alexametrics
25.3 C
Madura
Friday, September 30, 2022

Menteri BUMN: Holding UMi Tingkatkan Kesejahteraan Masyarakat

JAKARTA – Holding Ultra Mikro (UMi) diinisiasi Kementerian BUMN dengan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Holding UMi yang melibatkan PT Pegadaian dan PT Permodalan Nasional Madani (PNM) dinilai menjadi fondasi ekonomi kerakyatan.

Sebab melalui Holding UMi, negara hadir memperkuat ekonomi mulai dari pemberdayaan pelaku usaha di segmen terkecil. Sebagai upaya penguatan landasan ekonomi nasional.

Menteri BUMN Erick Thohir mengatakan, konsep pemberdayaan ekonomi kerakyatan yang diadopsi institusinya ada dua. Pertama bagaimana Kementerian BUMN memastikan usaha pelaku UMKM dan UMi mendapatkan pembiayaan dan mendapat pendampingan. Kedua, menjaga rantai pasok.

“Contoh bagaimana kita konsolidasi BRI, dengan PNM, dan Pegadaian. BRI itu kan memastikan UMKM naik kelas yang tadinya ultra mikro, melalui PNM pinjaman Rp 1 juta sampai Rp 4 juta, lalu naik ke Pegadaian yang pinjamannnya mungkin Rp 20 juta sampai Rp 50 juta, nanti naik lagi ke BRI,” katanya,” ujarnya.

Terbukti, lanjut Erick, PNM yang memberdayakan ekonomi kaum ibu melalui mekanisme group lending mengalami pertumbuhan hingga 7,1 juta nasabah. Pertumbuhan tercatat ketika kondisi ekonomi masih dibayang-bayangi pandemi.

Menurut Erick, hal itu mengindikasikan terjadi pembukaan lapangan kerja sebanyak 7,1 juta melalui program PNM setelah tergabung dalam Holding UMi. PNM memperoleh sokongan likuiditas yang kuat dari BRI.

“Belum program-program yang lain (dari BRI dan Pegadaian). Jadi, fundamental yang kami terus bangun memang di ekonomi kerakyatan. Tidak anti yang besar, yang besar harus kami dorong juga. Tetapi kalau sebagai fondasi tidak bisa hanya yang besar, kapitalis dibilang, oligarki nggak bisa. Kita harus yang ekonomi kerakyatan, karena mayoritas di situ,” tutur Erick.

Baca Juga :  Penyaluran KUR BRI Efektif Bantu UMKM Kembangkan Usaha

Holding UMi yang lahir sejak September 2021 semakin membuktikan kehadiran negara secara langsung untuk mengangkat ekonomi kerakyatan. Di mana perusahaan besar atau korporasi harus bersinergi dengan pelaku usaha yang paling kecil sekali pun.

“Ini yang kami jaga dan saya yakini, pemerintahan Presiden Jokowi fokus membedah ekonomi kerakyatan, menjadi platform yang tepat. Kita tidak mungkin ke arah yang menjadi kapitalis oligarki tetapi bagaimana ekonomi kerakyatan sebagai fondasi,” imbuhnya.

Holding UMi pun semakin menegaskan bahwa BUMN hadir bukan sebagai ‘Menara Gading’. Namun harus mendorong ekonomi kerakyatan menjaga rantai pasok. Karena itu, BUMN pun terbuka bekerjasama dengan private sector, swasta, bahkan strategic partner dari luar negeri.

“Tetapi harus komitmen dengan ekosistem yang kami bangun atau blue print kita. Bukan blue print China, blue print Amerika, tetapi blue print Indonesia,” pungkasnya.

Kinerja Holding UMi
Dirut BRI Sunarso menambahkan, Holding UMi telah menargetkan bisa melayani 55 juta nasabah untuk diberdayakan hingga 2024. Upaya BRI untuk go smaller pada sektor ultra mikro tidak lepas dari temuan bahwa sektor UMKM memiliki multiplier effect yang kuat bagi masyarakat Indonesia.

“Sebanyak 99 % entitas bisnis di Indonesia merupakan UMKM dan kontribusinya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) mencapai 62 %. Sektor UMKM juga bisa menyerap 97,22 % tenaga kerja di Indonesia. Peran kita mendorong ekonomi kerakyatan melalui pemberdayaan UMKM dan menaikelaskan mereka,” ungkap Sunarso.

Sebagai pendukung utama sektor UMKM, BRI telah berkontribusi 67 % terhadap kredit UMKM nasional. BRI terus mempertajam fokus penyaluran kredit UMKM, tercermin dari komposisi kredit UMKM di BRI yang telah mencapai 84 % dari total kredit.

Baca Juga :  Indodax dan BUMN Kliring Jalin Kerjasama Untuk Kemudahan Bertransaksi

Hingga kuartal II-2022, BRI secara konsolidasi berhasil menyalurkan kredit sebesar Rp 1.104,79 triliun atau tumbuh 8,75 % year on year (yoy). Portofolio kredit UMKM BRI secara konsolidasi tercatat tumbuh sebesar 9,81 % yoy dari Rp 837,82 triliun di akhir Juni 2021 menjadi Rp 920 triliun di akhir Juni 2022.

Sunarso menuturkan, Holding UMi akan terus difokuskan untuk dapat melayani pelaku usaha ultra mikro yang unbankable. “Strategi yang kami lakukan adalah pemberdayaan usaha melalui group lending di PNM. Kemudian kami mengintegrasikan layanan agar pelaku usaha ultra mikro yang sudah naik kelas dapat memilih berbagai layanan sesuai kebutuhan. Baik pinjaman berbasis gadai di Pegadaian atau kredit di BRI,” terangnya.

Sunarso membeberkan, BRI juga senantiasa menerapkan strategi business following stimulus untuk mengeskalasi pemulihan ekonomi. Hal ini tampak dari penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang memberikan dampak positif bagi kesejahteraan masyarakat.

Sebagai gambaran, BRI diberikan kuota penyaluran KUR oleh pemerintah sebesar Rp 260 triliun atau 70 % dari proporsi KUR nasional. Alokasi KUR BRI tersebut meningkat dibanding tahun 2021 sebesar Rp 195,59 triliun, dengan realisasi penyaluran Rp 194,9 triliun.

“Dari riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), setiap nasabah penerima KUR rata-rata mempekerjakan tiga orang. Dengan demikian, KUR BRI diperkirakan akan menyerap 32,1 juta total lapangan kerja di Indonesia,” pungkasnya. (*/par)

Informasi mengenai BANK BRI dapat diakses melalui situs www.bri.co.id

JAKARTA – Holding Ultra Mikro (UMi) diinisiasi Kementerian BUMN dengan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Holding UMi yang melibatkan PT Pegadaian dan PT Permodalan Nasional Madani (PNM) dinilai menjadi fondasi ekonomi kerakyatan.

Sebab melalui Holding UMi, negara hadir memperkuat ekonomi mulai dari pemberdayaan pelaku usaha di segmen terkecil. Sebagai upaya penguatan landasan ekonomi nasional.

Menteri BUMN Erick Thohir mengatakan, konsep pemberdayaan ekonomi kerakyatan yang diadopsi institusinya ada dua. Pertama bagaimana Kementerian BUMN memastikan usaha pelaku UMKM dan UMi mendapatkan pembiayaan dan mendapat pendampingan. Kedua, menjaga rantai pasok.


“Contoh bagaimana kita konsolidasi BRI, dengan PNM, dan Pegadaian. BRI itu kan memastikan UMKM naik kelas yang tadinya ultra mikro, melalui PNM pinjaman Rp 1 juta sampai Rp 4 juta, lalu naik ke Pegadaian yang pinjamannnya mungkin Rp 20 juta sampai Rp 50 juta, nanti naik lagi ke BRI,” katanya,” ujarnya.

Terbukti, lanjut Erick, PNM yang memberdayakan ekonomi kaum ibu melalui mekanisme group lending mengalami pertumbuhan hingga 7,1 juta nasabah. Pertumbuhan tercatat ketika kondisi ekonomi masih dibayang-bayangi pandemi.

Menurut Erick, hal itu mengindikasikan terjadi pembukaan lapangan kerja sebanyak 7,1 juta melalui program PNM setelah tergabung dalam Holding UMi. PNM memperoleh sokongan likuiditas yang kuat dari BRI.

“Belum program-program yang lain (dari BRI dan Pegadaian). Jadi, fundamental yang kami terus bangun memang di ekonomi kerakyatan. Tidak anti yang besar, yang besar harus kami dorong juga. Tetapi kalau sebagai fondasi tidak bisa hanya yang besar, kapitalis dibilang, oligarki nggak bisa. Kita harus yang ekonomi kerakyatan, karena mayoritas di situ,” tutur Erick.

Baca Juga :  Jelang Pemilu, PPP Sampang Gelar Pendidikan Politik Untuk Caleg
- Advertisement -

Holding UMi yang lahir sejak September 2021 semakin membuktikan kehadiran negara secara langsung untuk mengangkat ekonomi kerakyatan. Di mana perusahaan besar atau korporasi harus bersinergi dengan pelaku usaha yang paling kecil sekali pun.

“Ini yang kami jaga dan saya yakini, pemerintahan Presiden Jokowi fokus membedah ekonomi kerakyatan, menjadi platform yang tepat. Kita tidak mungkin ke arah yang menjadi kapitalis oligarki tetapi bagaimana ekonomi kerakyatan sebagai fondasi,” imbuhnya.

Holding UMi pun semakin menegaskan bahwa BUMN hadir bukan sebagai ‘Menara Gading’. Namun harus mendorong ekonomi kerakyatan menjaga rantai pasok. Karena itu, BUMN pun terbuka bekerjasama dengan private sector, swasta, bahkan strategic partner dari luar negeri.

“Tetapi harus komitmen dengan ekosistem yang kami bangun atau blue print kita. Bukan blue print China, blue print Amerika, tetapi blue print Indonesia,” pungkasnya.

Kinerja Holding UMi
Dirut BRI Sunarso menambahkan, Holding UMi telah menargetkan bisa melayani 55 juta nasabah untuk diberdayakan hingga 2024. Upaya BRI untuk go smaller pada sektor ultra mikro tidak lepas dari temuan bahwa sektor UMKM memiliki multiplier effect yang kuat bagi masyarakat Indonesia.

“Sebanyak 99 % entitas bisnis di Indonesia merupakan UMKM dan kontribusinya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) mencapai 62 %. Sektor UMKM juga bisa menyerap 97,22 % tenaga kerja di Indonesia. Peran kita mendorong ekonomi kerakyatan melalui pemberdayaan UMKM dan menaikelaskan mereka,” ungkap Sunarso.

Sebagai pendukung utama sektor UMKM, BRI telah berkontribusi 67 % terhadap kredit UMKM nasional. BRI terus mempertajam fokus penyaluran kredit UMKM, tercermin dari komposisi kredit UMKM di BRI yang telah mencapai 84 % dari total kredit.

Baca Juga :  KPU Tetapkan Berbaur sebagai Pemenang Pilkada

Hingga kuartal II-2022, BRI secara konsolidasi berhasil menyalurkan kredit sebesar Rp 1.104,79 triliun atau tumbuh 8,75 % year on year (yoy). Portofolio kredit UMKM BRI secara konsolidasi tercatat tumbuh sebesar 9,81 % yoy dari Rp 837,82 triliun di akhir Juni 2021 menjadi Rp 920 triliun di akhir Juni 2022.

Sunarso menuturkan, Holding UMi akan terus difokuskan untuk dapat melayani pelaku usaha ultra mikro yang unbankable. “Strategi yang kami lakukan adalah pemberdayaan usaha melalui group lending di PNM. Kemudian kami mengintegrasikan layanan agar pelaku usaha ultra mikro yang sudah naik kelas dapat memilih berbagai layanan sesuai kebutuhan. Baik pinjaman berbasis gadai di Pegadaian atau kredit di BRI,” terangnya.

Sunarso membeberkan, BRI juga senantiasa menerapkan strategi business following stimulus untuk mengeskalasi pemulihan ekonomi. Hal ini tampak dari penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang memberikan dampak positif bagi kesejahteraan masyarakat.

Sebagai gambaran, BRI diberikan kuota penyaluran KUR oleh pemerintah sebesar Rp 260 triliun atau 70 % dari proporsi KUR nasional. Alokasi KUR BRI tersebut meningkat dibanding tahun 2021 sebesar Rp 195,59 triliun, dengan realisasi penyaluran Rp 194,9 triliun.

“Dari riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), setiap nasabah penerima KUR rata-rata mempekerjakan tiga orang. Dengan demikian, KUR BRI diperkirakan akan menyerap 32,1 juta total lapangan kerja di Indonesia,” pungkasnya. (*/par)

Informasi mengenai BANK BRI dapat diakses melalui situs www.bri.co.id

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

Lima Raperda Siap Dibahas

/