alexametrics
17.8 C
Madura
Wednesday, June 29, 2022

Kena Pukul Teman, Siswa Gegar Otak

SUMENEP – Insiden kekerasan di sekolah kembali terjadi. Kali ini, dugaan pemukulan dilakukan oleh siswa terhadap siswa. Korban yaitu Sirajul Bayan Subhan yang mengalami cedera di bagian kepala.

Korban dan diduga pelaku sama-sama pelajar SMPN 1 Sumenep. Untungnya, dugaan pemukulan oleh D (inisial) kepada Sirajul Bayan Subhan itu tidak mengakibatkan kematian. Namun, korban mengalami gegar otak ringan.

Insiden tersebut bermula ketika korban yang biasa dipanggil Bayu itu ditegur oleh diduga pelaku. Saat upacara bendera yang dilaksanakan Senin (19/2), pembina memberikan arahan demi menjaga kebersihan, seluruh siswa tidak boleh membawa makanan ringan ke kelas.

Namun pada jam istirahat, sekitar pukul 09.30, korban membawa snack ke kelas. Dia ditegur oleh D. Teguran itu tidak digubris oleh korban sehingga terjadi insiden pemukulan.

Agus Subhan, 42, ayah korban, mengatakan, kondisi putra sulungnya sudah membaik. Menurut dia, hasil visum menunjukkan ada gejala gegar otak ringan. ”Mungkin akibat benturan,” tuturnya saat ditemui di ruang GRIU, lantai 2, Nomor 5, RSUD dr. H. Moh. Anwar Sumenep, tempat Bayu dirawat, Selasa (20/2).

”Menurut saksi, Bayu dipukul dan ditendang,” imbuhnya. Dijelaskan oleh ayah dua anak itu, siapa pun tidak ingin insiden tersebut terjadi. Dia menganggap peristiwa itu merupakan cobaan. ”Harapan saya selaku wali murid, ke depan pengawasan terhadap siswa ditingkatkan. Pelaku harus diberi sanksi oleh sekolah,” pintanya.

Baca Juga :  Disdik: Jangan Ada Kekerasan dalam MPLS

Dia berterima kasih karena keluarga diduga pelaku yang dijembatani pihak sekolah sudah meminta maaf dan menjenguk Bayu. ”Ini sudah telanjur terjadi. Di kemudian hari sangat diharapkan jangan sampai terulang lagi,” ucapnya.

Lisa, 35, ibu korban, mengatakan, ketika dihubungi pihak sekolah, dirinya tidak memiliki firasat apa-apa. Namun ketika melihat kondisi Bayu, dia kaget karena takut terjadi hal yang tidak diinginkan.

”Anak saya tidak memiliki riwayat kejang-kejang. Kemarin (Senin 19/2, Red) setelah dipukul kejang-kejang sampai tiga kali. Dari mulutnya keluar busa dan darah,” tuturnya.

Untuk memberikan efek jera kepada pelaku, dia meminta pihak sekolah memberikan sanksi. Kasus kekerasan terhadap siswa dan guru sering terjadi. ”Kami berharap ke depan tidak ada lagi. Cukup anak saya yang menjadi korban,” tukasnya.

Sementara itu, Kepala SMPN 1 Sumenep Abd. Kafli mengatakan, kejadian tersebut merupakan kenakalan anak yang terjadi saat jam istirahat pertama. Atas insiden tersebut, pihak sekolah tidak berpangku tangan. Pihak sekolah sudah berulang kali melakukan pembinaan terhadap siswa.

Baca Juga :  Penegak Perda┬áPaling Banyak Bolos Tahun Baru

”Bahkan sebelum kejadian, pembina upacara memberikan arahan. Juga, mengingatkan supaya menjaga kebersihan. Anak-anak tidak boleh jajan atau membawa makanan dari kantin ke dalam kelas. Tapi, korban tetap membawa snack ke dalam kelas,” jelasnya. ”Sehingga secara spontan ada adu fisik atau pemukulan itu. Mereka sama-sama kelas IX,” imbuhnya.

Pihak sekolah tetap melakukan pembinaan dengan mengistirahatkan sementara siswa yang diduga pelaku. Hal tersebut mendapat persetujuan dari orang tua. ”Kami tetap memberikan sanksi sesuai tata tertib sekolah,” ujarnya.

Kifli menambahkan, pihaknya sudah memfasilitasi untuk menyelesaikan masalah tersebut secara kekeluargaan. Menurut dia, untuk membentuk karakter anak, tidak cukup hanya dididik di sekolah. Perlu peran orang tua dan lingkungan sekitar.

”Karakter terbentuk oleh lingkungan. Sebab, 70 persen kehidupan anak ditentukan di luar dan hanya 30 persen di sekolah,” tegasnya. ”Ketika anak berbuat tidak senonoh atau tidak bagus, itu tercipta karena faktor lingkungan,” tukas Kifli.

 

SUMENEP – Insiden kekerasan di sekolah kembali terjadi. Kali ini, dugaan pemukulan dilakukan oleh siswa terhadap siswa. Korban yaitu Sirajul Bayan Subhan yang mengalami cedera di bagian kepala.

Korban dan diduga pelaku sama-sama pelajar SMPN 1 Sumenep. Untungnya, dugaan pemukulan oleh D (inisial) kepada Sirajul Bayan Subhan itu tidak mengakibatkan kematian. Namun, korban mengalami gegar otak ringan.

Insiden tersebut bermula ketika korban yang biasa dipanggil Bayu itu ditegur oleh diduga pelaku. Saat upacara bendera yang dilaksanakan Senin (19/2), pembina memberikan arahan demi menjaga kebersihan, seluruh siswa tidak boleh membawa makanan ringan ke kelas.


Namun pada jam istirahat, sekitar pukul 09.30, korban membawa snack ke kelas. Dia ditegur oleh D. Teguran itu tidak digubris oleh korban sehingga terjadi insiden pemukulan.

Agus Subhan, 42, ayah korban, mengatakan, kondisi putra sulungnya sudah membaik. Menurut dia, hasil visum menunjukkan ada gejala gegar otak ringan. ”Mungkin akibat benturan,” tuturnya saat ditemui di ruang GRIU, lantai 2, Nomor 5, RSUD dr. H. Moh. Anwar Sumenep, tempat Bayu dirawat, Selasa (20/2).

”Menurut saksi, Bayu dipukul dan ditendang,” imbuhnya. Dijelaskan oleh ayah dua anak itu, siapa pun tidak ingin insiden tersebut terjadi. Dia menganggap peristiwa itu merupakan cobaan. ”Harapan saya selaku wali murid, ke depan pengawasan terhadap siswa ditingkatkan. Pelaku harus diberi sanksi oleh sekolah,” pintanya.

Baca Juga :  Penegak Perda┬áPaling Banyak Bolos Tahun Baru

Dia berterima kasih karena keluarga diduga pelaku yang dijembatani pihak sekolah sudah meminta maaf dan menjenguk Bayu. ”Ini sudah telanjur terjadi. Di kemudian hari sangat diharapkan jangan sampai terulang lagi,” ucapnya.

Lisa, 35, ibu korban, mengatakan, ketika dihubungi pihak sekolah, dirinya tidak memiliki firasat apa-apa. Namun ketika melihat kondisi Bayu, dia kaget karena takut terjadi hal yang tidak diinginkan.

”Anak saya tidak memiliki riwayat kejang-kejang. Kemarin (Senin 19/2, Red) setelah dipukul kejang-kejang sampai tiga kali. Dari mulutnya keluar busa dan darah,” tuturnya.

Untuk memberikan efek jera kepada pelaku, dia meminta pihak sekolah memberikan sanksi. Kasus kekerasan terhadap siswa dan guru sering terjadi. ”Kami berharap ke depan tidak ada lagi. Cukup anak saya yang menjadi korban,” tukasnya.

Sementara itu, Kepala SMPN 1 Sumenep Abd. Kafli mengatakan, kejadian tersebut merupakan kenakalan anak yang terjadi saat jam istirahat pertama. Atas insiden tersebut, pihak sekolah tidak berpangku tangan. Pihak sekolah sudah berulang kali melakukan pembinaan terhadap siswa.

Baca Juga :  Zonasi PPDB SMP Sumenep Pakai Google Map

”Bahkan sebelum kejadian, pembina upacara memberikan arahan. Juga, mengingatkan supaya menjaga kebersihan. Anak-anak tidak boleh jajan atau membawa makanan dari kantin ke dalam kelas. Tapi, korban tetap membawa snack ke dalam kelas,” jelasnya. ”Sehingga secara spontan ada adu fisik atau pemukulan itu. Mereka sama-sama kelas IX,” imbuhnya.

Pihak sekolah tetap melakukan pembinaan dengan mengistirahatkan sementara siswa yang diduga pelaku. Hal tersebut mendapat persetujuan dari orang tua. ”Kami tetap memberikan sanksi sesuai tata tertib sekolah,” ujarnya.

Kifli menambahkan, pihaknya sudah memfasilitasi untuk menyelesaikan masalah tersebut secara kekeluargaan. Menurut dia, untuk membentuk karakter anak, tidak cukup hanya dididik di sekolah. Perlu peran orang tua dan lingkungan sekitar.

”Karakter terbentuk oleh lingkungan. Sebab, 70 persen kehidupan anak ditentukan di luar dan hanya 30 persen di sekolah,” tegasnya. ”Ketika anak berbuat tidak senonoh atau tidak bagus, itu tercipta karena faktor lingkungan,” tukas Kifli.

 

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/