alexametrics
21.9 C
Madura
Wednesday, July 6, 2022

Neraca Perdagangan dan Ekspor Catat Rekor Tertinggi Sepanjang Sejarah

Menko Airlangga Tegaskan Ekonomi Indonesia Kian Tangguh

JAKARTA – Pemulihan perekonomian pasca pandemi terus menjadi fokus pemerintah dalam pengambilan kebijakan. Hal itu, menjadi pondasi dalam menghadapi berbagai tantangan global yang kian masif ke depan.

Berbagai kebijakan telah diambil pemerintah guna menjaga kestabilan. Hasilnya, kinerja fundamental perekenomian juga menunjukkan sinyal positif pada setiap leading indicator.

Salah satu indikator perekonomian memiliki performa positif adalah, neraca perdagangan kembali melanjutkan trend surplus pada April 2022. Sebab, nilainya mencapai US$ 7,56 miliar.

Angka tersebut merupakan rekor tertinggi karena berhasil melampaui capaian bulan Oktober 2021 dengan nilai US$ 5,74 miliar. Pencapaian tersebut kian membawa perekonomian Indonesia lebih tangguh.

Sebab, neraca perdagangan merupakan salah satu indikator utama dalam meningkatkan cadangan devisa. Termasuk, menjaga ketahanan sektor eksternal Indonesia.

“Kita bersyukur, salah satu engine utama pertumbuhan ekonomi terus mengalami performa gemilang. Bahkan kembali mencatatkan rekor tertinggi sepanjang masa,” kata Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto.

Selain neraca perdagangan, kinerja positif juga ditunjukkan pada indikator ekspor yang mengalami surplus dengan nilai sebesar US$ 27,32 miliar. Angka surplus ekspor juga mampu mengungguli rekor tertinggi sebelumnya pada Maret 2022 yang mencapai US$ 26,50 miliar.

Baca Juga :  Pengembangan Bioavtur J2.4 Jadi Momentum Kemajuan Riset

Kinerja surplus pada nilai ekspor tersebut, salah satunya dipengaruhi tingginya harga komoditas unggulan saat ini. Misalnya, harga CPO sebesar 1.682,7 US$ per MT atau tumbuh 56,09 % (yoy).

Termasuk, Batubara sebesar 302,0 US$ per MT atau tumbuh 238,83 % (yoy) dan Nikel sebesar 33.132,7 US$ per MT atau tumbuh 100,55 % (yoy).

Selain itu, tingginya dominasi sektor industri pada kegiatan ekspor sebesar 69,86 % juga menjadi stimulus dalam peningkatan nilai surplus ekspor. Hal ini karena kinerja ekspor akan mengarah pada basis komoditas-komoditas dengan nilai tambah yang terus tumbuh.

Selain itu, program hilirisasi yang diterapkan pemerintah untuk mendorong nilai tambah komoditas di tengah harga yang kian meningkat, juga memiliki andil tumbuhnya kinerja ekspor. Hal ini terlihat dari aktivitas manufaktur yang berada di level ekspansif dengan angka Purchasing Managers’ Index (PMI) April 2022 di level 51,9 naik.

Artinya, naik dari posisi bulan sebelumnya di level 51,3. Kenaikan tersebut membawa nilai PMI Indonesia berada di atas level PMI negara ASEAN lainnya. Misalnya seperti Vietnam (51,7), Malaysia (51,6) dan Myanmar (50,4).

Baca Juga :  Airlangga: Kolaborasi VISA-ALTO Tingkatkan Inklusi Keuangan Nasional

Ke depan, pemerintah akan kian gencar memaksimalkan berbagai potensi kebijakan lainnya. Misalnya seperti kerja sama bilateral dan multilateral dalam meningkatkan perdagangan. Utamanya, dalam peningkatan nilai ekspor Indonesia.

“Selain program hilirisasi, pemerintah akan terus meningkatkan nilai ekspor Indonesia melalui berbagai upaya. Salah satunya, dengan melakukan program promosi ekspor dengan peningkatan kerja sama bilateral dan multilateral. Forum G-20 juga akan dioptimalkan untuk menggali berbagai potensi kerja sama perdagangan dengan berbagai negara,” ungkap Airlangga.

Sisi impor tercatat mengalami penurunan dari periode sebelumnya sebesar -10,01 % (mtm) pada April 2022 menjadi sebesar US$ 19,76 miliar. Namun, penurunan tersebut tidak lantas menghambat kegiatan produksi.

Sebab, komposisi utama impor didominasi oleh golongan bahan baku/penolong dengan porsi sebesar 78,62 %. Sehingga, produksi barang baru yang bernilai tambah tinggi dapat terus dilakukan produsen. Hal itu, akan mendorong peningkatan output nasional. (dep1/dft/fsr/par)

JAKARTA – Pemulihan perekonomian pasca pandemi terus menjadi fokus pemerintah dalam pengambilan kebijakan. Hal itu, menjadi pondasi dalam menghadapi berbagai tantangan global yang kian masif ke depan.

Berbagai kebijakan telah diambil pemerintah guna menjaga kestabilan. Hasilnya, kinerja fundamental perekenomian juga menunjukkan sinyal positif pada setiap leading indicator.

Salah satu indikator perekonomian memiliki performa positif adalah, neraca perdagangan kembali melanjutkan trend surplus pada April 2022. Sebab, nilainya mencapai US$ 7,56 miliar.


Angka tersebut merupakan rekor tertinggi karena berhasil melampaui capaian bulan Oktober 2021 dengan nilai US$ 5,74 miliar. Pencapaian tersebut kian membawa perekonomian Indonesia lebih tangguh.

Sebab, neraca perdagangan merupakan salah satu indikator utama dalam meningkatkan cadangan devisa. Termasuk, menjaga ketahanan sektor eksternal Indonesia.

“Kita bersyukur, salah satu engine utama pertumbuhan ekonomi terus mengalami performa gemilang. Bahkan kembali mencatatkan rekor tertinggi sepanjang masa,” kata Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto.

Selain neraca perdagangan, kinerja positif juga ditunjukkan pada indikator ekspor yang mengalami surplus dengan nilai sebesar US$ 27,32 miliar. Angka surplus ekspor juga mampu mengungguli rekor tertinggi sebelumnya pada Maret 2022 yang mencapai US$ 26,50 miliar.

Baca Juga :  Menko Airlangga: UMKM-PKL Penerima Bantuan Presiden Ditambah

Kinerja surplus pada nilai ekspor tersebut, salah satunya dipengaruhi tingginya harga komoditas unggulan saat ini. Misalnya, harga CPO sebesar 1.682,7 US$ per MT atau tumbuh 56,09 % (yoy).

Termasuk, Batubara sebesar 302,0 US$ per MT atau tumbuh 238,83 % (yoy) dan Nikel sebesar 33.132,7 US$ per MT atau tumbuh 100,55 % (yoy).

Selain itu, tingginya dominasi sektor industri pada kegiatan ekspor sebesar 69,86 % juga menjadi stimulus dalam peningkatan nilai surplus ekspor. Hal ini karena kinerja ekspor akan mengarah pada basis komoditas-komoditas dengan nilai tambah yang terus tumbuh.

Selain itu, program hilirisasi yang diterapkan pemerintah untuk mendorong nilai tambah komoditas di tengah harga yang kian meningkat, juga memiliki andil tumbuhnya kinerja ekspor. Hal ini terlihat dari aktivitas manufaktur yang berada di level ekspansif dengan angka Purchasing Managers’ Index (PMI) April 2022 di level 51,9 naik.

Artinya, naik dari posisi bulan sebelumnya di level 51,3. Kenaikan tersebut membawa nilai PMI Indonesia berada di atas level PMI negara ASEAN lainnya. Misalnya seperti Vietnam (51,7), Malaysia (51,6) dan Myanmar (50,4).

Baca Juga :  Paslon Hisbullah Giat Hadiri Acara Sosial Keagamaan

Ke depan, pemerintah akan kian gencar memaksimalkan berbagai potensi kebijakan lainnya. Misalnya seperti kerja sama bilateral dan multilateral dalam meningkatkan perdagangan. Utamanya, dalam peningkatan nilai ekspor Indonesia.

“Selain program hilirisasi, pemerintah akan terus meningkatkan nilai ekspor Indonesia melalui berbagai upaya. Salah satunya, dengan melakukan program promosi ekspor dengan peningkatan kerja sama bilateral dan multilateral. Forum G-20 juga akan dioptimalkan untuk menggali berbagai potensi kerja sama perdagangan dengan berbagai negara,” ungkap Airlangga.

Sisi impor tercatat mengalami penurunan dari periode sebelumnya sebesar -10,01 % (mtm) pada April 2022 menjadi sebesar US$ 19,76 miliar. Namun, penurunan tersebut tidak lantas menghambat kegiatan produksi.

Sebab, komposisi utama impor didominasi oleh golongan bahan baku/penolong dengan porsi sebesar 78,62 %. Sehingga, produksi barang baru yang bernilai tambah tinggi dapat terus dilakukan produsen. Hal itu, akan mendorong peningkatan output nasional. (dep1/dft/fsr/par)

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/