alexametrics
21.1 C
Madura
Sunday, July 3, 2022

HZF Jalani Sidang Perdana, Keluarga Korban Tak Diberi Tahu

SAMPANG – Siswa SMAN 1 Torjun berinisial HZF masuk ke ruang sidang anak Pengadilan Negeri (PN) Sampang Senin (19/2). Pelajar yang diduga menganiaya gurunya, Achmad Budi Cahyanto, hingga meninggal dunia itu menjalani sidang perdananya sejak pukul 10.30 secara tertutup.

Belasan keluarga dan kedua orang tua HZF menghadiri sidang perdana. Selain itu, guru dan siswa juga didatangkan ke PN Sampang. Namun, yang diperbolehkan masuk ke ruang sidang hanya ayah HZF.

Selanjutnya, majelis hakim meminta unsur dari keluarga korban untuk masuk ke ruang sidang. Namun, yang hadir ke pengadilan hanya kakak kandung almarhum Achmad Budi Cahyanto.

Keluarga korban pun mengaku kecewa. Sebab, sebelumnya tidak ada surat resmi pemberitahuan dari kejari maupun PN kepada keluarga korban terkait sidang perdana HZF. Upaya diversi (mediasi) pun menemui kebuntuan. Sebab, keluarga Achmad Budi Cahyanto menolak diversi.

Baca Juga :  Munculkan Potensi Anak Didik

Mahfud Yulianto, kakak kandung almarhum Achmad Budi Cahyanto mengatakan, dia mewakili keluarga mengaku kecewa. Sebab, tidak ada konfirmasi sebelumnya bahwa sidang pertama dilaksanakan kemarin.

Dia datang ke PN Sampang secara tidak sengaja. ”Kami dan keluarga tidak tahu. Saya main ke sini dan tanya ke bagian informasi ternyata sidangnya hari ini (kemarin, Red),” katanya.

Pria 31 tahun itu mengungkapkan, di dalam persidangan dia diminta untuk memberikan keringanan terhadap terdakwa HZF. Tetapi, hal itu dia tolak karena masih ingin bermusyawarah dengan keluarga besarnya.

”Ini negara hukum. Jadi pelaku kriminal harus dihukum sesuai dengan ketentuan hukum yang sudah berlaku,” pintanya.

Humas PN Sampang I Gede Purwata mengatakan, sidang dilanjutkan pada Rabu (21/2) dengan agenda pemeriksaan saksi. Agenda sidang kemarin adalah pembacaan dakwaan dan diversi.

Baca Juga :  Madura Awards Jadi Energi Positif untuk Pembangunan Madura

Dia membenarkan diversi pada sidang kemarin menemui jalan buntu. Pihak korban yang diwakili kakak kandungnya menolak diversi.

”Diversi gagal dilakukan, maka ditunda dan dibuka kembali hari Rabu dengan pemeriksaan saksi,” terangnya.

Menurut dia, diversi bukan suatu keharusan untuk berhasil. Mengenai pemberitahuan terhadap keluarga korban, pihaknya mengaku itu bukan kewenangan PN Sampang.

”Iya mungkin masih bukan waktunya untuk didatangkan dari pihak korban. Itu juga jadi pertimbangan dalam proses diversi,” paparnya.

Anggota majelis hakim itu mengungkapkan bahwa HZF didakwa dengan pasal 338 dan pasal 351 ayat 3 KUHP tentang Pembunuhan dan Penganiayaan. Pihaknya mengaku akan mengevaluasi kekurangan yang ada dalam sidang pertama tersebut.

SAMPANG – Siswa SMAN 1 Torjun berinisial HZF masuk ke ruang sidang anak Pengadilan Negeri (PN) Sampang Senin (19/2). Pelajar yang diduga menganiaya gurunya, Achmad Budi Cahyanto, hingga meninggal dunia itu menjalani sidang perdananya sejak pukul 10.30 secara tertutup.

Belasan keluarga dan kedua orang tua HZF menghadiri sidang perdana. Selain itu, guru dan siswa juga didatangkan ke PN Sampang. Namun, yang diperbolehkan masuk ke ruang sidang hanya ayah HZF.

Selanjutnya, majelis hakim meminta unsur dari keluarga korban untuk masuk ke ruang sidang. Namun, yang hadir ke pengadilan hanya kakak kandung almarhum Achmad Budi Cahyanto.


Keluarga korban pun mengaku kecewa. Sebab, sebelumnya tidak ada surat resmi pemberitahuan dari kejari maupun PN kepada keluarga korban terkait sidang perdana HZF. Upaya diversi (mediasi) pun menemui kebuntuan. Sebab, keluarga Achmad Budi Cahyanto menolak diversi.

Baca Juga :  Pemalsu Stempel-Tanda Tangan Jalani Sidang Perdana

Mahfud Yulianto, kakak kandung almarhum Achmad Budi Cahyanto mengatakan, dia mewakili keluarga mengaku kecewa. Sebab, tidak ada konfirmasi sebelumnya bahwa sidang pertama dilaksanakan kemarin.

Dia datang ke PN Sampang secara tidak sengaja. ”Kami dan keluarga tidak tahu. Saya main ke sini dan tanya ke bagian informasi ternyata sidangnya hari ini (kemarin, Red),” katanya.

Pria 31 tahun itu mengungkapkan, di dalam persidangan dia diminta untuk memberikan keringanan terhadap terdakwa HZF. Tetapi, hal itu dia tolak karena masih ingin bermusyawarah dengan keluarga besarnya.

”Ini negara hukum. Jadi pelaku kriminal harus dihukum sesuai dengan ketentuan hukum yang sudah berlaku,” pintanya.

Humas PN Sampang I Gede Purwata mengatakan, sidang dilanjutkan pada Rabu (21/2) dengan agenda pemeriksaan saksi. Agenda sidang kemarin adalah pembacaan dakwaan dan diversi.

Baca Juga :  Dukungan untuk Guru Budi Cahyanto Terus Berdatangan

Dia membenarkan diversi pada sidang kemarin menemui jalan buntu. Pihak korban yang diwakili kakak kandungnya menolak diversi.

”Diversi gagal dilakukan, maka ditunda dan dibuka kembali hari Rabu dengan pemeriksaan saksi,” terangnya.

Menurut dia, diversi bukan suatu keharusan untuk berhasil. Mengenai pemberitahuan terhadap keluarga korban, pihaknya mengaku itu bukan kewenangan PN Sampang.

”Iya mungkin masih bukan waktunya untuk didatangkan dari pihak korban. Itu juga jadi pertimbangan dalam proses diversi,” paparnya.

Anggota majelis hakim itu mengungkapkan bahwa HZF didakwa dengan pasal 338 dan pasal 351 ayat 3 KUHP tentang Pembunuhan dan Penganiayaan. Pihaknya mengaku akan mengevaluasi kekurangan yang ada dalam sidang pertama tersebut.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/