alexametrics
21.2 C
Madura
Saturday, June 25, 2022

MUI: Pertanyakan Keseriusan Polres

SAMPANG – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Sampang terus mendesak aparat kepolisian untuk segera mengungkap dan menangkap bandar narkoba. Pasalnya, peredaran dan penyalahgunaan barang haram tersebut di Kota Bahari kian memprihatinkan.

”Polisi tidak boleh lelet dalam mengungkap dan menangkap bandar narkoba di Sampang. Sampai kapan para bandar besar terus dilegalkan persembunyiannya,” kata Ketua MUI Sampang KH Bukhori Maksum Minggu (18/11).

Menurut dia, selama ini Polres Sampang hanya bisa mengungkap dan menangkap pengedar dan pengguna. Semua itu merupakan korban dari para bandar besar. ”Kayak kurir yang ditangkap di Banyuates itu, masak sampai sekarang bandarnya tidak ketemu, kan jadi tanda tanya besar bagi kami dan masyarakat luas,” ujarnya.

Baca Juga :  Coklit PPDP Tingkatkan Kualitas Proses dan Data Pemilih

Dia berharap Polres Sampang serius menangani narkoba. KH Bukhori tidak ingin ada asumsi di masyarakat bahwa polisi membiarkan peredaran narkoba di Sampang. ”Polisi harus mampu mengembalikan kepercayaan masyarakat. Karena terus terang, masyarakat sudah semakin luntur kepercayaannya kepada polisi dalam menangani kasus narkoba,” ungkap dia.

Menanggapi itu, Kapolres Sampang AKBP Budi Wardiman melalui Kabag Humas Polres Sampang Ipda Puji Eko Waluyo membenarkan bahwa sampai saat ini pihaknya kesulitan mengendus dan mengungkap serta menangkap keberadaan bandar narkoba. Salah satu kendalanya, para pelaku narkoba menggunakan sistem putus rantai. Karena itu, polisi kelimpungan mengungkap bandar narkoba yang beraksi di Kota Bahari.

”Kami kelimpungan memang, tidak semudah membalikkan telapak tangan. Apalagi, sistem putus rantai,” akunya.

Baca Juga :  Tumpas Narkoba Belum Sentuh Bandar

Sejumlah nama sudah dikantongi oleh pihaknya. Tetapi, sampai saat ini nama-nama itu belum diketahui keberadaannya. ”Mau ditangkap bagaimana kalau orangnya tidak ada,” ujarnya.

Setiap kali melakukan penangkapan dengan jumlah barang bukti yang besar, polisi dipastikan mendapatkan identitas baru pemasoknya. Tetapi, setelah didatangi ke rumah yang bersangkutan, tidak ditemukan barang bukti. ”Untuk kasus narkoba, kami menangkap berdasarkan barang bukti,” tandasnya.

 

SAMPANG – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Sampang terus mendesak aparat kepolisian untuk segera mengungkap dan menangkap bandar narkoba. Pasalnya, peredaran dan penyalahgunaan barang haram tersebut di Kota Bahari kian memprihatinkan.

”Polisi tidak boleh lelet dalam mengungkap dan menangkap bandar narkoba di Sampang. Sampai kapan para bandar besar terus dilegalkan persembunyiannya,” kata Ketua MUI Sampang KH Bukhori Maksum Minggu (18/11).

Menurut dia, selama ini Polres Sampang hanya bisa mengungkap dan menangkap pengedar dan pengguna. Semua itu merupakan korban dari para bandar besar. ”Kayak kurir yang ditangkap di Banyuates itu, masak sampai sekarang bandarnya tidak ketemu, kan jadi tanda tanya besar bagi kami dan masyarakat luas,” ujarnya.

Baca Juga :  Tiga SMA Di Sampang Ditutup! 16 SD Dipastikan Di-Regrouping

Dia berharap Polres Sampang serius menangani narkoba. KH Bukhori tidak ingin ada asumsi di masyarakat bahwa polisi membiarkan peredaran narkoba di Sampang. ”Polisi harus mampu mengembalikan kepercayaan masyarakat. Karena terus terang, masyarakat sudah semakin luntur kepercayaannya kepada polisi dalam menangani kasus narkoba,” ungkap dia.

Menanggapi itu, Kapolres Sampang AKBP Budi Wardiman melalui Kabag Humas Polres Sampang Ipda Puji Eko Waluyo membenarkan bahwa sampai saat ini pihaknya kesulitan mengendus dan mengungkap serta menangkap keberadaan bandar narkoba. Salah satu kendalanya, para pelaku narkoba menggunakan sistem putus rantai. Karena itu, polisi kelimpungan mengungkap bandar narkoba yang beraksi di Kota Bahari.

”Kami kelimpungan memang, tidak semudah membalikkan telapak tangan. Apalagi, sistem putus rantai,” akunya.

Baca Juga :  Ketua Komisi I DPRD Sampang Tersangkut Hukum

Sejumlah nama sudah dikantongi oleh pihaknya. Tetapi, sampai saat ini nama-nama itu belum diketahui keberadaannya. ”Mau ditangkap bagaimana kalau orangnya tidak ada,” ujarnya.

Setiap kali melakukan penangkapan dengan jumlah barang bukti yang besar, polisi dipastikan mendapatkan identitas baru pemasoknya. Tetapi, setelah didatangi ke rumah yang bersangkutan, tidak ditemukan barang bukti. ”Untuk kasus narkoba, kami menangkap berdasarkan barang bukti,” tandasnya.

 

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/