alexametrics
21.1 C
Madura
Wednesday, July 6, 2022

Dirut BRI Tegaskan Komitmen Dorong Inklusi Keuangan dan Penerapan ESG

SWISS – Even World Economic Forum (WEF) 2022 bertema “Working Together, Restoring Trust” diselenggarakan di Davos mulai 22 – 26 Mei. Perwakilan BRI yang menghadiri forum ekonomi tingkat dunia itu adalah Dirut BRI Sunarso.

Sunarso menuturkan, jumlah partisipan yang hadir dalam WEF 2022 sekitar 2.000 orang. Ribuan orang itu, merupakan perwakilan tokoh-tokoh berpengaruh di dunia.

Mulai pemimpin negara, regulator, top CEO perusahaan global, dan pihak-pihak yang berpengaruh lainnya. Topik bahasan utama di antaranya globalisasi, digitalisasi, implementasi ESG Global, serta inklusi keuangan.

Topik pertama membahas evaluasi dampak globalisasi serta tren globalisasi di masa depan. Para panelis melihat bahwa globalisasi telah mendorong pertumbuhan ekonomi global.

Namun, saat ini terdapat kecenderungan terjadi “fragmentasi” dalam skala regional bahkan domestik. Hal itu diperkirakan dapat mengganggu laju pertumbuhan ekonomi global di masa datang.

Faktor yang mendorong terjadinya fragmentasi tersebut antara lain pandemic Covid-19, perkembangan geopolitik, trade dispute, dan lain sebagainya.

Menyikapi kecenderungan terjadinya fragmentasi yang dapat menghambat pertumbuhan ekonomi global tersebut, para panelis menekankan pentingnya kolaborasi dan kerjasama antara semua pihak.

Isu-isu yang berkaitan dengan pandemi, perubahan iklim, geopolitik, pertumbuhan ekonomi, cyber security, dan masalah global lainnya dapat diatasi jika dilakukan secara kolaboratif.

Topik kedua adalah hal-hal yang berkaitan dengan isu Environment, Social and Governance (ESG). ESG memiliki peranan penting untuk mendukung sustainability atau keberlanjutan kehidupan manusia serta mendorong tingkat kemakmuran (prosperity).

“BRI melihat bahwa pelaku usaha segmen UMKM sebagai pendorong utama pertumbuhan ekonomi Indonesia, memegang peranan penting dalam penerapan prinsip-prinsip ESG ke depan,” katanya.

Baca Juga :  BRI Serahkan Bantuan ke Pengadilan Negeri

“Karena itu, menjadi hal yang crucial untuk memberikan edukasi untuk meningkatkan awareness dari para pelaku usaha UMKM akan pentingnya memastikan keberlanjutan usaha mereka melalui penerapan prinsip-prinsip ESG,” ungkapnya.

Sunarso menjelaskan, BRI juga melihat penerapan ESG yang konsisten dan terarah harus dimulai dari concern utama. Yaitu Governance.

Dengan Governance yang baik, penerapan ESG diharapkan akan lebih terarah dan terukur. Sehingga, dapat mendorong keberlangsungan usaha yang dijalankan. “Tone from the top” atau inisiasi dari Leader/Pimpinan menjadi elemen penting untuk mendorong penerapan sisi Governance.

Topik terakhir terkait dengan inklusi keuangan. Inklusi keuangan yang melibatkan kontribusi dari banyak pelaku usaha (inclusivity) untuk pemerataan ekonomi dan kesejahteraan (prosperity).

Namun demikian, pandemic covid-19 memberikan pelajaran bagi kita bahwa selain inklusi keuangan, hal critical lain yang perlu ditindak-lanjuti adalah digitalisasi. Isu ini sangat relevan dengan apa yang terjadi di Indonesia.

“Inklusi keuangan di Indonesia tercatat sebesar 76 % dan pemerintah mentargetkan menjadi 90 % pada 2024. Namun financial literacy index di Indonesia masih relative rendah di bawah 40 %,” ulasnya.

Sunarso mengungkapkan, BRI sebagai salah satu bank terbesar di Indonesia yang telah lama berkecimpung dalam pengembangan bisnis UMKM di Indonesia, telah mempelajari karakteristik nasabah. Survei dilakukan pada 2020.

•.Nasabah UMKM, terutama Mikro dan Ultra Mikro mempunyai pengetahuan yang terbatas mengenai produk-produk keuangan.

•.Nasabah tidak nyaman dengan produk pinjaman konvensional perbankan yang memiliki term & condition yang kaku (rigid). Sebab, nasabah tidak mempunyai cashflow yang stabil

Baca Juga :  Pungutan Lelang Jabatan Bikin Wabup Geram

• Nasabah membutuhkan lembaga keuangan terpercaya dengan karakteristik local. Proximity atau kedekatan jarak dan Trust merupakan pertimbangan utama nasabah dalam mengakses layanan keuangan perbankan.

BRI terus melakukan inovasi untuk menjawab tantangan tersebut. Sehingga, masyarakat memiliki peluang yang sama untuk mengakses layanan keuangan yang lengkap dan sustainable. Sehingga dapat mendukung pengembangan bisnis dan peningkatan kualitas hidup, melalui:

1. BRILink Agent, merupakan suatu layanan branchless banking yang dilakukan Agent Bank melalui channel digital. Sehingga, nasabah yakin transaksi yang dilakukan aman. Penggunaan hybrid channel, kombinasi physical dan digital ini, secara tidak langsung mengedukasi dan memudahkan nasabah. Saat ini, jumlah BRILink Agent lebih dari 530 ribu agen dan tersebar di lebih dari 53 ribu desa.

2. Pengembangan peran Digital Advisor untuk memberikan edukasi kepada nasabah mengenai produk keuangan digital. Termasuk mendidik nasabah agar terhindar dari kejahatan digital lainnya.

3. Pengembangan ekosistem bisnis secara digital. Sehingga transaksi keuangan harian nasabah terus-menerus dilakukan secara digital.

Hal-hal tersebut telah disampaikan BRI dalam Forum Annual Meeting WEF 2022, sebagai bagian dari kontribusi pemikiran BRI dalam spirit promoting global prosperity (https://www.weforum.org/agenda/2022/05/digitalization-financial-inclusion-in-indonesia).

Sunarso menegaskan, BRI ke depan secara konsisten menerapkan prinsip-prinsip ESG serta berkontribusi aktif dalam pencapaian inklusi keuangan di Indonesia. Termasuk memastikan keberlanjutan bisnis. Sehingga BRI tetap mampu memberikan manfaat yang optimal bagi seluruh stakeholder. (*/par)

SWISS – Even World Economic Forum (WEF) 2022 bertema “Working Together, Restoring Trust” diselenggarakan di Davos mulai 22 – 26 Mei. Perwakilan BRI yang menghadiri forum ekonomi tingkat dunia itu adalah Dirut BRI Sunarso.

Sunarso menuturkan, jumlah partisipan yang hadir dalam WEF 2022 sekitar 2.000 orang. Ribuan orang itu, merupakan perwakilan tokoh-tokoh berpengaruh di dunia.

Mulai pemimpin negara, regulator, top CEO perusahaan global, dan pihak-pihak yang berpengaruh lainnya. Topik bahasan utama di antaranya globalisasi, digitalisasi, implementasi ESG Global, serta inklusi keuangan.


Topik pertama membahas evaluasi dampak globalisasi serta tren globalisasi di masa depan. Para panelis melihat bahwa globalisasi telah mendorong pertumbuhan ekonomi global.

Namun, saat ini terdapat kecenderungan terjadi “fragmentasi” dalam skala regional bahkan domestik. Hal itu diperkirakan dapat mengganggu laju pertumbuhan ekonomi global di masa datang.

Faktor yang mendorong terjadinya fragmentasi tersebut antara lain pandemic Covid-19, perkembangan geopolitik, trade dispute, dan lain sebagainya.

Menyikapi kecenderungan terjadinya fragmentasi yang dapat menghambat pertumbuhan ekonomi global tersebut, para panelis menekankan pentingnya kolaborasi dan kerjasama antara semua pihak.

Isu-isu yang berkaitan dengan pandemi, perubahan iklim, geopolitik, pertumbuhan ekonomi, cyber security, dan masalah global lainnya dapat diatasi jika dilakukan secara kolaboratif.

Topik kedua adalah hal-hal yang berkaitan dengan isu Environment, Social and Governance (ESG). ESG memiliki peranan penting untuk mendukung sustainability atau keberlanjutan kehidupan manusia serta mendorong tingkat kemakmuran (prosperity).

“BRI melihat bahwa pelaku usaha segmen UMKM sebagai pendorong utama pertumbuhan ekonomi Indonesia, memegang peranan penting dalam penerapan prinsip-prinsip ESG ke depan,” katanya.

Baca Juga :  PDIP Rombak Jatah Pimpinan AKD

“Karena itu, menjadi hal yang crucial untuk memberikan edukasi untuk meningkatkan awareness dari para pelaku usaha UMKM akan pentingnya memastikan keberlanjutan usaha mereka melalui penerapan prinsip-prinsip ESG,” ungkapnya.

Sunarso menjelaskan, BRI juga melihat penerapan ESG yang konsisten dan terarah harus dimulai dari concern utama. Yaitu Governance.

Dengan Governance yang baik, penerapan ESG diharapkan akan lebih terarah dan terukur. Sehingga, dapat mendorong keberlangsungan usaha yang dijalankan. “Tone from the top” atau inisiasi dari Leader/Pimpinan menjadi elemen penting untuk mendorong penerapan sisi Governance.

Topik terakhir terkait dengan inklusi keuangan. Inklusi keuangan yang melibatkan kontribusi dari banyak pelaku usaha (inclusivity) untuk pemerataan ekonomi dan kesejahteraan (prosperity).

Namun demikian, pandemic covid-19 memberikan pelajaran bagi kita bahwa selain inklusi keuangan, hal critical lain yang perlu ditindak-lanjuti adalah digitalisasi. Isu ini sangat relevan dengan apa yang terjadi di Indonesia.

“Inklusi keuangan di Indonesia tercatat sebesar 76 % dan pemerintah mentargetkan menjadi 90 % pada 2024. Namun financial literacy index di Indonesia masih relative rendah di bawah 40 %,” ulasnya.

Sunarso mengungkapkan, BRI sebagai salah satu bank terbesar di Indonesia yang telah lama berkecimpung dalam pengembangan bisnis UMKM di Indonesia, telah mempelajari karakteristik nasabah. Survei dilakukan pada 2020.

•.Nasabah UMKM, terutama Mikro dan Ultra Mikro mempunyai pengetahuan yang terbatas mengenai produk-produk keuangan.

•.Nasabah tidak nyaman dengan produk pinjaman konvensional perbankan yang memiliki term & condition yang kaku (rigid). Sebab, nasabah tidak mempunyai cashflow yang stabil

Baca Juga :  BRI Serahkan CSR untuk UMKM dan Korban Tanah Longsor

• Nasabah membutuhkan lembaga keuangan terpercaya dengan karakteristik local. Proximity atau kedekatan jarak dan Trust merupakan pertimbangan utama nasabah dalam mengakses layanan keuangan perbankan.

BRI terus melakukan inovasi untuk menjawab tantangan tersebut. Sehingga, masyarakat memiliki peluang yang sama untuk mengakses layanan keuangan yang lengkap dan sustainable. Sehingga dapat mendukung pengembangan bisnis dan peningkatan kualitas hidup, melalui:

1. BRILink Agent, merupakan suatu layanan branchless banking yang dilakukan Agent Bank melalui channel digital. Sehingga, nasabah yakin transaksi yang dilakukan aman. Penggunaan hybrid channel, kombinasi physical dan digital ini, secara tidak langsung mengedukasi dan memudahkan nasabah. Saat ini, jumlah BRILink Agent lebih dari 530 ribu agen dan tersebar di lebih dari 53 ribu desa.

2. Pengembangan peran Digital Advisor untuk memberikan edukasi kepada nasabah mengenai produk keuangan digital. Termasuk mendidik nasabah agar terhindar dari kejahatan digital lainnya.

3. Pengembangan ekosistem bisnis secara digital. Sehingga transaksi keuangan harian nasabah terus-menerus dilakukan secara digital.

Hal-hal tersebut telah disampaikan BRI dalam Forum Annual Meeting WEF 2022, sebagai bagian dari kontribusi pemikiran BRI dalam spirit promoting global prosperity (https://www.weforum.org/agenda/2022/05/digitalization-financial-inclusion-in-indonesia).

Sunarso menegaskan, BRI ke depan secara konsisten menerapkan prinsip-prinsip ESG serta berkontribusi aktif dalam pencapaian inklusi keuangan di Indonesia. Termasuk memastikan keberlanjutan bisnis. Sehingga BRI tetap mampu memberikan manfaat yang optimal bagi seluruh stakeholder. (*/par)

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/