alexametrics
20.7 C
Madura
Saturday, July 2, 2022

Dukungan untuk Guru Budi Cahyanto Terus Berdatangan

SAMPANG – Guru, simpatisan, dan kerabat almarhum Achmad Budi Cahyanto melakukan aksi damai di depan Pengadilan Negeri (PN) Sampang Rabu (21/2). Mereka memberikan dukungan moral kepada majelis hakim supaya terdakwa HZF dijatuhi hukuman berat.

Sejak pukul 08.30, peserta aksi berkumpul di depan kantor PN Sampang. Mereka membawa poster berisi tulisan agar terdakwa dihukum berat.

Ketua PGRI Kabupaten Magetan Nursalim mengatakan, pihaknya sengaja datang ke PN Sampang untuk memberikan dukungan moral supaya sidang perkara penganiayaan alm Achmad Budi Cahyanto dilaksanakan dengan adil. Dia bersama 34 guru dari Magetan takziah ke rumah duka.

Guru-guru dari Magetan lalu bergabung dengan para simpatisan yang melakukan aksi damai di depan kantor PN Sampang sebagai bentuk dukungan. ”Ini merupakan kehendak Allah. Tapi, saya meminta supaya kasus hukum diproses sesuai undang-undang,” ucapnya.

Baca Juga :  Putusan Kasus Guru Budi Cahyanto Dipercepat, Ini Pertimbangan PN

Pihaknya meminta majelis hakim dalam memvonis terdakwa tidak diintervensi oleh siapa pun. Dengan demikian, putusan yang diambil majelis hakim benar-benar mengedepankan kejujuran. ”Ini harus dijadikan pelajaran bagi pemerintah. Kami juga akan mengusulkan supaya GTT segera diangkat menjadi PNS,” paparnya.

Sementara itu, sidang terdakwa HZF (inisial) dengan agenda pemeriksaan saksi akan dilaksanakan secara berturut selama tiga hari mulai Rabu (21/2) hingga Jumat 23/2. Hal itu disampaikan Humas PN Sampang I Gede Perwata usai sidang pemeriksaan saksi yang dilaksanakan pukul 09.30 di ruang sidang anak.

Dia mengungkapkan, hari ini merupakan sidang kedua dengan agenda pemeriksaan saksi. Menurutnya, ada 12 saksi yang didatangkan dalam persidangan tersebut. Terdiri dari peserta didik, guru, dan keluarga. ”Murid tujuh orang, guru tiga orang, dan keluarga korban dua orang,” katanya.

Baca Juga :  Bawaslu: Media Harus Punya Trik

Pernyataan yang disampaikan para saksi diuji lagi di pengadilan. Menurut dia, hasilnya sesuai dengan berita acara pemeriksaan (BAP). Pihaknya bergerak cepat karena berkaitan dengan masa penahanan. Sidang perkara penganiayaan guru berujung kematian itu digenjot. ”Ancaman hukuman terhadap terdakwa bisa maksimal 15 tahun,” ujarnya.

Jaksa Penuntut Umum Kejaksaan Negeri (Kejari) Sampang Munarwi mengatakan, pihaknya akan mendatangkan saksi ahli dari tim medis yang menangani korban pada saat dirujuk ke rumah sakit di Surabaya. ”Besok (hari ini, Red) pemeriksaan saksi guru BK di SMAN 1 Torjun,” terangnya.

Untuk sidang hari ini, saksi yang akan dihadirkan sebanyak tiga orang. Meliputi, saksi ahli, guru BK, dan dari keluarga korban. ”Total saksi ahli ada empat orang yang akan didatangkan. Itu jika tidak ada perubahan lagi,” tukasnya.

 

SAMPANG – Guru, simpatisan, dan kerabat almarhum Achmad Budi Cahyanto melakukan aksi damai di depan Pengadilan Negeri (PN) Sampang Rabu (21/2). Mereka memberikan dukungan moral kepada majelis hakim supaya terdakwa HZF dijatuhi hukuman berat.

Sejak pukul 08.30, peserta aksi berkumpul di depan kantor PN Sampang. Mereka membawa poster berisi tulisan agar terdakwa dihukum berat.

Ketua PGRI Kabupaten Magetan Nursalim mengatakan, pihaknya sengaja datang ke PN Sampang untuk memberikan dukungan moral supaya sidang perkara penganiayaan alm Achmad Budi Cahyanto dilaksanakan dengan adil. Dia bersama 34 guru dari Magetan takziah ke rumah duka.


Guru-guru dari Magetan lalu bergabung dengan para simpatisan yang melakukan aksi damai di depan kantor PN Sampang sebagai bentuk dukungan. ”Ini merupakan kehendak Allah. Tapi, saya meminta supaya kasus hukum diproses sesuai undang-undang,” ucapnya.

Baca Juga :  Pelajar Gasak Motor Tetangga Buat Beli HP

Pihaknya meminta majelis hakim dalam memvonis terdakwa tidak diintervensi oleh siapa pun. Dengan demikian, putusan yang diambil majelis hakim benar-benar mengedepankan kejujuran. ”Ini harus dijadikan pelajaran bagi pemerintah. Kami juga akan mengusulkan supaya GTT segera diangkat menjadi PNS,” paparnya.

Sementara itu, sidang terdakwa HZF (inisial) dengan agenda pemeriksaan saksi akan dilaksanakan secara berturut selama tiga hari mulai Rabu (21/2) hingga Jumat 23/2. Hal itu disampaikan Humas PN Sampang I Gede Perwata usai sidang pemeriksaan saksi yang dilaksanakan pukul 09.30 di ruang sidang anak.

Dia mengungkapkan, hari ini merupakan sidang kedua dengan agenda pemeriksaan saksi. Menurutnya, ada 12 saksi yang didatangkan dalam persidangan tersebut. Terdiri dari peserta didik, guru, dan keluarga. ”Murid tujuh orang, guru tiga orang, dan keluarga korban dua orang,” katanya.

Baca Juga :  Bakal Hadirkan Saksi Ahli dari Surabaya

Pernyataan yang disampaikan para saksi diuji lagi di pengadilan. Menurut dia, hasilnya sesuai dengan berita acara pemeriksaan (BAP). Pihaknya bergerak cepat karena berkaitan dengan masa penahanan. Sidang perkara penganiayaan guru berujung kematian itu digenjot. ”Ancaman hukuman terhadap terdakwa bisa maksimal 15 tahun,” ujarnya.

Jaksa Penuntut Umum Kejaksaan Negeri (Kejari) Sampang Munarwi mengatakan, pihaknya akan mendatangkan saksi ahli dari tim medis yang menangani korban pada saat dirujuk ke rumah sakit di Surabaya. ”Besok (hari ini, Red) pemeriksaan saksi guru BK di SMAN 1 Torjun,” terangnya.

Untuk sidang hari ini, saksi yang akan dihadirkan sebanyak tiga orang. Meliputi, saksi ahli, guru BK, dan dari keluarga korban. ”Total saksi ahli ada empat orang yang akan didatangkan. Itu jika tidak ada perubahan lagi,” tukasnya.

 

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/