keuangan 90 % pada tahun 2024,” tuturnya.

Untuk mewujudkan hal tersebut, BRI melakukan transformasi bisnis model melalui digitalisasi dan memperkuat kapabilitas pemberdayaan (empowerment capability) atas infrastruktur yang dimiliki. Sehingga dapat memberikan layanan kepada segmen yang belum terlayani secara cepat, mudah dan berbiaya murah”, tegas Direktur Bisnis Mikro BRI, Supari. (*/par)

Informasi mengenai BANK BRI dapat diakses melalui situs www.bri.co.id

JAKARTA – Pengelolaan bisnis saat ini makin kompleks seiring perkembangan teknologi. Situasi ini perlu dibarengi dengan kemampuan pengelolaan potensi bisnis yang terbagi dalam wilayah-wilayah terkecil.

Penguasaan data dan informasi pada suatu wilayah tanggungjawab terkecil harus lengkap, faktual. dan bahkan digital. Hal tersebut diungkapkan Direktur Bisnis Mikro BRI Supari.

Menurut Supari, dulu, saat teknologi dokumentasi masih manual dan sangat sederhana, lahirnya ketentuan pokok Agraria (undang-undang terkait Gula hingga tata ruang lahan pertanian dan kehutanan) telah menimbulkan konsekuensi positif atas perekonomian. Khususnya Jawa.


Pulau Jawa yang berbukit, curah hujan tinggi, dengan penduduk padat berhasil dikelola dengan sistem administrasi warisan Hindia Belanda. Itu untuk keuntungan ekonomi dan sosial.

Menguasai Wilayah Terkecil Suatu Bisnis
Bagaimana bisa?. Pengelolaan wilayah direpresentasikan dengan pembagian lahan produktif dan non produktif. Ada persawahan, ladang, kebun dan tanah-tanah hutan.

Tata kelola hutan misalnya, dibagi dalam unit-unit wilayah yang dikelola oleh kesatuan tertentu. Mulai dari Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH), Resor Pengelolaan Hutan (RPH) hingga petak-petak hutan.

Rancang bangun wilayah hutan yang produktif dimulai dari identifikasi dan inventarisasi tipe lahan dan aliran sungai. Termasuk sosial budaya ekonomi masyarakat setempat.

Luas area KPH setara administrasi kota/kabupaten di suatu provinsi. Sedangkan RPH setara administrasi desa/kelurahan di suatu kecamatan.

KPH dipimpin oleh Administratur dan Asper. Sedangkan RPH dipimpin oleh Mantri yang membina beberapa “pesanggem” atau petani petak terkecil di hutan produktif.

Mantri hutan bertugas sebagai pelaksana teknis kehutanan. Dia memastikan hasil hutan produktif dan efisien dengan treatment penanaman yang cocok, dan menguasai data serta informasi seluruh kegiatan.

Mantri hutan memberikan edukasi dan penyuluhan, membina hubungan harmonis dengan aparatur dan lembaga. Termasuk dengan masyarakat.

Filosofi Mantri hutan sama halnya dengan tugas dan peran Mantri BRI. Bedanya, pemangkuan wilayah (tenurial) Mantri hutan berdasar Daerah Aliran Sungai (DAS). Sedangkan Mantri BRI mengikuti administrasi pemerintahan saat ini.

Sosok Mantri digambarkan sebagai seseorang yang paling mengenal dan memahami satu wilayah bisnis terkecil. Begitu juga dengan Mantri Kesehatan, Mantri Hewan atau Suntik, Mantri Sunat, dan Mantri Lurah. Mereka “seorang pelayan” masyarakat suatu desa.

Sekitar 83 ribu desa tersebar di 34 provinsi di Indonesia. Jika terdapat sekitar 27 ribu Mantri BRI, maka setidaknya Mantri BRI mampu melayani dan memberdayakan tiga desa sebagai wilayah bisnisnya.

Baca Juga :  Ini Dia, Toko yang Menampung Ribuan Produk UMKM Madura

Belum lagi jika ditambah resources sinergi ekosistem Ultra Mikro antara BRI, Pegadaian dan PNM. Dengan demikian, total ada 63 ribu. Setiap personil berbanding 1-2 desa.

Berbagai aktivitas dan peran dalam mengembangkan pelaku UMKM setempat tentu tidak serta merta dilakukan begitu saja. Selaku tenaga pemasar, Mantri BRI mengidentifikasi wilayah bisnis sebagai suatu ekosistem, memahami data potensi ekosistem pasar, ekosistem desa dan ekosistem pembayaran termasuk individu pelaku usaha dan lembaga/instansi pengelola.

Dikenal masyarakat karena menyatu dalam ekosistem, memberdayakan karena mengenali kebutuhan usaha dan menjadi rujukan karena telah mengedukasi para pelaku UMKM naik kelas. Secara tidak langsung Mantri BRI berperan sebagai financial advisor dan ikut membangun perekonomian desa.

Membangun Resiliensi Ekosistem Desa
Seolah tidak ingin tenggelam sampai mati di lumbung sendiri, selama 3 tahun pandemi Mantri BRI terus berupaya menjalankan aktivitas dengan melakukan berbagai cara untuk tetap dapat berkomunikasi dengan nasabah maupun calon nasabah.

BRI konsisten memberi layanan terbaik pada UMKM, segmen ekonomi terbesar yang dijalani sebagian besar masyarakat Indonesia. Mantri BRI membina, memberdayakan dan mendukung mereka untuk mengoptimalkan kompetensi usaha dalam meningkatkan kesejahteraan keluarga dan masyarakat di sekitarnya.

Upaya penyelamatan terhadap pelaku usaha terdampak pandemi melalui restrukturisasi betul-betul menjadi tantangan tersendiri bagi Mantri BRI. Sehingga ikut merasakan bagaimana omzet usaha turun karena pasar tutup dan jual beli sepi.

Jalan yang terjal dan curam, naik dan turun gunung, tidak memupus langkah kaki Dewi Hajar Pinuji, seorang Mantri BRI Unit Jatinom, Kantor Cabang Klaten untuk mendatangi rumah-rumah nasabah yang berada di pelosok.

Medan yang cukup berat, bahkan sering mendapati beberapa desa sedang karantina mandiri dan tidak diperkenankan untuk masuk, harus melewati prosedur izin perangkat desa terlebih dulu dengan menjelaskan tujuannya.

Digitalisasi proses dan layanan yang dihadirkan BRI telah dirasakan manfaatnya oleh seluruh Mantri BRI berikut para nasabah melalui pemanfaatan aplikasi BRISPOT. Hingga saat ini, BRISPOT menjadi tools bagi Mantri BRI guna menciptakan fleksibilitas dan efektifitas, sehingga proses kredit termasuk restrukturisasi bisa dilakukan lebih cepat.

Seluruh pengelolaan portofolio bisnis terekam secara digital dan online, menjadi dasar pengelolaan dan tindaklanjut yang lebih presisi pada tiap-tiap ekosistem bisnis.

Spirit Mantri adalah cermin dedikasi BRI untuk terus tumbuh bersama UMKM. Pada tahun 2021, realisasi kredit segmen mikro BRI mencapai Rp 396,96 triliun dengan 13,31 juta debitur, tumbuh double digit. Melalui BRISPOT, produktivitas kredit mikro meningkat dari rata-rata Rp 2,5 triliun menjadi lebih dari Rp 4 triliun per bulan.

Baca Juga :  Belajar Aoleng dari Vokalis Akhirat

“Di saat bersamaan, kami mengoptimalkan keunggulan infrastruktur dan produk layanan berbasis teknologi informasi. BRI gencar membentuk ekosistem bisnis berbasis digital platform, memungkinkan seluruh pelaku bisnis terkoneksi dengan para konsumennya di seluruh pelosok negeri, bahkan hulu hilir dalam satu rantai bisnis,” katanya.

“Mantri BRI turun melakukan edukasi ke tiap individu ekosistem usaha, mengenalkan value dan benefit penggunaan aplikasi PARI, merubah menjadi digital agar mereka semakin sejahtera dan usaha yang dikelola semakin maju menuju UMKM naik kelas,” ungkap Supari.

Dirut BRI, Sunarso mengatakan prospek pertumbuhan segmen Ultra Mikro di tiap wilayah terbuka lebar. Melalui sinergi ekosistem Ultra Mikro antara BRI, Pegadaian dan PNM memprioritaskan penyediaan akses terhadap masyarakat Ultra Mikro yang belum tersentuh layanan keuangan formal.

Pengelolaan sumberdaya wilayah, penguasaan data ekosistem terus kami benahi. BRI mengembangkan BRIKodes sebagai salah satu langkah transformasi digital perseroan untuk menyimpan dan mengelola data menjadi lebih konsisten dan reliable.

BRI dapat melihat, mempelajari dan mengambil langkah ke depan dari pemetaan data densitas smartphone di setiap area, termasuk behaviour dan aktivitas ekonomi masyarakat dalam sebuah wilayah.

Bagaimana kontribusi BRI di tiap desa, pergeseran pangsa pasar, mana yang sudah dan belum terlayani, menjadi perhatian BRI. Pemetaan ini merupakan inisiatif BRI untuk memberikan layanan keuangan yang inklusif, BRI menargetkan kontribusi ekosistem mikro dan ultra mikro sebesar 70 % dari target inklusi keuangan nasional 90 % pada 2024.

“Melalui visi BRI 2025 The Most Valuable Banking Group in SEA & Champion of Financial Inclusion, kami optimis dapat mengambil peran utama dalam akselerasi inklusi keuangan 90 % pada tahun 2024,” tuturnya.

Untuk mewujudkan hal tersebut, BRI melakukan transformasi bisnis model melalui digitalisasi dan memperkuat kapabilitas pemberdayaan (empowerment capability) atas infrastruktur yang dimiliki. Sehingga dapat memberikan layanan kepada segmen yang belum terlayani secara cepat, mudah dan berbiaya murah”, tegas Direktur Bisnis Mikro BRI, Supari. (*/par)

Informasi mengenai BANK BRI dapat diakses melalui situs www.bri.co.id

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/