alexametrics
22.1 C
Madura
Thursday, August 11, 2022

Universalitas Pendidikan Islam

FAISAL Ismail, guru besar UIN Sunan Kalijaga, bertungkus lumus mendedah kompleksitas pembahasan bertema pendidikan Islam. Secara rinci, pendidikan Islam dibelah menjadi tiga: pendekatan sejarah, kebijakan yang berkorelasi dengan political will pemerintah (politik), dan keilmuan yang berbicara perihal substansi (kurikulum).

Sembilan belas bab yang disajikan dengan mewedar ketiga bagian itu secara bersamaan. Diawali dari narasi Nabi Muhammad SAW, yang disebut sebagai peletak dasar politik dan kebijakan pendidikan Islam (hlm 19). Basis pada sosok dan perangai luhur beliau adalah titik tolak dan sandaran bagi para generasi selanjutnya dalam mengejawantahkan perkembangan keilmuan yang sembari bertumpu pada keadaban. Nalar dan akhlak sama-sama penting.

Prof Faisal mengulik keterkaitan kuat babakan politik sebagai sumbu dengan penggerak kemajuan berupa gairah keilmuan. Tamsil yang dikemukan tak lain tak bukan mengajak pembaca menyusuri romantisme abad ke-7 sampai ke-13 M sebagai the golden age of Islam. Luberan karya para cendekia muslim kala itu banyak ditopang oleh partisipasi aktif negara.

Hal ini bisa dilihat, salah satunya dari penyediaan perpustakaan agung Bayt Hikmah sebagai tamsil. Dalam salah satu hikayat, negara bahkan membarter emas sebagai rangsangan berkarya dengan sebuah karya/buku. Semakin banyak dan tebal buku yang dihasilkan, semakin berat pula emas yang bakal diterima penulis/muallif.

 

Baca Juga :  Guru Tak Boleh Sembarangan

Dinamika Pesantren

Buku ini juga mendedah konsepsi pendidikan Islam di Indonesia. Bahasan ini menghadirkan wajah pesantren sebagai simbol utama sekaligus kekhasan. Menariknya, diwedar implicit oleh penulis bahwa hampir semua pesantren mampu berdiri sendiri; berdikari tanpa campur tangan pemerintah.

Hal ini berbeda dengan wajah perguruan tinggi Islam negeri dan terutama sekali madrasah. Kedua lembaga itu kerap terstigma dianaktirikan dan menjadi tertinggal ketimbang lembaga pendidikan sejenis lainnya. Padahal negara sedikit-banyak telah turut langsung ikut berperan; entah dari sisi kurikulum hingga alokasi pendanaan.

Namun, renik-renik itu adalah soal zaman yang bersandar pada kuasa politik berjangka pendek. Buktinya, kini, banyak madrasah telah berpunya laboratorium. Negara juga mendirikan madrasah-madrasah unggulan di pelbagai daerah bersistem asrama. Siswa madrasah digenjot mengakrabi sains dan keikutsertaan pada lomba eksakta tingkat nasional-internasional.

Sisi lain, transformasi IAIN menjadi UIN adalah bukti perguruan tinggi negeri yang bercorak keislaman ini mengalami transformasi dalam memandang arah keilmuan dan pergeseran corak zaman. Mahasiswa tidak sekadar belajar mata kuliah keagamaan, melainkan pihak stakeholder kampus telah membuka diri pada jurusan dan prodi seperti ilmu sosial, ilmu komunikasi, ilmu kesehatan, dan lain sebagainya (hlm 176).

Di banyak pesantren, kaum santri diajarkan bahasa Inggris dan komputer. Telah banyak pula pesantren membuka diri dengan penyediaan literatur Barat. Gerak zaman juga mengubah wajah pesantren yang dulu terstigma seragam kini mulai beraneka corak.

Baca Juga :  Pendidikan Cinta Fauna

Sebagian pesantren bermetamorfosa menjadi pesantren modern. Embel-embel modern bisa ditilik dari atribut pakaian: berdasi dan bercelana panjang; kurikulum yang mendidik santri sampai tingkatan meninjau ulang teks-teks keagamaan, hingga kemegahan fisik bangunan.

Kacamata Prof Faisal lantas menajamkan analisis bahwa sebab muasal perubahan wajah konsepsi pendidikan Islam berkait langsung dengan kemajuan tradisi keilmuan Barat yang juga melakukan studi-studi keislaman (hlm 289). Pun, datangnya globalisasi, arus masyarakat multikultural, dan kompleksitas sosial-budaya menjadi tantangan menciptakan aras pendidikan Islam ideal.

Dalam konteks inilah, Prof Faisal memberikan tawaran ide berupa perumusan pendidikan keislaman yang berbasis wawasan Pancasila; sebagai arah dan pijakan muslim Indonesia yang senyatanya hidup bersampingan dengan lintas pemeluk agama (hlm 278).

Ikhtisar buku ini adalah hakikat pendidikan Islam tidak mengenal dikotomi pengetahuan: ilmu agama-ilmu sekuler. Juga, penolakan kesan pertentangan Islam versus Barat. Lantaran hal ini merupakan pandangan ahistoris yang sudah ”diselesaikan” di era keemasan peradaban Islam seperti yang sudah ditamsilkan Al-Khawarizmi, Ibnu Sina, Ibnu Khaldun, serta penerjemahan besar-besaran karya-karya dari kaum cendekia Yunani dan Romawi. (*)

 

MUHAMMAD ITSBATUN NAJIH

Alumnus UIN Sunan Kalijaga, Jogjakarta 

FAISAL Ismail, guru besar UIN Sunan Kalijaga, bertungkus lumus mendedah kompleksitas pembahasan bertema pendidikan Islam. Secara rinci, pendidikan Islam dibelah menjadi tiga: pendekatan sejarah, kebijakan yang berkorelasi dengan political will pemerintah (politik), dan keilmuan yang berbicara perihal substansi (kurikulum).

Sembilan belas bab yang disajikan dengan mewedar ketiga bagian itu secara bersamaan. Diawali dari narasi Nabi Muhammad SAW, yang disebut sebagai peletak dasar politik dan kebijakan pendidikan Islam (hlm 19). Basis pada sosok dan perangai luhur beliau adalah titik tolak dan sandaran bagi para generasi selanjutnya dalam mengejawantahkan perkembangan keilmuan yang sembari bertumpu pada keadaban. Nalar dan akhlak sama-sama penting.

Prof Faisal mengulik keterkaitan kuat babakan politik sebagai sumbu dengan penggerak kemajuan berupa gairah keilmuan. Tamsil yang dikemukan tak lain tak bukan mengajak pembaca menyusuri romantisme abad ke-7 sampai ke-13 M sebagai the golden age of Islam. Luberan karya para cendekia muslim kala itu banyak ditopang oleh partisipasi aktif negara.


Hal ini bisa dilihat, salah satunya dari penyediaan perpustakaan agung Bayt Hikmah sebagai tamsil. Dalam salah satu hikayat, negara bahkan membarter emas sebagai rangsangan berkarya dengan sebuah karya/buku. Semakin banyak dan tebal buku yang dihasilkan, semakin berat pula emas yang bakal diterima penulis/muallif.

 

Baca Juga :  Ikhtiar Mematangkan Ideologi Pancasila

Dinamika Pesantren

Buku ini juga mendedah konsepsi pendidikan Islam di Indonesia. Bahasan ini menghadirkan wajah pesantren sebagai simbol utama sekaligus kekhasan. Menariknya, diwedar implicit oleh penulis bahwa hampir semua pesantren mampu berdiri sendiri; berdikari tanpa campur tangan pemerintah.

Hal ini berbeda dengan wajah perguruan tinggi Islam negeri dan terutama sekali madrasah. Kedua lembaga itu kerap terstigma dianaktirikan dan menjadi tertinggal ketimbang lembaga pendidikan sejenis lainnya. Padahal negara sedikit-banyak telah turut langsung ikut berperan; entah dari sisi kurikulum hingga alokasi pendanaan.

Namun, renik-renik itu adalah soal zaman yang bersandar pada kuasa politik berjangka pendek. Buktinya, kini, banyak madrasah telah berpunya laboratorium. Negara juga mendirikan madrasah-madrasah unggulan di pelbagai daerah bersistem asrama. Siswa madrasah digenjot mengakrabi sains dan keikutsertaan pada lomba eksakta tingkat nasional-internasional.

Sisi lain, transformasi IAIN menjadi UIN adalah bukti perguruan tinggi negeri yang bercorak keislaman ini mengalami transformasi dalam memandang arah keilmuan dan pergeseran corak zaman. Mahasiswa tidak sekadar belajar mata kuliah keagamaan, melainkan pihak stakeholder kampus telah membuka diri pada jurusan dan prodi seperti ilmu sosial, ilmu komunikasi, ilmu kesehatan, dan lain sebagainya (hlm 176).

Di banyak pesantren, kaum santri diajarkan bahasa Inggris dan komputer. Telah banyak pula pesantren membuka diri dengan penyediaan literatur Barat. Gerak zaman juga mengubah wajah pesantren yang dulu terstigma seragam kini mulai beraneka corak.

Baca Juga :  Pilkada Bangkalan, Ra Bir Aly┬áRutin Komunikasi Politik

Sebagian pesantren bermetamorfosa menjadi pesantren modern. Embel-embel modern bisa ditilik dari atribut pakaian: berdasi dan bercelana panjang; kurikulum yang mendidik santri sampai tingkatan meninjau ulang teks-teks keagamaan, hingga kemegahan fisik bangunan.

Kacamata Prof Faisal lantas menajamkan analisis bahwa sebab muasal perubahan wajah konsepsi pendidikan Islam berkait langsung dengan kemajuan tradisi keilmuan Barat yang juga melakukan studi-studi keislaman (hlm 289). Pun, datangnya globalisasi, arus masyarakat multikultural, dan kompleksitas sosial-budaya menjadi tantangan menciptakan aras pendidikan Islam ideal.

Dalam konteks inilah, Prof Faisal memberikan tawaran ide berupa perumusan pendidikan keislaman yang berbasis wawasan Pancasila; sebagai arah dan pijakan muslim Indonesia yang senyatanya hidup bersampingan dengan lintas pemeluk agama (hlm 278).

Ikhtisar buku ini adalah hakikat pendidikan Islam tidak mengenal dikotomi pengetahuan: ilmu agama-ilmu sekuler. Juga, penolakan kesan pertentangan Islam versus Barat. Lantaran hal ini merupakan pandangan ahistoris yang sudah ”diselesaikan” di era keemasan peradaban Islam seperti yang sudah ditamsilkan Al-Khawarizmi, Ibnu Sina, Ibnu Khaldun, serta penerjemahan besar-besaran karya-karya dari kaum cendekia Yunani dan Romawi. (*)

 

MUHAMMAD ITSBATUN NAJIH

Alumnus UIN Sunan Kalijaga, Jogjakarta 

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/