alexametrics
20.9 C
Madura
Saturday, August 20, 2022

Terpancing Suara Penelepon, Rp 11 Juta Raib

PAMEKASAN – Havid Rianto, warga Kelurahan Lawangan Daya, Kecamatan Pademawu, Pamekasan, menjadi korban dugaan penipuan lantaran terpengaruh nuansa pilkada. Uang Rp 11 juta miliknya raib ditransfer kepada orang yang tidak dia kenal.

Kronologinya, Sabtu malam (17/2) dia mendapatkan telepon dari nomor 085261533658. Pria yang akrab dipanggil Andre itu menanyakan identitas penelepon. ”Penelepon tanya kabar saya. Saat saya tanya nama penelepon, dia bilang kenapa lupa. Apa karena pakai nomor baru,” tuturnya Minggu (18/2).

Karena tidak menjawab, Andre menduga orang yang menelepon adalah salah satu calon bupati Pamekasan. Sebab, suara yang dia dengar mirip dengan calon bupati Pamekasan itu. ”Saat saya tanya, dia menjawab iya,” ujarnya.

Saat itulah penelepon menyampaikan tujuan menelepon korban. Penelepon mengaku ingin meminjam uang dan meminta beberapa nomor telepon diisikan pulsa. ”Mohon maaf mas, sebenarnya tidak enak. Kalau bisa saya pinjam uang karena banyak tamu di rumah,” kata Andre meniru ucapan penelepon.

Andre menjelaskan, penelepon ingin meminjam uang untuk membayar pembelian laptop. Sementara pulsa diberikan kepada tamu. ”Tolong segera transfer biar tamu segera pulang,” kata Andre kembali meniru ucapan penelepon.

Baca Juga :  DPRD Pertanyakan Pengembangan Promosi Wisata

Tanpa curiga, Andre meminta nomor rekening penelepon. Penelepon langsung mengirim nomor rekening BRI 732401006523536 atas nama Selamet Riadi. Malam itu juga Andre mentransfer uang dan mengisi pulsa sesuai yang diminta. Total uang yang ditranfer beserta pulsa senilai Rp 11 juta.

”Yang ditransfer malam hari Rp 7 juta dan pulsa Rp 1,5 juta. Untuk pengisian pulsa saya isikan ke tujuh nomor,” terangnya.

Pagi hari, pelaku kembali menelepon Andre untuk mentransfer uang dan diisikan  pulsa. Lagi-lagi Andre tanpa curiga mengikuti permintaan penelepon. Sebab, penelepon berjanji utangnya akan dibayar sekitar pukul 10.00 kemarin.

”Pagi hari saya transfer Rp 2 juta dan Rp 500 untuk uang pulsa. Dia meminta saya membawa bukti tansfer dan pembelian pulsa. Penelepon bilang ke saya akan membayar di rumahnya atau di posko,” terangnya.

Andre lalu  berkunjung ke rumah salah satu calon bupati Pamekasan. Namun tidak ada. Andre lalu bergeser ke Arek Lancor. Sebab, di tempat tersebut ada calon bupati dan wakil bupati yang melakukan deklarasi pilkada damai.

Baca Juga :  PLN dan BNI Berkolaborasi Memperluas Jangkauan SPKLU

”Saya datang, setelah saya klarifikasi ternyata yang nelpon itu bukan beliau (calon bupati, Red). Jadi saya ini tertipu karena mengira penelepon itu beliau,” ujar Andre.

Setelah mendapatkan klarifikasi, Andre panik. Dia menyadari menjadi korban penipuan. Apalagi nomor yang meminta uang kepada dia saat dihubungi tetap aktif tapi tidak diangkat-angkat. Meskipun diangkat, mengaku ada di luar kota.

Andre lantas melaporkan dugaan penipuan itu ke Polres Pamekasan. Polres sudah menerima laporan Andre tersebut dengan tanda bukti nomor TBL/37/II/ 2018/jatim/ RES PMK. Kasubbaghumas Polres Pamekasan AKP Osa Maliki membenarkan korban sudah melaporkan dugaan penipuan tersebut.

Pihaknya berjanji akan memproses laporan tersebut. Pihaknya akan berkoordinasi dengan pihak bank. ”Kami akan berkoordinasi dengan pihak bank untuk mengetahui identitas atau alamat pemilik rekening tersebut. Kalau bisa kita anjurkan agar nomor rekening itu diblokir,” tegasnya.

PAMEKASAN – Havid Rianto, warga Kelurahan Lawangan Daya, Kecamatan Pademawu, Pamekasan, menjadi korban dugaan penipuan lantaran terpengaruh nuansa pilkada. Uang Rp 11 juta miliknya raib ditransfer kepada orang yang tidak dia kenal.

Kronologinya, Sabtu malam (17/2) dia mendapatkan telepon dari nomor 085261533658. Pria yang akrab dipanggil Andre itu menanyakan identitas penelepon. ”Penelepon tanya kabar saya. Saat saya tanya nama penelepon, dia bilang kenapa lupa. Apa karena pakai nomor baru,” tuturnya Minggu (18/2).

Karena tidak menjawab, Andre menduga orang yang menelepon adalah salah satu calon bupati Pamekasan. Sebab, suara yang dia dengar mirip dengan calon bupati Pamekasan itu. ”Saat saya tanya, dia menjawab iya,” ujarnya.


Saat itulah penelepon menyampaikan tujuan menelepon korban. Penelepon mengaku ingin meminjam uang dan meminta beberapa nomor telepon diisikan pulsa. ”Mohon maaf mas, sebenarnya tidak enak. Kalau bisa saya pinjam uang karena banyak tamu di rumah,” kata Andre meniru ucapan penelepon.

Andre menjelaskan, penelepon ingin meminjam uang untuk membayar pembelian laptop. Sementara pulsa diberikan kepada tamu. ”Tolong segera transfer biar tamu segera pulang,” kata Andre kembali meniru ucapan penelepon.

Baca Juga :  Airlangga: KIB Dorong Capres yang Bisa Hilangkan Politik Identitas

Tanpa curiga, Andre meminta nomor rekening penelepon. Penelepon langsung mengirim nomor rekening BRI 732401006523536 atas nama Selamet Riadi. Malam itu juga Andre mentransfer uang dan mengisi pulsa sesuai yang diminta. Total uang yang ditranfer beserta pulsa senilai Rp 11 juta.

”Yang ditransfer malam hari Rp 7 juta dan pulsa Rp 1,5 juta. Untuk pengisian pulsa saya isikan ke tujuh nomor,” terangnya.

- Advertisement -

Pagi hari, pelaku kembali menelepon Andre untuk mentransfer uang dan diisikan  pulsa. Lagi-lagi Andre tanpa curiga mengikuti permintaan penelepon. Sebab, penelepon berjanji utangnya akan dibayar sekitar pukul 10.00 kemarin.

”Pagi hari saya transfer Rp 2 juta dan Rp 500 untuk uang pulsa. Dia meminta saya membawa bukti tansfer dan pembelian pulsa. Penelepon bilang ke saya akan membayar di rumahnya atau di posko,” terangnya.

Andre lalu  berkunjung ke rumah salah satu calon bupati Pamekasan. Namun tidak ada. Andre lalu bergeser ke Arek Lancor. Sebab, di tempat tersebut ada calon bupati dan wakil bupati yang melakukan deklarasi pilkada damai.

Baca Juga :  Gelapkan Mobdin, Mantan Legislator Ditahan Kejari

”Saya datang, setelah saya klarifikasi ternyata yang nelpon itu bukan beliau (calon bupati, Red). Jadi saya ini tertipu karena mengira penelepon itu beliau,” ujar Andre.

Setelah mendapatkan klarifikasi, Andre panik. Dia menyadari menjadi korban penipuan. Apalagi nomor yang meminta uang kepada dia saat dihubungi tetap aktif tapi tidak diangkat-angkat. Meskipun diangkat, mengaku ada di luar kota.

Andre lantas melaporkan dugaan penipuan itu ke Polres Pamekasan. Polres sudah menerima laporan Andre tersebut dengan tanda bukti nomor TBL/37/II/ 2018/jatim/ RES PMK. Kasubbaghumas Polres Pamekasan AKP Osa Maliki membenarkan korban sudah melaporkan dugaan penipuan tersebut.

Pihaknya berjanji akan memproses laporan tersebut. Pihaknya akan berkoordinasi dengan pihak bank. ”Kami akan berkoordinasi dengan pihak bank untuk mengetahui identitas atau alamat pemilik rekening tersebut. Kalau bisa kita anjurkan agar nomor rekening itu diblokir,” tegasnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/