alexametrics
21 C
Madura
Tuesday, May 17, 2022

Laba Kuartal I 2022 BNI Tumbuh 63,2 Persen

JAKARTA – Seiring menguatnya pertumbuhan ekonomi pada awal tahun ini, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI (kode saham: BBNI) terus meningkatkan kinerjanya. Kualitas kredit terus membaik dan menambah kemampuan perseroan mengakselerasi percetakan pendapatan. Tingginya transaksi keuangan pun menjadi sumber pertumbuhan Fee Based Income (FBI) yang mendorong pertumbuhan laba progresif.

Dirut BNI Royke Tumilaar menuturkan, laba pada kuartal pertama tahun ini mencapai Rp 3,96 triliun atau tumbuh 63,2 % year-on-year (yoy). Pencapaian laba bersih berasal dari Pendapatan Operasional Sebelum Pencadangan (PPOP) yang tumbuh kuat 7,3 % yoy menjadi Rp 8,5 triliun.

Pencapaian pendapatan operasional tersebut tertinggi yang pernah dihasilkan BNI, lebih tinggi dari pendapatan operasional sebelum pandemi. Selain itu, perbaikan kualitas kredit melalui monitoring, penanganan dan kebijakan yang efektif membuat biaya pencadangan kredit juga turun tajam sebesar 26,1 % yoy.

Total baki kredit yang disalurkan sepanjang kuartal pertama 2022 tumbuh 5,8 % yoy menjadi Rp 591,68 triliun. Nilainya lebih tinggi dari kondisi sebelum pandemi yakni Q1 2020. Indikator kinerja positif lainnya terkait dengan kualitas aset, likuiditas, dan efisiensi juga semakin baik. Sehingga turut mendorong tercapainya pendapatan operasional yang lebih tinggi.

“Kami bersyukur BNI mampu mempertahankan kinerja solid pada awal tahun ini. Kinerja ini merupakan salah satu tanda dari pemulihan sekaligus pertumbuhan ekonomi yang lebih baik,” sebutnya.

Royke menyampaikan, BNI akan terus meningkatkan kinerja kredit dengan rentang pertumbuhan 7 % hingga 10 %. Akselerasi kinerja ini didukung oleh rencana penyaluran kredit lebih kuat dan berkualitas di semua segmen dan tren positif ekonomi makro. Misalnya seperti kegiatan ekonomi yang lebih terbuka serta harga komoditas yang kuat.

“Setelah persebaran Covid-19 varian Omicron mereda, maka geliat ekonomi ini akan terus mendorong peningkatan kualitas aset BNI,” tandasnya.

Kinerja Fungsi Intermediasi
Kredit di segmen Business Banking masih menjadi motor akselerasi bisnis kredit BNI. Terutama pembiayaan ke segmen Korporasi Swasta yang tumbuh 9,9 % yoy menjadi Rp 193,2 triliun. Lalu segmen Large Commercial tumbuh 24,5 % yoy menjadi Rp 46,1 triliun; segmen UMKM juga tumbuh 11,8 % yoy dengan nilai kredit Rp 98 triliun.

Secara keseluruhan, kredit di sektor Business Banking tumbuh 4,8 % yoy menjadi Rp 489,3 triliun. Kenaikan ekspansi kredit di seluruh segmen tersebut sejalan dengan kondisi perekonomian nasional yang juga sudah mulai pulih.

Sektor yang dibidik di segmen business banking adalah sektor perdagangan, infrastruktur, dan industri pengolahan. Bahkan, pembiayaan segmen hijau terus menunjukkan kebutuhan pembiayaan dengan ticket size besar sekaligus berkualitas. Hal ini dapat menjadi motor pendorong kredit sindikasi, salah satu penopang kredit korporasi Perseroan.

Dari sisi konsumer, kredit payroll dan kredit kepemilikan rumah membukukan kinerja positif. Indikasinya, pertumbuhan masing-masing 18,8 % dan 8,4 % yoy. Secara keseluruhan, kredit konsumer tumbuh 11,4 % yoy.

Baca Juga :  BNI Boyong 23 Penghargaan pada Ajang Infobank Digital Brand Award 2022

Brand consumer banking BNI terbentuk dengan baik. Sehingga, mampu berdaya saing dengan peers untuk melayani kebutuhan pembiayaan konsumer masyarakat.

Direktur Keuangan BNI Novita Widya Anggraini menambahkan, BNI terus memperkuat posisi permodalan dan likuiditas. Sebab, hal itu menjadi pondasi dalam melanjutkan kestabilan kinerja sekaligus menopang pertumbuhan bisnis lebih positif.

Dana pihak ketiga tumbuh 8,4 % yoy, dengan rasio dana murah atau current account and saving account (CASA) masih mendominasi. Nilainya terus meningkat menjadi 69,2 % dari periode sama tahun lalu 67,9 %.

“Pertumbuhan dana murah ini mendorong perbaikan Cost of Fund dari 1,74 % pada akhir kuartal pertama 2021 menjadi 1,46 % pada kuartal pertama 2022. Ruang untuk ekspansi masih terbuka. Ditunjukkan dari loan to deposit ratio yang berada pada 85,02%. Di sisi permodalan, rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) berada pada posisi 19,3 % atau naik 120 basis poin secara yoy,” sebutnya.

Novita menuturkan, perbaikan risiko kredit juga mendukung peningkatan kinerja yang sangat baik pada awal tahun ini. Loan at risk BNI pada Q1 2022 tercatat 22,1 % atau membaik 4,8 % yoy. Rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) BNI terus bergerak membaik 60 basis poin yoy ke posisi 3,5 % dari periode sama tahun lalu 4,1 %.

“Restrukturisasi kredit akibat pandemi terus menunjukkan perbaikan positif. Kredit restrukturisasi Covid-19 tercatat Rp 69,6 triliun, turun dari posisi periode sama tahun lalu sebesar Rp 84,3 triliun. Debitur BNI terdampak pandemi telah mulai melakukan pembayaran. Kami optimistis tren perbaikan kualitas kredit akan terus berjalan di semua segmen,” sebutnya.

Kinerja Layanan Digital
Direktur IT dan Operasi BNI Y.B. Hariantono menuturkan, kinerja digital banking BNI juga menarik. BNI proaktif meningkatkan kapasitas dan kapabilitas layanan dalam mendorong dan mengembangkan solusi digital bagi para nasabah.

“Banyaknya fitur dan layanan yang bisa dimanfaatkan di Super App Ecosystem BNI Mobile Banking, membuat layanan tersebut semakin diminati para nasabah. BNI Mobile Banking juga menempati peringkat 1 Mobile Banking Application di Google Play Store,” katanya.

Y.B. Hariantono memaparkan, perseroan mencatat jumlah pengguna aplikasi BNI Mobile Banking mencapai 11,47 juta nasabah pada Q1 2022 ini atau meningkat 34 % yoy. Jumlah transaksi meningkat signifikan 34,7 % mencapai 128 juta transaksi dengan nilai transaksi mencapai Rp 175 triliun, tumbuh 26,8 % yoy.

“Pencapaian yang sangat baik ini akan terus kami jaga dan tingkatkan. BNI terus memperkuat eksistensi untuk menjadi channel layanan perbankan utama bagi nasabah perbankan Indonesia,” tegasnya.

Y.B. Hariantono mengatakan, penguatan ekosistem digital tetap berlanjut pada awal tahun ini. BNI telah menjalin partnership dengan lebih dari 4.000 partner Application Programming Interface (API), dengan total layanan mencapai 443 layanan. Selain BNI Mobile Banking, BNI API Open Banking merupakan salah satu product champion layanan digital BNI.

Baca Juga :  BNI Raih Penghargaan The Most Active Acquirer ATM Business

Fungsi perbankan untuk memberikan akses layanan keuangan kepada masyarakat, terutama di remote area, juga terus ditingkatkan dengan menjadikan layanan branchless banking atau agen laku pandai BNI Agen46 sebagai ujung tombak. Jumlah agen lebih dari 150 ribu agen. Mereka dibentuk untuk membantu menggapai segmen masyarakat yang belum terlayani institusi keuangan formal. Nilai transaksi dari Agen46 BNI sudah mencapai Rp 18,6 triliun.

“Tidak ketinggalan, layanan uang elektronik lewat produk Tapcash BNI juga turut mendukung disiplin baru transaksi yang mengurangi transaksi secara tunai. Total 8,54 juta kartu Tapcash yang beredar dan mampu mendukung transaksi transportasi, F&B dan minimarket dengan volume transaksi sebesar Rp 310 miliar,” ungkapnya.

Green Banking Menguat
Sementara itu, Direktur Manajemen Risiko BNI David Pirzada menyampaikan, BNI juga membukukan catatan kinerja positif baik dari ekspansi portofolio hijau sekaligus implementasi ESG lebih kuat di semua lini bisnis. Portofolio hijau BNI mencapai Rp 170,5 triliun pada Q1 2022. Nilai itu mengambil porsi 28,9% dari total portofolio kredit BNI.

Pembiayaan hijau ini diberikan untuk memenuhi kebutuhan pengembangan ekonomi sosial masyarakat melalui pembiayaan UMKM dengan total portofolio mencapai Rp 115,2 triliun. Sisanya digunakan untuk kebutuhan pembangunan ekosistem lingkungan hijau, energi baru terbarukan sebesar Rp 10,3 triliun, pengelolaan polusi sebesar Rp 6,8 triliun, serta pengelolaan air dan limbah sebesar Rp 23,3 triliun.

Kinerja pembiayaan hijau yang positif serta didukung kepedulian sosial dan lingkungan yang tinggi, serta praktik Tata Kelola Perusahaan yang unggul, mendorong peningkatan rating ESG BNI dari MSCI menjadi A sejak November 2021. Rating A tertinggi di antara perbankan Indonesia, sekaligus menegaskan posisi BNI sebagai pioneer dalam implementasi keuangan berkelanjutan.

Perseroan juga menerapkan berbagai prinsip ESG dalam operasional perusahaan. Hal tersebut diwujudkan dalam budaya perusahaan hijau, lewat status green building certification oleh the Green Building Council Indonesia (GBCI).

“BNI pun meraih Gold Certification untuk Menara BNI dan Platinum Certification untuk Plaza BNI. Kami juga menerapkan sistem administrasi kantor yang bebas kertas atau e-office,” tuturnya.

Presidensi G20
David melanjutkan, BNI juga akan berperan aktif dalam mendukung presidensi G20 di Indonesia, yang puncaknya akan berlangsung pada Oktober 2022. Salah satu agenda G20 yang sangat berkaitan dengan industri keuangan adalah dampak berkepanjangan (scarring effect).

“BNI berperan aktif lewat penerapan bisnis yang sesuai dengan prinsip environment, social and good governance (ESG). Peran bank dalam mendukung produktivitas dan pertumbuhan jangka panjang diharapkan dapat terwujud,” tandas David. (*/par)

JAKARTA – Seiring menguatnya pertumbuhan ekonomi pada awal tahun ini, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI (kode saham: BBNI) terus meningkatkan kinerjanya. Kualitas kredit terus membaik dan menambah kemampuan perseroan mengakselerasi percetakan pendapatan. Tingginya transaksi keuangan pun menjadi sumber pertumbuhan Fee Based Income (FBI) yang mendorong pertumbuhan laba progresif.

Dirut BNI Royke Tumilaar menuturkan, laba pada kuartal pertama tahun ini mencapai Rp 3,96 triliun atau tumbuh 63,2 % year-on-year (yoy). Pencapaian laba bersih berasal dari Pendapatan Operasional Sebelum Pencadangan (PPOP) yang tumbuh kuat 7,3 % yoy menjadi Rp 8,5 triliun.

Pencapaian pendapatan operasional tersebut tertinggi yang pernah dihasilkan BNI, lebih tinggi dari pendapatan operasional sebelum pandemi. Selain itu, perbaikan kualitas kredit melalui monitoring, penanganan dan kebijakan yang efektif membuat biaya pencadangan kredit juga turun tajam sebesar 26,1 % yoy.

Total baki kredit yang disalurkan sepanjang kuartal pertama 2022 tumbuh 5,8 % yoy menjadi Rp 591,68 triliun. Nilainya lebih tinggi dari kondisi sebelum pandemi yakni Q1 2020. Indikator kinerja positif lainnya terkait dengan kualitas aset, likuiditas, dan efisiensi juga semakin baik. Sehingga turut mendorong tercapainya pendapatan operasional yang lebih tinggi.

“Kami bersyukur BNI mampu mempertahankan kinerja solid pada awal tahun ini. Kinerja ini merupakan salah satu tanda dari pemulihan sekaligus pertumbuhan ekonomi yang lebih baik,” sebutnya.

Royke menyampaikan, BNI akan terus meningkatkan kinerja kredit dengan rentang pertumbuhan 7 % hingga 10 %. Akselerasi kinerja ini didukung oleh rencana penyaluran kredit lebih kuat dan berkualitas di semua segmen dan tren positif ekonomi makro. Misalnya seperti kegiatan ekonomi yang lebih terbuka serta harga komoditas yang kuat.

“Setelah persebaran Covid-19 varian Omicron mereda, maka geliat ekonomi ini akan terus mendorong peningkatan kualitas aset BNI,” tandasnya.

Kinerja Fungsi Intermediasi
Kredit di segmen Business Banking masih menjadi motor akselerasi bisnis kredit BNI. Terutama pembiayaan ke segmen Korporasi Swasta yang tumbuh 9,9 % yoy menjadi Rp 193,2 triliun. Lalu segmen Large Commercial tumbuh 24,5 % yoy menjadi Rp 46,1 triliun; segmen UMKM juga tumbuh 11,8 % yoy dengan nilai kredit Rp 98 triliun.

Secara keseluruhan, kredit di sektor Business Banking tumbuh 4,8 % yoy menjadi Rp 489,3 triliun. Kenaikan ekspansi kredit di seluruh segmen tersebut sejalan dengan kondisi perekonomian nasional yang juga sudah mulai pulih.

Sektor yang dibidik di segmen business banking adalah sektor perdagangan, infrastruktur, dan industri pengolahan. Bahkan, pembiayaan segmen hijau terus menunjukkan kebutuhan pembiayaan dengan ticket size besar sekaligus berkualitas. Hal ini dapat menjadi motor pendorong kredit sindikasi, salah satu penopang kredit korporasi Perseroan.

Dari sisi konsumer, kredit payroll dan kredit kepemilikan rumah membukukan kinerja positif. Indikasinya, pertumbuhan masing-masing 18,8 % dan 8,4 % yoy. Secara keseluruhan, kredit konsumer tumbuh 11,4 % yoy.

Baca Juga :  BNI Raih Penghargaan The Most Active Acquirer ATM Business

Brand consumer banking BNI terbentuk dengan baik. Sehingga, mampu berdaya saing dengan peers untuk melayani kebutuhan pembiayaan konsumer masyarakat.

Direktur Keuangan BNI Novita Widya Anggraini menambahkan, BNI terus memperkuat posisi permodalan dan likuiditas. Sebab, hal itu menjadi pondasi dalam melanjutkan kestabilan kinerja sekaligus menopang pertumbuhan bisnis lebih positif.

Dana pihak ketiga tumbuh 8,4 % yoy, dengan rasio dana murah atau current account and saving account (CASA) masih mendominasi. Nilainya terus meningkat menjadi 69,2 % dari periode sama tahun lalu 67,9 %.

“Pertumbuhan dana murah ini mendorong perbaikan Cost of Fund dari 1,74 % pada akhir kuartal pertama 2021 menjadi 1,46 % pada kuartal pertama 2022. Ruang untuk ekspansi masih terbuka. Ditunjukkan dari loan to deposit ratio yang berada pada 85,02%. Di sisi permodalan, rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) berada pada posisi 19,3 % atau naik 120 basis poin secara yoy,” sebutnya.

Novita menuturkan, perbaikan risiko kredit juga mendukung peningkatan kinerja yang sangat baik pada awal tahun ini. Loan at risk BNI pada Q1 2022 tercatat 22,1 % atau membaik 4,8 % yoy. Rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) BNI terus bergerak membaik 60 basis poin yoy ke posisi 3,5 % dari periode sama tahun lalu 4,1 %.

“Restrukturisasi kredit akibat pandemi terus menunjukkan perbaikan positif. Kredit restrukturisasi Covid-19 tercatat Rp 69,6 triliun, turun dari posisi periode sama tahun lalu sebesar Rp 84,3 triliun. Debitur BNI terdampak pandemi telah mulai melakukan pembayaran. Kami optimistis tren perbaikan kualitas kredit akan terus berjalan di semua segmen,” sebutnya.

Kinerja Layanan Digital
Direktur IT dan Operasi BNI Y.B. Hariantono menuturkan, kinerja digital banking BNI juga menarik. BNI proaktif meningkatkan kapasitas dan kapabilitas layanan dalam mendorong dan mengembangkan solusi digital bagi para nasabah.

“Banyaknya fitur dan layanan yang bisa dimanfaatkan di Super App Ecosystem BNI Mobile Banking, membuat layanan tersebut semakin diminati para nasabah. BNI Mobile Banking juga menempati peringkat 1 Mobile Banking Application di Google Play Store,” katanya.

Y.B. Hariantono memaparkan, perseroan mencatat jumlah pengguna aplikasi BNI Mobile Banking mencapai 11,47 juta nasabah pada Q1 2022 ini atau meningkat 34 % yoy. Jumlah transaksi meningkat signifikan 34,7 % mencapai 128 juta transaksi dengan nilai transaksi mencapai Rp 175 triliun, tumbuh 26,8 % yoy.

“Pencapaian yang sangat baik ini akan terus kami jaga dan tingkatkan. BNI terus memperkuat eksistensi untuk menjadi channel layanan perbankan utama bagi nasabah perbankan Indonesia,” tegasnya.

Y.B. Hariantono mengatakan, penguatan ekosistem digital tetap berlanjut pada awal tahun ini. BNI telah menjalin partnership dengan lebih dari 4.000 partner Application Programming Interface (API), dengan total layanan mencapai 443 layanan. Selain BNI Mobile Banking, BNI API Open Banking merupakan salah satu product champion layanan digital BNI.

Baca Juga :  BNI JJOTM Redakan Kerinduan Fans Endah N Rhesa

Fungsi perbankan untuk memberikan akses layanan keuangan kepada masyarakat, terutama di remote area, juga terus ditingkatkan dengan menjadikan layanan branchless banking atau agen laku pandai BNI Agen46 sebagai ujung tombak. Jumlah agen lebih dari 150 ribu agen. Mereka dibentuk untuk membantu menggapai segmen masyarakat yang belum terlayani institusi keuangan formal. Nilai transaksi dari Agen46 BNI sudah mencapai Rp 18,6 triliun.

“Tidak ketinggalan, layanan uang elektronik lewat produk Tapcash BNI juga turut mendukung disiplin baru transaksi yang mengurangi transaksi secara tunai. Total 8,54 juta kartu Tapcash yang beredar dan mampu mendukung transaksi transportasi, F&B dan minimarket dengan volume transaksi sebesar Rp 310 miliar,” ungkapnya.

Green Banking Menguat
Sementara itu, Direktur Manajemen Risiko BNI David Pirzada menyampaikan, BNI juga membukukan catatan kinerja positif baik dari ekspansi portofolio hijau sekaligus implementasi ESG lebih kuat di semua lini bisnis. Portofolio hijau BNI mencapai Rp 170,5 triliun pada Q1 2022. Nilai itu mengambil porsi 28,9% dari total portofolio kredit BNI.

Pembiayaan hijau ini diberikan untuk memenuhi kebutuhan pengembangan ekonomi sosial masyarakat melalui pembiayaan UMKM dengan total portofolio mencapai Rp 115,2 triliun. Sisanya digunakan untuk kebutuhan pembangunan ekosistem lingkungan hijau, energi baru terbarukan sebesar Rp 10,3 triliun, pengelolaan polusi sebesar Rp 6,8 triliun, serta pengelolaan air dan limbah sebesar Rp 23,3 triliun.

Kinerja pembiayaan hijau yang positif serta didukung kepedulian sosial dan lingkungan yang tinggi, serta praktik Tata Kelola Perusahaan yang unggul, mendorong peningkatan rating ESG BNI dari MSCI menjadi A sejak November 2021. Rating A tertinggi di antara perbankan Indonesia, sekaligus menegaskan posisi BNI sebagai pioneer dalam implementasi keuangan berkelanjutan.

Perseroan juga menerapkan berbagai prinsip ESG dalam operasional perusahaan. Hal tersebut diwujudkan dalam budaya perusahaan hijau, lewat status green building certification oleh the Green Building Council Indonesia (GBCI).

“BNI pun meraih Gold Certification untuk Menara BNI dan Platinum Certification untuk Plaza BNI. Kami juga menerapkan sistem administrasi kantor yang bebas kertas atau e-office,” tuturnya.

Presidensi G20
David melanjutkan, BNI juga akan berperan aktif dalam mendukung presidensi G20 di Indonesia, yang puncaknya akan berlangsung pada Oktober 2022. Salah satu agenda G20 yang sangat berkaitan dengan industri keuangan adalah dampak berkepanjangan (scarring effect).

“BNI berperan aktif lewat penerapan bisnis yang sesuai dengan prinsip environment, social and good governance (ESG). Peran bank dalam mendukung produktivitas dan pertumbuhan jangka panjang diharapkan dapat terwujud,” tandas David. (*/par)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/