alexametrics
23.6 C
Madura
Monday, August 15, 2022

Pemkab Pamekasan Alihkan Anggaran Api Alam untuk Pantai Jumiang

PAMEKASAN – Wisata Api Alam merupakan ikon Pamekasan. Sebab, destinasi tersebut satu-satunya di Madura. Tahun ini pemkab mengalokasikan anggaran sekitar Rp 900 juta untuk mengembangkan. Namun, anggaran ratusan juta tersebut tidak bisa direalisasikan karena terkendala lahan.

Pengembangan tidak terlaksana karena tidak ada kesepakatan antara pemerintah dengan pemilik lahan mengenai pengelolaan Wisata Api Alam. Karena itu, anggaran yang kadung dialokasikan dialihkan untuk kegiatan lain.

Kepala Disparbud Pamekasan Achmad Sjaifudin mengatakan, rencana pengembangan Wisata Api Alam tidak bisa terealisasi. Lahan titik semburan api di Desa Larangan Tokol, Kecamatan Tlanakan, itu milik warga. Negosiasi pembebasan lahan dan kerja sama pengelolaan menemui jalan buntu.

Akibatnya, dana yang disiapkan itu harus ditarik dan dialihkan untuk program lain. Rencana sementara, anggaran tersebut akan digunakan untuk pembangunan Pantai Jumiang dan Pantai Talang Siring.

Baca Juga :  Mayat Ditemukan tanpa Busana Gegerkan Warga

Disparbud harus mengajukan pengalihan ke DPRD Pamekasan. Jika disepakati, ditetapkan melalui APBD Perubahan. ”APBD Perubahan belum didok (ditetapkan, Red),” katanya Senin (23/10).

Achmad mengatakan, anggaran tersebut bakan digunakan untuk membangun sejumlah fasilitas. Di antaranya, kamar kecil bagi wisatawan, akses jalan setapak, aksesori pintu masuk, dan kebutuhan lain.

Jika disepakati, pemerintah akan menghitung waktu yang tersisa.  Bila memungkinkan akan dikerjakan tahun ini. Jika waktu terlalu mepet, akan ditunda tahun depan. ”APBD Perubahan masih proses,” katanya.

Ketua Komisi IV DPRD Pamekasan Mohammad Sahur mengatakan, urusan Api Alam bukan hal baru. Kegagalan negosiasi itu teramat disayangkan. Sebab, Api Alam sangat layak dikembangkan. Apalagi, pemerintah pernah menggelontorkan dana sekitar Rp 189 juta untuk penyusunan masterplan.

Baca Juga :  Warga Tetap Harus Patuhi Protokol Pencegahan Covid-19

Jika pengembangan gagal, dana yang dikeluarkan terbuang sia-sia. Dengan demikian, pemerintah harus mencari cara agar pengembangan Api Alam bisa dilanjutkan. Kalaupun tetap buntu, harus ada solusi lain agar pengembangan pariwisata tidak mandek. ”Saya kira banyak destinasi wisata yang bisa dikembangkan,” tandasnya.

PAMEKASAN – Wisata Api Alam merupakan ikon Pamekasan. Sebab, destinasi tersebut satu-satunya di Madura. Tahun ini pemkab mengalokasikan anggaran sekitar Rp 900 juta untuk mengembangkan. Namun, anggaran ratusan juta tersebut tidak bisa direalisasikan karena terkendala lahan.

Pengembangan tidak terlaksana karena tidak ada kesepakatan antara pemerintah dengan pemilik lahan mengenai pengelolaan Wisata Api Alam. Karena itu, anggaran yang kadung dialokasikan dialihkan untuk kegiatan lain.

Kepala Disparbud Pamekasan Achmad Sjaifudin mengatakan, rencana pengembangan Wisata Api Alam tidak bisa terealisasi. Lahan titik semburan api di Desa Larangan Tokol, Kecamatan Tlanakan, itu milik warga. Negosiasi pembebasan lahan dan kerja sama pengelolaan menemui jalan buntu.


Akibatnya, dana yang disiapkan itu harus ditarik dan dialihkan untuk program lain. Rencana sementara, anggaran tersebut akan digunakan untuk pembangunan Pantai Jumiang dan Pantai Talang Siring.

Baca Juga :  Pemkab Pamekasan Permudah Perizinan

Disparbud harus mengajukan pengalihan ke DPRD Pamekasan. Jika disepakati, ditetapkan melalui APBD Perubahan. ”APBD Perubahan belum didok (ditetapkan, Red),” katanya Senin (23/10).

Achmad mengatakan, anggaran tersebut bakan digunakan untuk membangun sejumlah fasilitas. Di antaranya, kamar kecil bagi wisatawan, akses jalan setapak, aksesori pintu masuk, dan kebutuhan lain.

Jika disepakati, pemerintah akan menghitung waktu yang tersisa.  Bila memungkinkan akan dikerjakan tahun ini. Jika waktu terlalu mepet, akan ditunda tahun depan. ”APBD Perubahan masih proses,” katanya.

- Advertisement -

Ketua Komisi IV DPRD Pamekasan Mohammad Sahur mengatakan, urusan Api Alam bukan hal baru. Kegagalan negosiasi itu teramat disayangkan. Sebab, Api Alam sangat layak dikembangkan. Apalagi, pemerintah pernah menggelontorkan dana sekitar Rp 189 juta untuk penyusunan masterplan.

Baca Juga :  Upaya Pemkab Pamekasan Dongkrak Perekonomian di Desa-Desa

Jika pengembangan gagal, dana yang dikeluarkan terbuang sia-sia. Dengan demikian, pemerintah harus mencari cara agar pengembangan Api Alam bisa dilanjutkan. Kalaupun tetap buntu, harus ada solusi lain agar pengembangan pariwisata tidak mandek. ”Saya kira banyak destinasi wisata yang bisa dikembangkan,” tandasnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/