alexametrics
20.6 C
Madura
Wednesday, August 10, 2022

Menunggu Tanamkan Kesabaran

MENDENGAR kata ”menunggu”, sebagian orang akan mengaitkan dengan lantunan Ridho Rhoma Menunggu. Ketika musik ini dilantunkan, pencinta musik dangdut mungkin akan menggerak-gerakkan sebagian jari atau kaki.  Mungkin juga akan menggoyang-goyangkan kepala. Disesuaikan dengan nada lagu. Baginya, ”menunggu” merupakan sesuatu yang sangat mengasyikkan.

Di sisi lain, kita akrab dengan kalimat ”menunggu adalah pekerjaan paling membosankan”. Tak jarang, kita melihat raut muka masam seseorang ketika sedang menunggu sesuatu. Terkadang, dia menoleh ke kanan atau ke kiri untuk memastikan yang ditunggu sudah datang atau sebaliknya.

Walhasil, dia gusar dan galau karena melakukan aktivitas ”menunggu”. Mungkin, dia terlalu yakin bahwa menunggu betul-betul merupakan sesuatu pekerjaan yang sangat membosankan.

Ketika saya nyantri dulu, aktivitas menunggu merupakan salah satu bagian yang harus dihadapi; menunggu untuk mendapat giliran wudu di kamar mandi, menunggu untuk mendapat air ketika hendak memasak nasi, atau menunggu muallim—guru, ustad, Pak Kiai–mengajari santri tentang ilmu agama.

Para santri menunggu beliau sambil membaca nadzam kitab atau melantunkan salawat nabi. Terkadang, mereka menunggu hingga setengah jam. Uniknya, mereka tak pernah menggerutu.

Ketika Pak Kiai ke musala, mereka berebut membalikkan sandalnya. Ketika turun dari musala, Pak Kiai tidak perlu membalikkan tubuhnya untuk memasang kedua sandal. Mereka merasa bangga melakukan hal seperti itu. Kitab Taklimul Mutaallimin melekat dalam diri mereka. Sungguh ini salah satu nilai luhur pesantren.

Akhir-akhir ini, saya baru memahami bahwa menunggu muallim bagian proses belajar-mengajar. Aktivitas ”menunggu” merupakan bagian dari belajar santri. Mereka dituntut belajar memperbaiki diri dan menata hati agar bisa bersabar. Ketika hal ini dilakukan secara terus-menerus dalam jiwa santri akan tertanam sesuatu sangat berharga, kesabaran.

Baca Juga :  Instruksikan Pembubaran Kajian ILC, Ini Alasan Rektor IAIN Madura

Pesantren tidak sekadar menjejali teori kepada santri. Tetapi dia juga mendidik rohani agar santrinya memiliki mental kuat. Pesantren tidak hanya mencetak santri untuk menjadi kepala desa, camat, bupati, wali kota, atau bahkan presiden. Pesantren juga mendidik dan mencetak santri agar memiliki mental yang berlandaskan Alquran dan Al-Hadis.

Pesantren mendidik santri agar memiliki kesabaran tinggi dengan tidak tergesa-gesa menjadi orang kaya tetapi menyerobot hak orang lain. Pesantren mendidik santri agar tidak ikut korup di tengah sistem yang korup. Pesantren mendidik santri agar bisa menerapkan ”Qul al-haqqo walau kaana murron”, ”Sampaikan yang benar walaupun terasa pahit adanya”. Ini membutuhkan sebuah kesabaran yang tinggi.

Pada zaman mutakhir ini, kesabaran menunggu muallim tiba di kelas perlu ditanamkan di kalangan santri (termasuk pelajar). Etika santri atau pelajar kepada muallim semakin punah. Tidak sedikit mereka meninggalkan kelas karena muallim datang terlambat. Saya tidak membela muallim yang datang terlambat. Saya hanya ingin menyampaikan bahwa menunggu adalah bagian dari proses belajar. Santri dididik menata hati agar mampu bersabar menghadapi cobaan.

Masihkah kita mengingat kisah Raden Said atau Sunan Kalijaga yang ingin berguru kepada Sunan Bonang? Sunan Bonang ingin menerima Raden Said menjadi muridnya dengan syarat Raden Said harus menunggui tongkat yang ditancapkan di pinggir kali. Sebelum Sunan Bonang kembali ke tempat itu, Raden Said tidak boleh ke mana-mana. Raden Said menunggu sang guru hingga bertahun-tahun. Akar dan rerumputan merambati tubuhnya dan hampir menutupi sebagian besar anggota tubuhnya. Sungguh pemandangan yang sangat menakjubkan.

Baca Juga :  Pemotor Tak Pakai Helm Terobos Area CFD, Begini Kata Kapolres Sumenep

Saya terenyuh ketika mendengar cerita dua wali tersebut. Betapa sabar Raden Said menunggu sang guru hingga bertahun-tahun. Fenomena ini perlu diketuk tularkan kepada santri dan pelajar sebagai reorientasi pemikiran. Bahwa pola pendidikan bukan hanya tatap muka muallim dengan santri. Bukan sekadar tatap muka ustad atau Pak Kiai dengan santri. Ada pola pendidikan yang kasatmata dan memiliki peran besar dalam membentuk kepribadian santri.

Nilai-nilai luhur seperti ini yang akan mengukuhkan keutuhan NKRI. Tak heran jika pemerintah memiliki perhatian besar terhadap pesantren. Pesantren memiliki peluang besar untuk mengembangkan keilmuan kepada santrinya. Menurut Asrori S. Karni (2009; xxxviii), pemerintah semakin merangkul pesantren dalam sistem pendidikan nasional. Partisipasi pesantren demikian itu, menyumbang kemajuan wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun.

Bagi pesantren, hal itu meneguhkan kiprah pesantren dalam mencerdaskan masyarakat akar rumput. Keterlibatan demikian juga menjadi ruang improvisasi kiprah pesantren di tengah masyarakat dengan tantangan yang terus berkembang.

Perhatian pemerintah terhadap pesantren harus diimbangi dengan nilai luhur yang harus dipertahankan santri. Seperti takzim kepada muallim walaupun mereka hanya mengajarinya satu huruf. Nilai luhur tersebut harus menjadi roh kehidupan santri setelah mengabdikan diri di tengah masyarakat. Di tengah hiruk-pikuk kondisi negeri yang semakin semrawut.

Jika Ridho Rhoma mampu menunggu, mengapa santri harus menggerutu ketika menunggu muallim yang tak kunjung datang di majelis taklim? Mari kita tanamkan dalam keyakinan bahwa tidak semua aktivitas menunggu merupakan sesuatu yang membosankan. Menunggu muallim adalah bagian dari belajar; belajar menata hati untuk bersabar. 

 

*)Alumnus Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata, Pamekasan. Mengabdi sebagai Dosen IAIN Madura.

 

MENDENGAR kata ”menunggu”, sebagian orang akan mengaitkan dengan lantunan Ridho Rhoma Menunggu. Ketika musik ini dilantunkan, pencinta musik dangdut mungkin akan menggerak-gerakkan sebagian jari atau kaki.  Mungkin juga akan menggoyang-goyangkan kepala. Disesuaikan dengan nada lagu. Baginya, ”menunggu” merupakan sesuatu yang sangat mengasyikkan.

Di sisi lain, kita akrab dengan kalimat ”menunggu adalah pekerjaan paling membosankan”. Tak jarang, kita melihat raut muka masam seseorang ketika sedang menunggu sesuatu. Terkadang, dia menoleh ke kanan atau ke kiri untuk memastikan yang ditunggu sudah datang atau sebaliknya.

Walhasil, dia gusar dan galau karena melakukan aktivitas ”menunggu”. Mungkin, dia terlalu yakin bahwa menunggu betul-betul merupakan sesuatu pekerjaan yang sangat membosankan.


Ketika saya nyantri dulu, aktivitas menunggu merupakan salah satu bagian yang harus dihadapi; menunggu untuk mendapat giliran wudu di kamar mandi, menunggu untuk mendapat air ketika hendak memasak nasi, atau menunggu muallim—guru, ustad, Pak Kiai–mengajari santri tentang ilmu agama.

Para santri menunggu beliau sambil membaca nadzam kitab atau melantunkan salawat nabi. Terkadang, mereka menunggu hingga setengah jam. Uniknya, mereka tak pernah menggerutu.

Ketika Pak Kiai ke musala, mereka berebut membalikkan sandalnya. Ketika turun dari musala, Pak Kiai tidak perlu membalikkan tubuhnya untuk memasang kedua sandal. Mereka merasa bangga melakukan hal seperti itu. Kitab Taklimul Mutaallimin melekat dalam diri mereka. Sungguh ini salah satu nilai luhur pesantren.

Akhir-akhir ini, saya baru memahami bahwa menunggu muallim bagian proses belajar-mengajar. Aktivitas ”menunggu” merupakan bagian dari belajar santri. Mereka dituntut belajar memperbaiki diri dan menata hati agar bisa bersabar. Ketika hal ini dilakukan secara terus-menerus dalam jiwa santri akan tertanam sesuatu sangat berharga, kesabaran.

Baca Juga :  Lomba Musik Patrol dan Daul Combo Bakal Lebih Meriah

Pesantren tidak sekadar menjejali teori kepada santri. Tetapi dia juga mendidik rohani agar santrinya memiliki mental kuat. Pesantren tidak hanya mencetak santri untuk menjadi kepala desa, camat, bupati, wali kota, atau bahkan presiden. Pesantren juga mendidik dan mencetak santri agar memiliki mental yang berlandaskan Alquran dan Al-Hadis.

Pesantren mendidik santri agar memiliki kesabaran tinggi dengan tidak tergesa-gesa menjadi orang kaya tetapi menyerobot hak orang lain. Pesantren mendidik santri agar tidak ikut korup di tengah sistem yang korup. Pesantren mendidik santri agar bisa menerapkan ”Qul al-haqqo walau kaana murron”, ”Sampaikan yang benar walaupun terasa pahit adanya”. Ini membutuhkan sebuah kesabaran yang tinggi.

Pada zaman mutakhir ini, kesabaran menunggu muallim tiba di kelas perlu ditanamkan di kalangan santri (termasuk pelajar). Etika santri atau pelajar kepada muallim semakin punah. Tidak sedikit mereka meninggalkan kelas karena muallim datang terlambat. Saya tidak membela muallim yang datang terlambat. Saya hanya ingin menyampaikan bahwa menunggu adalah bagian dari proses belajar. Santri dididik menata hati agar mampu bersabar menghadapi cobaan.

Masihkah kita mengingat kisah Raden Said atau Sunan Kalijaga yang ingin berguru kepada Sunan Bonang? Sunan Bonang ingin menerima Raden Said menjadi muridnya dengan syarat Raden Said harus menunggui tongkat yang ditancapkan di pinggir kali. Sebelum Sunan Bonang kembali ke tempat itu, Raden Said tidak boleh ke mana-mana. Raden Said menunggu sang guru hingga bertahun-tahun. Akar dan rerumputan merambati tubuhnya dan hampir menutupi sebagian besar anggota tubuhnya. Sungguh pemandangan yang sangat menakjubkan.

Baca Juga :  Cara Bupati Isi Kemerdekaan, Gunakan APBD untuk Kesejahteraan Rakyat

Saya terenyuh ketika mendengar cerita dua wali tersebut. Betapa sabar Raden Said menunggu sang guru hingga bertahun-tahun. Fenomena ini perlu diketuk tularkan kepada santri dan pelajar sebagai reorientasi pemikiran. Bahwa pola pendidikan bukan hanya tatap muka muallim dengan santri. Bukan sekadar tatap muka ustad atau Pak Kiai dengan santri. Ada pola pendidikan yang kasatmata dan memiliki peran besar dalam membentuk kepribadian santri.

Nilai-nilai luhur seperti ini yang akan mengukuhkan keutuhan NKRI. Tak heran jika pemerintah memiliki perhatian besar terhadap pesantren. Pesantren memiliki peluang besar untuk mengembangkan keilmuan kepada santrinya. Menurut Asrori S. Karni (2009; xxxviii), pemerintah semakin merangkul pesantren dalam sistem pendidikan nasional. Partisipasi pesantren demikian itu, menyumbang kemajuan wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun.

Bagi pesantren, hal itu meneguhkan kiprah pesantren dalam mencerdaskan masyarakat akar rumput. Keterlibatan demikian juga menjadi ruang improvisasi kiprah pesantren di tengah masyarakat dengan tantangan yang terus berkembang.

Perhatian pemerintah terhadap pesantren harus diimbangi dengan nilai luhur yang harus dipertahankan santri. Seperti takzim kepada muallim walaupun mereka hanya mengajarinya satu huruf. Nilai luhur tersebut harus menjadi roh kehidupan santri setelah mengabdikan diri di tengah masyarakat. Di tengah hiruk-pikuk kondisi negeri yang semakin semrawut.

Jika Ridho Rhoma mampu menunggu, mengapa santri harus menggerutu ketika menunggu muallim yang tak kunjung datang di majelis taklim? Mari kita tanamkan dalam keyakinan bahwa tidak semua aktivitas menunggu merupakan sesuatu yang membosankan. Menunggu muallim adalah bagian dari belajar; belajar menata hati untuk bersabar. 

 

*)Alumnus Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata, Pamekasan. Mengabdi sebagai Dosen IAIN Madura.

 

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/