alexametrics
26.5 C
Madura
Wednesday, June 29, 2022

Mahasiswa Pelaku Kekerasan Seksual Anak di Pamekasan Belum Ditangkap

PAMEKASAN-Keseriusan aparat penegak hukum (APH) menyelesaikan penanganan kasus kekerasan seksual pada anak patut dipertanyakan. Sebab, banyak tersangka yang dimasukkan ke daftar pencarian orang (DPO) hingga kini belum ditangkap.

Umi Supraptiningsih, Koordinator Divisi Hukum Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perlindungan Perempuan dan Anak (PPT3A) Pamekasan membenarkan hal tersebut. Dalam dua tahun, ada 11 DPO kasus kekerasan seksual pada anak masih bebas berkeliaran.

“Pada tahun 2016, ada satu kasus tapi melibatkan dua pelaku. Satu pelaku di bawah umur dan masih sekolah. Pengadilan memutuskan yang bersangkutan dibina. Sementara satu pelaku yang tercatat sebagai mahasiswa perguruan tinggi ditetapkan sebagai DPO,” terangnya.

Baca Juga :  Bakesbangpol Tunggu Lengkap Sepuluh Parpol

Menurut Umi Supraptiningsih, Tahun 2017 ada 4 kasus yang belum tuntas. Rinciannya, Kecamatan Pasean satu kasus tapi dua pelaku DPO. Kecamatan Waru, satu kasus tapi tiga pelaku DPO. Kecamatan Pegantenan, satu kasus tapi empat pelaku DPO. “Khusus Kecamatan Kota Pamekasan, satu kasus tapi satu pelaku DPO,” imbuhnya.

Umi Supraptiningsih berharap pelaku kekerasan seksual pada anak segera ditangkap. Sebab, ada kemungkinan pelaku lari keluar Madura untuk menghilangkan jejak. “Pekerjaan rumah PPT3A masih banyak yang belum selesai. Masih banyak korban yang perlu pendampingan dan masih banyak kasus yang belum dilaporkan,” tambahnya. (Santi Stia Wardani)

PAMEKASAN-Keseriusan aparat penegak hukum (APH) menyelesaikan penanganan kasus kekerasan seksual pada anak patut dipertanyakan. Sebab, banyak tersangka yang dimasukkan ke daftar pencarian orang (DPO) hingga kini belum ditangkap.

Umi Supraptiningsih, Koordinator Divisi Hukum Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perlindungan Perempuan dan Anak (PPT3A) Pamekasan membenarkan hal tersebut. Dalam dua tahun, ada 11 DPO kasus kekerasan seksual pada anak masih bebas berkeliaran.

“Pada tahun 2016, ada satu kasus tapi melibatkan dua pelaku. Satu pelaku di bawah umur dan masih sekolah. Pengadilan memutuskan yang bersangkutan dibina. Sementara satu pelaku yang tercatat sebagai mahasiswa perguruan tinggi ditetapkan sebagai DPO,” terangnya.

Baca Juga :  45 Anggota Dewan Masih Nganggur

Menurut Umi Supraptiningsih, Tahun 2017 ada 4 kasus yang belum tuntas. Rinciannya, Kecamatan Pasean satu kasus tapi dua pelaku DPO. Kecamatan Waru, satu kasus tapi tiga pelaku DPO. Kecamatan Pegantenan, satu kasus tapi empat pelaku DPO. “Khusus Kecamatan Kota Pamekasan, satu kasus tapi satu pelaku DPO,” imbuhnya.

Umi Supraptiningsih berharap pelaku kekerasan seksual pada anak segera ditangkap. Sebab, ada kemungkinan pelaku lari keluar Madura untuk menghilangkan jejak. “Pekerjaan rumah PPT3A masih banyak yang belum selesai. Masih banyak korban yang perlu pendampingan dan masih banyak kasus yang belum dilaporkan,” tambahnya. (Santi Stia Wardani)

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/