alexametrics
24.3 C
Madura
Saturday, May 28, 2022

Napi Kendalikan Ani dan Dewan Jemput Narkoba

SAMPANG – Lembaga pemasyarakatan (lapas) tidak menjamin orang jera dari perbuatan melawan hukum. Bahkan, orang yang sedang menjalani masa hukuman juga bisa mengendalikan dari balik jeruji. Akibat perbuatannya itu justru menjebloskan orang lain ke penjara.

Seperti diakui Nurul Laily Ani binti Sutri Mariyanto Siswantono dan Dewan Permana Alimadya bin Ponidi Ariyanto. Mereka mengaku dikendalikan tiga orang narapidana (napi) Lapas Porong, Sidoarjo, dalam kasus narkoba. Nurul Laily Ani, 46, berasal dari Dusun Karang Templek, RT/RW 004/021 Desa Andongsari, Kecamatan Ambulu, Jember. Sedangkan Dewan Permana Alimadya, 34, warga Jalan Kedondong Kidul I/5.A RT 002, RW 006 Desa/Kecamatan Tegalsari, Surabaya.

Mereka ditangkap petugas Polres Sampang karena menjalankan perintah Jaka, Ocan, dan Diki Ariyanto. Ketiga orang itu sedang mendekam di Lapas Porong. Kamis (18/1) Ani mengaku ditelepon Jaka. Perempuan kurus yang belum dikaruniai anak itu dipandu melalui telepon oleh tetangganya itu. Dia disuruh turun di Terminal Purabaya Bungurasih.

Baca Juga :  Kisrus Lelang Proyek, Polisi Amankan Mobil dan Sajam

Di tempat itu dia dijemput Dewan Permana Alimadya yang tidak dikenalnya. Mereka disuruh berangkat ke Kecamatan Sokobanah, Sampang, untuk mengambil narkoba jenis sabu-sabu. Selesai transaksi, mereka ditangkap anggota satresnarkoba. ”Orang yang di Sokobanah saya tidak kenal. Saya hanya dikomando ngasih barang ke Lapas Porong. Kata orang yang di Sokobanah tunggu komando. Biasanya saya dibayar Rp 1,5 juta,” ucap Ani, Selasa (23/1).

Ani mengaku pernah masuk penjara karena mengonsumsi narkoba. ” Saya kali pertama ini masuk Madura dan langsung ditangkap. Saya ditangkap tahun 2014. Dihukum selama dua tahun,” ujarnya.

Dewan mengaku menjemput Ani di Terminal Purabaya karena ditelepon Diki Ariyanto dari Lapas Porong. Saat itu dia masih bekerja. Karena itu, kepada saudaranya, dia bilang akan menjemput setelahnya. ”Saya hanya dikasih tahu disuruh nganterin (Ani) ke Madura,” imbuhnya.

Baca Juga :  Panwaslu Bisa Batalkan Calon Kepala Daerah

Kapolres Sampang AKBP Budi Wardiman mengatakan, anggotanya bergerak setelah mendapat informasi ke Jalan Raya Desa Bira Timur, Kecamatan Sokobanah. Dari tangan tersangka, polisi menyita satu poket plastik klip bening terdapat kristal putih diduga sabu 8,04 gram bruto. Tiga lembar tisu putih, isolasi hitam, dan satu dompet ungu. Selain itu, uang tunai Rp 392 ribu, buku tabungan milik Ani dan motor Honda Astrea hitam tanpa pelat nomor.

Dua tersangka dijerat pasal 114 ayat 2 subsider pasal 112 ayat 2 jo pasal 132 ayat 1 UU 35/2009 tentang Narkotika. Mereka terancam penjara paling singkat lima tahun dan maksimal 20 tahun. Pidana denda paling sedikit Rp 1 miliar dan maksimal Rp 10 miliar. ”Kami akan melakukan pemberantasan barang haram ini, terutama di pantura,” janjinya.

SAMPANG – Lembaga pemasyarakatan (lapas) tidak menjamin orang jera dari perbuatan melawan hukum. Bahkan, orang yang sedang menjalani masa hukuman juga bisa mengendalikan dari balik jeruji. Akibat perbuatannya itu justru menjebloskan orang lain ke penjara.

Seperti diakui Nurul Laily Ani binti Sutri Mariyanto Siswantono dan Dewan Permana Alimadya bin Ponidi Ariyanto. Mereka mengaku dikendalikan tiga orang narapidana (napi) Lapas Porong, Sidoarjo, dalam kasus narkoba. Nurul Laily Ani, 46, berasal dari Dusun Karang Templek, RT/RW 004/021 Desa Andongsari, Kecamatan Ambulu, Jember. Sedangkan Dewan Permana Alimadya, 34, warga Jalan Kedondong Kidul I/5.A RT 002, RW 006 Desa/Kecamatan Tegalsari, Surabaya.

Mereka ditangkap petugas Polres Sampang karena menjalankan perintah Jaka, Ocan, dan Diki Ariyanto. Ketiga orang itu sedang mendekam di Lapas Porong. Kamis (18/1) Ani mengaku ditelepon Jaka. Perempuan kurus yang belum dikaruniai anak itu dipandu melalui telepon oleh tetangganya itu. Dia disuruh turun di Terminal Purabaya Bungurasih.

Baca Juga :  Ketahuan Nyuri Motor, Dua Warga Campor Dihajar Massa

Di tempat itu dia dijemput Dewan Permana Alimadya yang tidak dikenalnya. Mereka disuruh berangkat ke Kecamatan Sokobanah, Sampang, untuk mengambil narkoba jenis sabu-sabu. Selesai transaksi, mereka ditangkap anggota satresnarkoba. ”Orang yang di Sokobanah saya tidak kenal. Saya hanya dikomando ngasih barang ke Lapas Porong. Kata orang yang di Sokobanah tunggu komando. Biasanya saya dibayar Rp 1,5 juta,” ucap Ani, Selasa (23/1).

Ani mengaku pernah masuk penjara karena mengonsumsi narkoba. ” Saya kali pertama ini masuk Madura dan langsung ditangkap. Saya ditangkap tahun 2014. Dihukum selama dua tahun,” ujarnya.

Dewan mengaku menjemput Ani di Terminal Purabaya karena ditelepon Diki Ariyanto dari Lapas Porong. Saat itu dia masih bekerja. Karena itu, kepada saudaranya, dia bilang akan menjemput setelahnya. ”Saya hanya dikasih tahu disuruh nganterin (Ani) ke Madura,” imbuhnya.

Baca Juga :  Selidiki Kasus Penembakan Pak Haji, Polres Sampang Periksa Tiga Saksi

Kapolres Sampang AKBP Budi Wardiman mengatakan, anggotanya bergerak setelah mendapat informasi ke Jalan Raya Desa Bira Timur, Kecamatan Sokobanah. Dari tangan tersangka, polisi menyita satu poket plastik klip bening terdapat kristal putih diduga sabu 8,04 gram bruto. Tiga lembar tisu putih, isolasi hitam, dan satu dompet ungu. Selain itu, uang tunai Rp 392 ribu, buku tabungan milik Ani dan motor Honda Astrea hitam tanpa pelat nomor.

Dua tersangka dijerat pasal 114 ayat 2 subsider pasal 112 ayat 2 jo pasal 132 ayat 1 UU 35/2009 tentang Narkotika. Mereka terancam penjara paling singkat lima tahun dan maksimal 20 tahun. Pidana denda paling sedikit Rp 1 miliar dan maksimal Rp 10 miliar. ”Kami akan melakukan pemberantasan barang haram ini, terutama di pantura,” janjinya.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/