alexametrics
20 C
Madura
Monday, August 8, 2022

Santre Pangarangan

Sewaktu di Jogja, saya dan beberapa alumni Pondok Pesantren Mathali’ul Anwar Sumenep menginisiasi buletin kecil-kecilan Santre Pangarangan. Nama Santre Pangarangan disepakati atas dasar dua alasan.

 

PERTAMA, domisili pondok kami memang di Pangarangan. Karena domisili ini, kami biasanya dipanggil ”Santre Pangarangan”. Kedua, ”Pangarangan” ini dirujukkan pada kata pengarang.

Dengan demikian, buletin Santre Pangarangan kami maksudkan sebagai wadah aktualisasi mengarang santri/alumni Pondok Pesantren Mathali’ul Anwar di Desa Pangarangan, Sumenep. Sedangkan label kecil-kecilan saya sematkan karena awalnya hanya untuk kalangan sendiri.

Edisi pertama menyuguhkan nostalgia semasa kami di pondok. Baru edisi kedua teman-teman berani menyuguhkan wacana yang sedikit lebih luas. Kami mulai melibatkan nama-nama lain seperti Acep Zamzam Noor, Faizi El-Kaelan, (alm) Fudloli Zaini, dan lainnya. Kecil-kecilan juga dapat diartikan, bahwa untuk menuju hal yang besar kami mesti memulai dari yang kecil.

Buletin Santre Pangarangan tidak bertahan lama. Teman-teman lulus. Pemrednya, Set Wahedi pulang ke Madura. Mahwi Air Tawar, penjaga gawang rubrik sastra hijrah ke Jakarta. Saya juga hijrah ke Jakarta. Tapi, tak ada harimau yang tak meninggalkan belang. Jasad boleh hancur ditelan ruang-waktu. Tapi, mimpi tidak akan lekang oleh hujan dan badai.

Satu mimpi tersisa dan terus mengiang dalam ingatan saya: asareng, aereng, dan mereng. Tagline buletin Santre Pangarangan ini cukup simpel dan mengena. Tagline ini ingin menekankan, meski bersifat kecil-kecilan, Santre Pangarangan adalah satu alasan bagi kami untuk bertemu, bertukar cerita, dan sesekali join rokok lalu tertawa bersama.

Baca Juga :  Dorong Pembentukan Pesantren Tangguh Semeru

Santre Pangarangan medium kami untuk bisa bersama-sama (asareng). Santre Pangrangan akhirnya menjadi wadah kebersamaan kami. Santre Pangarangan membawa kami menemukan pintu masuk sekaligus arah membuhul mimpi-mimpi: penyair, ilmuwan, politisi, akademisi, dan lainnya.

Mimpi-mimpi kami beragam. Karena itu, kami harus beriringan (aereng). Politisi mungkin identik dengan urusan kekuasaan dan hal-hal pragmatis. Itu berbeda dengan akademisi yang mengedepankan objektivitas dan ”kejujuran” membaca data-fakta.

Apalagi jika dibandingkan dengan penyair, politisi seolah menjadi titik tumpu kritik-kemanusiaannya. Tapi itu tidak berlaku di Santre Pangarangan. Beragam mimpi kami hanya dibedakan garis tipis. Mimpi-mimpi kami hanya dibedakan oleh area dan kepentingannya. Sedangkan yang lebih penting, semua mimpi itu bertujuan sebagai jalan menuju Tuhan sesuai profesinya.

Yang lebih penting lagi, dengan mimpi yang beragam kami bisa berjalan bersama secara beriringan. Perbedaan mimpi tidak membuat kami bercerai-berai. Perbedaan mimpi membuat kami menemukan sisi lain dari setiap diri kami untuk bersinergi, bekerja sama.

Satu hal yang kadang membuat kami tertawa meski tak ada obrolan lucu: sami’na waatha’na pada satu jarak. Di tanah rantau Jogja, kami merasa perlu untuk mendengarkan lagi dengan baik-baik perkataan kiai kami. Dalam diskusi Santre Pangarangan, teman-teman berusaha menyitir perkataan kiai. Meski ruang-waktu dengan kiai sudah berjarak, ke-sami’na-waatha’na-an kami tidak serta-merta memudar.

Jarak memberi ruang lain bagi kami untuk memahami, menghayati dan mengaplikasikan setiap nasihat kiai dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan, sami’na waatha’na ini pelan-pelan menumbuhkan satu filter dalam diri kami terhadap segala wacana keagamaan dan kebangsaan yang datang silang sengkarut hari ini.

Baca Juga :  Puasa: Sebuah Momen Kebersamaan

Tagline Santre Pangarangan itu ternyata telah bertransformasi dalam mimpi dan jalan politik saya. Kalau politik diartikan seni meyakinkan orang lain tentang gagasan, mimpi dan cita-cita kita, maka kebersamaan (asareng), sinergitas (aereng), dan ingatan akan petuah-petuah kiai (mereng) membuka ruang-ruang dialog lebih terbuka dan istikamah.

Kalau politik mengajarkan satu permainan dinamis, tagline itu memompa saya untuk menjalani proses politik secara riang gembira. Politik bukan lagi ”siapa saya”. Politik adalah ”saya yang menjadi kita” pada cita-cita kesejahteraan dan kebahagiaan bersama. Politik adalah cara melintasi jembatan kemerdekaan menuju masyarakat yang berkeadilan sosial dalam ekonomi, hukum, politik, dan pembangunan.

Santre Pangarangan sudah tidak terbit. Tapi gagasannya, mimpi-mimpi orang yang terlibat di dalamnya, serta tagline-nya: asareng, aereng, mereng tak lekang ruang-waktu. Saban bertemu alumni Pondok Pesantren Mathali’ul Anwar saya selalu teringat dengan Santre Pangarangan, baik sebagai nama buletin atau nama panggilan kami dalam berbagai percakapan.

Satu hal yang terus tumbuh dalam diri saya: tagline Santre Pangarangan. Tagline itu selalu mengingatkan saya akan kekompakan, komitmen untuk maju bersama-sama sesuai dengan mimpi masing-masing; untuk bergandeng tangan dengan segala perbedaannya.

Santre Pangrangan sudah menjadi nyala baru dalam diri saya untuk mempererat tali silaturahmi sesama alumni Pondok Pesantren Mathali’ul Anwar pada level yang lebih tinggi dan lebih bermanfaat. Tabik. 

 

*)Alumni Pondok Pesantren Mathali’ul Anwar, Sumenep.

Sewaktu di Jogja, saya dan beberapa alumni Pondok Pesantren Mathali’ul Anwar Sumenep menginisiasi buletin kecil-kecilan Santre Pangarangan. Nama Santre Pangarangan disepakati atas dasar dua alasan.

 

PERTAMA, domisili pondok kami memang di Pangarangan. Karena domisili ini, kami biasanya dipanggil ”Santre Pangarangan”. Kedua, ”Pangarangan” ini dirujukkan pada kata pengarang.


Dengan demikian, buletin Santre Pangarangan kami maksudkan sebagai wadah aktualisasi mengarang santri/alumni Pondok Pesantren Mathali’ul Anwar di Desa Pangarangan, Sumenep. Sedangkan label kecil-kecilan saya sematkan karena awalnya hanya untuk kalangan sendiri.

Edisi pertama menyuguhkan nostalgia semasa kami di pondok. Baru edisi kedua teman-teman berani menyuguhkan wacana yang sedikit lebih luas. Kami mulai melibatkan nama-nama lain seperti Acep Zamzam Noor, Faizi El-Kaelan, (alm) Fudloli Zaini, dan lainnya. Kecil-kecilan juga dapat diartikan, bahwa untuk menuju hal yang besar kami mesti memulai dari yang kecil.

Buletin Santre Pangarangan tidak bertahan lama. Teman-teman lulus. Pemrednya, Set Wahedi pulang ke Madura. Mahwi Air Tawar, penjaga gawang rubrik sastra hijrah ke Jakarta. Saya juga hijrah ke Jakarta. Tapi, tak ada harimau yang tak meninggalkan belang. Jasad boleh hancur ditelan ruang-waktu. Tapi, mimpi tidak akan lekang oleh hujan dan badai.

Satu mimpi tersisa dan terus mengiang dalam ingatan saya: asareng, aereng, dan mereng. Tagline buletin Santre Pangarangan ini cukup simpel dan mengena. Tagline ini ingin menekankan, meski bersifat kecil-kecilan, Santre Pangarangan adalah satu alasan bagi kami untuk bertemu, bertukar cerita, dan sesekali join rokok lalu tertawa bersama.

Baca Juga :  Puasa Syariat, Tarekat, dan Makrifat di Tahun Politik

Santre Pangarangan medium kami untuk bisa bersama-sama (asareng). Santre Pangrangan akhirnya menjadi wadah kebersamaan kami. Santre Pangarangan membawa kami menemukan pintu masuk sekaligus arah membuhul mimpi-mimpi: penyair, ilmuwan, politisi, akademisi, dan lainnya.

Mimpi-mimpi kami beragam. Karena itu, kami harus beriringan (aereng). Politisi mungkin identik dengan urusan kekuasaan dan hal-hal pragmatis. Itu berbeda dengan akademisi yang mengedepankan objektivitas dan ”kejujuran” membaca data-fakta.

Apalagi jika dibandingkan dengan penyair, politisi seolah menjadi titik tumpu kritik-kemanusiaannya. Tapi itu tidak berlaku di Santre Pangarangan. Beragam mimpi kami hanya dibedakan garis tipis. Mimpi-mimpi kami hanya dibedakan oleh area dan kepentingannya. Sedangkan yang lebih penting, semua mimpi itu bertujuan sebagai jalan menuju Tuhan sesuai profesinya.

Yang lebih penting lagi, dengan mimpi yang beragam kami bisa berjalan bersama secara beriringan. Perbedaan mimpi tidak membuat kami bercerai-berai. Perbedaan mimpi membuat kami menemukan sisi lain dari setiap diri kami untuk bersinergi, bekerja sama.

Satu hal yang kadang membuat kami tertawa meski tak ada obrolan lucu: sami’na waatha’na pada satu jarak. Di tanah rantau Jogja, kami merasa perlu untuk mendengarkan lagi dengan baik-baik perkataan kiai kami. Dalam diskusi Santre Pangarangan, teman-teman berusaha menyitir perkataan kiai. Meski ruang-waktu dengan kiai sudah berjarak, ke-sami’na-waatha’na-an kami tidak serta-merta memudar.

Jarak memberi ruang lain bagi kami untuk memahami, menghayati dan mengaplikasikan setiap nasihat kiai dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan, sami’na waatha’na ini pelan-pelan menumbuhkan satu filter dalam diri kami terhadap segala wacana keagamaan dan kebangsaan yang datang silang sengkarut hari ini.

Baca Juga :  Pesantren Ladang Memburu Barokah

Tagline Santre Pangarangan itu ternyata telah bertransformasi dalam mimpi dan jalan politik saya. Kalau politik diartikan seni meyakinkan orang lain tentang gagasan, mimpi dan cita-cita kita, maka kebersamaan (asareng), sinergitas (aereng), dan ingatan akan petuah-petuah kiai (mereng) membuka ruang-ruang dialog lebih terbuka dan istikamah.

Kalau politik mengajarkan satu permainan dinamis, tagline itu memompa saya untuk menjalani proses politik secara riang gembira. Politik bukan lagi ”siapa saya”. Politik adalah ”saya yang menjadi kita” pada cita-cita kesejahteraan dan kebahagiaan bersama. Politik adalah cara melintasi jembatan kemerdekaan menuju masyarakat yang berkeadilan sosial dalam ekonomi, hukum, politik, dan pembangunan.

Santre Pangarangan sudah tidak terbit. Tapi gagasannya, mimpi-mimpi orang yang terlibat di dalamnya, serta tagline-nya: asareng, aereng, mereng tak lekang ruang-waktu. Saban bertemu alumni Pondok Pesantren Mathali’ul Anwar saya selalu teringat dengan Santre Pangarangan, baik sebagai nama buletin atau nama panggilan kami dalam berbagai percakapan.

Satu hal yang terus tumbuh dalam diri saya: tagline Santre Pangarangan. Tagline itu selalu mengingatkan saya akan kekompakan, komitmen untuk maju bersama-sama sesuai dengan mimpi masing-masing; untuk bergandeng tangan dengan segala perbedaannya.

Santre Pangrangan sudah menjadi nyala baru dalam diri saya untuk mempererat tali silaturahmi sesama alumni Pondok Pesantren Mathali’ul Anwar pada level yang lebih tinggi dan lebih bermanfaat. Tabik. 

 

*)Alumni Pondok Pesantren Mathali’ul Anwar, Sumenep.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/