alexametrics
21.1 C
Madura
Sunday, July 3, 2022

Jam Mandi

JAM mandi merupakan salah satu usaha pondok untuk mendisiplinkan tubuh santri. Kedisiplinan merupakan kata kunci setiap orang untuk membentuk dirinya sebagai individu yang saleh dan penuh ketaatan.

Kali pertama masuk pondok pesantren, sekitar pertengahan 1997, saya sedikit uring-uringan dengan tradisi jam mandi. Mandi, yang bagi keseharian saya –dan juga orang kebanyakan– dilakukan atas dasar hendak melakukan rutinitas, menyegarkan tubuh, menghadiri pesta, menghilangkan sumuk atau alasan yang dapat dicomot dari mana saja.

Karena itu, mandi menjadi kebutuhan insidental yang benar-benar akan menentukan mood seseorang untuk melakukan berbagai aktivitas hidup. Tapi pada lazimnya, mandi dilakukan sebanyak tiga kali. Setali tiga uang dengan makan.

Tradisi jam mandi, kira-kira begitulah saya akan menamai satu fase kenangan awal saya di pondok. Satu fase yang merujuk pada aturan pondok: setiap santri hanya boleh mandi dua kali: sekali di pagi hari (pukul 06.00–07.00) dan sekali di sore hari (15.30–17.30). Atau dengan kalimat lain, santri dilarang mandi di luar jam itu. Kalau melanggar, santri tersebut berarti siap untuk diberdirikan, digundul atau disuruh membersihkan jeding atau selokan.

Jam mandi dan segala konsekuensinya, tidak sekadar tradisi yang ”mengancam” pada mulanya. Akan tetapi, rutinitas yang membosankan. Setiap hari, para santri berebut, antre, dan mandi dengan hitungan detik yang lugas: satu kali sabun, selesai.

Kalau tidak? Lagi-lagi hal semacam ini yang menjadikan tradisi jam mandi penyebab saya uring-uringan: kamu akan diolok-olok! Kira-kira jam mandi bukan jam yang pas untuk kau mandi. Akan tetapi jam mandi adalah jam di mana kau tahu diri dalam waktu untuk mandi.

Baca Juga :  Pilkada Sampang, Figur Kiai Tersisa Ra Dulla

Baru setelah dua tahun di pondok, saya begitu ”enjoy” mengikuti tradisi jam mandi. Saya jadi rajin dan sopan di dalam kamar mandi. Setelah aderres (:belajar baca kitab) seusai salat Asar, saya segera mempersilakan tempat sabun mandi saya untuk nangkring di mulut kamar mandi. ”Itu sabun saya. Nomor tiga. Setelah si anu,” begitu kalimat yang sering diucapkan seorang santri untuk menegaskan nomor antrean.

Setelah dua tahun, jam mandi saya semakin berdentang nyaring. Saya tidak hanya sopan dan rajin di kamar mandi. Tetapi, saya juga mulai nyanyi-nyanyi. Saya mendapatkan detik yang istimewa untuk gosok gigi, sabun dua kali, dan mendapatkan air yang cukup bersih.

Penyebabnya, sejak menginjak kelas dua tsanawiyah, saya dipercaya untuk jaga koperasi. Dengan dalih sebagai penjaga koperasi, jam mandi saya berdetak dan bermenit dengan murah meriah. Kalau dua tahun sebelumnya saya begitu kesulitan mandi dengan air bersih dan waktu yang enak, sejak jadi penjaga koperasi saya benar-benar menemukan jam mandi memiliki keistimewaan.

Setelah purna dari pondok, saya jadi melihat banyak hal-hal kecil dalam jam mandi yang menggoda. Tradisi jam mandi ternyata merupakan salah satu usaha ”kecil” pondok untuk mendisiplinkan tubuh para santri. Para santri yang berangkat ke pondok dari berbagai latar, mencoba didudukkan dalam satu ruang bersama. Siapa pun dia, dari golongan keluarga apa pun, sampai dari mana pun mereka berasal, harus tunduk pada keinginan bersama: hidup disiplin.

Kalau kau anak orang kaya, yang di rumahmu boleh mandi sesukamu, dan boleh menghabiskan bergayung-gayung air. Di sini kau cukup mandi secukupnya. Jika kau berasal dari daerah yang kekeringan dan kau kesulitan mandi, di pondok kau bisa mandi seperti mereka yang dulu mengejekmu sebagai orang-orang yang kekurangan mandi.

Baca Juga :  Akhir Ramadan, Antara Sedih dan Bahagia

Disiplin merupakan kata kunci untuk menundukkan dan membentuk tubuh manusia. Dengan disiplin, para santri belajar untuk mendialogkan antara keinginan dirinya dan tuntutan orang di sekitarnya. Dalam hal ini, manusia dengan imajinasi kenikmatannya, kalau tidak diberi garis pembatas, cenderung menjelma makhluk liar.

Kebutuhan dan rasa puas dapat menyeretnya untuk melakukan hal-hal yang tak dianjurkan. Untuk hal itulah, jam mandi menyisakan cerita yang cukup dalam diri saya: kedisiplinan ternyata bukan monopoli militer. Kedisiplinan merupakan kata kunci setiap orang untuk membentuk dirinya sebagai individu yang saleh dan penuh ketaatan.

Selain kedisiplinan, tradisi jam mandi menekankan keteraturan. Dalam jam mandi, setiap santri belajar untuk saling menghormati dan menghargai. Santri yang lebih dulu menaruh tempat sabunnya, memiliki legitimasi penuh untuk mandi lebih dulu. Bahkan, dia memiliki otoritas untuk menegur orang lain.

Keteraturan jam mandi tidak memandang usia dan pangkat. Siapa pun dia harus tunduk pada tradisi jam mandi. Keteraturan jam mandi adalah metode tidak langsung untuk membentuk para santri memiliki karakter yang kuat dalam memahami masyarakatnya.

Eit, hal yang tidak boleh dilupa: dengan kedisiplinan dan keterbatasan waktu, jam mandi melatih saya untuk dengan cermat memerhatikan tubuh. Terutama tubuh saya ketika bersiap menghadap seseorang. 

 

*)Alumni Pondok Pesantren Mathali’ul Anwar Sumenep.

JAM mandi merupakan salah satu usaha pondok untuk mendisiplinkan tubuh santri. Kedisiplinan merupakan kata kunci setiap orang untuk membentuk dirinya sebagai individu yang saleh dan penuh ketaatan.

Kali pertama masuk pondok pesantren, sekitar pertengahan 1997, saya sedikit uring-uringan dengan tradisi jam mandi. Mandi, yang bagi keseharian saya –dan juga orang kebanyakan– dilakukan atas dasar hendak melakukan rutinitas, menyegarkan tubuh, menghadiri pesta, menghilangkan sumuk atau alasan yang dapat dicomot dari mana saja.

Karena itu, mandi menjadi kebutuhan insidental yang benar-benar akan menentukan mood seseorang untuk melakukan berbagai aktivitas hidup. Tapi pada lazimnya, mandi dilakukan sebanyak tiga kali. Setali tiga uang dengan makan.


Tradisi jam mandi, kira-kira begitulah saya akan menamai satu fase kenangan awal saya di pondok. Satu fase yang merujuk pada aturan pondok: setiap santri hanya boleh mandi dua kali: sekali di pagi hari (pukul 06.00–07.00) dan sekali di sore hari (15.30–17.30). Atau dengan kalimat lain, santri dilarang mandi di luar jam itu. Kalau melanggar, santri tersebut berarti siap untuk diberdirikan, digundul atau disuruh membersihkan jeding atau selokan.

Jam mandi dan segala konsekuensinya, tidak sekadar tradisi yang ”mengancam” pada mulanya. Akan tetapi, rutinitas yang membosankan. Setiap hari, para santri berebut, antre, dan mandi dengan hitungan detik yang lugas: satu kali sabun, selesai.

Kalau tidak? Lagi-lagi hal semacam ini yang menjadikan tradisi jam mandi penyebab saya uring-uringan: kamu akan diolok-olok! Kira-kira jam mandi bukan jam yang pas untuk kau mandi. Akan tetapi jam mandi adalah jam di mana kau tahu diri dalam waktu untuk mandi.

Baca Juga :  Musik dan Mistisisme Suara

Baru setelah dua tahun di pondok, saya begitu ”enjoy” mengikuti tradisi jam mandi. Saya jadi rajin dan sopan di dalam kamar mandi. Setelah aderres (:belajar baca kitab) seusai salat Asar, saya segera mempersilakan tempat sabun mandi saya untuk nangkring di mulut kamar mandi. ”Itu sabun saya. Nomor tiga. Setelah si anu,” begitu kalimat yang sering diucapkan seorang santri untuk menegaskan nomor antrean.

Setelah dua tahun, jam mandi saya semakin berdentang nyaring. Saya tidak hanya sopan dan rajin di kamar mandi. Tetapi, saya juga mulai nyanyi-nyanyi. Saya mendapatkan detik yang istimewa untuk gosok gigi, sabun dua kali, dan mendapatkan air yang cukup bersih.

Penyebabnya, sejak menginjak kelas dua tsanawiyah, saya dipercaya untuk jaga koperasi. Dengan dalih sebagai penjaga koperasi, jam mandi saya berdetak dan bermenit dengan murah meriah. Kalau dua tahun sebelumnya saya begitu kesulitan mandi dengan air bersih dan waktu yang enak, sejak jadi penjaga koperasi saya benar-benar menemukan jam mandi memiliki keistimewaan.

Setelah purna dari pondok, saya jadi melihat banyak hal-hal kecil dalam jam mandi yang menggoda. Tradisi jam mandi ternyata merupakan salah satu usaha ”kecil” pondok untuk mendisiplinkan tubuh para santri. Para santri yang berangkat ke pondok dari berbagai latar, mencoba didudukkan dalam satu ruang bersama. Siapa pun dia, dari golongan keluarga apa pun, sampai dari mana pun mereka berasal, harus tunduk pada keinginan bersama: hidup disiplin.

Kalau kau anak orang kaya, yang di rumahmu boleh mandi sesukamu, dan boleh menghabiskan bergayung-gayung air. Di sini kau cukup mandi secukupnya. Jika kau berasal dari daerah yang kekeringan dan kau kesulitan mandi, di pondok kau bisa mandi seperti mereka yang dulu mengejekmu sebagai orang-orang yang kekurangan mandi.

Baca Juga :  KPU Bangkalan Tanam Pohon Demokrasi

Disiplin merupakan kata kunci untuk menundukkan dan membentuk tubuh manusia. Dengan disiplin, para santri belajar untuk mendialogkan antara keinginan dirinya dan tuntutan orang di sekitarnya. Dalam hal ini, manusia dengan imajinasi kenikmatannya, kalau tidak diberi garis pembatas, cenderung menjelma makhluk liar.

Kebutuhan dan rasa puas dapat menyeretnya untuk melakukan hal-hal yang tak dianjurkan. Untuk hal itulah, jam mandi menyisakan cerita yang cukup dalam diri saya: kedisiplinan ternyata bukan monopoli militer. Kedisiplinan merupakan kata kunci setiap orang untuk membentuk dirinya sebagai individu yang saleh dan penuh ketaatan.

Selain kedisiplinan, tradisi jam mandi menekankan keteraturan. Dalam jam mandi, setiap santri belajar untuk saling menghormati dan menghargai. Santri yang lebih dulu menaruh tempat sabunnya, memiliki legitimasi penuh untuk mandi lebih dulu. Bahkan, dia memiliki otoritas untuk menegur orang lain.

Keteraturan jam mandi tidak memandang usia dan pangkat. Siapa pun dia harus tunduk pada tradisi jam mandi. Keteraturan jam mandi adalah metode tidak langsung untuk membentuk para santri memiliki karakter yang kuat dalam memahami masyarakatnya.

Eit, hal yang tidak boleh dilupa: dengan kedisiplinan dan keterbatasan waktu, jam mandi melatih saya untuk dengan cermat memerhatikan tubuh. Terutama tubuh saya ketika bersiap menghadap seseorang. 

 

*)Alumni Pondok Pesantren Mathali’ul Anwar Sumenep.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/