alexametrics
21.1 C
Madura
Wednesday, August 10, 2022

Dari Dogmatisme Menuju Nalar Jihad

Peristiwa berbau teror berkedok agama ibarat jamur tumbuh di tempat basah. Agama tak henti-henti dipersandingkan secara telanjang untuk kepentingan teror. Penampakan aksi teror selalu berjalan seiring dengan tendensi keberagamaan tertentu.

 

Anggapan tersebut menemukan gemanya saat publik dikejutkan serentetan aksi teror di Surabaya dan beberapa daerah di Indonesia. Pelakunya keluarga muslim dan beraksi mengatasnamakan ”jihad”. Mirisnya, peristiwa ini terjadi ketika umat Islam akan memasuki bulan suci Ramadan, bulan yang penuh rahmat.

Keterkaitan agama dan aksi teror bukan hal baru. Sebelum agama-agama lahir di dunia, secara naluri manusia punya insting untuk melakukan aksi ”teror”. Insting ini biasa dipergunakan sebagai bentuk daya survive atau untuk mempertahankan keberlangsungan hidup. Apabila insting dibiarkan tanpa kontrol akan menimbulkan situasi chaos karena tak ada mekanisme kontrol dalam pelampiasannya. Dus, keberadaan agama dengan seperangkat doktrinnya, mengatur insting tersebut agar bisa diarahkan serta diterjemahkan menjadi perilaku yang konstruktif, bukan destruktif.

Beberapa abad agama berhasil dalam menekan menguapnya potensi teror dalam diri manusia. Selain memiliki kemampuan menjernihkan persoalan, agama punya kekuatan mengkristalkan nilai sehingga gerakan yang dilakukan memiliki jiwa atau spirit. Mark Juergensmeyer, penulis Terror in the Mind of God: The Global Rise of Religious Violence, mengatakan, agama membuat orang merasa memiliki nilai penting, yang tidak terbatas pada kurun waktu kehidupannya saja. Tetapi meluas, bahkan melampaui lintas sejarah. Struktur ideologi agama selalu menempatkan individu dalam kedudukan kosmis, yang sangat istimewa di hadapan Yang Mahakuasa (Witdarmono, 2003: 479).

Daya kosmis dan perasaan istimewa di hadapan Yang Mahakuasa inilah—ditambah dengan adanya sistem ganjaran yang khas, unsur legitimasi, dan pembenaran mendapatkan tempat yang nyata pada suatu tindakan berdasarkan keyakinan agama. Pada tataran selanjutnya bisa dipersandingkan dengan nilai-nilai suci dan sakral dalam agama.

Baca Juga :  Melawan Hipertensi Agama

Persoalannya terletak pada intensitas kedalaman makna dalam menangkap pesan agama. Pesan moral dalam ayat-ayat suci, terutama yang berdimensi perjuangan saat ini banyak dimaknai dan dipakai pada hal-hal yang bersifat sloganistik dan parsial. Mengapa ajaran luhur agama begitu mudah teramputasi?

 

Ironi Dogmatisme

Agama muncul ke dunia untuk menciptakan kesadaran moral dalam masyarakat. Agama bukan hal yang tendensius ataupun ambisius. Tetapi memberikan kesadaran kritis, agar manusia bersikap bijak dalam menghadapi sekian problematika hidup. Pemikir Franz Magnis Suseno, misalnya, mengungkapkan tiga lembaga normatif dalam kehidupan.

Pertama, diri kita sendiri, adalah dinilai efektif apabila sanggup memberikan penilaian rasional terhadap dorongan-dorongan dalam batin (superego). Kedua, segala macam lembaga dalam masyarakat seperti: keluarga, sekolah, lembaga agama, dan lain-lain. Ketiga, segala macam ideologi yang memperebutkan keterlibatan manusia pada zaman sekarang (Suseno, 1999: 13).

Berdasar kategori tersebut, pendekatan terhadap teror sebagai cara melakukan segala hal dengan menggunakan simbol agama, berarti terjebak pada pemahaman agama secara simbolis-ideologis tidak substantif. Betul kata Nurcholish Madjid dalam buku Islam Indonesia Masih Simbolis, tentang perlunya mengimplementasikan doktrin-doktrin Islam yang pokok secara luas dalam kehidupan sehari-hari (Saleh, 2004: 332). Dewasa ini masih banyak ditemukan pengajaran dan pemaknaan agama secara dogmatis dan doktriner. Ditambah, kondisi sosial-politik dan ekonomi yang masih jauh dari nilai-nilai keadilan dengan beragam ketimpangan sosial yang menyertai.

Baca Juga :  Menyambut Kemenangan Rakyat

Di sinilah pentingnya reformulasi pemahaman terhadap teks-teks agama. Kenyataan ini yang barangkali belum tuntas dipahami dan disadari sebagian kalangan umat Islam. Kesadaran beragama itu bukan hanya persoalan keyakinan dan ritual. Tetapi, juga banyak menekankan aspek relasi sosial yang menyeluruh. Utamanya, ketidakmampuan dalam menemukan relevansi pemahaman yang tepat dan proporsional antara teks dan konteks akan melahirkan duri dalam kehidupan yang pada akhirnya mengarah pada disintegrasi. Padahal, secara fundamental Islam difungsikan sebagai kekuatan integratif yang melampaui batas-batas sentimen dan identitas primordialisme.

 

Nalar Jihad

Bagaimana semestinya memperlakukan teks jihad? Sesuai paparan di atas, yang perlu dilakukan adalah memaknai jihad secara rasional. Umat bisa memahami konsep jihad secara rasional dapat dinyatakan melalui dua pendekatan. Pertama, mengajukan penalaran-penalaran terhadap persoalan keagamaan dan kemanusiaan yang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Ditambah, memberikan pemahaman yang kreatif tentang dimensi jihad yang bisa dilakukan dan tidak harus menggunakan dengan kekerasan. Kedua, merasionalisasikan doktrin untuk mengatasi problem makna mendasar: apakah mereka benar-benar terselamatkan ke surga?

Rasionalisasi itu dapat dilihat juga sebagai penghilang dogmatisme kaku dalam memaknai pesan-pesan agama. Seseorang pasti berpikir panjang untuk melakukan suatu tindakan dengan mempertimbangkan aspek-aspek yang lebih bermakna di balik suatu peristiwa. Seseorang dapat memahami sesuatu melalui kalkulasi-kalkulasi rasional. Pemahaman yang rasional dan kontekstual terhadap suatu ajaran bisa menjadi modal utama untuk meminimalkan munculnya tindakan-tindakan teror yang sekali lagi bisa memutus tali peradaban.

Peristiwa berbau teror berkedok agama ibarat jamur tumbuh di tempat basah. Agama tak henti-henti dipersandingkan secara telanjang untuk kepentingan teror. Penampakan aksi teror selalu berjalan seiring dengan tendensi keberagamaan tertentu.

 

Anggapan tersebut menemukan gemanya saat publik dikejutkan serentetan aksi teror di Surabaya dan beberapa daerah di Indonesia. Pelakunya keluarga muslim dan beraksi mengatasnamakan ”jihad”. Mirisnya, peristiwa ini terjadi ketika umat Islam akan memasuki bulan suci Ramadan, bulan yang penuh rahmat.


Keterkaitan agama dan aksi teror bukan hal baru. Sebelum agama-agama lahir di dunia, secara naluri manusia punya insting untuk melakukan aksi ”teror”. Insting ini biasa dipergunakan sebagai bentuk daya survive atau untuk mempertahankan keberlangsungan hidup. Apabila insting dibiarkan tanpa kontrol akan menimbulkan situasi chaos karena tak ada mekanisme kontrol dalam pelampiasannya. Dus, keberadaan agama dengan seperangkat doktrinnya, mengatur insting tersebut agar bisa diarahkan serta diterjemahkan menjadi perilaku yang konstruktif, bukan destruktif.

Beberapa abad agama berhasil dalam menekan menguapnya potensi teror dalam diri manusia. Selain memiliki kemampuan menjernihkan persoalan, agama punya kekuatan mengkristalkan nilai sehingga gerakan yang dilakukan memiliki jiwa atau spirit. Mark Juergensmeyer, penulis Terror in the Mind of God: The Global Rise of Religious Violence, mengatakan, agama membuat orang merasa memiliki nilai penting, yang tidak terbatas pada kurun waktu kehidupannya saja. Tetapi meluas, bahkan melampaui lintas sejarah. Struktur ideologi agama selalu menempatkan individu dalam kedudukan kosmis, yang sangat istimewa di hadapan Yang Mahakuasa (Witdarmono, 2003: 479).

Daya kosmis dan perasaan istimewa di hadapan Yang Mahakuasa inilah—ditambah dengan adanya sistem ganjaran yang khas, unsur legitimasi, dan pembenaran mendapatkan tempat yang nyata pada suatu tindakan berdasarkan keyakinan agama. Pada tataran selanjutnya bisa dipersandingkan dengan nilai-nilai suci dan sakral dalam agama.

Baca Juga :  Sukseskan Presidensi G20, Kemenko Perekonomian Gelar Sederet Even

Persoalannya terletak pada intensitas kedalaman makna dalam menangkap pesan agama. Pesan moral dalam ayat-ayat suci, terutama yang berdimensi perjuangan saat ini banyak dimaknai dan dipakai pada hal-hal yang bersifat sloganistik dan parsial. Mengapa ajaran luhur agama begitu mudah teramputasi?

 

Ironi Dogmatisme

Agama muncul ke dunia untuk menciptakan kesadaran moral dalam masyarakat. Agama bukan hal yang tendensius ataupun ambisius. Tetapi memberikan kesadaran kritis, agar manusia bersikap bijak dalam menghadapi sekian problematika hidup. Pemikir Franz Magnis Suseno, misalnya, mengungkapkan tiga lembaga normatif dalam kehidupan.

Pertama, diri kita sendiri, adalah dinilai efektif apabila sanggup memberikan penilaian rasional terhadap dorongan-dorongan dalam batin (superego). Kedua, segala macam lembaga dalam masyarakat seperti: keluarga, sekolah, lembaga agama, dan lain-lain. Ketiga, segala macam ideologi yang memperebutkan keterlibatan manusia pada zaman sekarang (Suseno, 1999: 13).

Berdasar kategori tersebut, pendekatan terhadap teror sebagai cara melakukan segala hal dengan menggunakan simbol agama, berarti terjebak pada pemahaman agama secara simbolis-ideologis tidak substantif. Betul kata Nurcholish Madjid dalam buku Islam Indonesia Masih Simbolis, tentang perlunya mengimplementasikan doktrin-doktrin Islam yang pokok secara luas dalam kehidupan sehari-hari (Saleh, 2004: 332). Dewasa ini masih banyak ditemukan pengajaran dan pemaknaan agama secara dogmatis dan doktriner. Ditambah, kondisi sosial-politik dan ekonomi yang masih jauh dari nilai-nilai keadilan dengan beragam ketimpangan sosial yang menyertai.

Baca Juga :  Peran Kartini dalam Pendidikan

Di sinilah pentingnya reformulasi pemahaman terhadap teks-teks agama. Kenyataan ini yang barangkali belum tuntas dipahami dan disadari sebagian kalangan umat Islam. Kesadaran beragama itu bukan hanya persoalan keyakinan dan ritual. Tetapi, juga banyak menekankan aspek relasi sosial yang menyeluruh. Utamanya, ketidakmampuan dalam menemukan relevansi pemahaman yang tepat dan proporsional antara teks dan konteks akan melahirkan duri dalam kehidupan yang pada akhirnya mengarah pada disintegrasi. Padahal, secara fundamental Islam difungsikan sebagai kekuatan integratif yang melampaui batas-batas sentimen dan identitas primordialisme.

 

Nalar Jihad

Bagaimana semestinya memperlakukan teks jihad? Sesuai paparan di atas, yang perlu dilakukan adalah memaknai jihad secara rasional. Umat bisa memahami konsep jihad secara rasional dapat dinyatakan melalui dua pendekatan. Pertama, mengajukan penalaran-penalaran terhadap persoalan keagamaan dan kemanusiaan yang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Ditambah, memberikan pemahaman yang kreatif tentang dimensi jihad yang bisa dilakukan dan tidak harus menggunakan dengan kekerasan. Kedua, merasionalisasikan doktrin untuk mengatasi problem makna mendasar: apakah mereka benar-benar terselamatkan ke surga?

Rasionalisasi itu dapat dilihat juga sebagai penghilang dogmatisme kaku dalam memaknai pesan-pesan agama. Seseorang pasti berpikir panjang untuk melakukan suatu tindakan dengan mempertimbangkan aspek-aspek yang lebih bermakna di balik suatu peristiwa. Seseorang dapat memahami sesuatu melalui kalkulasi-kalkulasi rasional. Pemahaman yang rasional dan kontekstual terhadap suatu ajaran bisa menjadi modal utama untuk meminimalkan munculnya tindakan-tindakan teror yang sekali lagi bisa memutus tali peradaban.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/