alexametrics
27.2 C
Madura
Thursday, June 30, 2022

Hadiri APEC, Mendag Lutfi Ingatkan Kunci Pemulihan Ekonomi Dunia

JAKARTA – Menteri Perdagangan (Mwndag) Muhammad Lutfi mengingatkan anggota APEC ‘Kembali ke Perdagangan’. Tujuannya, untuk memperkuat pertumbuhan ekonomi akibat dampak pandemi Covid-19 dan menghadapi tantangan geopolitik.

Menurut Lutfi, kerja sama antar ekonomi menjadi kunci pemulihan dunia. Hal itu, disampaikan saat menghadiri Pertemuan Tingkat Menteri Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) Ministers Responsible for Trade(MRT), ke-28 di Bangkok, Thailand.

Pertemuan itu merupakan pertemuan fisik pertama selama dua tahun terakhir akibat pandemi Covid-19. Pertemuan digelar pada 21–22 Mei 2022 dan dihadiri para Menteri Perdagangan dari 21 anggota APEC.

“Kita harus kembali ke perdagangan, harus kembali ke ekonomi, harus kembali ke jalur pertumbuhan. Krisis pandemi Covid-19 mengajarkan bahwa tanpa kerja sama antarnegara, tantangan dunia yang terus berdatangan akan semakin sulit dibendung,” katanya.

Dijelaskan, kerja sama antarekonomi menjadi kunci pemulihan dunia. Perdagangan adalah tulang punggung kesejahteraan dan salah satu kunci perdamaian dunia.

“Untuk mencapai hal tersebut, APEC harus bersama-sama sepakat untuk kembali kepada ekonomi demi perdamaian dan kesejahteraan dunia,” tegas Lutfi.

Lutfi menuturkan, tantangan geopolitik turut mewarnai Pertemuan APEC MRT. Sebab, memberikan dampak signifikan bagi suplai perdagangan global, harga komoditas, dan inflasi. Apalagi, saat ini seluruh dunia terus berupaya pulih dari krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19.

“Krisis pandemi Covid-19 menjadi tantangan bagi Indonesia. Dua tahun terakhir kami berjuang keras untuk keluar dari jebakan pendapatan kelas menengah (middle income trap),” ungkap Lutfi.

Baca Juga :  Mendag Zulhas: Pemerintah Jaga Stabilitas Harga dan Pasokan di Seluruh Negeri

Lutfi memberi trik yang bisa dilakukan anggota APEC agar bisa kembali fokus pada perdagangan dan peningkatan ekonomi. Khususnya, di kawasan Asia Pasifik. Salah satu caranya, melalui pembahasan mengenai Kawasan Perdagangan Bebas Asia Pasifik/ Free Trade Area of the Asia Pacific (FTAAP).

“Sudah hampir 20 tahun sejak pertama kali pembahasan FTAAP, namun masih terdapat perbedaan pandangan di antara anggota APEC dalam menentukan arah ke depan. Karena itu, harus ada kesepakatan dan pemahaman bersama agar memberikan manfaat yang luas bagi perekonomian global,” tutur Lutfi.

Ditambahkan, untuk pembahasan sistem perdagangan multilateral, Indonesia menekankan seluruh anggota APEC agar mengupayakan pengembalian fungsi WTO. Sehingga, bisa memperoleh manfaat dari sistem perdagangan multilateral.

“Pada pertemuan Konferensi Tingkat Menteri WTO ke-12 (Ministerial Conference/MC-12) Juni 2022 mendatang, diperlukan upaya global untuk memastikan relevansi WTO dalam menghadapi tantangan yang sedang dihadapi dunia,” ingat Lutfi.

Langkah pertama yang harus dilakukan adalah membangun dialog untuk membangun sistem perdagangan multilateral antara anggota APEC. Kedua, anggota APEC harus memiliki komitmen memperkuat sistem perdagangan multilateral. Termasuk, melaksanakan hasil pertemuan MC-12, terutama sistem penyelesaian sengketa WTO yang kredibel,” ulas Lutfi.

Di tengah kenaikan harga pangan akibat disrupsi global, lanjut Lutfi, Indonesia mendorong penyelesaian negosiasi pertanian dan pembentukan disiplin subsidi perikanan yang efektif sebagai solusi. Itu untuk memastikan keseimbangan yang adil (level-playing-field).

Baca Juga :  Kampanyekan Gernas BBI, Mendag Dorong Pelaku UMKM Tembus Pasar Ekspor

Lutfi mengingatkan pentingnya pernyataan bersama anggota APEC untuk menyuksekan hasil pertemuan MC-12. Perlu menjaga relevansi dan integritas APEC untuk mendukung sistem perdagangan global dalam mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs).

“APEC harus menyelesaikan setiap permasalahan dengan proporsional dan berimbang serta menekankan pentingnya kelanjutan kerja. Indonesia mendorong pencapaian kesepakatan bersama Menteri Perdagangan APEC (MRT Statement) untuk menunjukkan relevansi dan integritas APEC di masa krisis,” tutur Mendag Lutfi.

Namun demikian, Lutfi menyesakkan Pertemuan Menteri Perdagangan APEC tahun ini hanya menyepakati “APEC Chair’s Statement”. “Belum berhasil menyepakati penyataan bersama terkait penyelesaian isu geopolitik,” pungkasnya.

Sekilas tentang APEC
APEC merupakan forum kerja sama 21 Ekonomi di lingkar Samudera Pasifik. Kegiatan utamanya meliputi kerja sama perdagangan, investasi, kerja sama ekonomi lainnya. Tujuannya, untuk mendorong pertumbuhan, serta peningkatan kesejahteraan di Kawasan Asia Pasifik.

Anggota Ekonomi APEC terdiri atas Australia, Brunei Darussalam, Filipina,Kanada, Chile, Tiongkok, Hongkong, Indonesia, Jepang, Korea Selatan, Malaysia, Meksiko, Selandia Baru, Peru, Papua Nugini, Rusia, Singapura, Taiwan, Thailand, Amerika Serikat, dan Vietnam.

Pada 2021, ekspor perdagangan Indonesia di kawasan APEC menunjukkan peningkatan. Pada periode tersebut, total nilai ekspor Indonesia ke anggota APEC sebesar USD 170,4 miliar. Nilainya naik 44 persen dibanding 2020 yang hanya USD 117,7 miliar. Surplus nilai perdagangan Indonesia-APEC mencapai USD 17,5 miliar. (*/par)

JAKARTA – Menteri Perdagangan (Mwndag) Muhammad Lutfi mengingatkan anggota APEC ‘Kembali ke Perdagangan’. Tujuannya, untuk memperkuat pertumbuhan ekonomi akibat dampak pandemi Covid-19 dan menghadapi tantangan geopolitik.

Menurut Lutfi, kerja sama antar ekonomi menjadi kunci pemulihan dunia. Hal itu, disampaikan saat menghadiri Pertemuan Tingkat Menteri Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) Ministers Responsible for Trade(MRT), ke-28 di Bangkok, Thailand.

Pertemuan itu merupakan pertemuan fisik pertama selama dua tahun terakhir akibat pandemi Covid-19. Pertemuan digelar pada 21–22 Mei 2022 dan dihadiri para Menteri Perdagangan dari 21 anggota APEC.


“Kita harus kembali ke perdagangan, harus kembali ke ekonomi, harus kembali ke jalur pertumbuhan. Krisis pandemi Covid-19 mengajarkan bahwa tanpa kerja sama antarnegara, tantangan dunia yang terus berdatangan akan semakin sulit dibendung,” katanya.

Dijelaskan, kerja sama antarekonomi menjadi kunci pemulihan dunia. Perdagangan adalah tulang punggung kesejahteraan dan salah satu kunci perdamaian dunia.

“Untuk mencapai hal tersebut, APEC harus bersama-sama sepakat untuk kembali kepada ekonomi demi perdamaian dan kesejahteraan dunia,” tegas Lutfi.

Lutfi menuturkan, tantangan geopolitik turut mewarnai Pertemuan APEC MRT. Sebab, memberikan dampak signifikan bagi suplai perdagangan global, harga komoditas, dan inflasi. Apalagi, saat ini seluruh dunia terus berupaya pulih dari krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19.

“Krisis pandemi Covid-19 menjadi tantangan bagi Indonesia. Dua tahun terakhir kami berjuang keras untuk keluar dari jebakan pendapatan kelas menengah (middle income trap),” ungkap Lutfi.

Baca Juga :  Mendag Zulhas: Pemerintah Jaga Stabilitas Harga dan Pasokan di Seluruh Negeri

Lutfi memberi trik yang bisa dilakukan anggota APEC agar bisa kembali fokus pada perdagangan dan peningkatan ekonomi. Khususnya, di kawasan Asia Pasifik. Salah satu caranya, melalui pembahasan mengenai Kawasan Perdagangan Bebas Asia Pasifik/ Free Trade Area of the Asia Pacific (FTAAP).

“Sudah hampir 20 tahun sejak pertama kali pembahasan FTAAP, namun masih terdapat perbedaan pandangan di antara anggota APEC dalam menentukan arah ke depan. Karena itu, harus ada kesepakatan dan pemahaman bersama agar memberikan manfaat yang luas bagi perekonomian global,” tutur Lutfi.

Ditambahkan, untuk pembahasan sistem perdagangan multilateral, Indonesia menekankan seluruh anggota APEC agar mengupayakan pengembalian fungsi WTO. Sehingga, bisa memperoleh manfaat dari sistem perdagangan multilateral.

“Pada pertemuan Konferensi Tingkat Menteri WTO ke-12 (Ministerial Conference/MC-12) Juni 2022 mendatang, diperlukan upaya global untuk memastikan relevansi WTO dalam menghadapi tantangan yang sedang dihadapi dunia,” ingat Lutfi.

Langkah pertama yang harus dilakukan adalah membangun dialog untuk membangun sistem perdagangan multilateral antara anggota APEC. Kedua, anggota APEC harus memiliki komitmen memperkuat sistem perdagangan multilateral. Termasuk, melaksanakan hasil pertemuan MC-12, terutama sistem penyelesaian sengketa WTO yang kredibel,” ulas Lutfi.

Di tengah kenaikan harga pangan akibat disrupsi global, lanjut Lutfi, Indonesia mendorong penyelesaian negosiasi pertanian dan pembentukan disiplin subsidi perikanan yang efektif sebagai solusi. Itu untuk memastikan keseimbangan yang adil (level-playing-field).

Baca Juga :  Mendag Sambut Jepang yang Berencana Inisiasi Pengembangan Ekonomi Kawasan

Lutfi mengingatkan pentingnya pernyataan bersama anggota APEC untuk menyuksekan hasil pertemuan MC-12. Perlu menjaga relevansi dan integritas APEC untuk mendukung sistem perdagangan global dalam mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs).

“APEC harus menyelesaikan setiap permasalahan dengan proporsional dan berimbang serta menekankan pentingnya kelanjutan kerja. Indonesia mendorong pencapaian kesepakatan bersama Menteri Perdagangan APEC (MRT Statement) untuk menunjukkan relevansi dan integritas APEC di masa krisis,” tutur Mendag Lutfi.

Namun demikian, Lutfi menyesakkan Pertemuan Menteri Perdagangan APEC tahun ini hanya menyepakati “APEC Chair’s Statement”. “Belum berhasil menyepakati penyataan bersama terkait penyelesaian isu geopolitik,” pungkasnya.

Sekilas tentang APEC
APEC merupakan forum kerja sama 21 Ekonomi di lingkar Samudera Pasifik. Kegiatan utamanya meliputi kerja sama perdagangan, investasi, kerja sama ekonomi lainnya. Tujuannya, untuk mendorong pertumbuhan, serta peningkatan kesejahteraan di Kawasan Asia Pasifik.

Anggota Ekonomi APEC terdiri atas Australia, Brunei Darussalam, Filipina,Kanada, Chile, Tiongkok, Hongkong, Indonesia, Jepang, Korea Selatan, Malaysia, Meksiko, Selandia Baru, Peru, Papua Nugini, Rusia, Singapura, Taiwan, Thailand, Amerika Serikat, dan Vietnam.

Pada 2021, ekspor perdagangan Indonesia di kawasan APEC menunjukkan peningkatan. Pada periode tersebut, total nilai ekspor Indonesia ke anggota APEC sebesar USD 170,4 miliar. Nilainya naik 44 persen dibanding 2020 yang hanya USD 117,7 miliar. Surplus nilai perdagangan Indonesia-APEC mencapai USD 17,5 miliar. (*/par)

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/