alexametrics
21.9 C
Madura
Wednesday, July 6, 2022

Hadiri WEF di Davos, Airlangga: Momen Emas untuk Berinvestasi di Indonesia

JAKARTA – Pertumbuhan perekonomian nasional yang menguat menjadi salah satu peluang dalam upaya untuk menarik investor. Ekonomi Indonesia sendiri mengalami pertumbuhan sebesar 5,01 % (yoy) pada kuartal pertama tahun 2022 dan tercapai seiring dengan laju inflasi yang terkendali.

Selain itu, kondisi pandemi Covid-19 di Indonesia juga terus membaik. Sehingga juga menjadi faktor pendorong ekonomi nasional untuk menjadi semakin menguat ke depan.

Dalam rangkaian World Economic Forum (WEF) yang diselenggarakan di Davos, Swiss, pada 22-26 Mei 2022, Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto hadir langsung untuk menyampaikan kondisi ekonomi Indonesia yang semakin membaik. Termasuk mengajak para investor untuk berinvestasi di Indonesia.

Airlangga menuturkan, Indonesia saat ini tengah gencar melakukan transformasi di berbagai sektor. “Indonesia adalah salah satu negara dengan ekonomi terbesar di dunia. Saat ini adalah momen emas untuk berinvestasi di Indonesia,” kata Airlangga dalam pertemuan pers terkait Indonesia Economic Outlook 2022 dan Presidensi G20 Indonesia, di Swiss, Senin (23/5).

“Kondisi pandemi di Indonesia saat ini juga telah membaik, atas arahan Presiden Joko Widodo (Jokowi), masyarakat sudah bisa mulai melepaskan masker di ruangan terbuka, tidak dalam keramaian. Ini merupakan salah satu langkah awal transisi dari pandemi ke endemi,” ulas Airlangga.

Baca Juga :  Partai Koalisi Siapkan Pengacara Dampingi Syafii

Dijelaskan, Presiden Jokowi menjadi Champion Global Crisis Response Group (GCRG) yang berfokus pada isu pangan, energi, dan keuangan. Indonesia turut berperan penting dalam mengatasi tantangan besar yang saling terkait dalam ketahanan pangan, energi, dan keuangan global akibat konflik Rusia-Ukraina.

Airlangga juga menambahkan, Presidensi G20 Indonesia mengusung tiga agenda utama. Yakni arsitektur kesehatan global, transformasi ekonomi berbasis digital, dan transisi energi.

Dalam arsitektur kesehatan global, Indonesia mengusulkan untuk menciptakan mekanisme pembiayaan yang bisa mendukung tersedianya vaksin untuk negara-negara yang membutuhkan.

“Hal ini penting karena saat ini pandemi Covid-19 masih belum selesai. Masih ada negara-negara, terutama di Afrika, yang belum memiliki akses yang luas dalam mendapatkan vaksin,” jelas Airlangga.

Terkait dengan transformasi ekonomi berbasis digital, Airlangga menyampaikan bahwa digitaliasasi di Indonesia telah meningkat tajam selama pandemi. Peningkatan ini juga menjadi pendorong pemulihan ekonomi Indonesia di masa pandemi.

Perkembangan ekonomi digital di Indonesia pada tahun 2021 dapat terlihat dari transaksi komersial yang mencapai lebih dari US$ 27 miliar dan dengan lebih dari 2.300 start-up. Hal itu menempatkan Indonesia sebagai negara ke-5 di dunia dengan jumlah start-up terbanyak.

Indonesia memiliki 370 juta pengguna koneksi seluler dan 204 juta pengguna internet (74 % dari total populasi). Nilai transaksi uang elektronik lebih dari US$ 2,4 miliar per Desember 2021.

Baca Juga :  Mantan Anggota DPRD Mengaku Gelapkan Mobdin Di Depan Majelis Hakim

Tingkat inklusi keuangan pada 2019 mencapai sebesar 76,19 % dan ditargetkan akan mencapai 90% pada 2025. Pada 2021, terdapat 785 juta bisnis fintech.

Mengenai transisi energi, Airlangga menyampaikan bahwa Indonesia berkomitmen dalam bertransisi menggunakan Energi Baru Terbarukan (EBT). Saat ini Indonesia sedang mengembangkan prototipe pajak karbon untuk pembangkit listrik tenaga batu bara.

Indonesia juga melakukan retirement pembangkit listrik tenaga batu bara untuk menggantinya dengan EBT. Sebab, mempunyai model pembiayaan yang terjangkau dan berkelanjutan.

“Salah satu yang menjadi penting dalam transisi energi ini adalah tentang bagaimana menyiapkan pendanaannya melalui mekanisme blended finance,” paparnya.

“Termasuk mengembangkan protokol obligasi transisi sebagai peluang untuk memberikan pembiayaan kepada perusahaan yang memiliki target transisi ke industri hijau di masa depan. Kita tidak bisa melakukan transformasi tanpa pembiayaan yang memadai,” pungkas Airlangga.

Selain Menteri Investasi, Airlangga juga ditemani Menteri Perindustrian, Menteri Eenergi dan Sumber Daya Mineral, Menteri Komunikasi dan Informatika, Wakil Menteri BUMN, Duta Besar Indonesia untuk Swiss, Ketua Umum Kadin, Chair B20, dan Perutusan Tetap Republik Indonesia (PTRI). (ltg/fsr/par)

JAKARTA – Pertumbuhan perekonomian nasional yang menguat menjadi salah satu peluang dalam upaya untuk menarik investor. Ekonomi Indonesia sendiri mengalami pertumbuhan sebesar 5,01 % (yoy) pada kuartal pertama tahun 2022 dan tercapai seiring dengan laju inflasi yang terkendali.

Selain itu, kondisi pandemi Covid-19 di Indonesia juga terus membaik. Sehingga juga menjadi faktor pendorong ekonomi nasional untuk menjadi semakin menguat ke depan.

Dalam rangkaian World Economic Forum (WEF) yang diselenggarakan di Davos, Swiss, pada 22-26 Mei 2022, Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto hadir langsung untuk menyampaikan kondisi ekonomi Indonesia yang semakin membaik. Termasuk mengajak para investor untuk berinvestasi di Indonesia.


Airlangga menuturkan, Indonesia saat ini tengah gencar melakukan transformasi di berbagai sektor. “Indonesia adalah salah satu negara dengan ekonomi terbesar di dunia. Saat ini adalah momen emas untuk berinvestasi di Indonesia,” kata Airlangga dalam pertemuan pers terkait Indonesia Economic Outlook 2022 dan Presidensi G20 Indonesia, di Swiss, Senin (23/5).

“Kondisi pandemi di Indonesia saat ini juga telah membaik, atas arahan Presiden Joko Widodo (Jokowi), masyarakat sudah bisa mulai melepaskan masker di ruangan terbuka, tidak dalam keramaian. Ini merupakan salah satu langkah awal transisi dari pandemi ke endemi,” ulas Airlangga.

Baca Juga :  Bertamu, Tusuk Tuan Rumah hingga Meninggal

Dijelaskan, Presiden Jokowi menjadi Champion Global Crisis Response Group (GCRG) yang berfokus pada isu pangan, energi, dan keuangan. Indonesia turut berperan penting dalam mengatasi tantangan besar yang saling terkait dalam ketahanan pangan, energi, dan keuangan global akibat konflik Rusia-Ukraina.

Airlangga juga menambahkan, Presidensi G20 Indonesia mengusung tiga agenda utama. Yakni arsitektur kesehatan global, transformasi ekonomi berbasis digital, dan transisi energi.

Dalam arsitektur kesehatan global, Indonesia mengusulkan untuk menciptakan mekanisme pembiayaan yang bisa mendukung tersedianya vaksin untuk negara-negara yang membutuhkan.

“Hal ini penting karena saat ini pandemi Covid-19 masih belum selesai. Masih ada negara-negara, terutama di Afrika, yang belum memiliki akses yang luas dalam mendapatkan vaksin,” jelas Airlangga.

Terkait dengan transformasi ekonomi berbasis digital, Airlangga menyampaikan bahwa digitaliasasi di Indonesia telah meningkat tajam selama pandemi. Peningkatan ini juga menjadi pendorong pemulihan ekonomi Indonesia di masa pandemi.

Perkembangan ekonomi digital di Indonesia pada tahun 2021 dapat terlihat dari transaksi komersial yang mencapai lebih dari US$ 27 miliar dan dengan lebih dari 2.300 start-up. Hal itu menempatkan Indonesia sebagai negara ke-5 di dunia dengan jumlah start-up terbanyak.

Indonesia memiliki 370 juta pengguna koneksi seluler dan 204 juta pengguna internet (74 % dari total populasi). Nilai transaksi uang elektronik lebih dari US$ 2,4 miliar per Desember 2021.

Baca Juga :  Panwaslu Ajak Polres Awasi Medsos

Tingkat inklusi keuangan pada 2019 mencapai sebesar 76,19 % dan ditargetkan akan mencapai 90% pada 2025. Pada 2021, terdapat 785 juta bisnis fintech.

Mengenai transisi energi, Airlangga menyampaikan bahwa Indonesia berkomitmen dalam bertransisi menggunakan Energi Baru Terbarukan (EBT). Saat ini Indonesia sedang mengembangkan prototipe pajak karbon untuk pembangkit listrik tenaga batu bara.

Indonesia juga melakukan retirement pembangkit listrik tenaga batu bara untuk menggantinya dengan EBT. Sebab, mempunyai model pembiayaan yang terjangkau dan berkelanjutan.

“Salah satu yang menjadi penting dalam transisi energi ini adalah tentang bagaimana menyiapkan pendanaannya melalui mekanisme blended finance,” paparnya.

“Termasuk mengembangkan protokol obligasi transisi sebagai peluang untuk memberikan pembiayaan kepada perusahaan yang memiliki target transisi ke industri hijau di masa depan. Kita tidak bisa melakukan transformasi tanpa pembiayaan yang memadai,” pungkas Airlangga.

Selain Menteri Investasi, Airlangga juga ditemani Menteri Perindustrian, Menteri Eenergi dan Sumber Daya Mineral, Menteri Komunikasi dan Informatika, Wakil Menteri BUMN, Duta Besar Indonesia untuk Swiss, Ketua Umum Kadin, Chair B20, dan Perutusan Tetap Republik Indonesia (PTRI). (ltg/fsr/par)

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/