alexametrics
19 C
Madura
Tuesday, August 9, 2022

Mahasiswa Pertanyakan Nata Kota Bangun Desa

SUMENEP – Aksi Gerakan Mahasiswa Ekstra Parlemen (Gempar) ke Kantor Bupati Sumenep berlanjut Selasa (21/11). Mereka menyoroti program Nata Kota Bangun Desa. Hujan yang mengguyur Kota Sumekar tak menyurutkan semangat demonstran.

Aksi dimulai sekitar pukul 08.30. Mahasiswa menaiki sepeda motor. Tiba di depan Kantor Bupati Sumenep di Jalan dr Cipto, mahasiswa merapat. Di depan pintu masuk kantor bupati sudah siaga pagar betis aparat kepolisian.

Mahasiswa lalu berorasi. Meski diguyur hujan, Korlap aksi Mahfud Amin berteriak lantang. Menurut dia, program Pemkab Sumenep yaitu Nata Kota Bangun Desa, gagal. Sebab, 27 desa di Sumenep yang jadi sampel bangun desa tidak pernah ada sosialisasi.

Baca Juga :  RKA Tak Perlu Dibahas Bersama Komisi DPRD

”Berdasarkan advokasi yang kami lakukan, tidak ada sosialisasi ke desa-desa. Padahal, program itu sudah dicanangkan sejak awal pemerintahan Busyro-Fauzi,” katanya.

Gempar mendesak pemkab mengkaji ulang Peraturan Bupati (Perbup) Nomor 513 Tahun 2016 tentang Desa-Desa Sasaran Program Bangun Desa. Sebab, kata Mahfud, pemkab tidak memiliki konsep yang jelas terkait program Nata Kota Bangun Desa.

Dia menegaskan, masyarakat butuh bukti, bukan janji. Penataan kota oleh pemkab dinilai tidak serius. Salah satu buktinya, banjir melanda kawasan kota.

Untuk mengekspresikan kekecewaan itu mahasiswa menggelar salat Gaib di jalan raya depan Kantor Bupati Sumenep. Mereka menuntut ditemui langsung oleh bupati. Namun karena hanya akan ditemui perwakilan bupati, mahasiswa menolak. Mereka lantas membubarkan diri.

Baca Juga :  Bupati Sumenep Resmikan Penyaluran BST

SUMENEP – Aksi Gerakan Mahasiswa Ekstra Parlemen (Gempar) ke Kantor Bupati Sumenep berlanjut Selasa (21/11). Mereka menyoroti program Nata Kota Bangun Desa. Hujan yang mengguyur Kota Sumekar tak menyurutkan semangat demonstran.

Aksi dimulai sekitar pukul 08.30. Mahasiswa menaiki sepeda motor. Tiba di depan Kantor Bupati Sumenep di Jalan dr Cipto, mahasiswa merapat. Di depan pintu masuk kantor bupati sudah siaga pagar betis aparat kepolisian.

Mahasiswa lalu berorasi. Meski diguyur hujan, Korlap aksi Mahfud Amin berteriak lantang. Menurut dia, program Pemkab Sumenep yaitu Nata Kota Bangun Desa, gagal. Sebab, 27 desa di Sumenep yang jadi sampel bangun desa tidak pernah ada sosialisasi.

Baca Juga :  Bupati Minta Diskop Tertibkan Koperasi

”Berdasarkan advokasi yang kami lakukan, tidak ada sosialisasi ke desa-desa. Padahal, program itu sudah dicanangkan sejak awal pemerintahan Busyro-Fauzi,” katanya.

Gempar mendesak pemkab mengkaji ulang Peraturan Bupati (Perbup) Nomor 513 Tahun 2016 tentang Desa-Desa Sasaran Program Bangun Desa. Sebab, kata Mahfud, pemkab tidak memiliki konsep yang jelas terkait program Nata Kota Bangun Desa.

Dia menegaskan, masyarakat butuh bukti, bukan janji. Penataan kota oleh pemkab dinilai tidak serius. Salah satu buktinya, banjir melanda kawasan kota.

Untuk mengekspresikan kekecewaan itu mahasiswa menggelar salat Gaib di jalan raya depan Kantor Bupati Sumenep. Mereka menuntut ditemui langsung oleh bupati. Namun karena hanya akan ditemui perwakilan bupati, mahasiswa menolak. Mereka lantas membubarkan diri.

Baca Juga :  Bupati Sumenep Resmikan Penyaluran BST
- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/