alexametrics
25.8 C
Madura
Monday, July 4, 2022

DPS dan DPT Pilkada Pamekasan Selisih 11.841 Jiwa

PAMEKASAN – Tahapan pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak 2018 terus berjalan. Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah menetapkan daftar pemilih sementara (DPS). Data tersebut kemudian diplenokan menjadi daftar pemilih tetap (DPT).

Kisruh ketidaksamaan data kependudukan antara Komisi Pemilihan Umum (KPU) dengan dispendukcapil berakhir. Kedua lembaga tersebut menyamakan persepsi. KPU Pamekasan menetapkan DPT untuk Pilkada 2018, Rabu (18/4).

Penetapan DPT tersebut menyisakan sejumlah pertanyaan. Sebab, terdapat selisih cukup signifikan antara DPT dengan DPS. Beberapa waktu lalu, KPU menetapkan DPS 692.233 jiwa.

Sementara DPT yang ditetapkan KPU 680.392 pemilih. Terdapat selisih 11.841 jiwa antara DPS dan DPT untuk pemilihan gubernur-wakil gubernur dan pemilihan bupati-Wabup pada 27 Juni mendatang.

Aktivis Kaukus Pemuda Kapela (KPK) Fathorrahman mengatakan, selisih antara DPS dan DPT patut menjadi bahan kajian. Sebab, terjadi pengurangan yang cukup signifikan. ”Kalau ada tambahan itu wajar. Ini malah berkurang,” katanya.

Baca Juga :  Rujak Cingur dan Berhala Demokrasi

Fathorrahman menyatakan, kinerja petugas pemutakhiran data patut dicurigai tidak maksimal. Sebab, pada saat pencocokan dan penelitian (coklit) seharusnya warga didatangi satu per satu. Data yang dipegang dicocokkan dengan bukti fisik di lapangan.

Jika ada data dan secara fisik juga ada, bisa dimasukkan ke dalam DPS. Tetapi, fakta yang terjadi justru ada pengurangan dengan dalih terdapat sejumlah data ganda. ”Saya heran, karena berkurangnya sangat banyak. Lalu, data DPS itu diperoleh dari mana?” katanya.

Divisi Perencanaan dan Data KPU Pamekasan Muhammad Subhan mengatakan, perselisihan data KPU dengan Dispendukcapil Pamekasan klir. Itu setelah organisasi perangkat daerah (OPD) yang menangani data kependudukan menyerahkan data yang diminta KPU.

Data yang dimaksud yakni, pemilih terdaftar di database dan sudah merekam data KTP elektronik. Kemudian, pemilih terdaftar di database, tetapi belum merekam. Lalu, data bermasalah tetapi sudah merekam serta daftar pemilih yang tidak terdaftar di database.

Baca Juga :  Amankan Rekapitulasi Suara, 456 Personel Dikerahkan

Dengan demikian, KPU melanjutkan tahapan ke penetapan DPT. Menurut Subhan, DPT yang ditetapkan itu bisa berubah jika pemilih yang belum merekam melakukan perekaman. ”Nanti akan dimasukkan pada DPT tambahan,” katanya.

Subhan menyampaikan, DPT Pilgub 2018 turun 0,05 persen jika dibanding DPT Pilgub 2013. DPT Pilgub 2013 sebanyak 680.728. Sementara DPT Pilgub 2018 sebanyak 680.392. ”Terjadi penurunan tetapi tidak signifikan,” sergahnya.

Mengenai perselisihan data antara DPS dan DPT, mantan aktivis PMII itu membantah petugas coklit tidak bekerja maksimal. Menurut dia, perbedaan data itu lantaran kegandaan pemilih yang terdapat di beberapa desa dalam kecamatan.

Kemudian, adanya data pemilih ganda dalam desa antarkecamatan. Data tersebut hasil kerja aplikasi yang dimiliki KPU Pamekasan berupa sistem informasi data pemilih (sidalih). ”Data itu hasil kerja sistem,” tandasnya.

PAMEKASAN – Tahapan pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak 2018 terus berjalan. Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah menetapkan daftar pemilih sementara (DPS). Data tersebut kemudian diplenokan menjadi daftar pemilih tetap (DPT).

Kisruh ketidaksamaan data kependudukan antara Komisi Pemilihan Umum (KPU) dengan dispendukcapil berakhir. Kedua lembaga tersebut menyamakan persepsi. KPU Pamekasan menetapkan DPT untuk Pilkada 2018, Rabu (18/4).

Penetapan DPT tersebut menyisakan sejumlah pertanyaan. Sebab, terdapat selisih cukup signifikan antara DPT dengan DPS. Beberapa waktu lalu, KPU menetapkan DPS 692.233 jiwa.


Sementara DPT yang ditetapkan KPU 680.392 pemilih. Terdapat selisih 11.841 jiwa antara DPS dan DPT untuk pemilihan gubernur-wakil gubernur dan pemilihan bupati-Wabup pada 27 Juni mendatang.

Aktivis Kaukus Pemuda Kapela (KPK) Fathorrahman mengatakan, selisih antara DPS dan DPT patut menjadi bahan kajian. Sebab, terjadi pengurangan yang cukup signifikan. ”Kalau ada tambahan itu wajar. Ini malah berkurang,” katanya.

Baca Juga :  Daftar Bacabup, Alvian Didampingi Pedagang Kali Lima

Fathorrahman menyatakan, kinerja petugas pemutakhiran data patut dicurigai tidak maksimal. Sebab, pada saat pencocokan dan penelitian (coklit) seharusnya warga didatangi satu per satu. Data yang dipegang dicocokkan dengan bukti fisik di lapangan.

Jika ada data dan secara fisik juga ada, bisa dimasukkan ke dalam DPS. Tetapi, fakta yang terjadi justru ada pengurangan dengan dalih terdapat sejumlah data ganda. ”Saya heran, karena berkurangnya sangat banyak. Lalu, data DPS itu diperoleh dari mana?” katanya.

Divisi Perencanaan dan Data KPU Pamekasan Muhammad Subhan mengatakan, perselisihan data KPU dengan Dispendukcapil Pamekasan klir. Itu setelah organisasi perangkat daerah (OPD) yang menangani data kependudukan menyerahkan data yang diminta KPU.

Data yang dimaksud yakni, pemilih terdaftar di database dan sudah merekam data KTP elektronik. Kemudian, pemilih terdaftar di database, tetapi belum merekam. Lalu, data bermasalah tetapi sudah merekam serta daftar pemilih yang tidak terdaftar di database.

Baca Juga :  Masuk DPT, Dua WNA Dicoret

Dengan demikian, KPU melanjutkan tahapan ke penetapan DPT. Menurut Subhan, DPT yang ditetapkan itu bisa berubah jika pemilih yang belum merekam melakukan perekaman. ”Nanti akan dimasukkan pada DPT tambahan,” katanya.

Subhan menyampaikan, DPT Pilgub 2018 turun 0,05 persen jika dibanding DPT Pilgub 2013. DPT Pilgub 2013 sebanyak 680.728. Sementara DPT Pilgub 2018 sebanyak 680.392. ”Terjadi penurunan tetapi tidak signifikan,” sergahnya.

Mengenai perselisihan data antara DPS dan DPT, mantan aktivis PMII itu membantah petugas coklit tidak bekerja maksimal. Menurut dia, perbedaan data itu lantaran kegandaan pemilih yang terdapat di beberapa desa dalam kecamatan.

Kemudian, adanya data pemilih ganda dalam desa antarkecamatan. Data tersebut hasil kerja aplikasi yang dimiliki KPU Pamekasan berupa sistem informasi data pemilih (sidalih). ”Data itu hasil kerja sistem,” tandasnya.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/